Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Curahan Hati



"Hades, kamu mengunjungiku. Wow, sayap barumu! Keren sekali sayapmu. Apa kamu menyewanya dari Castiel?" tanya Sirene saat Hades bermain di Pantai Duyung.


Hades sedikit memiringkan tubuhnya supaya duyung itu dapat melihat dengan jelas sayap baru miliknya. "Penguasa yang memberikanku sayap ini,"


"Benarkah? Wow! Hebat sekali! Tapi, kenapa Dia memberimu sayap?" Sirene bertanya lagi. Seingatnya hanya makhluk yang mempunyai misi khusus yang diberikan sayap langsung oleh Sang Penguasa.


"Aku diminta untuk menggantikan tugas kakakku sebagai malaikat kematian. Saat ini aku sedang tidak ada pekerjaan dan aku bosan di sana. Kamu tahu kan Lembah Kematian itu panas dan aku tidak menyukai panas. Tempatku saja dipenuhi oleh stalaktit dan stalakmit kamu bisa merasakan betapa dinginnya di tempatku dan kemudian tiba-tiba saja Penguasa memintaku untuk menggantikan pekerjaan kakakku," jelas Penguasa Alam Kegelapan itu.


Sirene menautkan kedua alisnya. "Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu yang sebelumnya?"


"Aku tidak pernah bekerja, Sirene. Baru kali ini aku bekerja dan aku bingung apa yang harus kukerjakan. Makanya aku ke sini," tutur Hades, kedua kakinya dia kepakan di air.


"Aku senang kamu datang. Entah kenapa aku juga merasa bosan di sini. Kemampuan berenangku menurun sekali seolah-olah ini bukan ekorku," ucap Sirene.


Ucapan Sirene membuat Hades terhenyak. Penguasa benar-benar membuat Sirene lupa segalanya. Bahkan semua petualangan yang mereka alami di bumi, hilang, sirna dari ingatan Sirene.


"Memangnya apa yang kamu rasakan?" tanya Hades. Dia sedikit merasa bersalah sekarang. Kalau dipikir-pikir, dia dan manusia yang bernama Aiden itu cukup egois. Hanya demi membuat wanita di hadapannya sekarang kembali hidup, mereka rela menukar kebahagaian Sirene. Tapi kemudian, dia menggelengkan kepalanya lagi dan meyakinkan dirinya kalau apa yang sudah dia lakukan ini adalah langkah yang tepat.


"Kosong," jawab Sirene singkat.


Hades menghela napasnya. "Begitu?" Dia tidak berani meneruskan pertanyaannya tetapi dia berusaha untuk membuat Sirene mengeluarkan segala kegundahan hatinya.


"Maukah kamu bercerita kepadaku apa yang membuatmu kosong?" rayu Hades.


Sirene menceburkan dirinya ke dalam air, gadis itu mengajak Hades untuk ikut bersamanya. Mereka berenang hingga ke perbatasan antara lautan Kerajaan Awan dan bumi.


"Aku tidak tau apa yang terjadi di ujung sana tapi hatiku seperti terpaut di sana, Hades. Ini aneh sekali," ucap Sirene. Dia memandang jauh ke ujung pantai dengan tatapan kosong.


"Apa kamu mengingat sesuatu?" tanya Hades lagi.


Sirene menggeleng. "Apa yang harus kuingat?"


"Entahlah. Mungkin kamu membayangkan seseorang di alam bawah sadarmu atau apalah mungkin," kata Hades. Dia tau ini akan membuatnya sakit, tapi dia sudah bersumpah untuk mengembalikan senyum serta keceriaan Sirene jadi Hades mengalah dan membiarkan dirinya saja yang patah hati.


"Darimana kamu tau tentang itu, Hades?" tanya Sirene.


"Tentang apa?" Hades balik bertanya dengan memasang wajah bodohnya.


"Seseorang! Apa kamu mengetahui apa yang tidak kuketahui?" tuntut Sirene.


Hades mengangkat bahunya. "Aku tidak tau. Aku hanya asal menebak," kilah Hades.


Sirene kembali menatap tepian laut. "Aku memimpikan seorang pria tapi dia tidak berwajah. Aku pikir itu hantu atau semacamnya, kan? Tapi setiap kali aku bertemu pria itu di mimpiku, aku merindukannya,"


"Kamu mulai aneh. Kamu menyukai hantu sekarang! Aku pikir kamu gadis normal ternyata, ...." goda Hades, dia berharap Sirene memberikan senyumannya walaupun hanya sedikit.


Harapannya terkabul, Sirene tersenyum kesal. "Bukan begitu, Hades Bodoh! Itu bukan hantu dan aku gadis normal! Tidak sopan! Huh!"


Hades tertawa. "Hahahaha, habisnya kamu bersemangat sekali bercerita tentang hantu itu,"


Sebutir air mata jatuh dari pelupuk matanya yang cantik. Hades memeluk gadis dengan erat. Air mata Sirene tidak berubah menjadi mutiara. Apakah ini berarti Penguasa punya rencana lain? Jika Sirene abadi, kenapa mutiaranya hilang? Apa karena mutiara-mutiara itu masih berada dalam diri Aiden? Apakah mereka masih terhubung? Pertanyaan demi pertanyaan terus terlintas dalam benak Hades saat itu.


Jauh di bawah langit, seorang pria sedang merasakan sakit yang luar biasa. Malam itu, dia bersama kedua temannya yang setia mengekori kemana pun dia pergi sedang berada di sebuah bar.


"Aku baru tau kalau cinta itu sesakit ini! Sialan! Kenapa cinta itu harus sakit? Huhuhu, Sirene. Kembalilah," manusia itu mulai meracau tak jelas karena pengaruh alkohol.


"Dia sudah mabuk. Kita pulangkan saja dia. Aiden, ayo kita kembali dan memang ini saatnya kembali sebelum Lea mengamuk kepadaku," titah Matt sambil menyampingkan lengan temannya itu di pundaknya.


Namun, Aiden menepis tangan Matt. "Tidak! Aku tidak mau pulang! Aku akan menyusul Sirene ke langit. Sirene, aku datang! Oh, tapi aku harus punya sayap untuk menyusulnya, kan? Matt, di mana tempat aku bisa beli sayap? Huhuhu, Sirene, aku tidak punya sayap. Bagaimana aku bisa menemuimu di atas sana, huhuhu," Aiden kembali terisak. Dia jatuh terduduk di lantai dan menangis di sana.


Matt dan Anthem saling berpandangan, mereka tidak tau harus berbuat apa kepada teman manusia mereka ini.


"Kita akan membeli sayap di supermarket. Sekarang berdirilah sebelum kita di usir oleh petugas keamanan," sahut Anthem supaya terdengar lebih manusiawi karena orang-orang di sekeliling mereka mulai memandang ke arah Aiden.


Aiden mengusap air matanya. "Benarkah? Aku tidak pernah melihat ada sayap di supermarket. Kamu bohong, Anthem! Sirene! Bawa aku! Tolong aku, Sirene!" Aiden kembali berteriak dan mengoceh.


Tidak ada yang lebih tegas dan kuat di semesta ini selain, Lea. Maka, Matt mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video kepada istrinya itu.


("Kamu bercanda! Hanya untuk mengajak Aiden pulang, aku harus turun tangan juga? Terlalu kalian!") sahut Lea.


Namun karena rasa simpati dan empatinya yang tinggi, Lea akhirnya memutuskan untuk membantu mereka. Dia memerintahkan Angelo, malaikat penjaga Anthem untuk menghubungi Castiel.


Castiel pun segera datang. "Ya, Yang Mulia Ratu,"


"Aku pinjam sayap, yang mana saja yang bisa terbang sungguhan," ucap Lea.


Castiel memberikan sepasang sayap berwarna kuning mentega kepada Lea. "Ini yang ukurannya cukup besar dan tak kasat mata,"


Lea mengambil sayap itu. "Aku pinjam bukan sewa. 30 menit lagi aku kembalikan,"


Castiel memberengutkan bibirnya dan ketika Lea pergi, dia mencurahkan kekesalannya kepada Angelo. "Cih! Kenapa kamu penurut sekali, sih? Kalau begini, kan aku yang rugi!"


Tak lama, Lea sudah sampai di bar tempat Matt dan yang lainnya menunggu. Dengan cepat dia menemukan Aiden serta suaminya.


"Matt!" pekik Lea.


"Cepat sekali kamu menemukan kami?" tanya Anthem dengan kagum.


"Cari saja yang di kerumuni orang-orang, kan?" jawab Lea. "Ini sayapnya," dia menempelkan sayap tak kasat mata itu kepada Aiden dan menahan tangan pria itu dengan kuat.


"Kita akan terbang?" tanya Matt.


Lea mengangguk. "Aku dan Aiden. Kamu kembalilah ke rumah. Ada Castiel di sana, aku memakai namamu sebagai jaminan sayap ini. Aku pergi," tuturnya dan kemudian mereka berdua menghilang di tengah kerumunan.


...----------------...