Little Rainbow

Little Rainbow
Bersamaku selamanya



Mike sudah nampak sedikit kelelahan karena harus menggendong Mily dipunggungnya sembari melewati jalan setapak yang licin dan penuh dengan rerumputan yang berduri. Beberapa kali pria itu nyaris terjatuh.


“Mike lebih baik aku jalan sendiri saja..”seru Mily yang sedari tadi berada dipunggung Mike. Gadis itu tahu untuk jalan seorang diri saja sudah cukup sulit, bagaimana dengan Mike yang menggendong dirinya.


“Jangan.. nanti kalau kamu sampai jatuh dan terluka bagaimana.. Lebih baik kamu tetap ku gendong dipunggung ku..”


Mily tersenyum senang mendengar perkataan yang dianggapnya sedikit ‘romantis’.


“Mike apa kamu sedang mengkhawatirkan ku?” tanya Mily dengan iseng.


“Tentu aku mengkhawatirkanmu..”


“Kenapa?”


“Karena kamu adalah calon istriku.. dan aku akan berusaha semampu ku agar kamu tidak terluka..”


“Mike.. Kamu kenapa jadi aneh begini?” tanya Mily lagi.


“Aku memang aneh gimana?”


“Dari tadi kamu terus menerus berkata manis..”


“Lalu..Apa kamu suka aku yang seperti ini?”


“Ehmm.. Aku suka..” Mily menganggukan kepalanya berkali-kali sembari mengeratkan pelukannya pada leher Mike.


“Kalau begitu ayo kita menikah.. nanti aku akan berusaha untuk terus mengatakan banyak hal manis dan menggendongmu seperti ini setiap hari selama aku hidup..”


“Kenapa juga kamu menggendongku setiap hari? Aku kan punya kaki..” protes Mily. “Yang aku mau hanya kamu bersama ku selamanya dan tidak pernah pergi atau menghilang lagi.. Itu sudah cukup..” lanjutnya.


“Baiklah.. aku berjanji akan selalu berada disampingmu selamanya..” balas Mike cepat.


“Kamu juga gak perlu janji.. kamu cukup melakukan hal yang ku minta tadi..”


“Aku mengerti.. aku tidak akan menjanjikan apa pun padamu.. Dan banyak hal yang mungkin akan kita lewati kedepannya, entah itu rintangan atau kebahagiaan.. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi.. aku akan terus berada disampingmu dan terus menatapmu sampai kamu bosan melihatku.. Bagaimana?”


“Aku setuju..” jawab Mily sembari menempelkan pipi kirinya pada pipi kanan Mike.


**


Sudah hampir satu jam Reihan terus memandangi ponselnya sembari duduk menyender pada sebuah tiang besi digudang sendirian. Tak ada apa pun yang muncul di layar ponselnya, baik pesan maupun panggilan. Perasaannya semakin khawatir dan gelisah. Sudah lewat beberapa hari dan Mily sama sekali tak menghubunginya. Bertanya kabar pun tidak.


“Apa tindakan ku benar-benar salah?” gumam Reihan.


Tak lama ponselnya berdering dan matanya langsung tertuju pada sebuah nama yang terpampang dilayar. Harapannya saat itu seketika sirna. Bukan nama Mily yang berada disana melainkan papanya.


Mau tidak mau Reihan mengangkat panggilan itu. “Halo..”


“Apa kamu sedang sibuk? Papa ingin bicara.. Ayo kita bertemu sebentar..”


“Aku sibuk.. bicara saja lewat telefon..” timpal Reihan ketus.


“Baiklah.. karena kamu sedang sibuk.. maka papa akan langsung pada pokok pembicaraan.. Kapan rencana kamu akan mengajak papa menemui orang tua gadis itu?”


“Apa maksud papa?” tanya Reihan memastikan karena takut dirinya salah dengar.


“Bukankah kamu ingin papa merestui hubunganmu dan Mily?”


“Tentu.. papa sudah berfikir berulangkali.. sejak kecil sampai kamu besar seperti sekarang, papa rasa belum sekalipun papa membuatmu bahagia.. dan papa pikir gadis itu juga tidak buruk untuk menjadi menantu di keluarga kita..”


“Kalau begitu sore ini juga ayo kita kerumahnya..” ucap Reihan dengan girang. Pria itu tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


“Tunggu sebentar..”


“Ada apa?”


“Gadis itu sedang tak dirumah.. BLC group sedang mengadakan acara di luar kota dan menginap semalam.. mungkin besok kita baru bisa datang kerumahnya..” seru papa Reihan.


“Oh.. Aku sama sekali tidak tahu..” jawab Reihan yang sama sekali tak mengetahui tentang kabar gadis itu beberapa hari belakangan ini.


“Reihan.. Apa kamu akan menepati janji mu?”


“Janji? Tentang apa?”


“Apa kamu lupa? Kamu berjanji akan pulang dan tinggal kembali di rumah jika papa merestui hubungan kamu dan Mily..”


“Oh.. tentang itu... Baiklah.. aku akan pulang ke rumah malam ini juga..”


“Kamu.. tidak akan kembali tinggal di apartemen mu bukan?” tanya papa Reihan memastikan.


“Aku tidak pernah mengingkari janji ku, pa.. tapi nanti tolong minta Matthew untuk membereskan barang-barangku..”


“Baiklah papa akan menyuruhnya membantumu..”


“Thanks, pa..”


“Terima kasih untuk apa?”


“Terima kasih karena papa mau merestui hubungan ku dan Mily..”


“Papa hanya ingin kamu bahagia..” jawab pria paruh baya itu sembari mengakhiri pembicaraanya.


Papa Reihan menaruh ponselnya di atas meja kerja. Tangan kanannya tampak memijat-mijat pelan dahinya. “Tuan.. apa anda benar-benar sudah merestui hubungan tuan muda dan Mily?” tanya Matthew seolah tak percaya.


“Aku tidak punya pilihan lain. Hanya itu yang bisa membuatnya tetap dekat denganku..”


“Tapi.. bukankah anda sendiri tahu tentang hubungan gadis itu dan presdir BLC group?”


“Aku tahu.. tapi aku juga ingin anak ku mendapatkan apa yang diinginkannya..” ucap papa Reihan dengan pelan. “Mungkin apa yang aku pikirkan selama ini salah.. Semoga saja nanti setelah mereka berdua menikah, gadis itu bisa sedikit saja memberi hatinya untuk putra ku..” lanjutnya.


“Tuan.. anda sepertinya sedikit berubah..” seru Matthew yang masih terlihat duduk di sebuah kursi tepat diseberang meja kerja papa Reihan.


“Berubah bagaimana maksud mu, Matthew..”


“Saya hanya berfikir jika anda sekarang tidak seperti dulu..”


“Dulu memang aku bagaimana?”


“Dulu anda merupakan orang yang selalu berdiri kokoh pada pendirian anda.. anda selalu memegang teguh prinsip.. dan tidak goyah seperti sekarang..” jawab Matthew dengan tersenyum.


“Ahh.. Aku sudah tua.. dan aku hanya ingin berkumpul dengan putraku satu-satunya tanpa pertengkaran-pertengkaran kecil.. Kalau disingkat.. aku hanya ingin memperbaiki hubunganku dengannya.. ucapannya beberapa hari yang lalu memang tak salah.. aku selalu sibuk dengan pekerjaanku sampai melupakan istri dan anak ku sendiri.. dan sekarang aku ingin menebusnya..”