Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Pernikahan Bawah Laut



"Maafkan aku karena aku tidak dapat membantu kalian," ucap Lea. Kehamilan trimester pertamanya membuat gadis peri itu tak berdaya.


"Dia bukan tidak berdaya, dia sangat kuat. Lihat saja rumah kami! Entah kenapa dia tidak dapat mengontrol kekuatannya sendiri!" sanggah Matt. Berulang kali dia harus merunduk untuk menghindari benda-benda yang beterbangan karena ulah Lea.


Aiden serta yang lainnya pun segera menutup pintu kamar Lea. "Berbahaya sekali. Bagaimana kalau kamu mengandung nanti, Sirene?"


Pria itu membayangkan apa yang akan terjadi kepada calon istrinya saat dia mengandung nanti. Lea adalah peri dan dia menerbangkan segalanya, lalu Sirene adalah duyung, bukan tidak mungkin jika dia mengandung nanti dia akan membalikan air laut.


"Sewaktu Matt menjadi abadi, dia kesulitan untuk mengontrol emosi serta kekuatannya dan mungkin bayi dalam kandungan Lea sama seperti Matt," tutur Anthem.


"Matt tidak dilahirkan abadi, apakah anak mereka nanti manusia atau abadi?" tanya Aiden. Pria yang sebentar lagi akan menjadi pengantin itu menyuarakan isi hatinya. Sama seperti Matt, Aiden juga seorang manusia yang hanya karena mutiara Sirene, dia berubah menjadi manusia abadi.


Dahi Anthem berkerut. "Mungkin, ini baru kemungkinan. Mungkin mereka akan menjadi setengah manusia. DNA manusia dari salah satu pasangan itu akan tetap menurun ke anak mereka. Tapi, ada juga yang abadi karena DNA manusia mereka dikalahkan oleh DNA makhluk-makhluk seperti kami,"


Aiden membentuk mulutnya menjadi huruf O besar. "Ternyata seperti itu. Bagaimana anak kami nantinya, yah?"


"Aku saja belum berhasil. Kasihan juga istriku tapi aku tidak menyerah, siapa tau besok kami akan mendapatkan keajaiban itu. Ya, 'kan?" ucap Anthem. "Oh yah, bagaimana persiapan pernikahan kalian?"


"Sirene dan aku sedang berdiskusi di mana pesta kami akan di adakan," jawab Aiden. "Biasanya bagaimana?"


"Ayah Lea yang mengatur segalanya, begitu pula saat aku dan Alesya menikah, beliaulah yang mengurus," sahut Anthem.


Aiden bertepuk tangan. "Wah, jika ayah Lea manusia, dia bisa mendirikan bisnis Wedding Organisation,"


Tak lama kemudian, seorang pria masuk dan berbicara kepada Aiden.


"Oke, aku ingin Anda mengukur teman-teman saya dahulu. Saya terpaksa memanggil Anda ke sini karena salah satu teman saya tidak dapat meninggalkan istrinya," ucap Aiden.


Aiden membantu pria itu untuk mengukur Anthem serta Matt. Setelah para pria selesai, Tuan Penjahit itu mengukur Sirene dan Alesya.


Namun, dia sedikit kesulitan saat akan mengukur Lea. Semua barang-barang beterbangan dan melayang seakan menyerang sang tukang jahit.


Begitu selesai mengukur Lea, si tukang jahit itu seakan baru kembali dari peperangan dahsyat. "A-, apa itu tadi?"


"Matt, mantra melupakan!" titah Anthem.


Matt mengangguk, dia mengacungkan tongkatnya ke arah tukang jahit yang ketakutan itu dan dalam sekejab wajah ketakutan si tukang jahit berubah menjadi ceria kembali.


Senyum terkembang di wajahnya yang bulat. "Baiklah, saya akan membawa hasil pengukurannya. Mungkin sekitar 2-3 minggu lagi, saya akan membawa gaun serta jas ke sini untuk fitting,"


"Oke. Terima kasih, Tuan Taylor. Sampai jumpa tiga minggu lagi," ucap Aiden.


Setelah semua urusan pakaian selesai, sekarang Aiden san Sirene dihadapkan dengan pilihan di mana mereka akan mengadakan pesta pernikahan.


"Bagaimana kalau di taman?" tanya Aiden. Pria berparas tampan itu tidak dapat membayangkan jika mereka mengadakan pesta di atas langit.


"Aku ikuti keputusanmu, tapi kalau kita mengadakan di bumi maka teman-temanku tidak akan bisa datang. Kamu harus menyediakan kolam besar untuk mereka, Sayang," ucap Sirene.


Aiden melupakan fakta kalau teman-teman Sirene adalah sebangsa ikan, seperti yang dikatakan oleh Matt. "Kamu butuh banyak air kalau ingin mengadakan pesta di bumi. Apa kau sanggup menyediakan air dalam jumlah besae? Duyung itu banyak sekali,"


Sekarang, Aiden paham maksud Matt. Kalau dia tetap bersikeras ingin mengadakan pesta di bumi, darimana dia akan mendapatkan air untuk katakankah 5 orang putri duyung?


"Bagaimana kalau kita serahkan saja acara pesta pernikahan kita kepada ayah Lea?" usul Aiden. Pria itu tampaknya sudah lelah karena memikirkan tempat di mana akan dilangsungkan pesta pernikahan mereka yang fenomenal itu.


Sirene pemegang dagunya sambil berpikir keras. "Aku pernah mendatangi pesta pernikahan Lea bersama dengan Max di bumi dan Yang Mulia Raja Wren menyediakan kami pantai untuk kami berenang jika kaki kami berubah menjadi ekor. Itu momen yang sangat menyenangkan untuk kami para Duyung, Aiden," sahut Sirene. "Kurasa meminta bantuan dari Yang Mulia Raja Wren bukanlah ide yang buruk aku setuju dengan usul itu,"


Aiden menghembuskan nafasnya lega karena ternyata calon istrinya itu menyetujui usulnya sehingga dia bisa melepaskan satu beban yang dari awal telah menyita perhatiannya.


Kali ini, Aiden sudah tidak bingung lagi bagaimana caranya menemukan sayap yang akan dia pakai untuk terbang ke Kerajaan Awan. Dia memanggil sayapnya dan sayap itu segera mendatanginya dan mengepak dengan penuh semangat di belakang Aiden.


Setibanya mereka di Kerajaan Awan, kedua pasangan itu segera menemui ayahnya yang sedang berada di Pantai Duyung.


"Hohoho, gadis duyungnya beserta mempelai laki-lakinya yang tampan. Aku sudah menunggu kedatangan kalian sedari tadi. Ayo, ikuti aku masuk ke dalam," ajak Raja Wren.


Aidin membelalakkan kedua matanya. Dia meragukan fungsi indera pendengarannya karena Raja Wren meminta mereka untuk masuk ke dalam lautan.


"Apa kamu percayaiku? Kalau kamu mempercayaiku turunlah dan berjalanlah," ucap Raja Wren.


Aiden menelan salivanya. Raut wajah ketakutan terpampang dengan jelas. "A-, aku percaya,"


Sebuah tangan lembut menggenggam tangan pria itu. "Jangan takut, Sayang. Ini rumahku,"


Perlahan rasa takut dan ragu Aidan pun sirna. Laki-laki itu menggenggam tangan kekasihnya dan dengan mantap menuruni tangga menuju bawah laut satu demi satu.


Sebelumnya Aiden berpikir kalau dia tidak akan bisa berbicara di bawah laut akan tetapi, ternyata keajaiban terjadi di bawah laut tersebut. Dia bisa berbicara layaknya saat dia berada di daratan.


"Ini luar biasa sekali! Bagaimana ini bisa terjadi? Secara akal sehat maupun secara ilmu pengetahuan, ini tidak mungkin terjadi," ucap Aiden.


Raja Wren tertawa. "Kalau kalian meminta pendapatku untuk menentukan di mana pesta pernikahan kalian akan dilangsungkan maka, aku takkan ragu menyarankan bawah laut ini sebagai tempat pesta pernikahan kalian. Bagaimana?"


Senyum lebar terukir di wajah Sirene dan Aiden. Mereka sudah tidak perlu menghias atau memberikan dekorasi di bawah laut karena dengan adanya rumput laut yang bergoyang-goyang, anemon-aneman laut serta terumbu karang yang berwarna-warni dan binatang-binatang laut yang seperti mengeluarkan cahaya sudah membuat pemandangan di bawah laut itu tampak indah.


Maka dengan di ambilnya keputusan itu, undangan pun disebar ke seluruh penghuni langit. Untuk teman-teman Aiden akan dilangsungkan pesta di bumi juga.


Hari pernikahan pun tiba, Raja Wren memimpin pemberkatan pernikahan tersebut. Setelah mengucapkan ikrar janji suci, pesta pernikahan pun dilangsungkan.


Suasana pesta sangat ramai, layaknya pesta pernikahan pada umumnya. Hades datang ke pernikahan itu dengan memakai satu set tuksedo lengkap. Dia terlihat sangat tampan sehingga beberapa duyung teman Sirene dibuat terpesona olehnya.


"Hades, ayo kita menikah. Kau tampan sekali. Aku rela menjadi pendampingmu dan membantumu untuk menjemput jiwa manusia," seru Sedna yang dengan cepat menggandeng tangan Hades.


Beberapa teman duyung Sedna pun berebutan lengan Hades dan saling menawarkan dirinya untuk menjadi pendamping Malaikat Kematian itu.


Lea yang sedang mengalami gejala mual pun turut menikmati pesta itu, dengan meminum ramuan yang dibuatkan Rue untuknya.


"Kalau aku muntah, aku rasa tidak akan yang menyadari itu. Pesta pernikahan itu berada di bawah laut jadi kemungkinan besar muntahanku akan segera melayang di atas lautan dan menjadi satu dengan air laut, hahahaha!" sahutnya dengan seringai lebar.


"Kurasa anak yang dikandung oleh Lea akan berjenis kelamin laki-laki dan sifatnya tidak akan jauh berbeda dengan Matt," bisik Anthem yang saat itu juga datang dengan menggunakan sihir yang diberikan oleh Raja Wren.


Alesya memakai gaun yang di design langsung oleh Sirene. Gaun putri duyung berwarna hijau yang cantik dengan payet mutiara di sekelilingnya.


Aiden tidak hanya merasa bahagia saat itu, dia juga merasa luar biasa berada di tengah-tengah kerumunan makhluk gaib yang pernah membuatnya trauma.


"Andai kamu tidak mencariku, hidupku akan biasa saja dan tidak akan semenarik ini. Terima kasih karena telah datang di hidupku, Sirene," bisik Aiden.


Sirene tersenyum. "Terima kasih juga karena kamu memperjuangkanku, Sayang."


Sifat malu-malu Sirene kini sudah menguap dan dengan berani, gadis duyung itu menempelkan kedua telapak tangannya di pipi Aiden dan menyapukan ciuman manis di bibir suaminya itu. Buih-buih segera saja muncul di permukaan lautan.


"Ternyata ini yang dimaksud dengan Sirene akan menjadi buih. Huh!" tukas Meltem yang berjaga di tepi pantai itu sambil menikmati matahari yang semakin lelah, kemudian gadis duyung kemerahan itu tersenyum simpul. "Semoga berbahagia, Sirene,"


...----------------...