Little Rainbow

Little Rainbow
Waktu yang pernah hilang



Mike dan Mily sudah tiba di rumah sakit, tepatnya didepan kamar rawat Reihan. Mily terlihat mengetuk pintu dan langsung membukanya. Tampak Reihan sedang terbaring dengan wajahnya yang pucat, terlihat begitu lemah. Sementara Matthew sedang duduk di kursi persis disamping Reihan. Papa Reihan tak tampak berada disana.


“Mily..” seru Reihan kaget melihat kedatangan pacarnya itu. Lebih kaget lagi saat melihat sosok Mike yang berjalan tepat dibelakang Mily.


“Kalian datang bersama?” tanya Reihan sedikit kecewa.


“Iyah.. kebetulan Mike ada diswalayan dan katanya ingin bertemu dengan Matthew..” jawab Mily jujur. Gadis itu tak tahu jika Mike menaruh maksud tersembunyi dibelakang.


“Aku kesini untuk sekalian menjenguk calon saudara ipar angkat ku..” ucap Mike.


Reihan tak menanggapi ucapan Mike barusan. “Mily, aku lapar.. bisakah kamu membelikan aku makanan?” pinta Reihan.


“Boleh.. tapi apa kamu boleh makan apa saja atau ada pantangan?” tanya Mily.


“Apa saja.. Oh iya Paman, tolong temani Mily..” seru Reihan.


Seolah mengerti dengan maksud ucapan tuan mudanya, Matthew mengikuti Mily pergi keluar dari kamar sedang Reihan kini tinggal berdua hanya dengan Mike. Suasana kamar saat itu seketika berubah menyeramkan. Dua orang itu saling mengeluarkan aura membunuh.


“Aku yakin kamu datang kesini bukan untuk sekedar menjenguk ku..” ucap Reihan membuka obrolan.


“Baguslah ternyata kamu orang yang cukup peka..” Mike tersenyum kecil lalu melanjutkan ucapannya. “Aku datang kesini untuk melihatmu secara langsung.. Aku sedang mencoba untuk tak mengasihani kamu yang berusaha mengemis perhatian Mily..tapi sepertinya kamu cukup menikmatinya.. Aku benar-benar merasa malu untuk itu..”


“Apa maksud kamu?”


“Kamu jelas-jelas tahu dia sama sekali tak memiliki perasaan apa pun untuk kamu dan dia hanya berusaha untuk meredakan rasa bersalahnya karena kejadian penusukan itu.. sedang kamu memanfaatkan rasa bersalah dan memaksanya untuk menikah dengan mu.. Apa itu bukan hal yang memalukan?”


“Aku sama sekali tak pernah memaksa atau memintanya untuk melakukan semua itu.. aku juga tak pernah memintanya bersikap baik padaku.. dia sendiri yang ingin melakukannya..”


Mike kembali tertawa kecil. “Tapi kamu tetap mengambil keuntungan dari perhatian dan sikap baiknya padamu.. Berhentilah berpura-pura menjadi orang yang lemah.. dan kita bersaing.. Aku akan membuat Mily mengenali perasaan yang sebenarnya..” Mike berkata dengan penuh percaya diri.


Reihan tersenyum kecil. “Kamu berkata seolah-olah kamu yakin kalau Mily masih menyukaimu.. ingat.. kalian pernah berpisah selama sepuluh tahun.. dan lagi perasaan manusia itu mudah berubah.. bisa saja kemarin dia menyukaimu tapi hari ini dia memilihku..” sindir Reihan.


Mike tak menimpali. Jika dipikirkan, ucapan Reihan ada benarnya. Dalam hubungannya dan Mily, terdapat waktu sepuluh tahun yang tak mungkin bisa di ulang kembali seberapa banyak pun penyesalan dalam dirinya dikumpulkan.


Seandainya mesin waktu benar-benar ada, Mike ingin kembali ke waktu terakhir berpisah dengan gadis itu. Kembali ke waktu dimana Mily mengatakan perasaannya saat SMA dulu. Jika bisa, waktu itu dirinya akan melunakkan hati dan menerima Mily apa adanya. Dan, jika saat itu rasa ego tidak menguasai pikirannya, mungkin sosok Reihan tak akan pernah muncul didalam jalan cerita mereka berdua seperti saat ini.


“Aku dan Mily hanya berpisah selama sepuluh tahun.. seandainya aku dan dia berpisah selama seratus tahun pun, aku pasti akan menebusnya dengan seluruh hidup ku..”


“Aku tak akan menyangkal kalau aku memang sudah sering menyakitinya.. karena itu mulai sekarang aku akan menebusnya.. seandainya perasaannya sudah bukan untuk ku.. aku akan tetap berusaha membuatnya menyukai ku lagi dan lagi...” jawab Mike mantap.


**


Sementara Mike dan Reihan masih bersitegang, Mily nampak sudah menjinjing satu keresek berisi bubur ayam yang masih panas sambil berjalan di lorong rumah sakit bersama Matthew.


Sedari tadi Matthew terdiam tak mengatakan apa pun dan hanya menyisakan keheningan diantara keduanya. Mily juga nampak sedikit canggung berjalan dengan seseorang yang tak begitu dekat dengannya.


“Paman, apa kondisi Reihan saat ini ada hubungannya dengan penusukan waktu itu?” tanya Mily penasaran sembari membuka jalan obrolan.


Matthew tampak tersenyum kecil. Pria paruh baya itu bingung harus menjawab apa. “Tuan muda baik-baik saja.. hanya sedikit kelelahan..” ucap Matthew pada akhirnya.


“Oh syukurlah kalau hanya karena kelelahan.. aku pikir dia masuk rumah sakit karena terjadi sesuatu dengan ginjalnya..” jawab Mily lega.


Matthew tampak kembali tersenyum. “Apa nona masih merasa bersalah karena kejadian pada saat itu?”


“Tentu, Paman. Reihan kehilangan salah satu ginjalnya karena aku.. Jadi bagaimana bisa aku gak merasa bersalah..” jawab Mily lantang tanpa keraguan.


Gadis itu tak menyadari sedikitpun ada maksud tersembunyi dibalik pertanyaan yang dilontarkan Matthew. Sedang pria paruh baya itu hanya terdiam mendengar jawaban gadis muda disampingnya.


“Koreksi ucapan saya jika salah.. Barusan yang saya tangkap dari ucapan nona adalah nona tidak benar-benar menyukai Tuan muda saya.. semua yang nona lakukan saat ini hanya karena perasaan bersalah.. apa benar begitu? Maaf jika saya lancang..” Matthew menghentikan langkah kakinya.


Untuk sesaat pria paruh baya itu menatap mata Mily yang bergetar. Sangat jelas bahwa Mily memang tidak menyukai tuan mudanya. Sedang Mily merasa bahwa dirinya terjebak dalam sebuah pernyataan yang berasal dari dirinya sendiri.


Mily terpaku tak menjawab atau pun sekedar membantah, seolah membenarkan maksud ucapan Matthew. Gadis itu termenung dalam lamunannya sendiri. Sementara Matthew masih tetap memperhatikan ekspresi wajah pacar tuan muda yang berdiri dihadapannya.


“Saya tidak bermaksud untuk ikut campur.. hanya saja.. saya melihat Reihan tumbuh sedari SD..dan belakangan terjadi banyak perubahan baik dalam dirinya.. meski Reihan terkesan sering membangkang dan keras kepala, tapi dia bukan laki-laki yang buruk.. dia akan bertanggung jawab atas setiap tindakannya.. jadi.. tolong jangan memberinya sebuah harapan palsu yang kelak akan menyakiti perasaannya..”ucap Matthew panjang lebar.


Mily terdiam sejenak sebelum pada akhirnya bibirnya mampu berucap. “Tanpa paman mengingatkan, aku juga akan menjaga dengan sangat baik perasaan Reihan.. karena aku tahu bagaimana rasanya dikecewakan dan disakiti..”


“Jika benar begitu, maka saya akan berterima kasih.. tapi apa tidak lebih baik nona menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara anda dan Tuan Mike?”


“Paman tidak perlu khawatir.. aku dan Mike sama sekali tidak ada hubungan apapun... ”Mily menegaskan.