
"Ayah!"
Lea berseru memanggil sesosok pria berbadan besar dengan rambut setengah botak yang sudah memutih serta jenggot panjang yang bernasib sama seperti rambutnya. Pria itu tengah asik memanggang daging bersama seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik tanpa kerutan di wajahnya.
Pria itu memincingkan kedua matanya untuk melihat lebih jelas siapa yang datang. Begitu dia mengenali suara yang sangat familiar untuknya, segera saja pria berjenggot itu melonjak-lonjak kegirangan.
"Lea! Itu Lea, Ed! Leaaaa!" pekiknya senang.
Lea segera berlari dan masuk ke dalam dekapan ayahnya. "Akhirnya aku menemukanmu, Ayah. Kenapa tidak mengajakku untuk liburan juga? Ayah sangat curang!"
"Yang Mulia Raja, Yang Mulia Ratu," sapa Rue dan Matt.
"Apa itu Yang Mulia? Panggil saja Ayah dan Ibu, beres. Hahahaha! Tunggu! Apa itu duyungku?" mata Raja melihat Sirene yang berjalan anggun dengan kedua kakinya.
"Sirene!" sapa Raja.
Sirene membungkukkan tubuhnya. "Yang Mulia,"
Raja mendekati gadis duyung yang siang itu tampak cantik dalam balutan dress turtle neck berwarna ombak. "Kau! Apa yang kau lakukan disini? Kemana ekormu?"
"Aku memutuskan untuk menjadi manusia, Yang Mulia. Tapi aku butuh bantuanmu. Saat ini kekuatanku baru saja pulih berkat seorang manusia yang menciumku da-,"
"Cium! Siapa yang berani mencium duyungku?" tanya Raja terkejut.
Bagi Raja, duyung-duyung yang berada di Pantai Duyung di Kerajaan Awan adalah anak-anak gadisnya. Kedekatan Raja dengan para duyung memang sedekat itu sampai terkadang Ratu Edwina cemburu karena Raja terlalu banyak menghabiskan waktu bersama para duyung daripada Lea.
Sang Ratu nenawarkan rombongan itu untuk makan bersama. "Ikutlah makan bersama kami. Aku sudah menggandakan makanan ini untuk kalian," sahutnya sambil membalik sate daging yang disusun bersama sepotong nanas dan paprika merah.
"Aku tidak tau kamu mempunyai cerita seperti itu, Sirene." sahut Sang Raja saat Sirene menceritakan alasannya bisa ada di bumi bersama Lea dan teman-temannya.
Tiba-tiba saja, Raja celingukan dan sibuk mencari-cari. "Aku belum lihat Alesya dan Anthem. Kemana mereka?"
"Mereka akan menyusul, Ayah. Begitu katanya. Untuk berlibur kesini kan mahal, jadi Anthem harus menghitung sisa uang mereka dulu. Kalau ada lebih, mereka akan menyusul." jawab Lea sambil melepaskan daging dari alat penusuknya.
"Kenapa kalian tidak membantunya! Menjadi manusia itu susah, loh. Kalian harus mencari uang supaya bisa makan atau sekedar berlibur. Sekali lagi aku bertanya kepadamu, Sirene. Apa kau yakin ingin menjadi manusia?" tanya Raja kepada Sirene.
Sirene mengangguk tersipu. "Aku ingin menikah, Yang Mulia. Pria yang kucintai adalah seorang manusia." jawab Sirene.
Tiba-tiba saja, Raja Wren teringat ramalan yang diberikan oleh Penguasa saat sebelum hari pelantikan.
'Akan ada 1 orang lagi yang akan menjadi keluarga besar Kerajaan Awan'
Apakah yang dimaksud oleh ramalan itu adalah pria yang dicintai oleh Sirene?
"Lalu, kenapa kalian tidak segera menikah? Apa yang kalian tunggu?" tanya Raja Wren lagi.
"Hades. Hades menghalangi mereka dan sekarang manusia itu dibawa oleh Hades karena sebuah perjanjian yang telah mereka sepakati." jawab Matt dengan mimik wajah serius.
Dia pun memikirkan kondisi Aiden. Matt khawatir akan terjadi sesuatu kepada Aiden, sama seperti Brad.
Brad adalah seorang mafia yang menjual jiwanya kepada Hades hanya untuk mengalahkan Matt saat itu dan pada akhirnya nasib Brad berakhir tragis. Hades memakan jiwa Brad setiap hari sampai hanya tersisi raganya saja tanpa jiwa. Menurut Matt, itu lebih buruk daripada kematian.
Raja Wren mengetuk-ngetukan jarinya di kursi pantai yang ia duduki. "Hmmm, perjanjian dengan Hades itu selamanya. Bukan hanya satu atau dua hari. Apa yang ia janjikan kepada Hades?" tanya Raja Wren lagi.
"Sirene dan keabadian." jawab Lea suram.
"Aiden tidak tau jika kau telah memantrai mutiaranya dan ia berjanji kepada Hades, jika dia mengembalikan mutiara itu kepadamu maka Hades akan memberikannya keabadian. Namun, karena kamu telah memantrai mutiara itu, Hades murka dan masuk ke dalam tubuh Aiden sampai saat kamu menghilang, mereka kembali terpisah. Aiden menjanjikan kehidupanmu dengan balasan, Hades boleh membawanya ke Alam Kegelapan." kata Lea menjelaskan.
Ai mata mutiara Sirene berjatuhan. "Kenapa dia bodoh sekali sih? Aku melakukan ini semua supaya dia tetap hidup. Tidak masalah untukku jika aku menghilang. Aku sudah bahagia karena pria yang kucintai telah berbuat baik kepadaku,"
Gadis duyung itu menangis tersedu-sedu. Mutiara terus bergulir dari pelupuk matanya yang cantik. Raja Wren memeluk Sirene dengan sayang.
"Jadi tujuan kalian kesini, untuk meminta bantuanku? Bantuan seperti apa yang kalian harapkan?" tanya pria tua yang berwibawa itu.
Mereka semua tidak tau bantuan macam apa yang mereka harapkan. Mereka juga tidak tau apakah Hades mau bernegosiasi bersama Raja Wren. Tidak ada yang ditakuti oleh Hades, bahkan Penguasa pun tidak.
Sementara itu jauh dari tempat mereka, ada seorang pria yang dengan keajaibannya mampu mendengarkan apa yang dibicarakan oleh Raja dan yang lainnya.
"Apakah kau sekeras itu, Hades?" tanya pria itu kepada dirinya sendiri.
Pria itu kemudian menggangguk. "Kece kan, aku?" jawabnya bangga.
"Cih! Anyway, tubuh siapa yang kita pakai ini?" tanya pria itu lagi. Lagi-lagi kepada dirinya sendiri.
"Aku tidak tau. Kita kan sembarang masuk saja," jawab pria yang sama.
Jika ada orang lain yang melihat sosok pria itu, mereka pasti akan menganggap pria itu gila karena bertanya dan menjawab sendiri.
Padahal di dalam tubuh pria yang berperawakan tidak terlalu tinggi itu terdapat 2 jiwa. Yaitu, Hades dan Aiden. Entah bagimana pada akhirnya mereka menikmati penyatuan jiwa mereka seperti sekarang.
"Hei, kau dengar, kan? Sirene mencintaiku, Hades. Kenapa kamu tidak dapat menerima kenyataan itu?" tanya Aiden yang berada di dalam tubuh pria asing tersebut.
"Aku tau. Janji adalah janji. Perjanjianku bisa dibatalkan hanya dalam kondisi tertentu." sahut Hades.
"Apa misalnya?" tantang Aiden kembali.
Hades membuat gerakan mengangkat bahu sehingga pria yang mereka tumpangi juga mengangkat kedua bahunya. "Bisa apa saja dan saat ini kau memohon belas kasihanku. Sayangnya, kau sudah abadi. Andaikan kamu belum abadi, aku akan menyantap jiwamu setiap hari. Itulah makananku."
"Apa kamu tidak sedih melihat Sirene sedih seperti itu? Aku ingin berlari dan memeluknya. Menyerahlah, Hades dan biarkan aku dan Sirene berbahagia." ucap Aiden lagi.
Pria itu menggeleng-gelengkan kepalanya kuat-kuat. "Aku tidak akan menyerah. Kalau menyerah, novel kita tamat dong? Mana bisa sependek itu, kan?"
Aiden berpikir dan terdiam. "Kau benar juga. Sulit yah? Ya sudahlah, kita kembali saja. Aku tidak tega melihat Sirene terus-terusan menangis seperti itu."
Aiden berusaha keluar dari tubuh pria asing itu. Namun, Hades menahannya.
"Hei, aku telah berpikir dari kemarin," kata Hades. Suaranya terdengar bijaksana kali ini.
Aiden mendengus. "Huh! Memangnya kamu bisa berpikir? Apa yang kau pikirkan?"
"Sialan kau! Tentu saja aku bisa berpikir! Kita akan menjadi saingan cinta. Sirene juga belum berubah menjadi manusia dam kupikir aku masih memiliki kesempatan untuk membawa Sirene kembali ke Pantai Duyung," jawab Hades.
Aiden menarik kembali tubuhnya ke dalam tubuh pria asing itu. "Hmmm, kau sudah tau jawaban Sirene tapi kamu masih bersikeras untuk menjadi sainganku. Oke, kalau begitu."
"Kita kembali dulu!" ucap Hades.
Mereka berdua pun memisahkan diri dan keluar dari tubuh pria asing itu. Hades kembali memasukan Aiden ke dalam wujud hitamnya dan menghilang dari pantai itu.
...----------------...