Little Rainbow

Little Rainbow
Teman baik



Matthew memandangi Mily dari kejauhan. Gadis itu terlihat masih menangis terisak sembari duduk di lorong kamar rumah sakit. “Ini..” Matthew menyodorkan sebuah botol air mineral. “Setidaknya meminum seteguk air bisa mengurangi rasa kaget..” lanjut pria paruh baya itu.


Mily mengambil botol air itu dan meneguknya. “Paman.. sebenarnya sejak kapan dia seperti itu?”


“Kenapa? Apa setelah tahu, nona jadi merasa bahwa dirinya terlihat begitu menyedihkan?” Matthew balik bertanya.


“Bu-bukan begitu..”


“Dia seharusnya sudah memulai pengobatan sejak dua bulan lalu.. tapi.. dia selalu memiliki banyak alasan untuk menghindarinya..”


“Apa alasannya?” tanya Mily ragu-ragu.


Matthew tak langsung menjawab. Pria paruh baya itu menatap Mily lekat-lekat. “Nona adalah seribu alasan yang dimilikinya..”


“Aku?”


Matthew menganggukkan kepala membenarkan.


“Posisi nona di dalam hatinya adalah segalanya.. Saya bisa mengerti bahwa anda sudah menyukai orang lain dan itu bukan Reihan.. tapi saya pikir jika anda mempunyai sedikit hati nurani.. mungkin sebaiknya anda mempertimbangkan baik-baik masalah pernikahan.. karena dalam hal itu, anda hanya perlu mempertaruhkan perasaaan anda.. sedangkan ‘dia’ sudah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk anda..” ucap Matthew.


Kalimat panjang yang baru saja didengarnya membuat gadis itu termenung. Mily ingat kejadian perkelahian tempo dulu. Reihan tanpa pikir panjang bersedia menghalau tusukan pisau yang sebenarnya ditujukan pada dirinya. Disisi lain hatinya terasa sakit memikirkan kenyataan bahwa Mike lah pria yang disukainya.


“Tidakkah terlalu egois jika kita hanya memikirkan perasaan kita sendiri tanpa mempertimbangkan kebaikan yang sudah kita terima?” ucap Matthew. Entah kenapa dalam kalimat itu tersirat nada menyindir yang membuat Mily semakin terpojok.


Matthew melirik jam tangannya. “Biar saya mengantar anda pulang..”


Mily tak berkata apa-apa dan dengan begitu saja mengikuti Matthew dari belakang.


**


Mily baru saja melangkahkan kaki masuk ke rumahnya, saat seseorang tiba-tiba saja memeluknya.


“Priska?” seru Mily sedikit kaget melihat keberadaan ibu satu anak itu dirumahnya pagi-pagi.


Priska tampak mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah sofa. “Ana? Kenapa kalian berdua ada dirumahku pagi-pagi begini?” tanya Mily.


“Kami berdua kangen sama kamu..” jawab Ana cepat.


“Javier mana?” tanya Mily sembari matanya mencari di area sekitar.


“Jangan dicari, dia kutitipkan di rumah orang tua ku..” seru Priska cepat.


“Loh memang Alvin kemana?” tanya Mily lagi. Gadis itu masih belum bisa mengerti maksud dari kedatangan teman-temannya.


“A-ah dia ada urusan lain..” Priska sedikit terbata menjawabnya. Mata ibu satu anak itu berkedip ke arah Ana seolah memberi kode meminta bantuan. Ana yang langsung mengerti maksud Priska, langsung berjalan ke arah Mily dan memeluk lengan kirinya.


“Kamu semalam gak tidur dirumah?” tanya Ana.


Mily tak langsung menjawab dan justru celingukan kanan kiri. “Tenang orang tuamu hari ini pergi keluar dan menyerahkanmu sama kita berdua..” pungkas Priska.


“Ha?”


“Bukankah kita bertiga itu teman baik?” seru Ana


.


“Betul.. teman baik harus saling berbagi kebahagiaan dan cobaan..” lanjut Priska.


Mily melepas tas selempangnya dan duduk di sofa rumahnya diikuti oleh kedua temannya yang kini sudah duduk di sebelah kanan dan kirinya. Ana dan Priska tampak berbarengan memandangi Mily.


“Aku baik-baik saja teman-teman..” ucap Mily pada akhirnya.


“Aku setuju dengan Priska.. Mily, kita berdua berada disini buat kamu.. kalau kamu mau nangis atau marah kamu bisa lakuin semua itu didepan kita berdua..”


“Sekarang aku gak lagi ingin nangis atau marah.. aku lebih ingin menghilang dari dunia ini..”


“Ja-jangan-jangan kamu berpikir untuk..” Ana tak mampu melanjutkan kalimatnya. Pikiran mengerikan yang berada dikepalanya langsung ditepisnya jauh-jauh.


“Bukan itu..” jawab Mily cepat membuat dua orang teman baiknya tu menghembuskan nafas berbarengan.


“Kamu ini buat kita khawatir..” seru Priska.


“Aku dan Priska kurang lebih tahu masalah yang sekarang lagi kamu hadapi.. Jadi sekarang kamu akan memilih jalan yang mana?”


“Aku masih belum bisa memutuskan..” jawab Mily singkat membuat Ana dan Priska saling bertukar pandang. “Aku..” Mily menghentikan kalimatnya dan mengambil nafas dalam-dalam seolah dirinya kini berada dalam tekanan yang besar.


“Aku hanya punya dua pilihan.. dan dua-duanya akan membuatku serba salah..” lanjut Mily.


“Pilihan pertama?” tanya Priska sembari memasang wajah serius.


“Kalau aku memilih orang yang salah mungkin aku akan kehilangan kebahagiaan ku kedepannya..”


“Pilihan kedua?” tanya Ana.


“Kalau aku memilih untuk bersama dengan orang yang tepat aku mungkin akan merasakan perasaan bersalah seumur hidupku..”


“Perasaan bersalah? Bukannya orang itu baik-baik saja?” tanya Priska.


Mily dengan cepat menggelengkan kepala. “Semalam aku bertemu dengannya untuk membicarakan masalah pernikahan.. Aku bilang, aku ingin membatalkan pernikahan itu karena aku menyukai Mike..”


“Terus dia bilang apa?” tanya Ana yang terlihat semakin penasaran.


“Dia terlihat tak mempermasalahkan pembatalan pernikahan.. tapi gak lama dia pingsan dan aku menemaninya dirumah sakit..”


“Dia pura-pura pingsan mungkin?” seru Priska dan langsung ditanggapi dengan gelengan kepala Mily.


“Dia benar-benar sakit.. dan akulah penyebabnya..” jawab Mily sembari tertunduk lesu.


“Memang dia kenapa?” tanya Priska yang sangat penasaran.


“Aku tidak ingin membicarakannya.. Yang pasti akulah penyebab kondisi Reihan seperti sekarang..”


Ana melempar tatapan pada Priska yang juga tengah menatapnya. Kemudian gadis itu menggerakan tangannya dan menggenggam jemari tangan Mily. “Aku sebagai temanmu akan selalu mendukung apa pun keputusan yang kamu pilih.. kalau pilihan kamu sekarang akan membuat kamu menangis kedepannya, aku akan selalu berada disana dan menjadi pendengar yang baik.. Kalau yang akan kamu pilih akan membuat mu bahagia, maka nanti aku akan menemanimu tertawa.. Bagaimana?” ucap Ana lembut.


Sementara Priska yang sebenarnya masih belum rela jika Mily sampai memilih Reihan harus menekan jauh-jauh egonya. Tak ada satu kalimat pun yang keluar dari bibirnya sampai Ana memelototinya.


“Aku juga.. aku menghormati semua keputusan yang akan kamu pilih..” ucap Priska pada akhirnya.


Mily merasa semangatnya sedikit pulih dan memeluk kedua temannya berbarengan.


“Sebentar..” ucap Priska sembari melepas pelan rangkulan tangan Mily di pundaknya.


“Ada apa?” tanya Mily.


“Alvin menelepon..” kata Priska sambil menunjukkan layar ponselnya pada kedua temannya.


“Halo..” seru Priska. Baru dirinya mengatupkan bibirnya, wajahnya sudah berubah tegang. “Baik aku paham..” Priska mengakhiri pembicaraan dengan suaminya dan langsung menatap mata Mily.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Mily.


Priska menganggukkan kepalanya. “Terjadi sesuatu dengan Mike..” ucap Priska hati-hati.