
Sirene sangat menikmati dunia manusia yang saat ini dia tinggali. Dia dapat beradaptasi dengan cepat di pekerjaannya dan karena Sirene dinilai ramah serta cekatan dengan cepat juga, dia dinobatkan menjadi Karyawan Terbaik bulan itu.
"Sayangku, selamat yah," ucap Alesya memberikan selamat kepada Sirene.
Alesya tau sekali bagaimana perjuangan Sirene dari awal. Bahkan duyung itu rela tidak tidur hanya untuk belajar bagaimana cara melayani tamu dan menghapal nama-nama menu beserta harganya.
"Terima kasih, Alesya. Aku senang sekali," jawab Sirene. Dia memandang pada pigura bergambarkan foto Sirene memakai seragam restoran tersebut.
"Kamu pantas mendapatkannya, Sirene. Kamu sudah bekerja keras dan pantang menyerah. Aku bangga sekali padamu," sahut Alesya lagi.
Sirene tersenyum senang. Dia meminta Aiden untuk mengabadikan fotonya di ponsel kekasihnya itu.
"Sebagai hadiah karena kamu sudah menjadi Karyawan Terbaik, aku akan membelikanmu sesuatu," ucap Aiden.
"Tidak. Aku tidak perlu apa-apa. Kemarin kamu baru saja memberikanku seuntai kalung yang cantik ini. Tidak! Aku tidak butuh apa pun," tolak Sirene tegas sambil menggelengkan kepalanya.
Seakan tuli akan penolakan dari Sirene, Aiden tetap mengeluarkan sebuah kotak hadiah berbentuk persegi panjang berwarna pink dengan hiasan pita berwarna emas di atasnya.
"Ini untukmu, Sayang," kata Aiden seraya mengecup kening kekasihnya dengan lembut dan penuh sayang.
Sirene mendorong kembali kotak itu ke arah Aiden. "Sudah kukatakan aku tidak mau. Apa pun itu aku tidak mau menerimanya,"
"Tapi kenapa, Babe?" tanya Aiden lagi. Dia heran dengan gadis duyung itu.
"Aku sudah memiliki uangku sendiri jadi benda apa pun yang ada di kotak itu, aku bisa membelinya sendiri. Bukannya aku tidak menghargai pemberianmu, hanya sa-,"
"Terima ini dan sebagai gantinya, belikan aku hadiah," pinta Aiden sambil menyerahkan kembali kotak hadiah untuk Sirene.
Sirene tampak berpikir kemudian dia mengambil kotak hadiah pemberian Aiden dan tersenyum. "Oke, baiklah kalau begitu,"
Dia membuka kotak itu dengan bersemangat dan begitu dia membuka kotak itu, dia terkejut melihat isinya. "Sebuah ponsel? Kamu membelikan ini untukku? Oh, Aiden, terima kasih sekali," sahutnya.
Semenjak saat itu, Sirene selalu membawa ponsel itu kemanapun dia pergi. Aiden juga memberikan sebuah gantungan ponsel berbentuk mutiara yang dia simpan saat Sirene menangis, di bawah mutiara itu ada boneka putri duyung kecil berwarna hijau yang mirip sekali dengan Sirene.
Namun sayang, tak selamanya hari Sirene berlangsung dengan indah seperti hari itu. Tantangan sebagai Karyawan Terbaik pun dimulai.
Hari itu, ada dua orang tamu laki-laki yang datang ke restoran. Mereka meminta buku menu kepada Sirene. Semenjak menjadi karyawan terbaik di restoran tersebut, Sirene memang menjadi cukup terkenal bahkan ada beberapa tamu yang datang dan meminta pelayanan khusus dari gadis duyung tersebut.
"Yang mana Karyawan kalian yang bernama Sirene? Kami ingin mendapatkan pelayanan darinya," tanya kedua tamu laki-laki itu.
Sirene pun segera menemui para tamunya tersebut kemudian dia bertanya kepada mereka apa yang ingin mereka pesan untuk jamuan siang itu, "Perkenalkan, nama saya Sirene. Ada yang bisa saya bantu?"
Salah satu pria menatap Sirene dengan pandangan lapar, seakan Sirene sebuah makanan yang akan dihidangkan.
"Oh, jadi kamu yang terkenal itu? Cantik juga," kata pria itu, dia membelai pipi Sirene.
Gadis itu segera mengalihkan wajahnya dari tangan laki-laki tidak sopan itu.
"Ada yang bisa saya bantu? Apa yang ingin kalian pesan?" tanya Sirene, dia masih berusaha untuk terdengar ramah dan sopan.
Tak lupa, Sirene memberikan buku menu kepada kedua pria tersebut. "Untuk melihat harganya, kalian dapat memindai barcode yang telah kami sediakan di setiap meja masing-masing tamu,"
Pria yang datang bersamaan dengan pria kurang ajar tadi, menarik kasar tangan Sirene sehingga gadis itu terjatuh di pangkuannya.
"Wah, kamu mungil sekali. Aku suka padamu," kata pria itu membelai dan mencium rambut biru Sirene.
Dengan susah payah, dia menahan semua emosinya. "Maaf, Tuan. Anda tidak bisa boleh seperti ini," kata Sirene tegas.
Jam makan siang di restoran itu baru dibuka sehingga belum banyak tamu yang datang. Ditambah lagi, karyawan lain yang melihat tidak berani untuk menegur para tamu karena bos mereka selalu berkata bahwa tamu adalah raja.
Akhirnya, para karyawan lain yang melihat hal itu mendiamkan Sirene dan bahkan beberapa dari mereka berpura-pura tidak melihatnya.
Sirene berusaha untuk bangkit berdiri, akan tetapi lagi-lagi pria itu menarik tangannya dengan kasar sehingga dia terjatuh kembali.
Sesuatu yang meletup-letup tadi sudah mendesaknya untuk segera di keluarkan. Tiba-tiba saja dari kedua matanya muncul kilatan berwarna merah.
Sirene tidak tau bagaimana menghentikan perasaan itu. Dia ingin sekali mengoyak tubuh pria tidak sopan itu dan melepehkannya kembali untuk dia umpankan kepada seekor paus pembunuh.
Di lain tempat,
Brak!
"Aiden, mutiaramu! Mereka berubah menjadi merah. Apa yang terjadi dengan Sirene?" tanya Matt.
Rue menghentikan aktifitasnya dan memperhatikan dada Aiden yang berkilau kemerahan. "Merah, apakah duyung itu marah?"
"Anthem! Apakah duyung bisa marah?" ranya Rue polos.
Yang ditanya pun mengangguk. "Tentu saja. Jangankan duyung, coba saja kamu ganggu tawanan lebah. Lihatlah apakah mereka marah kepadamu atau tidak!"
"Apakah merah artinya pertanda marah? Aiden, apakah kalian bertengkar?" tanya Rue lagi.
Aiden menggelengkan kepalanya. "Kami tidak bertengkar dan kami baik-baik saja,"
"Apa yang membuatnya marah?" tanya Matt.
"Aku akan melihatnya ke sana, jika seorang Putri Duyung marah, mereka akan berubah wujud menjadi monster mengerikan yang sanggup menelan manusia. Kedua sirip mereka akan muncul, wajah mereka akan meyerupai seekor naga besar," ucap Rue menjelaskan dan dia pun segera menghilang meninggalkan kepulan asap.
Sesampainya di restoran, benar saja dugaan Rue. Seekor makhluk aneh, dengan ekor ikan, tubuh dan wajah seekor naga sedang meliuk-liukkan tubuhnya di hadapan dua orang laki-laki.
"Si-, Sirene?" tanya Rue.
Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan terhadap Putri Duyung yang tadinya manis itu.
"Grrooaarrr!" raung naga itu kepada salah seorang pria yang tadi menggodanya.
Para pengunjung dan semua yang ada di restoran itu berhamburan keluar untuk menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Rue mengambil ponselnya dan menghubungi Lea. "Aku butuh bantuanmu untuk menaklukkan Sirene dan menghilangkan ingatan dari puluhan orang yang telah melihat perubahan wujud Sirene," ucap Rue.
"Sirene lagi? Ada apa kali ini?" tanya Lea, suaranya terdengar lelah.
"Dia mengamuk dan berubah wujud," jawab Rue, dia mengambil gambar Naga Sirene dengan memakai ponselnya dan mengirimkannya kepada Lea.
"Heh? Apa ini? Aku akan segera kesana," seru Lea dan kemudian peri itu mengakhiri panggilannya.
Namun tepat saat itu, sebelum Rue bertindak, sebuah peluru dari pihak kepolisian di arahkan ke tubuh si naga. Tak hanya satu peluru, empat peluru di tembakkan ke arah Sirene yang segera saja melolong kesakitan.
...----------------...