
Tuk! Tuk! Tuk! Tuk!
Kuku jari Lea yang panjang dan lentik mengetuk meja yang ada di depan mereka saat ini. Wanita itu duduk dan berdiri dan kembali mengulanginya lagi.
"Wah, aku tidak menyangka kamu benar-benar melakukannya. Yang membuatku terkejut, sangat terkejut adalah keterlibatan Hades di dalamnya. Wah, aku tidak tau kalian sedekat itu," tutur Lea menggelengkan kepalanya.
Aiden tertunduk dan melirik Lea sesekali. "Hades memberitahuku kalau kamu memberiku sihir dan keberanian yang aku dapatkan itu adalah berkat sihirmu. Jadi sebenarnya, ini tidak murni kesalahanku. Ya kan, Matt?" Aiden berusaha mencari dukungan teman-temannya atas tindakan ekstrim yang telah dia lakukan semalam.
Lea mengembuskan napasnya. "Aku tau, tapi aku tidak menyangka kalau kamu akan benar-benar melakukannya. Di mana Sirene sekarang?" tanya Lea.
"Di rumahku, tentu saja. Dia sedang berada di kolam renang rumahku lebih tepatnya," jawab Aiden. Hatinya mencelos saat dia tau dia telah melakukan kesalahan dengan meninggalkan Sirene sendirian di rumah.
"Pulang! Pulang sekarang!" tukas Lea dan Matt bersamaan. Bahkan Anthem setengah menarik tangan Aiden itu sambil bergumam, 'Dasar, Pria Bodoh!'
Dengan dikawal oleh Lea, Matt serta Anthem, Aiden pun kembali ke rumah dan mereka pun menemui Sirene yang sedang asik berenang dengan wajah bingung saat mereka datang beramai-ramai.
"Yang Mulia Raja dan Yang Mulia Ratu, oh maafkan aku, menemui kalian dalam kondisi seperti ini," ucap Sirene membungkukan tubuhnya.
Lea mengangguk cepat. "Bagaimana keadaanmu, Sirene? Adakah keluhan?" tanya Lea.
Sirene menggelengkan kepalanya. "Aku baik-baik saja, Yang Mulia. Hanya saja, kenapa manusia itu memiliki mutiaraku?"
Lea dan Matt berunding bersama dengan Anthem sampai akhirnya mereka memutuskan sesuatu. "Kami telah memutuskan untuk mengembalikan ingatanmu, Sirene. Namun, ini akan sedikit membuatmu pusing,"
"Memangnya apa yang telah kulupakan?" tanya Sirene. Gadis itu melihat ke sekelilingnya, menatap mereka dengan bingung.
"Aku!" jawab Aiden. "Aku kehilanganmu, Sirene!"
Rona merah di wajah Sirene pun menjalar dan kini terasa sangat panas. "A-, maksudku, selain kamu,"
"Tentu saja segala kenangan tentang kita telah kau lupakan! Aku setuju untuk segera kembalikan ingatan Sirene!" tutur Aiden bersemangat.
"Sabar, Tuan. Sabar," ucap Anthem. Dia mengusap-usap pundak pria yang sangat antusias itu.
Namun, keinginan Aiden itu bertolak belakang dengan keinginan Sirene. Gadis duyung itu masih menimbang-nimbang usul dari Raja dan Ratunya.
"Tapi, aku rasa itu akan membuatku bertambah bingung. Bukankah begitu?" tanya Sirene ragu-ragu.
Lea berbisik kepada Aiden yang sepertinya ingin segalanya segera selesai. "Kita tidak bisa memaksanya, Aiden,"
"Percuma saja aku menculiknya," ucap pria itu. Sejurus kemudian, dia menengadahkan kepalanya ke atas dan berbicara kepada atap rumahnya. "Hades, pengorbananmu, usaha kita, semua sia-sia," sambungnya lagi dengan penuh dramatis.
Kepalan tangan kecil mendarat di ujung kepala Aiden. "Berlebihan sekali kamu ini!" sahut Anthem, sang pemilik kepalan tangan.
Maka dengan segala pertimbangan yang ada dan dengan memikirkan kondisi hati serta perasaan Sirene, pagi itu mereka gagal melakukan mantra pengembalian ingatan kepada gadis duyung itu.
Malam hari pun tiba, Aiden meminta Sirene untuk keluar dari kolam renang. Namun, Sirene menolaknya. "Mana bisa aku tidur di ranjangmu, Manusia Aneh,"
Mendapat penolakan dari gadis yang dicintainya, Aiden merasa terpukul. Dengan segala usaha, dia berhasil membawa Sirene keluar dari kolam.
"Kamu boleh tidur di situ. Paling tidak, di sana lebih hangat. Tapi, apakah kamu tidak mau tidur di ranjangmu sendiri? Lihatlah, kamu bahkan telah mendekorasi kamarmu dan memasang penangkap mimpi buruk di atas ranjangmu," rayu Aiden. Dia masih berusaha untuk mengajak Sirene tidur di kamar.
"Aku akan tetap di sini. Aku tidak tau, apa itu penangkap mimpi," jawab Sirene dari bak mandi.
Aiden menghela napas panjang. "Baiklah, aku juga akan tidur di sofa untuk menemanimu,"
Maka malam itu, Sirene tidur di kamar mandi, di dalam bak mandi sedangkan Aiden tidur di sofa. Sungguh, situasi yang sangat aneh.
Ketika Aiden terlelap, Sirene menghampiri pria yang sudah berada di alam mimpi itu dan duduk di sampingnya. "Manusia, aku tidak tau kamu siapa tapi kenapa kamu baik sekali kepadaku? Aku takut dengan perasaanku yang semakin lama semakin menggila. Ada apa denganku? Dan kenapa wajahmu tampak tidak asing bagiku? Siapa kamu sebenarnya?"
Aiden menangkap pergelangan tangan Sirene dan menatapnya.
"Aku sangat mengenalmu, Sirene. Hanya dengan mendengar kamu bernapas saja, aku sudah tau kalau kamu ada di dekatku," jawab Aiden. Dia terus menatap manik biru Sirene yang berkilauan.
Seolah tersihir oleh Aiden, gadis duyung itu sama sekali tidak dapat bergerak dan bahkan dia tidak dapat mengalihkan pandangannya dari pria yang menatapnya sambil berbaring itu.
Tangan Aiden menyentuh pipi Sirene dan membelainya dengan lembut. "Tutup matamu, Sirene dan ingatlah aku,"
Lagi-lagi Sirene menuruti kemauan Aiden dan dia juga tidak tau kenapa dia harus menuruti manusia tersebut. Otaknya berontak dan meminta Sirene untuk menolak perintah Aiden, akan tetapi hatinya berkata lain.
Sirene memejamkan kedua matanya dan merasakan sesuatu yang kenyal dan lembut menyentuh keningnya, kedua matanya, hidung, pipi, dan bibirnya.
Aiden melakukan segalanya dengan perlahan membuat Sirene menikmati setiap sentuhan lembut dari laki-laki yang mengaku sebagai kekasihnya itu.
Tanpa sadar, Sirene pun membalas pagutan Aiden. Sampai akhirnya, Aiden melepaskan ciuman mereka dan tersenyum manis kepadanya. "Kamu sudah mengenalku?"
Wajah Sirene berubah menjadi merah muda seperti ubur-ubur yang melayang-layang di dalam lautan. Dia mengangguk perlahan.
Aiden tersenyum senang. "Katakan, siapa aku?" tanyanya dengan gemas.
"Manusia mesum!" Sirene berlari secepat mungkin dan kembali menenggelamkan dirinya di bak mandi.
"Sial! Gagal lagi!" gumam Aiden sambil memukul bantal yang dia pakai untuk tidur.
Keesokan paginya, Anthem mengutus Alesya untuk menemui Sirene di rumah Aiden dengan harapan gadis duyung itu mau memberikan mereka kesempatan untuk mengenal ulang dirinya.
"Halo, Sirene," sapa Alesya tersenyum manis. Dia membawakan makanan kesukaan Sirene, yaitu creamy garlic seafood pasta.
Sirene melongok ke arah Alesya yang berjalan menghampirinya. "Halo, aku suka senyummu. Maafkan aku kalau aku tidak mengingatmu,"
Alesya kembali melemparkan senyuman mautnya kepada Sirene yang tampak merasa bersalah itu. "Tidak apa-apa. Aku rasa semua makhluk berhak melupakan sesuatu atau seseorang. Jangan paksakan dirimu, Sirene,"
"Terima kasih. Apa yang kamu bawa? Sepertinya enak?" Sirene mengendus aroma creamy garlic seafood pasta yang dibawa oleh Alesya.
"Ini makanan kesukaanmu sebelum kamu melupakan segalanya. Kemarilah, kita makan bersama-sama," ajak Alesya sambil menyiapkan piring dan peralatan makan lainnya untuk sarapan mereka.
Di balik keramahtamahan yang di tampilkan oleh Alesya, empat orang di belakang mereka menyaksikan aksi Alesya dengan harap-harap cemas.
"Kalau sampai Alesya berhasil membuat Sirene mendekat, kita serahkan sisanya kepada Alesya," bisik Matt kepada yang lainnya.
"Apakah kalian tau, kita seperti maling. Mengendap-endap dan berbicara dalam bisikan seperti ini. Aku jadi merasa bersalah," sahut Anthem. "Dan lagi, kalian memanfaatkan istriku! Itu istriku!"
"Ya, kami tau. Kami pinjam istrimu, sebentar," seru Aiden dalam bisikan.
"Ssstttt! Sssttt!" titah Lea.
Selagi mereka berbisik, Alesya sudah selesai menyiapkan pasta seafoodnya untuk Sirene. Dia tidak menghampiri Sirene di bak mandi, tapi dia duduk dan mulai menyantap pasta itu dengan nikmat. "Hmm, Sirene ini enak sekali. Maukah menemaniku di sini?"
Sirene semakin menjulurkan kepalanya sambil mengendus harum pasta. "Apakah ada udang dan kerang di sana?"
"Ya, ada berbagai macam boga bahari di pasta ini. Kemarilah, Sirene. Makanlah bersamaku," rayu Alesya.
Perlahan-lahan, Alesya dan yang lainnya mendengar langkah kaki dari kamar mandi. Sedetik kemudian, Sirene berjalan dengan kikuk. "Bolehkah aku ikut makan bersamamu?"
Alesya tersenyum. "Silahkan, duduklah di sampingku,"
"Yes!" ucap empat orang yang menyaksikan moment itu.
...----------------...