
"Groaaarrr! Aku akan melenyapkan Aiden sekarang juga! Tidak akan kubiarkan manusia itu menyakiti Sireneku! Aarrgghh, kurang ajar!" murka Hades. Dia meraung-raung dalam wujud bayangan hitam yang semakin membesar.
"Hades! Tahan emosimu!" tukas Anthem dengan suara tenang.
Hades tak terima dengan perintah kakaknya itu dan dia mengaum di depan wajah Anthem. "Roaaarr! Tidak! Aku tidak bisa tenang, Anthem!" raungnya sambil terus memantul-mantulkan tubuhnya di seluruh permukaan dinding dan lantai.
"HADES! DIAMLAH!" hardik Anthem.
"Apa yang akan terjadi jika kamu terus memantul seperti itu? Apa yang berubah jika kamu marah dan bahkan membunuh Aiden? Sirene akan mati jika manusia itu mati!" seru Anthem lagi.
Bayangan hitam itu terdiam dan seakan menyimak ucapan manusia berwajah bijak itu. Perlahan bayangan itu meleleh seperti es hitam yang mencair dan berubah wujud menjadi seorang lelaki tampan. "Begitukah? Kalau Aiden mati, Sirene akan mati juga?"
Anthem mengangguk. "Aku belum bisa memahami kenapa Aiden dan Sirene saling terhubung? Apakah mutiara duyung sama seperti manik rubah?"
Hades berjalan mondar-mandir di depan kakaknya dan membuat Anthem bertambah sewot. "Bisakah kamu hentikan langkahmu?"
"Okei! Aku rasa mutiara itu mempunyai fungsi yang sama seperti manik rubah. Seharusnya, jika Sirene sudah memantrai mutiara itu menjadi milik Aiden maka mereka tidak akan pernah terhubung lagi atau apakah Sirene akan segera menjadi manusia? Air mata! Air mata itu menggantikan mutiara Sirene," ungkap Hades.
"Atau sebaliknya," sambung Anthem.
Hades menghentikan langkahnya. "Apa maksudmu dengan sebaliknya?"
"Sirene bukan akan berubah menjadi manusia, tapi waktu hidup Sirene tidak akan lama," sahut Anthem.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidak boleh seperti itu! Aku akan membawa Sirene kembali ke Kerajaan Awan malam ini juga," ucap Hades geram.
Anthem mengangkat tangannya. Pria itu mempersilahkan Hades untuk membawa gadis duyung yang saat ini tidak sadarkan diri karena sakit yang tak tertahankan.
"Kenapa kamu tidak melarangku? Aneh sekali," tanya Hades heran.
Anthem mengangkat kedua bahunya. "Karena aku juga tidak tau apa yang akan terjadi jika kamu mengembalikan Sirene ke atas sana," jawab pria itu menatap kedua bola mata putih adiknya.
Hades menghenyakkan tubuhnya di atas sofa dan berteriak kesal, "Aarggh! Sialan!" tukasnya.
Sementara itu, Aiden diangkut masuk ke dalam ambulans. Emma terus menggenggam tangan mantan tunangannya yang dia harapkan akan menjadi kekasihnya.
Tak lama, mereka pun tiba di sebuah rumah sakit. "Apa keluhan pasien sebelumnya?" tanya perawat berambut cepol rapi.
Wajah Emma pun memerah bahkan dalam tangisnya. "Ka-, kami sed-, sedang melakukan itu. Kau tau, kan? Dan tiba-tiba, .... Tiba-tiba Aiden memegangi dadanya dan mengeluarkan air mata tanpa henti. Dia juga berteriak kesakitan," jawab wanita cantik itu tersengal-sengal.
Rambutnya yang biasa tergerai rapih, kali ini berantakan dan tampak kusut. Dia terus melihat ke arah Aiden dan memastikan apakah pria yang dicintainya itu masih bernafas atau tidak.
"Apakah pasien punya riwayat jantung?" tanya perawat itu lagi sambil memeriksa detak jantung dan denyut nadi Aiden.
Emma menggeleng. "Dia sehat dan bugar. Olahraganya teratur dan dia sangat menjaga pola makannya jadi saya pikir dia tidak ada riwayat penyakit apa pun,"
Perawat itu mengangguk dan mencatat semua keterangan Emma. "Tunggu sebentar, Nyonya. Dokter akan datang sebentar lagi,"
Tanpa menunggu terlalu lama, dokter pun datang dan meminta izin kepada Emma untuk melakukan observasi kepada Aiden selama 2 hari. Untuk itu, dokter menyarankan supaya Aiden dirawat inap di rumah sakit itu.
3 Hari Kemudian,
"Bagaimana kondisi Sirene?" tanya Lea kepada Anthem dan Rue.
"Dia sudah jauh lebih baik, sudah mau makan dan sudah dapat bermain bersama Hades ataupun Alesya," jawab Rue.
Matt dan Lea menganggukkan kepala mereka. "Itu kabar yang cukup baik dan kami juga mendapatkan kabar baik dari Aiden. Dia sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit sehingga kita bisa menjenguknya dan setelah itu kita akan mengambil keputusan yang terbaik untuk Sirene dan Aiden," tutur Lea.
"Jadi bagaimana keputusannya? Apa yang akan kita lakukan kepada dua makhluk ini?" tanya Rue.
"Sesuai dugaanku, mereka tidak dapat dipisahkan Jadi mereka harus tinggal bersama-sama sampai mutiara itu kembali berubah menjadi warna hitam," ucap Lea dengan tegas.
Dahi Anthem berkerut. "Bisakah mutiara itu kembali ke warna asalnya?"
Lea kembali mengangguk. "Bisa dan jika itu terjadi, maka Sirene harus kembali ke Pantai Duyung dan tidak bisa menjadi manusia,"
"Kita hanya berharap yang terbaik untuk mereka. Berbicara tentang Aiden, apa yang kira-kira Aiden lakukan sampai Sirene mengeluarkan air matanya dan tak hanya itu, dia juga mengeluh sakit di dadanya sampai tak sadarkan diri selama 2 hari," sambung Lea lagi.
Baik Matt, Rue dan Anthem saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka. "Kami tidak tau,"
Ketika Sirene sudah kuat menggunakan kedua kakinya untuk berjalan maka mereka mengajaknya untuk menjenguk Aiden yang sudah pulang dari rumah sakit.
Setibanya disana, tidak hanya Aiden yang menyambut kepulangan Sirene, tapi juga dua mutiara biru milik Sirene ikut berpendar-pendar di dada Aiden.
"Sirene!" sapa Aiden. Pria itu berjalan tertatih-tatih untuk memeluk gadis duyung cantik itu.
Dia tidak lagi mempedulikan Emma yang sedari kemarin berada di sampingnya. Aiden menggandeng tangan Shireen untuk segera masuk. Tak hanya itu, pria tampan yang masih tampak pucat itu memandangi Sirene dan ia terus saja menggenggam tangan gadis duyung itu dengan erat.
Lea membuka percakapan mereka dengan mengecualikan Emma yang dia letakkan di dalam bola gelembung besar.
"Jadi, aku ingin kalian untuk berbaikan kembali seperti dulu. Bagaimana? Kamu sudah tau tentang mutiara Sirene yang berubah menjadi biru?" tanya Lea.
Aiden mengangguk. "Aku sudah tau dan aku bisa merasakannya," jawab Aiden bersemangat.
"Kamu bisa merasakannya?" tanya Lea terkejut.
Aiden mengangguk. "Ya, aku dapat merasakannya," jawab Aiden.
"Jadi, kalian mau tinggal bersama lagi?" tanya Lea.
Aiden menggenggam taman Sirene dan mengangguk. "Tidak masalah untukku!" tegas Aiden.
"Oke kalau begitu. Mulai malam ini, kalian akan kutinggalkan di sini. Berdua saja! Deal?" tanya Lea.
Aiden dan Sirene saling mengangguk setuju dengan usul ratunya itu. "Oke," sahutnya bersemangat.
...----------------...