Love Me, My CEO

Love Me, My CEO
Kisah Manis Tentang Kami



Hubungan Sirene dan Aiden mulai diresmikan. Di mana ada Aiden, maka di situlah Sirene akan berada. Seperti pasangan baru pada umumnya, mereka tampak mesra dan manis sekali.


Namun, ada sesuatu yang membuat Aiden sedikit resah. Sirene meminta izin untuk bekerja bersama Alesya.


"Anthem, di restoran mana Alesyamu itu bekerja?" tanya Aiden suatu hari kepada Anthem.


Anthem menyatukan kedua alis matanya. "Kamu kan sudah pernah ke sana. Kenapa bertanya?"


"Maksudku, apakah jauh dari rumahku? Kalau jauh, seberapa jauh dan kalau dekat, seberapa dekat?" tanya Aiden, meminta penjelasan detail dari temannya itu.


Anthem mengambil ponselnya dengan sabar dan memberikan seutas senyum kepada Aiden. Kemudian, ia membuka dawainya itu dan menekan aplikasi bertuliskan 'Peta' pada ponselnya.


"Lihat, betapa sudah sangat luar biasanya teknologi kita saat ini, Kawan. Kamu tinggal mengetik tujuanmu di kolom ini dan, tadaaaaa! Lihat, sudah muncul jarak tempuh dari restoran Alesya ke rumahmu, kan? Atau kamu juga mempunyai kesulitan untuk membaca? Baiklah, akan kubacakan. Jarak dar-,"


"34 menit! Aku tau!" tukas Aiden dengan kesal. Anthem menganggapnya seperti anak kecil yang memerlukan bimbingan orang dewasa.


"Biarkan dia bekerja, Aiden. Dia ingin menjadi manusia jadi kupikir tidak ada salahnya memperkenalkan dunia manusia sedikit demi sedikit kepadanya," tutur Matt yang baru saja datang.


Aiden berpikir. Pria itu seperti tidak tega melepas kekasihnya untuk bekerja dan mengenal lebih banyak manusia.


Menurut Aiden, Sirene masih sangat lugu. Dia mudah percaya dengan orang lain dan dia akan merasa senang jika ada manusia yang menyapanya.


Seperti saat mereka sedang berkencan di sebuah taman bunga. Ada seorang nenek yang menyapa dan mengatakan betapa cantiknya Sirene. Gadis itu menceritakan kejadian itu berulang kali kepada siapapun yang mau mendengarkan.


"Apakah Alesya bisa menjaga Sireneku?" tanya Aiden cemas.


"Tentu saja bisa. Alesya pandai bela diri," jawab Anthem dengan bangga.


Matt pun ikut berkomentar, "Aku rasa, Lea juga akan menjaga Sirene. 24 kalau dia sanggup,"


Setelah mendapatkan pencerahan dari teman-temannya, maka malam itu Aiden pulang ke rumahnya dengan membawa kabar bahagia untuk Sirene.


Seperti biasa, Sirene sudah siap menyambut kepulangannya malam itu.


"Aiden, kamu sudah kembali. Air hangatnya sudah kusiapkan. Ayo, aku bantu membawakan barangmu," kata Sirene ceria. Gadis duyung itu mengambil tas kerja dari tangan Aiden dan membantunya untuk melepaskan jas serta dasi yang terjuntai di leher Aiden.


Namun, Aiden mengambil tangan Sirene. "Hei, kamu benar-benar pintar membuatku nyaman, Sirene. Kalau kamu bekerja nanti, apakah kamu akan memperlakukan tamumu seperti ini?" tanya Aiden cemburu.


Sirene tersenyum dan di pipinya sudah ada semburat merah yang membuatnya tampak manis. "Tentu saja, kan kalau bosku memintanya,"


Aiden menundukkan kepalanya. "Kau sekarang sudah berkhayal tentang bos? Aku sungguh tidak menyukainya, Sayang. Bagaimana kalau aku saja yang menjadi bosmu?" tanya Aiden.


Ingin sekali rasanya melahap gadis cantik yang tersipu malu yang ada di hadapannya itu.


"Hihihi, kalau kamu yang menjadi bosku, lalu, apa pekerjaanku?" tanya Sirene tersenyum malu.


"Tentu saja kau harus melayaniku," jawab Aiden.


Tak lama, dia sudah memagut bibir Sirene yang sedari tadi sangat menggodanya itu. "Melayaniku seperti ini. Kamu sanggup?" tanya Aiden lagi.


Matt dan Rue sebenarnya masih bingung dengan hal-hal seperti ini. Mereka pernah membahas tentang Sirene dan juga duyung lainnya.


"Hei, Rue. Sirene pernah bercerita kepada Lea. Dia mengatakan kalau dekat Aiden, jantungnya berdebar-debar. Bukankah duyung sama seperti ikan? Apakah jantung mereka akan berdebar kalau jantung mereka hanya memiliki 1 atrium?" tanya Matt saat itu.


Rue berdecak tak sabar. "Duyung bukan ikan! Mereka dinamakan manusia duyung. Badan atasnya tentu saja mengikuti anatomi manusia, Matt!"


"Ah, benar juga. Tapi, apakah kalau ikan-ikan itu bisa berdebar?" tanya Matt lagi. Keningnya mengkerut.


"Sudahlah, Matt. Kita lupakan sejenak masalah perikanan ini. Sesungguhnya, aku pun tidak mengerti," jawab Rue kala itu.


Keesokan harinya, Alesya menjemput Sirene untuk berangkat bersama. Aiden yang saat itu masih berada di rumah mencegatnya. "Aku yang akan mengantarkannya, Alesya,"


Melihat keseriusan di wajah Aiden, Alesya mengalah dan dia berpamitan kepada Sirene. "Sampai bertemu di sana, Sirene,"


"Bye, Alesya," sahut Sirene.


Setelah Alesya menghilang dari pandangan, Sirene memberengut kesal. "Ada apa denganmu? Aku sudah berjanji kepada Alesya untuk berangkat bersama. Apa bahasa manusianya itu? Canggung? Alesya memintaku untuk jalan bersamanya supaya aku tidak canggung,"


Aiden tidak menjawab. Pria itu terus menatap Sirene dengan penuh minat. "Habiskan waktumu bersamaku pagi ini, setelah itu aku akan mengantarmu ke sana," Aiden pun kembali mencium bibir Sirene sebelum akhirnya mereka kembali ke maja makan untuk meneruskan sarapan mereka.


Aiden menepati janjinya. Dia mengantar Sirene ke restoran Alesya dan melepas gadis itu dengan berat. "Jangan layani tamu-tamu manusia itu dengan manis! Jangan tersenyum terlalu lebar!" tegasnya.


Laki-laki itu juga mengacak-acak sedikit rambut panjang Sirene yang terkepang rapi. "Dan juga, kau tidak boleh tampak cantik di depan tamu-tamumu!"


Sirene tertawa melihat kecemburuan Aiden. "Kamu manis sekali, Aiden. Aku berjanji aku tidak akan tampil cantik di depan mereka,"


"Oke, good girl. Nanti siang, aku akan mampir ke sini. Berikan aku pelayanan yang terbaik dan makanan terenak yang ada di sini," tutur Aiden.


Gadis duyung itu mengangguk dengan antusias. Dia melambaikan tangan kepada kekasihnya dan masuk ke dalam restoran itu dengan riang gembira.


"Aku melihatmu. Kalian manis sekali," ucap Alesya kepada Sirene saat gadis itu menemui Alesya untuk mendapatkan bimbingan darinya.


Sirene tersipu. "Ya, aku sangat bahagia saat ini. Rasanya aku sudah dekat sekali seperti kalian," jawabnya.


Alesya paham sekali apa maksud dari ucapan Sirene tersebut. Sirene ingin menjadi manusia dan dia ingin belajar lebih banyak tentang kehidupan manusia di bumi.


Tepat jam makan siang, Aiden datang bersama teman-temannya, yang tak lain dan tak bukan adalah Natt, Lea, Rue, serta Anthem.


"Sirene cepat sekali belajar dan menguasai sesuatu. Sehingga bos kami menyukai Sirene dan cara kerjanya. Dia juga teliti, apik dan bersih. Tamu-tamu kami juga menyukainya. Luar biasa sekali, padahal dia baru sehari di sini," kata Alesya memberikan laporan kepada Aiden yang khawatir tentang kondisi Sirene


"Dia duyung, wajar saja manusia akan menyukainya. Setiap DNA yang tertanam di tubuh para duyung diciptakan untuk memikat," sanggah Lea.


"Benarkah? Berarti aku akan memiliki banyak saingan?" tanya Aiden.


Pria itu segera menemui kekasihnya dan menarik Sirene ke tempat di mana mereka duduk. "Aku membelikanmu ini. Pakailah dan jangan pernah berniat untuk melepaskannya. Itu adalah penanda kalau kamu milikku, Sirene!" sahut Aiden tersipu.


...----------------...