
Di atas langit nun jauh disana, ada sebuah gerbang keemasan yang memiliki pilar sangat tinggi menjulang dengan 2 orang penjaga bersayap yang bertubuh sangat besar, disanalah Kerajaan Awan berada.
Kerajaan itu tampak damai dan tentram. Para peri bunga bekerja seperti biasa, mengambil nektar dan membagikannya kepada bunga yang lain. Beberapa peri madu tampak keluar masuk sarang Nyonya Lebah untuk membagikan madu-madu itu kepada koki Kerajaan dan kepada semua yang membutuhkan.
Para peri rumah sibuk dengan aktifitas mereka, seperti memasak, mencuci, merapikan istana atau rumah para peri.
Namun, tidak semua bagian kerajaan itu damai dan berjalan dengan harmonis. Di balik Lembah Pelangi, terdapat sebuah pantai berbatu karang. Ya, itulah Pantai Duyung.
2 orang duyung sedang duduk di salah satu batu karang besar menyimak cerita kawannya. Sedangkan yang lainnya berada di ujung pantai, perbatasan antara pantai kerajaan dengan pantai di Bumi.
Mereka mengepak-kepakkan ekor mereka. Seorang duyung dengan rambut berwarna merah menyala tampak gusar sekali. "Aku harus turun ke Bumi dan menemui Sirene. Perasaanku tidak enak, Sedna,"
"Lalu bagaimana dengan disini? Kamu adalah pemimpin lautan ini, Meltem?" tanya Sedna kepada si rambut merah itu.
"Aku tidak akan lama. Untuk sementara aku akan meminta Yang Mulia Raja untuk ikut mengawasi lautan ini, dan tentu saja aku akan mengandalkanmu juga, Sedna," jawab Meltem.
Meltem pun berenang ke tepian, dan terus berenang hingga sampai di singgasana Raja.
"Meltem! Apa yang membawamu kesini?" tanya Rue terkejut. Saat itu ia sedang asik memainkan sebuah game di tabletnya dan ketika Meltem datang, ia belum siap untuk mengubah wajahnya supaya tampak profesional.
"Maafkan saya, Yang Mulia Raja. Saya meminta izin kepada Yang Mulia untuk turun ke Bumi dan menemui Sirene," ucap Meltem.
Rue berdeham, wajahnya tampak memerah. "Ehem! Maafkan saya juga, Meltem. Apa yang terjadi dengan Sirene? Menurut Raja dan Ratu, Sirene sudah bersama dengan manusia yang bernama Aiden itu," tanya Rue.
Meltem mengibaskan tongkatnya dan semacam layar proyektor muncul di depan Rue. Layar itu memperlihatkan saat Sirene sedang memberikan Mutiara Duyungnya kepada Aiden yang tak sadarkan diri.
"Lalu?" Rue kembali bertanya. Karena sesungguhnya memang ia tidak tau tentang Mutiara Duyung yang dimaksud oleh Meltem.
"Kami, para duyung memiliki 2 mutiara hitam sama seperti rubah yang memiliki manik rubah berwarna merah. Jika, salah satu dari mutiara itu berpindah tangan, maka kekuatan kami pun akan berkurang. Kami hanya akan menjadi buih dan mati," jawab Meltem menjelaskan.
Dahi Rue berkerut, tampak sekali ia sedang mencerna penjelasan Meltem. "Apa yang akan kamu lakukan jika turun ke Bumi?" tanya Rue.
"Ada sesuatu yang harus saya sampaikan kepada Sirene, Yang Mulia Raja dan sifatnya mendesak," jawab Meltem.
Rue menganggukkan kepala. "Okelah. Pindahkan kepemimpinan Pantai Duyung kepadaku. Kamu tidak lama, kan?" Rue kembali bertanya untuk memastikan.
Meltem menggeleng. "Tidak, Yang Mulia Raja," jawab Meltem.
"Sedna akan membantu Anda, Yang Mulia Raja," jelas Meltem lagi.
Akhirnya dengan anggukan kecil dari Rue, Meltem segera berenang kembali ke Pantai untuk menemui Sedna.
"Sedna! Aku akan turun sekarang. Awasi wilayah ini! Aku percayakan kepadamu," perintah Meltem dengan cepat. Ia menyelam ke dalam lautan dan keluar lagi dengan menbawa tas rajut berwarna merah.
"Apa itu?" tanya Sedna.
Meltem menunjukan isi tas rajutnya kepada Sedna dan mengeluarkan botol kecil berwarna ungu. "Ini adalah ramuan untuk membantu Sirene bertahan. Dia melakukan kebodohan sebanyak dua kali, dan aku tidak mau dia mati karena kebodohannya," jawab Meltem.
Tak lama ia sudah memijakkan kedua kakinya di tepi pantai. Meltem segera menuju rumah Aiden dengan bantuan sihir yang ia miliki.
Setibanya di kediaman Aiden, Meltem menekan tombol bel pintu yang berada di sebelah kanan gerbang rumah bergaya minimalis itu.
Seorang pelayan membukakan pintu gerbangnya. Tanpa menunggu lama, Meltem menghipnotis pelayan itu sehingga ia dapat masuk tanpa banyak pertanyaan.
"Sirene!" panggil Meltem begitu ia berhasil masuk ke dalam rumah Aiden.
"Meltem!" sapa Sirene, ia berlari dan memeluk Meltem.
Meltem membalas pelukannya dengan singkat. "Dengar, waktuku tidak banyak. Aku ingin berbicara denganmu," ucap Meltem.
"Ada apa, Meltem? Kalau kamu memintaku untuk kembali, aku menolak!" tegas Sirene.
Namun, Meltem menggeleng. "Aku tidak memintamu untuk kembali. Kamu ingat, aku pernah bercerita tentang mutiara duyung?"
Sirene mengangguk.
"Apa kamu tau apa fungsi mutiara itu untuk kita, kaum duyung?" tanya Meltem lagi.
Kali ini Sirene berpikir sebentar lalu mengangguk. "Itu adalah kekuatan dan hidup kita, kan?" jawab Sirene.
"Benar. Ini kabar buruk untukmu, Sirene," kata Meltem.
Sirene merasa bersalah kepada Meltem karena telah memberikan satu mutiaranya kepada Aiden. "Aku tau, aku telah memberikan satu mutiaraku untuk manusia itu! Maafkan aku, karena aku tidak memberitahukan kepadamu. Tapi saat itu, dia pingsan dan aku tidak tau harus bagaimana. Ada dua orang pria berbadan besar mendatangi mobil kami, mereka pasti akan pingsan juga begitu melihat ekor besarku ini. Jadi, aku memberikan mutiaraku kepadanya. Tapi aku sudah berpikir dan aku tau apa yang terjadi kepada manusia yang menelan mutiara duyung," jawab Sirene panjang lebar.
Tentu saja Sirene membela dirinya sendiri. Memang sebelum memberikan mutiara itu, Sirene telah mempertimbangkannya dengan matang. Toh ia masih memiliki satu mutiara di dalam tubuhnya.
"Kamu tidak memberikan satu mutiaramu untuk manusia itu, Sirene. Kamu memberikan dua mutiaramu kepada manusia itu," ucap Meltem.
Sirene mendengus. "Tidak mungkin! Aku belum pernah bertemu dengan manusia itu sebelumnya kecuali saat aku menyelamatkannya 10 tahun yang lalu," jawab Sirene.
Meltem mengacungkan jari telunjuknya ke arah Sirene. "10 tahun yang lalu! Itulah kesalahan pertamamu, Sirene!" tukas Meltem.
Deg!
Ada sesuatu yang berdenyut-denyut di dalam tubuh Sirene. "Apa maksudmu, Meltem?" tanya Sirene. Suaranya terdengar bingung.
Meltem menghembuskan napas panjang dengan kasar. "10 tahun yang lalu, ketika kamu menyelamatkan manusia itu, tanpa sengaja, mutiara duyungmu jatuh ke dalam mulut manusia itu dan tertelan olehnya," jawab Meltem.
Sirene tampak lemas, tak percaya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, Meltem. Aku masih simpan satu mutiara di tubuhku," air mata Sirene bergulir menjadi butiran mutiara yang mulai berjatuhan di sofa Aiden.
Meltem mengangguk. "Itu yang terjadi, Sirene. Itu alasan kenapa kalian tidak dapat berjauhan saat di bumi. Kamu memiliki satu mutiara dan manusia itu juga memiliki mutiaramu. Mereka saling tarik menarik," jelas Meltem.
Wajah Sirene tampak pucat pasi. "Berarti, aku akan menjadi buih dan menghilang?" tanya Sirene.
Meltem mengangguk. "Kecuali manusia itu mau mengembalikannya kepadamu,"
Sirene tersenyum lega. "Aku akan mencoba membicarakan ini bersama Aiden saat ia pulang nanti. Dia orang baik dan aku yakin dia pasti mau mengembalikan satu mutiaraku," kata Sirene.
"Tidak semudah itu, Sirene. Jika manusia itu mengembalikan mutiara milikmu, maka manusia itu akan mati," sahut Meltem.
"Apa!" Sirene berseru.
"Ya, Sirene. Pilihan sekarang ada di tanganmu. Kamu yang menghilang atau manusia itu yang mati?" tanya Meltem.
"Waktuku telah habis. Aku telah memperingatkanmu dan sekarang berpikirlah, Sirene. Jalan mana yang akan kau pilih," sambung Meltem lagi dan ia pun menghilang tanpa bekas.
...----------------...