
Sirene melepaskan ciumannya dari seorang pria manusia asing yang tiba-tiba saja menciumnya. Namun, ciuman itu terasa tidak asing baginya. Entah kenapa, ciuman itu ciuman yang sangat dia rindukan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu mengenalku?" tanya Sirene.
Aiden menatap kedua netra gadis itu, ingin rasanya dia menculiknya. Bagaimana kalau itu dia lakukan? Apakah ada resikonya? Lalu, bagaimana dengan ekor Sirene?
"Maukah kamu ikut bersamaku, Sirene? Kita tinggal bersama seperti dulu lagi," tanya Aiden. Perasaan di hatinya sudah tidak dapat ditahan lagi.
Gadis duyung itu masih kebingungan, dia berusaha mencerna satu per satu perkataan Aiden. "Apa yang kamu bicara? Kenapa aku harus tinggal bersamamu?"
Selagi bertanya seperti itu, jantung Sirene seakan melompat ke luar dan bersorak sorai kegirangan. Namun, dia tidak mengerti apa yang terjadi dan siapa pria yang mengajaknya hidup bersama itu?
"Ikut aku untuk ke bumi, Sirene. Ayolah," ajak Aiden tak sabar sambil memegangi kedua tangan Sirene.
Sirene melepaskan genggaman tangan Aiden. "Kamu gila! Kurasa semua manusia itu tidak ada yang benar! Aneh sekali!" Sirene berenang dengan cepat dan meninggalkan Aiden yang terus memanggil-manggil namanya.
Setibanya di Pantai Duyung, Sirene mengatur napasnya. Sedna dan Meltem yang melihat Sirene pun dibuat bingung olehnya.
"Ada apa Sirene?" tanya Sedna.
Meltem segera mengetahui apa yang terjadi. "Manusia itu," gumamnya.
"Manusia? Manusia apa?" tanya Sedna. Dia kesal karena hanya dia yang tidak tau apa yang terjadi.
"Manusia itu datang untuk menjemputnya. Kalau perkiraanku benar, sebentar lagi benang takdir akan terikat di antara mereka," ucap Meltem.
Sedna melihat ke arah Sirene dan bersorak senang. "Sirene! Kamu dengar itu! Oh, aku turut bahagia untukmu, Sirene!" pekik Sedna.
Sirene menggelengkan kepalanya. "Aku tidak percaya takdir! Kalau benar takdir itu ada dan misalkan pria itu benar-benar jodohku, kenapa kami di pisahkan? Kenapa takdir itu membuatku sakit sampai mutiaraku habis," tanya Sirene kesal.
Meltem segera memeluk duyung yang sudah dia anggap seperti adiknya itu. "Kalian sedang diuji, Sirene. Jalani saja semuanya sambil terus berharap supaya kalian dipersatukan,"
"Aku ingin bertemu Penguasa!" pinta Sirene.
"Apa tujuanmu ke sana?" tanya Sedna.
Sirene terdiam. Keinginannya tiba-tiba surut seketika. "Aku tidak tau. Tapi ini rasanya seperti aku sedang naik roaler coaster,"
"Memang pernah?" tanya Sedna polos.
Gadis duyung itu menggelengkan kepalanya. "Belum, tapi aku seperti sudah pernah menaiki itu,"
Sedna dan Meltem tertawa. "Mungkin memang kamu pernah menaiki itu," ucap Meltem tersenyum.
Sementara Sirene sedang galau, Lea sedang di interogasi terkait tindakannya yang mengantar Aiden ke Kerajaan Awan dan meninggalkannya seorang diri di sana.
"Apa renacanamu?" tanya Anthem.
Dengan santai, Lea mengangkat bahunya. "Entahlah, aku tidak punya rencana apa pun saat membawa Aiden ke sana. Hanya saja, aku ingin dia bertemu dengan Sirene. Aku tau rasanya dilupakan oleh seseorang," jawab Lea melihat Matt dari sudut matanya.
Matt menangkap tatapan mata istrinya dan mencium Lea dengan lembut. "Maafkan aku, itu tindakan terbodoh yang pernah kulakukan,"
"Sudahlah, lalu siapa yang akan mengembalikan pria malang itu ke bumi?" tanya Anthem cemas.
"Setelah dia mendapatkan apa yang dia mau, aku akan menjemputnya," jawab Lea, tersenyum penuh arti.
Matt dan Anthem saling berpandangan. "Apa maksudmu, Lea?"
"Aku tidak memerintahkan dia untuk melakukan apa pun. Aku hanya memberinya sedikit sihir supaya dia dapat melakukan apa yang ingin dia lakukan," ucap Lea mengulum senyumnya.
Matt dan Anthem menggelengkan kepala mereka. Entah apa yang akan Aiden lakukan kepada Sirene. Segala kemungkinan terpikirkan di dalam benak mereka. Mulai dari ciuman nakal yang akan dilakukan oleh Aiden sampai penculikan terhadap Si Gadis Duyung itu.
"Bagaimana kalau dia menculik Sirene?" tanya Matt ketakutan.
"Tidak masalah kan? Menurutku selama mutiara-mutiara itu masih aktif Sirene akan tetap sehat dan selamat di dekat Aiden," jawab Lea sekenanya.
Sejurus kemudian sebuah hantaman mendarat di meja di hadapan mereka. "Apa yang sebenarnya ada di otakmu, Lea?" tanya Anthem.
"Apa kamu tidak memikirkan Penguasa? Kenapa kamu tidak menunggu perintah dariNya?" tanya Anthem lagi.
Perdebatan antara sahabat dan istrinya membuat Matt menghembuskan napas sambil bersuara. "Fuh! Kenapa kalian mengatur hubungan Aiden dengan Sirene. Bagaimana kalau kita tinggalkan saja mereka? Maksudku, biarlah itu menjadi urusan mereka dan kita tidak perlu ikut campur dengan itu,"
"Tapi tidak bisa, kan? Kita sekarang pemimpin kerajaan, Matt walaupun yang paling banyak bekerja hanyalah Rue, hahahaha! Astaga, aku berdosa sekali," ucap Lea santai dan seketika itu juga dia menangkupkan kedua tangannya untuk meminta maaf kepada Rue yang saat ini sedang pusing karena memikirkan kapan mereka akan menjemput Aiden.
Aiden tidak menghiraukan pertanyaan Rue. Pria itu sedang asik tenggelam dalam pemikirannya.
"Rue, hei. Apa yang terjadi andaikan Sirene turun ke bumi dan mutiara-mutiara itu tetap ada padaku?" tanya Aiden. Dia sedang memikirkan sesuatu yang besar yang akan dia lakukan sebentar lagi. Walaupun dia tidak tau apakah dia sanggup atau tidak.
Rue memonyongkan bibirnya. "Hmmm, aku belum tau pasti. Tapi kupikir, dia akan baik-baik saja. Jangan katakan apa tentang apa yang kamu pikirkan!"
"You think what I'm thinking?" tanya Aiden sambil memutar-mutarkan jarinya di atas meja.
Rue mengangguk. "Tentu saja, sampai pikiranmu yang paling kotor pun aku bisa membacanya," ucap Rue lagi.
Aiden mengibas-ngibaskan tangannya ke atas kepala seolah di sana ada serangga yang mengerumuninya.
"Tetap saja, aku bisa membacanya! Apa yang akan kamu lakukan terhadap Sirene?" sentak Rue.
"Tidak ada!" jawab Aiden.
Dengan menggunakan seluruh kekuatannya, dia berusaha menutup pikirannya dari Rue. Walaupun dia tidak tau bagaimana caranya, tapi dia akan tetap mencoba.
Malam itu,
Setelah seisi istana tertidur, Aiden berjalan menuju Pantai Duyung. Hades yang mengetahui apa yang ada di pikiran laki-laki itu, mencegatnya di Air Terjun Pelangi.
"Aku tau tujuanmu, Aiden," kata Hades.
Aiden mendorong Hades. "Kalau sudah tau, jangan halangi aku, Hades!" tukasnya.
"Aku tidak menghalangimu, aku hanya ingin memastikan kalau Sirene aman di tanganmu. Tapi sebelum itu, ada sesuatu yang harus kamu tau," ucap Hades, dia kembali menghadang Aiden.
"Apa?" tanya Aiden gusar.
"Kamu berada di bawah pengaruh sihir Lea. Karena itu, kamu bertindak tanpa berpikir. Ini menyangkut setengah jiwaku juga, Aiden," pinta Hades.
Kedua alis Aiden berkerut. "Apa maksudmu?"
"Sirene. Gadis itu setengah jiwaku. Jika terjadi sesuatu kepadanya, aku bisa merasakannya juga. Kamu paham maksudku?" tanya Hades.
Aiden mengangguk. "Kalau kamu sudah mengetahui pikiranku dan bagaimana caraku memperlakukan Sirene, aku rasa kamu tidak perlu khawatir tentang hal itu, Hades. Aku selalu bersumpah untuk menjaganya, "
"Baiklah, aku percaya kepadamu," ucapnya. "Lalu, bagaimana rencanamu?" tanya Hades.
Aiden mengangkat kedua bahunya. "Belum kupikirkan,"
"Aku akan berjaga di sini. Berhati-hatilah," usul Hades.
Tak lama, Aiden meneruskan perjalanannya. Pria yang sedang dilanda kegundahan itupun belum tau apa saja yang dia lakukan.
Sesampainya di Pantai Duyung, Aiden berbisik, "Sirene! Sirene!"
Tiba-tiba terdengar suara buih mendekat ke arah Aiden. "Manusia, apa yang kamu lakukan saat Sang Dewi Malam sudah terlelap?"
Aiden menoleh ke sumber suara. Senyumnya terkembang saat tau gadis yang dicintainya mendengar suara panggilannya. "Sirene ikutlah denganku!"
"Ke mana?" tanya gadis itu.
"Ke mana pun aku pergi, aku ingin ada kamu di sisiku," jawab Aiden. Dalam ketergesaan, entah kekuatan darimana tapi ia sanggup mengangkat Sirene dan mengajaknya pergi.
"Hei! Hei! Turunkan aku! Hei! Aku tidak tau siapa kamu, tapi mengapa kamu membawaku seperti ini! Hei, manusia! Turunkan aku!" omel Sirene. Suaranya yang lembut tertelan oleh 'sssttt' dari Hades maupun Aiden.
"Hades, bantu aku!" pinta Aiden.
Hades mengangguk. Dia menyentuhkan tongkatnya ke punggung Aiden dan secara ajaib sepasang sayap putih muncul di belakang tubuh Aiden.
"Turunlah sekarang. Aiden, jaga dia untukku!" ucap Hades.
Aiden mengangguk yakin. "Pasti! Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Sobat,"
Aiden pun turun dengan membawa Sirene yang tertidur karena shock di belakangnya. Sayap putih pinjaman dari Hades mengepak dengan riang seakan berkata, 'memang hanya aku yang pantas mendampingimu, Manusia,'
...----------------...