Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Bibit Asa



Sudah 30 hari, Sirene tinggal bersama Aiden. Mereka sudah saling mengenal serta mengetahui sisi baik dan buruk masing-masing. .


Sirene baru mengetahui kalau Aiden memiliki kebiasaan unik sebelum tidur, yakni menggosokkan kedua kakinya sebanyak tiga kali pada karpet kecil di bawah ranjangnya.


Begitu pula dengan Aiden. Ia sekarang tau kalau kaki Sirene dapat menghilang dan berubah menjadi ekor hanya karena setetes air.


Mereka saling menghargai dan menghormati perbedaan yang ada di antara mereka. Seperti contohnya, Aiden adalah pria resik yang tidak suka dengan kotor, jadi kalau rambut dan sisik Sirene rontok dan berjatuhan di lantai, ia akan segera merapikannya.


Sirene juga mempunyai kesenangan baru selama di bumi, yaitu mengemil. Ia senang sekali dengan aneka biskuit dan kue manis. Sirena akan memakan camilan-camilannya itu di jam kerja Aiden, setelah puas, ia akan segera membersihkan remahannya.


Begitu juga dengan Aiden, selama ada Sirene, Aiden merasa dimanjakan dan dilayani dengan baik. Semua keperluan Aiden telah disiapkan oleh Sirene. Mulai dari kemeja, dasi, sepatu sampai jam tangan akan disiapkan oleh Sirene di pagi hari Sirene akan menyiapkannya dengan warna yang senada.


Saat sarapan pun atau makan di jam berapa pun, Sirene sudah menghidangkan makanan di atas meja dan terkadang sering mengambilkan makanan untuk Aiden.


Hal ini tentu saja membuat Aiden merasa nyaman dengan kehadiran Sirene. Tak jarang, pria itu mencuri pandang ke arah gadis berambut biru tersebut. Entah kenapa, akhir-akhir ini seperti mengalami gangguan pada jantungnya dan hal ini ia konsultasikan kepada Matt.


"Apakah menurutmu aku harus ke dokter, Matt?" tanya Aiden suatu hari.


"Apakah sudah separah itu? Memangnya apa yang kau rasakan? Kalau tak ada gadis duyung itu, seperti saat ini, apakah kamu merasakan debaran? Apakah jantungmu berdetak dengan cepat? Kalau iya, berarti kamu harus memeriksakan dirimu ke dokter akan tetapi kalau saat ini jantungmu baik-baik saja artinya kamu telah jatuh cinta kepada gadis duyung itu, Pria Tampan," jawab Matt.


Tanpa sadari oleh Aiden, bibit-bibit cinta mulai mendarat di kehidupannya. Namun, perasaan itu ia buang jauh-jauh karena tidak mungkin rasanya ia jatuh cinta kepada makhluk gaib. Bagaimanapun juga, Sirene bukanlah seorang manusia dan ia tidak bisa menjalin hubungan dengannya, apalagi untuk menikah dengan gadis duyung itu.


'Tidak mungkin aku jatuh cinta kepadanya!' pikir Aiden menggelengkan kepalanya.


Setibanya Aiden di rumah, ia melihat Sirene sudah menyiapkan makanan untuk makan malam, dan menyambut Aiden dengan senyum manisnya.


"Selamat datang kembali, Aiden," sambut Sirene.


Deg!


"Ha-, hai," balas Aiden terbata-bata. Ia mengagumi kecantikan Sirene walau hanya memakai kaus over size milik Matt serta apron di dadanya.


Sirene menghampirinya dan menggandeng tangan Aiden, mengajaknya untuk segera masuk. "Hari ini aku mencoba membuat makanan bukan ikan," kata Sirene dengan nada lucu.


Aiden tersenyum simpul. "Ikan pun tidak masalah untukku," jawab Aiden tulus.


Malam itu, Aiden makan dengan hati tak tenang. Ia bahkan tidak dapat fokus pada apa yang dibicarakan oleh Sirene. Suara jantungnya yang bertalu-talu menutupi suara lembut Sirene.


"Aiden, kamu baik-baik saja?" tanya Sirene, ia mendekatkan wajahnya ke arah Aiden.


Deg!


Rona kemerahan dengan cepat terlukis di wajah Aiden, jantungnya semakin kencang saja bertalu-talu tatkala mata Aiden bertemu dengan mata Sirine.


Aiden menyentuh tangan Sirene yang dilambai-lambaikan di depan wajahnya. "A-, aku baik-baik saja, Sirene. Lanjutkan saja makanmu. Aku rasa aku akan beristirahat sekarang," sahut Aiden lagi.


Sirene menatap Aiden dengan khawatir. "Seharusnya dia tidak bisa sakit, karena seluruh mutiaraku ada padanya," kata Sirene bermonolog.


***


Keesokan paginya, Sirene kembali menceritakan rencananya hari itu.


"Aiden, nanti malam Lea dan alesha akan bermain di sini. Bolehkah? Saat tadi malam aku menceritakan ini kepadamu tampaknya kamu kurang fokus dan aku tidak akan mengizinkan mereka main disini andaikan kamu tidak mengizinkannya," kata Sirene.


Aiden tersenyum dan ia mengacak-acak rambut yang telah dikepang rapi oleh Sirene. "Silahkan saja, tapi ingatlah, kamu tidak boleh terlalu lelah karena kondisimu yang sedang drop. Aku tidak mau kamu menghilang hanya karena kesalahan bodoh yang kamu buat di bumi," jawab Aiden.


"Baiklah, aku akan mengingat pesanmu. Terima kasih Aiden dan berhati-hatilah di jalan," balas Sirene.


Sekali lagi, ia melukiskan senyum manis untuk Aiden dan tanpa sadar, Aiden merekam senyuman manisnya itu di dalam hati dan benaknya.


"Aku izin pulang cepat hari ini!" kata Aiden kepada Matt.


Kening Matt berkerut. "Kamu baru saja sampai, Aiden. Bahkan kursimu saja belum hangat dan kamu sudah minta izin pulang cepat. Ckckckc," Matt berdecak dan menggelengkan kepalanya.


"Istrimu, istri Anthem, dan ist-, maksudku Sirene akan berkumpul malam ini di rumahku," semburat kemerahan menjalar di wajah Aiden.


Sikap malu-malu Aiden membuat Matt tertawa. "Hahaha, oho! Jadi, kamu sudah menentukan kemana cintamu akan berlabuh? Get it, boy," goda Matt.


"Tidak bisa, kan? Dia duyung, Matt. Come on!" tukas Aiden ketus.


"Jika kamu berhubungan dengan cinta, segala yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Dan kamu akan mendapatkan kekuatan untuk dapat mendobrak dinding tinggi diantara kalian. Sayang sekali, kamu belum pernah mendengar apa yang kualami untuk mendapatkan Lea," sahut Matt. Ia membusungkan dadanya, membanggakan diri.


Akhirnya dengan izin Matt, Aiden diperbolehkan untuk pulang lebih awal. Dengan syarat, Matt diizinkan untuk ikut pesta para wanita itu.


"Apakah mereka tidak mengajakmu?" tanya Aiden heran.


Matt dan Anthem menggeleng. Anthem baru saja datang. Ia bekerja bersama Matt dan Aiden sekarang. Tadinya ia tidak ingin bekerja akan tetapi kebutuhan hidup di bumi yang cukup tinggi membuatnya harus bekerja.


"Bayangkan saja, setiap bulan ada saja kenaikan harga ini dan itu. Mana bisa aku mengenyangkan istriku dengan sihir, kan?" bisik Anthem. Ia tau, Aiden sensitif mengenai hal ini maka ia berbisik kepada Matt.


Setibanya mereka di rumah Aiden, rumah itu tampak ramai sekali dengan suara musik yang mereka mainkan dan pekik girang dari mereka.


"Kyaaa! Benarkah, eh tapi, ...." setelah hening seperti itu, tiba-tiba ada teriakan lagi yang tak kalah seru.


"Kyaaa! Benarkan? Benarkan? Astaga, aku rasa semua pria akan sama seperti itu," terdengar suara Alesya sedang berbicara.


Para pria yang baru saja masuk, membulatkan bola mata mereka mendengar pekik kegirangan dan sorak sorai yang berasal dari ruang tamu Aiden.


"Ehem!" Aiden berdeham kencang, dengan harapan mereka sadar akan kehadirannya.


Namun sayangnya, tidak ada satu pun dari mereka yang memperhatikan kedatangannya. Mata Aiden mencari keberadaan Sirene.


Seketika ia panik karena Sirene tidak ada di antara mereka. "Lea, dimana Sirene?" tanya Aiden.


Matt dan Anthem mengikuti Aiden dari belakang.


"Sirene berada di kamarnya. Ia sed-,"


Ucapan Alesya terputus karena Aiden sudah berjalan dengan cepat menuju kamar Sirene. Tanpa mengetuk, ia segera membuka pintu kamar gadis itu.


"Sirene! Apakah ka...mu .... Ca-, cantik sekali," ucap Aiden tanpa sadar.


Segala kekhawatirannya menguap seketika kala melihat Sirene yang sedang mematut dirinya di depan cermin dengan memakai gaun malam berwarna hitam dengan belahan dada yang cukup rendah. Ia menbiarkan rambutnya tergerai dengan indah.


"A-, Aiden? Kamu sudah pulang? Maafkan aku kar-," Sirene menutupi dadanya dengan kedua tangan mungil yang ia miliki.


Entah dorongan darimana, Aiden menutup pintu kamar Sirene. Matanya hanya terpaku pada gadis cantik yang ada tepat di depannya itu.


Ia mendekati Sirene, dan memperkecil jarak di antara mereka. Namun, segala keinginan yang menggodanya saat itu ia tahan.


Aiden melepas jasnya dan menutupi tubuh Sirene. "Ada Matt dan Anthe di luar. Tutupi tubuhmu," kata Aiden, dan dengan wajah memerah ia segera keluar dari kamar Sirene.


'Apa yang baru saja akan kulakukan?' pertanyaan itu menyeruak begitu saja di benak Aiden.


...----------------...