
Wush!
Wush!
Wush!
Bayangan hitam besar berkelebat di atas Kerajaan Awan yang tampak cerah saat itu.
Rue masih memperhatikan bayangan hitam itu tanpa melarangnya. Bayangan hitam itu seakan menggoda kekuatan hati Rue.
"Aku bosan! Aku bosan!" begitu kata bayangan hitam itu.
Swosh!
Tiba-tiba saja bayangan itu menjelma menjadi seorang pria dengan jubah hitam dan tongkat kayu panjang sepanjang tubuhnya. Ia mendekati singgsana Rue.
"Rue, kenapa sepi sekali?" tanya bayangan hitam itu.
"Kalau kau mau kerajaan ini menjadi ramai, bakar saja, Hades. Kau kan pandai membuat kerusuhan," jawab Rue santai.
Hades mencibirkan bibirnya. "Sudahlah, aku mau mengunjungi duyung-duyungku," ucap Hades dan ia bergegas melayang lagi menuju Pantai Duyung.
Namun, baru saja ia sampai di Lembah Pelangi, ia mendengar suara bisik-bisik dari para peri.
"Aku tidak percaya kalau Sirene senekat itu. Dia bisa mati? Kata Yang Mulia Raja Rue, di bumi sedang krisis mencari cinta," kata salah satu peri yang tampak sibuk dengan membawa 2 keranjang kecil.
Mereka semakin mendekatkan diri mereka. Hades pun ingin mendengar lebih banyak tentang berita itu. ia tidak tau siapa yang dimaksud oleh para peri.
"Huahahaha!" Hades memamerkan tawa besarnya. Dengan cepat ia menangkap peri-peri berkeranjang itu dan menanyai mereka.
"Siapa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Hades menakuti para peri nektar itu.
Peri-peri yang ketakutan itu menjawab dengan suara nyaring yang terbata-bata, "Ampuni kami, Raja Kegelapan. Pu-, Putri Duyung Si-, Sirene yang turun ke bumi,"
Hades melemparkan para peri itu dan terbang melayang menuju Pantai Duyung. "Meltem! Meltem!"
Tak lama terdengar suara buih lautan memecah ombak. "Hades," jawab duyung berambut merah itu. Ia sudah tau maksud kedatangan Hades menemuinya.
"Apakah benar, ...?"
Meltem mengangguk. "Jangan menyusulnya atau lingkaran kehidupan yang sedang berjalan saat ini akan kacau," kata Meltem memberikan peringatan.
"Aku tidak peduli! Kenapa aku selalu mengetahui sesuatu belakangan? Kenapa kau tidak memberitahuku?" tuntut Hades murka. Ia menampar air laut dengan menggunakan tongkatnya dan air laut itu pun terbelah.
"Hades! Tahan emosimu. Berpikirlah kenapa kami tidak memberi tahukan hal ini kepadamu! Reaksimu terlalu berlebihan," tukas Meltem.
Wajah Meltem menyiratkan banyak arti. Ia tau apa yang akan terjadi jika Hades bersikeras untuk turun ke bumi. "Hades! Kumohon, tetaplah disini!" Meltem berusaha menahan Hades untuk tidak turun ke bumi.
Swoosh!
"Yang Mulia Raja Rue," Meltem membungkukkan badannya begitu melihat Rue datang ke tempat tinggalnya.
"Apa yang terjadi jika Hades turun ke bumi, Meltem? Perlihatkan kepadaku!" perintah Rue. Ia memincingkan kedua matanya dan rantai besar berwarna biru berkilauan muncul dari lautan yang terbelah. Seketika rantai itu mengikat tubuh Hades.
"Eerrgghhh! Eerrgghhh! Lepaskan aku! Raja sialan! Kau pikir kau bisa mengalahkanku!" sahut Hades. Pria berjubah hitam itu terus memberontak dan berusaha melepaskan ikatan rantai.
Rue menyatukan kembali lautan yang sudah dibelah oleh Hades, dan ia mengencangkan rantai pengikat di tubuh Hades.
Meltem mengedipkan matanya dan sekali lagi Rue merasa seperti menonton bioskop hanya saja filmnya dipercepat sedikit.
"Kematian. Jika Hades turun akan ada kematian," kata Meltem dingin.
"Mutiara duyung ada di tubuh manusia itu! Sirene bodoh!" cerca Hades.
Wajah Hades kini tampak kesal. "Apa kalian tau? Aku mengenal Sirene, saat Lea menyihirku menjadi kepiting dan menempatkanku di lautan ini. Hanya Sirene yang selalu membantuku. Aku cinta kepadanya! Lepaskan aku! Aku ingin menyelematkan Lea!" pekik Hades.
Ia mengerahkan seluruh tenaganya, dan
Blar!
Cahaya berwarna jingga memenuhi lautan itu seperti matahari yang tenggelam dalam jarak cukup dekat. Dan setelah cahaya jingga itu sirna, Hades juga lenyap dari pandangan mereka.
"Hades! Hades!" Rue berteriak mencarinya. Namun, tidak ada jawaban dari Hades.
"Meltem, aku memberikan kekuasaan kepadamu kali ini. Pimpin kerajaan ini selama aku di bumi," titah Rue menyerahkan tongkat kepemimpinannya kepada Meltem.
Belum sempat Meltem menyelesaikan kata-katanya, Rue sudah mengepakkan sayap putihnya kemudian ia terbang rendah menuju bumi.
Sementara itu, Aiden dan Sirene asik bermain di kolam renang yang sengaja Aiden buat hanya untuk Sirene.
Bugh!
"Aw, aw, aw," Sirene memegangi keningnya yang terkena bola karet.
Aiden tertawa geli melihat betapa lucunya Sang Putri Duyung. "Hahaha, maafkan aku. Itu lemparan yang mudah menurutku,"
Aiden menghampiri Sirene dan melihat kening Sirene. Ia mengusapnya dengan lembut dan meniup kening Sirene. Jarak mereka sangat dekat.
Hati Sirene kembali bergelinjang mana kala tangan Aiden mengusap keningnya.
Tiba-tiba saja, Aiden memegang kedua pipi Sirene. "Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Aiden.
Wajah putih mulus Sirene berubah menjadi kemerahan, sama seperti lobster yang dimasukan ke dalam panci. Ia mengangguk tanpa bisa melepaskan pandangannya dari Aiden.
Cup!
Aiden mengecup kening Sirene dengan cepat. "Kau sudah sembuh sekarang," ucap Aiden, berenang menjauh.
Sirene masih melihat telinga Aiden yang memerah. Apakah ini tandanya cinta Sirene akan berbalas? Apakah akhirnya ia, Sirene, bisa mendapatkan ciuman dari cinta sejati yang ada di depannya sekarang ini?
Tak lama, suara bel pintu rumah Aiden berbunyi. Aiden keluar dari kolam renang dan mengambil bathrobe miliknya. "Sirene, kalau kamu lelah, naiklah," ajak Aiden. Ia tau Sirene masih belum sehat sehingga ia melarang duyung itu untuk beraktivitas terlalu berat.
Aiden bergegas membukakan pintu untuk tamu siang harinya di pekan yang indah itu.
"Matt! Lea!" seru Aiden.
"Hei ho!" balas Matt ceria. Ia membawa kantung cokelat besar, yang berisi macam-macam makanan.
Di belakang Matt, tak pernah ketinggalan, Lea, istri Matt. "Dimana Sirene? Aku akan mengajak kalian makan di kediaman Anthem. Aku membawakan ini untuk Sirene karena aku tidak mau merepotkanmu," kata Lea dan memasukan semua belanjaannya ke dalam keranjang yang berada di atas meja makan Aiden.
"Kalau begitu, pergilah lebih dulu. Sirene tampaknya masih ingin berada di air," ucap Aiden.
Matt dan Lea mengangguk. "Baiklah dan jangan terlambat,"
Beberapa jam kemudian, Sirene dan Aiden sudah berada di dalam mobil menuju kediaman Anthem. Mereka sempat berhenti sebentar di sebuah toko roti untuk membawakan Anthem buah tangan.
Aiden meminta Sirene untuk memilihkan beberapa roti untuk pasangan suami istri yang sedang memiliki program hamil itu sementara Aiden pergi ke kamar kecil.
Sirene pun melihat-lihat berbagai jenis roti dan kue manis. Ia sudah diajarkan oleh Aiden bagaimana berbelanja dan melakukan transaksi di dunia manusia.
Tiba-tiba saja ada seorang pria tampan dengan kulit pucat dan mata hitam pekat mendekatinya.
"Hai, Nona," sapa pria itu.
Sirene menatap pria itu. Baru kali ini ia disapa oleh manusia. "Hai, Tuan," balas Sirene senang.
Pria itu terus menatap Sirene dan mengekori kemana pun Sirene melangkah, sampai Aiden tiba. Aiden mengajak Sirene untuk segera membayar belanjaannya dan keluar dari toko roti itu.
"Siapa pria itu? Dia mengikutimu," tanya Aiden tampak tak senang.
Sirene mengangkat kedua bahunya. "Aku juga tidak tau, dia menyapaku lebih dulu. Rasanya senang sekali disapa seperti itu, yah?" jawab Sirene, wajahnya berseri-seri.
"Lain kali waspadalah. Tidak semua manusia itu baik," kata Aiden memperingatkan.
Sirene mengangguk. "Ouwkey,"
Setibanya mereka di kediaman Anthem, mereka segera saja disambut oleh Alesya. "Hei, masuklah. Masuk," kata Alesya ramah.
Sirene dan Aiden pun masuk, dan tak perlu menunggu lama, mereka sudah bersulang untuk persahabatan mereka dan juga untuk Alesya yang berharap segera diberikan seorang anak.
Derai tawa dan pekik riang gembira memenuhi rumah Anthem. Rasanya tak ada yang dapat mengusik kebahagiaan mereka saat itu.
Sampai, Rue tiba-tiba datang dan ia masuk dengan tergesa-gesa. "Aku tidak bisa berlama-lama disini. Dengarkan aku, Hades turun ke bumi untuk mencari Sirene. Dia menjelma menjadi manusia dan aku belum pernah melihat wujud manusia Hades," kata Rue memperingatkan.
"Aiden, jaga Sirene. Jauhi dia dari semua pria kecuali yang sudah kau kenal dengan baik. Aku minta Matt dan Lea untuk mengawasi Sirene 24 jam tanpa henti! Baiklah, aku kembali," sambung Rue lagi. Sebelum pergi, ia sempat menyomot empat potong daging asap dan tersenyum lebar.
...----------------...