Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Mutiara Biru



"Sirene! Maafkan aku, ka-, ... Loh, mana Sirene? Kenapa kamu belum pulang?" tanya Aiden.


Emma menggelendot manja di lengan kekar Aiden. "Aku menyuruhnya pergi. Dia hanya seorang gadis yang datang dari desa dan saat kutanyakan apa tujuannya, dia tidak bisa menjawab,"


Aiden menyentakkan lengan Emma. "Ini rumahku, Em! Kenapa kamu mengusirnya? Gadis itu telah memberikan miliknya yang sangat berharga kepadaku!"


"Heh? Miliknya yang berharga? Maksudmu, a-, apakah kalian sudah, ...?" Emma mengerucutkan kesepuluh jarinya dan ia mempertemukan satu tangan dengan tangan yang lain.


Kibasan tangan Aiden menjadi jawaban atas prasangka gadis bertubuh sintal itu.


"Ergh! Sialan!" tukas Emma kesal. Dia melempar-lemparkan bantal-bantal sofa yang sudah tersusun rapi.


Sementara itu Aiden berusaha menghubungi Matt serta Lea untuk mencari keberadaan Sirene.


"Matt, apakah Sirene berada di tempatmu?" tanya Aiden dalam panggilan telepon malam itu.


("Sirene? Tidak ada Sirene disini,") jawab Matt.


("Apa kalian bertengkar? Aku akan membantumu mencari Sirene, teruslah mencari dan terus kabari aku!") seru Matt lagi.


Sirene belum paham bagaimana menjadi manusia dan apa saja yang ada di dunia manusia selain berada di luar lingkaran Matt dan teman-temannya.


"Lea! Lea! Sirene menghilang!" ucap Matt ketika panggilan Aiden selesai.


Lea segera berlari menuruni tangga begitu pria yang sudah menjadi suaminya itu memberikan kabar bahwa Sirene menghilang.


"Eh? Lagi? Senang sekali dia kabur! Dasar Duyung!" balas Lea.


Wajar saja jika Lea tidak pernah dekat atau berusaha mendekati kawanan duyung. Karena menurutnya, para duyung itu sangat sensitif dan mudah sekali tersinggung.


Lea lebih senang menemui malaikat kematian daripada para duyung. Terbukti dengan pertemanan jangka panjang antara Lea dengan Anthem.


"Kalau dia melarikan diri kira-kira ke mana dia akan pergi?" tanya Aiden.


"Saat dia melarikan diri terakhir kali itu, dia kembali ke Kerajaan Awan," jawab Lea.


Aiden mengangkat kedua alisnya dan menyerukan wow tanpa bersuara. Tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya, Sirene dipengaruhi oleh Hades.


Namun, Matt dan Lea menggelengkan kepala mereka. "Hades tidak akan melakukan sesuatu yang akan membuat reputasinya buruk. Jika dia menghasut Sirene, secara otomatis dia akan dicap sebagai pengecut oleh kami dan dia tidak akan suka dengan label itu,"


"Lalu, ke mana kira-kira Sirene pergi?" tanya Aiden lagi.


Dikarenakan hari sudah mulai malam, Matt menyarankan Aiden untuk kembali pulang ke rumahnya dan beristirahat karena pagi tadi mereka baru saja mendarat dari Maladewa.


"Kita tunggu sampai besok pagi. Semoga saja besok pagi Sirene sudah kembali ke rumahmu. Kalaupun dia belum kembali, kita hanya bisa berharap semoga dia tidak pergi terlalu jauh," usul Matt.


Lea dan Aiden pun menyetujui usul Matt.


Aiden kembali ke rumahnya dan ia segera saja mengajak Emma untuk berbicara.


"Kenapa kau mengusirnya? Sirene bukan gadis jahat atau gadis yang akan memanfaatkanku. Dia seorang gadis yang baik dan jujur saja aku menyukainya, Em," ucap Aiden saat dia sudah kembali ke rumahnya.


Gadis pirang yang kini memakai piyama berwarna hitam kebesaran milik Aiden itu pun bersiul. "Fiuh, seorang Aiden dengan kriteria wanita yang memiliki spek cukup tinggi ternyata menyukai seorang gadis desa yang culun dan tampak biasa saja. Apakah dia seorang penyihir?"


Aiden tersenyum. "Mungkin saja dia seorang penyihir karena dia berhasil menyihir hati dan hidupku. Dia juga berhasil menyingkirkan ketakutan terbesarku. Itulah mengapa aku jatuh cinta kepadanya. Keinginan Gadis itu hanyalah satu yaitu dia ingin menemuiku, anak laki-laki yang pernah dia tolong 10 tahun yang lalu,"


Aiden tak tahu harus berkata apa lagi. Kandasnya hubungan mereka disebabkan karena Emma yang memutuskannya. Dia lebih memilih untuk mengejar karir ketimbang melanjutkan komitmen mereka ke tahap yang lebih tinggi.


Saat itu memang Aiden mengajaknya untuk segera menikah dan memiliki seorang anak. Pria itu berpikir, mungkin akan seru sekali jika mereka memiliki anak di saat umur mereka masih sangat muda.


Namun sayangnya, ketika Aiden mengungkapkan kemauannya itu kepada Emma, wanita itu lebih memilih memutuskan hubungannya dengan Hayden dan mengejar karirnya.


"Kalau saat ini kau menanyakan masalah itu, tentu saja aku akan menolaknya karena di hatiku hanya ada satu orang gadis yaitu Sirene." tegas Aiden.


Emma menjejakkan kakinya ke lantai dengan keras karena ia kesal kepada Aiden yang lebih memilih seorang gadis desa polos dan culun untuk menjadi kekasihnya.


Sementara itu, di kediaman Anthem.


"Sirene, mutiaramu yang berada di dalam tubuh Aiden berubah menjadi biru cemerlang," ucap Hades.


Gadis duyung itu menatap Penguasa Alam Kegelapan dengan sedikit ketakutan di wajahnya. "Apa yang akan terjadi jika mutiaraku berubah menjadi biru, Hades?"


Hades mengangkat kedua bahunya. "Aku tidak tau. Apa kau tidak merasakan sesuatu? Mungkin khawatir, putus asa, sedih atau mungkin perasaan manusiawi lainnya?"


Sirene kemudian berpikir. Akhir-akhir ini memang dia merasakan jantungnya berpacu lebih cepat atau seperti saat ia melihat Aiden bersama dengan Emma, ada sesuatu yang menusuk-nusuk di hatinya. Apakah itu yang dimaksud dengan perasaan manusiawi?


"Apa itu perasaan manusiawi?" tanya Sirene. Dia ingin memastikan apakah yang selama ini dia rasakan adalah perasaan manusiawi?


"Aku tidak begitu paham tentang perasaan manusia tapi yang aku tahu saat mutiara hitam duyung berpendar menjadi warna biru cemerlang artinya duyung tersebut akan segera berubah menjadi manusia hanya saja mereka diperkenalkan dengan rasa-rasa yang dialami oleh manusia. Seperti yang barusan kukatakan," jawab Hades.


Sirene kembali berpikir. Ada sesuatu yang janggal yang terus ia pikirkan sejak Hades mengatakan bahwa mutiaranya berubah menjadi biru cemerlang.


"Hades, mutiara itu ada di dalam tubuh Aiden, Apakah artinya berubah kembali menjadi manusia dan keabadian yang akan menghilang?" tanya Sirene lagi.


"Keabadian seseorang tidak akan bisa hilang jika Penguasa menghendakinya. Namun, kondisi kamu dan Aiden adalah kondisi yang berbeda di mana kamu memberikan mutiara-mutiara itu dengan sengaja dan telah memantrai mutiara-mutiara itu untuk menjadi milik Aiden seutuhnya. Artinya, itu berada di luar kehendak Penguasa," ucap Anthem tiba-tiba.


Pensiunan malaikat kematian itu menjelaskan tentang kemungkinan keabadian Aiden akan menghilang.


"Kalau seperti itu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Sirine.


"Mintalah Aiden untuk mengembalikan mutiaranya kembali kepadamu," usul Anthem.


Putri duyung berambut biru itu pun kembali menunjukkan raut wajah ketakutannya. "Bukankah kalau Aiden mengembalikannya, dia akan mati?"


"Mantra apa yang kau gunakan?" tanya mantan malaikat kematian yang tampan itu.


"Aku memantrainya supaya mutiara-mutiara itu akan terus melekat di dalam dadanya sampai selama-lamanya," jawab Sirene.


Baik Hades maupun Anthem saling berpandangan dan mengangkat kedua bahu mereka secara bersamaan. "Kami tidak tahu apa yang terjadi jika Aiden mengembalikan mutiara-mutiara itu. Karena kamu telah memantrainya memakai mantra yang cukup menyeramkan,"


"Apa akibatnya jika Aiden tidak mengembalikan mutiara mutiara itu?" Sirene yang masih penasaran kembali menanyakan perihal mutiara yang telah dia berikan kepada Aiden.


"Aiden akan gagal mendapatkan keabadian. Tapi, mutiara yang ada pada dirimu termasuk mutiara yang cukup kuat. Dan aku yakin mereka akan bertahan bagaimanapun caranya. Namun, yang aku takutkan adalah jika mereka maksudku mutiara-mutiaramu itu, menginginkan jiwa seorang manusia untuk mempertahankan keabadian dari induk semangnya," jawab Anthem dengan seringai mengerikan.


"Maka, Emma berada dalam bahaya," sahut Hades.


...----------------...