Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Terjebak Di Antara Pilihan



"Pe-, Penguasa? Apakah kamu mengajakku u-, untuk, ...." Aiden pun tergagap saat mengetahui siapa pria besar yang kini duduk di singgasana kebesarannya.


Penguasa pun tertawa mendengar pertanyaan Aiden. "Hahahaha, sudah kukatakan bel waktunya untukmu datang kesini. Maka itu aku bertanya kepadamu, ada kepentingan apa kamu kesini, Tuan Sebastian?"


Aiden menghela napas dengan lega. "Aku pikir. Untuk hal itu, Meltem yang membawaku kesini jadi kupikir, .... Hmmm, kupikir, ...."


Dengan sabar Penguasa menunggu Aiden melanjutkan perkataannya. Meltem pun tidak memberi tahukan kepada Penguasa tujuan mereka datang ke tempat-Nya.


"Ehem! Ehem! Aku ingin mengembalikan mutiara Sirene kepadanya supaya Sirene tetap hidup," tegas Aiden. Dia memberanikan dirinya untuk mengungkapkan maksud Meltem mengajaknya kesana.


Penguasa melebarkan netranya yang jernih bak air kolam. "Lalu, kamu ingin mempercepat umurmu? Hahaha, aku tidak masalah,"


Tangan Aiden bergoyang dengan cepat. "Ti-, tidak. Bukan begitu maksudku. Maksudku adalah, .... Tapi kalau tidak ada cara lain selain aku harus, Kau tau. Itu tidak akan menjadi masalah juga bagiku,"


Meltem mengulum senyumnya. Duyung itu mengagumi keteguhan serta keberanian Aiden. "Bisakah kita mengeluarkan mutiaranya?"


"Untuk apa di keluarkan? Sirene sudah memberikan itu kepada Tuan Sebastian yang baik hati ini dan Sirene tidak sekali pun menuntut mutiaranya untuk dikembalikan," jawab Penguasa.


"Jadi?" Aiden bertanya. Sekarang, dia sudah sedikit santai karena Penguasa tidak semenakutkan itu.


"Apa yang ingin kamu inginkan dari Sirene, Tuan Sebastian? Apakah kamu ingin Sirene menjadi manusia atau dia tetap abadi tanpa kembali kepadamu lagi?" tanya Penguasa.


Aiden terdiam, pria itu mencerna ucapan Sang Penguasa yang membuatnya sedikit bingung. "Bagaimana maksudmu, ah maksudku, Yang Mulia?"


"Jika kamu ingin Sirene menjadi manusia maka harapan hidupnya sangat tipis karena peluru yang di tembakkan oleh polisi-polisi itu telah melukainya cukup dalam. Namun, dia akan pulih sepenuhnya dengan membuatnya tetap abadi tanpa kedua mutiaranya. Akan tetapi, dia tidak bisa kembali ke bumi bersamamu. Mana yang kamu pilih?" tanya Penguasa tersenyum seakan Dia bertanya kepada seorang anak berusia 3 tahun di mana letak hidungnya.


Aiden memandang Meltem meminta pendapat darinya. Namun, Meltem hanya mengangkat kedua bahunya sambil menggelengkan kepalanya, tersenyum.


Sementara itu di Kerajaan Awan, Hades mengunjungi Sirene. Pria yang menyerupai bayangan hitam itu terus memegangi tangan Sirene.


"Sirene, hiduplah," bisik Hades sambil menciumi telapak tangan gadis duyung itu.


Matt merangkul pria itu dan berharap dia dapat memindahkan seperempat kesedihan Hades kepadanya. "Dia akan hidup, Hades,"


"Matt, bagaimana manusia yang menggoda Sirene itu? Apakah mereka mati? Jawab yang jujur, Matt!" desak Hades.


"Mereka selamat menurut Anthem," jawab Matt. Dia tidak akan melarang Hades jika makhluk hitam mengerikan itu ingin mengakhiri hidup mereka atau bahkan memakan jiwa manusia tidak berguna seperti mereka itu.


"Mantra pelupanya?" tanya Hades.


Matt mengangguk. "Lea sudah mengaktifkannya. Mereka tidak akan ingat tentang kejadian hari ini,"


"Aku akan menjadikan hari ini sebagai mimpi buruk mereka, Matt. Aku akan menunggu mereka untuk memohon kepadaku untuk menghentikan mimpi buruk mereka dan dengan begitu aku akan menbawakan mimpi yang lebih buruk untuk hidup mereka," sahut Hades menyeringai licik.


"Kau tidak melarangku?" tanya Hades heran. Pria pucat itu menatap Matt dengan kedua netranya yang lancip.


Dengan santai Matt menggeleng. "Jika aku memiliki kekuatan sepertimu, aku akan melakukan hal yang sama kepada mereka. Aku tidak akan membunuh mereka tapi aku akan membuat mereka mengalami mimpi buruk sampai mereka berharap untuk mati saja,"


Hades mendengus. "Huh! Untuk hal membalas dendam, aku rasa kita sama. Di mana kekasihnya?" tanya pria itu.


Matt mengacungkan jari telunjuknya ke arah atas. "Meltem mengajaknya untuk menemui Penguasa. Sirene seperti ini karena mutiara itu tidak ada padanya,"


Matt melirik Hades. "Kau turun sekarang?"


Hades mengangguk mantap. "Jaga Sireneku, Matt!"


Tak lama, Hades pun melayang ke bawah dan menghilang di balik awan. Entah apa yang akan dia lakukan tapi menurut Matt, balas dendam selalu menjadi sesuatu yang sangat nikmat dan wajib dilakukan.


Setibanya di bumi,


Dengan cepat, Hades sudah menemukan di mana kedua pria pengganggu wanita yang di cintainya itu berada. Kebetulan sekali para Laki-laki Brengsek itu sedang tertidur pulas, jadi dia tidak perlu membuang energinya hanya untuk menidurkan mereka.


Kekuatan sihir Hades tidak perlu dipertanyakan lagi. Dengan mudahnya dia mengeluarkan seuntai benang putih tipis dari pelipis pria tersebut. Seperti potongan-potongan film, benang itu menampilkan rekaman kejadian yang terjadi di hidup manusia itu.


Bak seorang pelukis, Hades mengacak-acak film pada benang itu dengan jari tangannya. Setelah merasa cukup bagus, Hades memasukan kembali benang itu ke tempatnya semula sambil tertawa terkikik.


Hades melakukan hal yang sama kepada teman pria tersebut.


"Akan kutunggu kedatangan kalian, Manusia Brengsek!" bisiknya menyeramkan. Seketika itu juga, tidur dua pria itu menjadi gelisah, seluruh tubuh mereka di penuhi oleh titik-titik peluh.


Keesokan harinya, Hades kembali menemui Penguasa. "Halo, Yang Mulia. Bagaimana kabar Anda pagi ini?"


Penguasa tersenyum. "Aku tau yang telah kamu lakukan kemarin malam, Hades. Kenapa kau lakukan itu?"


"Huh!" dengus Hades. "Mereka pantas mendapatkannya, Yang Mulia. Aku tidak akan bisa tenang menjalani hukuman dariMu jika aku belum melihat mereka menderita seperti Sirene dan maafkan aku, jiwa mereka sudah tercatat di buku catatatanku," sambung Hades lagi, dia tersenyum puas.


"Segala hukuman dan pengampunan hanya berasal dariKu, Hades. Kenapa kau selalu ingin melangkahiKu?" tanya Penguasa.


"Hukumanmu, janjimu, jawabanmu selalu datang terlambat, Yang Mulia. Aku tidak pernah berniat untuk melangkahimu hanya saja aku butuh gerakan cepat, sat set sat set," jawab Hades meninggalkan rasa hormatnya.


Penguasa kembali tersenyum. "RencanaKu yang terjadi, Hades. Bukan rencana mereka atau bahkan rencanamu. Baiklah, ada perlu apa kamu kesini lagi?"


"Permohonanku masih sama seperti kemarin. Hidupkanlah Sirene dan aku akan melakukan apa pun yang membuatmu tersenyum, lihat senyumMu itu, lebar sekali dan yap, aku akan membuatmu tersenyum seperti itu," jawab Hades. Dari suaranya dia terdengar tampak jengkel.


"Anak Pintar. Aku memberikan pilihan kepada Aiden, manusia itu juga sudah mendatangiku kemarin dan tentu saja aku akan memberikan pilihan juga kepadamu," ucap Penguasa, tersenyum puas.


Hades bangkit berdiri dan berkacak pinggang. "Kenapa perasaanku tidak enak? Apa yang akan kau lakukan terhadapku?"


Suara tawa yang besar dan renyah terdengar dari pria yang duduk tegak di singgasana itu. "Hahahaha, kau memang cerdas, Hades. Baiklah, kamu memiliki dua pilihan. Pertama, aku akan menghidupkan kembali Sirene tapi dia tidak akan mengenalimu lagi. Seluruh ingatannya tentangmu akan hilang dan sebagai gantinya Aku akan mengambilmu, Hades."


Pria pucat berjubah hitam itu tampak mempertimbangkan pilihan yang diberikan kepadanya. "Di mana Sirene akan tinggal nantinya?"


"Dia akan abadi dan tidak dapat kembali ke bumi," jawab Penguasa.


"Cih! Manusia itu juga berarti tidak berhasil mendapatkan Sirene, begitu?" tanya Hades.


Penguasa mengangguk perlahan. "Kira-kira seperti itu. Bagaimana pilihanmu, Hades? Apa pun yang kamu pilih, aku akan tetap mengambilmu,"


"Sialan! Kau menjebakku!" tukasnya gusar.


...----------------...