
Tiga minggu kemudian..
Sebuah pintu berwarna coklat yang sangat tinggi terbuka lebar. Tampak Mike yang tengah berdiri di ujung sana tampak tersenyum melihat kedatangannya. Pria itu terlihat sangat tampan memakai kemeja putih dibalut dengan jas berwarna hitam dan sebuah dasi kupu-kupu. Rambutnya disisir rapi ke arah kiri.
Sedang Mily nampak tersenyum namun matanya masih terlihat sendu. Gadis itu terlihat sangat cantik di hari pernikahannya. Gaun putih yang mengembang dan terjuntai sangat panjang, semakin membuat gadis itu terlihat seperti seorang peri cantik.
Priska dan Ana yang terlihat duduk bersama dengan keluarga Mily sempat mengusap sudut matanya beberapa kali. Kedua wanita itu tahu persis hubungan Mily dan Mike sejak awal permulaan hingga akhirnya ikatan suci akan mengikat keduanya.
Jodoh tetaplah jodoh. Sekuat apa pun halangan dan rintangan yang mereka berdua temui, pada akhirnya mereka tetap bersama.
Sementara Alvin yang tampak mendampingi, terlihat menyenggol Mike pelan dan berbisik, “Hei.. hati-hati matamu sudah mau meloncat keluar tuh..” goda Alvin.
Mike yang mendengar itu justru semakin mengembangkan senyumnya, apalagi kini pengantin wanita idamannya sudah berdiri tepat dihadapannya. Pria itu menjulurkan tangan kanannya dan Mily menggapainya.
“Dia akan baik-baik saja..” bisik Mike yang sepertinya mengetahui bahwa Mily masih memikirkan kondisi Reihan.
Seorang pastor tampak berdiri di samping keduanya saat Mike dan mIly berhadapan, pria itu mulai mengucapkan sumpahnya. “Dihadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, maka saya Mike Rivanno, dengan niat yang suci dan ikhlas hati telah memilihmu Mily Angelina menjadi istri saya. Saya berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Saya akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku. Saya bersedia menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada saya dan akan mendidik mereka dengan baik. Demikian janji saya demi Allah dan Injil suci ini, semoga Tuhan selalu menolong saya..”
Mike nampak tak kuasa mengatur nafasnya yang terlihat sedikit memburu karena rasa gugup apalagi saat pastor telah mengijinkannya untuk mencium Mily yang kini telah sah menjadi istrinya.
Perlahan tangan Mike terangkat dan menyingkap kerudung tulle berwarna putih yang sedari tadi menutup wajah Mily. Dan kini wajah Mily terlihat sangat jelas. Air mata terlihat jatuh di sudut kedua mata Mily, dan ibu jari Mike langsung menyekanya.
Perlahan Mike mendekatkan kepalanya dan “Bolehkah aku menciummu?” tanya Mike.
Mily dengan sedikit tersipu menganggukkan kepalanya. Kedua orangtua Mily, Priska, Ana, Alvin, kakek Mike, sekertaris Han, Adit, dokter Herman dan para tamu undangan lainnya terlihat terpaku menunggu momen yang sepertinya sangat mereka nantikan.
Mike langsung mengecup bibir Mily tanpa keraguan, dengan begitu lembut. Suara sorak sorai terdengar sangat menggema.
“Terima kasih sudah mau menjadi istriku..” bisik Mike pelan dan membuat senyuman Mily semakin mengembang.
**
Di tempat lain Reihan terlihat tengah duduk diatas kursi roda sambil menatap langit malam yang penuh bintang di taman belakang rumah sakit ditemani oleh Matthew. Pria itu terus menengadahkan kepalanya ke atas langit sana seolah-olah melihat sesuatu yang sangat disukainya sampai membuat pria itu tak berhenti tersenyum.
Tak lama suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Mily dan Mike bisa melihat punggung Reihan yang berjarak cukup dekat dengan keduanya. Mily ingat kejadian empat hari yang lalu.
Kilas balik....
Mily berjalan memasuki sebuah kamar rawat sembari memegang sebuah termos berisi air panas. Termos berwarna merah tua yang dipegangnya mendadak jatuh ke lantai saat mata gadis itu melihat Reihan tengah duduk di kasurnya sembari menatap ke arah jendela yang berada disisi kanan pria itu.
“Nona, apa anda baik-baik saja?” tanya Reihan yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah Mily, membuat gadis itu langsung membungkukkan tubuhnya untuk mengambil termos.
Perlahan Mily melangkahkan kakinya mendekati Reihan dengan tatapan tak percaya. Semua terasa seperti mimpi.
“Nona.. apa anda salah memasuki ruang kamar?” tanya Reihan dengan wajah polosnya sambil celingukkan melihat ke arah pintu karena Mily sama sekali tak menjawabnya.
Mily mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu yang aneh pada Reihan. “Reihan, ini aku..”
Reihan menyipitkan matanya seolah sedang mencoba mengingat-ingat. “Si-apa?” tanyanya ragu.
Mily menggigit bibir bawahnya. “Aku Mily..” jawab Mily sembari mengangkat tangannya dan tangan Reihan pun terulur menjabat tangan Mily.
“Apa kita berdua saling mengenal?” tanya Reihan lagi.
Mily mengangguk. “Kita.. berteman baik..”
“Oh begitu.. tapi maaf.. aku sama sekali tidak mengingatmu..” ucap Reihan.
Mily tersenyum kecil. “Gak apa-apa.. yang penting sekarang kamu sudah sadar..”
“Apa aku tertidur lama?”
Mily menganggukkan kepalanya. “Hmm.. cukup lama.. sampai aku merasa sedikit kesepian karena gak ada teman untuk mengobrol..”
“Lalu kenapa raut wajah mu terlihat sedih?” tanya Reihan sambil mengamati wajah gadis dihadapannya.
“A-aku.. hanya merasa bahagia dan bersyukur bahwa ternyata kita masih bisa mengobrol seperti ini lagi..” jawab Mily sembari berusaha menahan keras agar air matanya tidak jatuh.
Mily menundukkan kepalanya karena merasa hatinya sedikit sakit dan rasa-rasanya airmatanya mulai mengalir. “A-aku akan pergi menemui dokter dulu sebentar..”seru Mily dan langsung melesat pergi.
Baru saja Mily menutup pintu kamar, Matthew sudah berdiri dibelakangnya. “Paman, dia...” Mily menunjuk kamar rawat Reihan.
Matthew menganggukkan kepala seolah mengerti apa yang akan di katakan oleh Mily. “Paman sudah tahu?” tanya Mily.
“Iya.. dia sudah sadar sejak tadi malam..” jawab Matthew singkat.
“Dia sama sekali tidak mengingatku..” seru Mily sembari menangis.
“Sekalipun tuan muda kehilangan ingatannya tapi kita harus bersyukur bahwa dia baik-baik saja dan bisa melewati semuanya..” timpal Matthew.
Mily membenarkan ucapan Matthew. “Kalau begitu saya pamit dulu paman..”
Mily sudah berlalu pergi saat Matthew membuka pintu kamar rawat Reihan. “Apa dia sudah pergi?” tanya Reihan pelan.
“Sudah.. nona Mily.. dia menangis...” jawab Matthew sedikit ragu.
Reihan tak menimpali apa-apa dan hanya diam termenung.
“Tuan.. apa anda yakin akan melakukan semua ini?”
“Tentu aku yakin.. aku sudah memikirkannya.. kalau aku tidak pura-pura lupa ingatan, baik Mily atau Mike akan merasa seperti berhutang sesuatu dengan ku.. dan aku tidak ingin seperti itu..”
“Lalu bagaimana dengan perasaan anda sendiri?”
“Aku baik-baik saja paman.. jangan khawatir.. besok-besok juga aku mungkin akan benar-benar melupakannya..”
“Bagaimana jika tidak?” tanya Matthew cepat.
“Baiklah jika anda memang sudah mempertimbangkannya..”
Reihan terdiam sebentar dan terlihat ragu untuk bertanya.
“Ada apa Tuan?” tanya Matthew yang sepertinya sudah sangat hafal dengan tingkah polah Reihan.
“Di-dia bagaimana?” tanya Reihan.
“Tuan besar?” Matthew balik bertanya.
“Hmmm..”
“Saya baru saja kembali dari penjara menjenguknya.. Tuan besar terlihat baik-baik saja.. saya juga sudah memberitahu bahwa anda sudah siuman sejak dua hari lalu.. dan Tuan besar terlihat sangat senang..”
“Kenapa dia menyerahkan diri ke polisi? Apa paman mengatakan sesuatu padanya?”
“Saya sama sekali tidak mengatakan apa-apa.. sepertinya Tuan besar sadar akan kesalahannya..”
“Apa dia makan dengan baik di dalam sana?”
“Setiap hari, pelayan dirumah akan mengirim makanan ke penjara dua kali.. pagi dan sore..”
“Lalu bagaimana dengan pakaian dan selimut?” Reihan terlihat sedikit mencemaskan papanya.
“Baik pakaian dan selimut juga selalu dibawakan.. ehm.. Apa Tuan merasa khawatir?” tanya Matthew.
“Siapa yang khawatir dengan orang seperti itu.. Aku hanya ingin dia baik-baik saja agar bisa menebus segala kesalahannya..”
“Oh begitu..” Matthew menyunggingkan senyuman kecil. Pria paruh baya itu tahu, Reihan tetaplah menyanyangi papanya terlepas dari seluruh kepahitan dalam hubungan keduanya.
**
“Reihan..” sapa Mily dan pria yang dipanggil namanya langsung menolehkan kepalanya ke arah kanan.
“Paman aku ingin berbicara berdua dengannya..” pinta Reihan.
Matthew langsung berlalu pergi meninggalkan keduanya lalu berjalan menghampiri Mike yang tengah berdiri di samping sebuah tiang. Sebagai suami, Mike tak ingin terlalu mengekang Mily.
Reihan mengambil sebuah keresek hitam yang berada di sebuah kursi putih disebelah kirinya dan diberikannya pada Mily. “Ini untuk mu.. anggap saja ini sebagai hadiah pernikahan dariku..” ucap Reihan. Wajahnya sudah terlihat sangat pucat sekali.
Mily dengan tangan gemetar mengambil keresek hitam yang disodorkan padanya dan langsung membukanya. Airmata yang sedari tadi ditahan, tak kuasa untuk dibendung. Mily langsung menangis dengan terisak saat melihat apa yang berada didalam kantung keresek hitam itu.
“Aku tahu ini sudah malam.. jadi kamu bisa menyimpan es krim stroberi ini untuk hari esok..” seru Reihan pelan.
“Kenapa? Kenapa kamu berbohong?” tanya Mily sembari terisak saat menyadari bahwa Reihan sama sekali tidak melupakannya . Gadis itu ingat betul, dulu Reihan selalu membelikannya eskrim rasa stroberi kesukaannya. Hatinya terasa sangat sakit.
“Aku hanya ingin tidur yang nyenyak dan tanpa beban apa pun.. dan.. setelah melihatmu sekarang.. aku merasa semakin mengantuk.. Apa aku boleh memelukmu sambil memejamkan mata sebentar?” tanya Reihan.
Mily langsung berjalan mendekat ke arah Reihan dan pria itu dengan perlahan mengangkat kedua tangannya memeluk pinggang Mily. “Biarkan aku tidur sebentar.. aku sangat mengantuk..”
Entah kenapa saat itu Mily memiliki firasat yang buruk. "Rasanya begitu nyaman memelukmu seperti ini.. Sama seperti dulu aku memeluk mama ku.."
Tak ada suara apa pun lagi. Hening. Kedua tangan Reihan jatuh begitu saja dan tubuhnya menyender sepenuhnya pada Mily.
"Reihan.. Jangan bercanda.. Reihan.."panggil Mily namun Reihan sama sekali tak menyahut.
"Panggil dokter..." teriak Mily panik.
Mike langsung berlari ke dalam rumah sakit sementara Matthew menghampiri Mily yang tengah menggoyang-goyangkan tubuh Reihan.
Matthew memegang pergelangan tangan Reihan dan berkata pilu, "Tuan muda sudah tidak ada.." ucapnya pelan.
Membuat Mily langsung memeluk Reihan sambil terus menerus memanggil namanya. Tak lama Mike datang dengan seorang dokter dan dua orang perawat.
"Mike... Reihan.. Dia..." Mily tak sanggup melanjutkan kalimatnya sementara Mike terus memeluk tubuhnya dan menenangkannya.
**
Pesan Author
Saya, ftl03..
Terimakasih para pembaca setia yang telah mengikuti kisah Mily, Mike dan Reihan sampai akhir..
Terimakasih telah menyukai ketiga tokoh itu dan memberikan banyak komentar-komentar yang positif..
Terimakasih juga untuk Mily, Mike dan Reihan yang sudah menemani sejak awal tahun 2021 ini..
Bab ke 60 adalah akhir dari kisah ketiganya..
Sama seperti dua sisi mata uang logam, ada akhir yang bahagia maka ada akhir yang berujung duka..
Semoga ada sedikit pelajaran baik yang bisa di petik dari Little Rainbow ini..
Selamat tinggal Little Rainbow
Selamat tinggal Mily, Mike dan Reihan
Selamat tinggal para pembaca setia Little Rainbow
Dan...
Sampai jumpa di cerita berikutnya...
😆😆😆😆😆😆😘😘😘😘😘😘😘