Little Rainbow

Little Rainbow
Diantara dua pilihan



Sinar matahari yang terasa menyilaukan menyeruak masuk kedalam jendela kamar Mily dan membuat gadis itu tersadar dari tidurnya. Tubuhnya berbalik untuk menghindari cahaya itu namun ada yang lebih membuat matanya tak bisa menutup.


Wajah Mike persis berada di depan wajahnya. Mata pria itu terpejam, masih tertidur sangat pulas. Mily perlahan mendekatkan wajahnya kedepan wajah Mike. Jari telunjuknya membuat garis lekuk secara mengambang mulai dari dahi sampai ke dagu Mike.


"Kenapa menatap ku terus?" tanya Mike yang baru saja terbangun dan langsung menatap wajah Mily yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Ka-kamu gimana bisa tahu.. Jelas-jelas matamu masih terpejam.."


"Siapapun itu jika dilihat dengan jarak sedekat ini pasti akan tahu.."


Mily memonyongkan mulutnya kesal. Saat keduanya masih saling berbicara dengan posisi yang sangat dekat, mama Mily mengetuk pintu dan langsung membukanya.


Wajah wanita itu terlihat sumringah senang. "Ma-maaf mama mengganggu.." seru mama Mily cepat sembari menutup pintu.


Sementara Mily masih dengan posisi yang sama namun mengerjap-ngerjapkan matanya. "Mama ku minta maaf kenapa?" tanya Mily dengan polosnya.


Mike tertawa kecil karena menurutnya Mily tak mengerti maksud dari ucapan mamanya barusan. "Tante ingin kita berdua terus seperti ini.."


"Seperti ini? Maksudnya?"


Mike tak menjawab. Dirinya tak habis pikir bagaimana bisa dia menyukai gadis seperti Mily. "Maksudnya seperti ini.."


Mike meraih tubuh Mily sampai gadis itu berada dipelukannya. "Mike kamu ngapain sih.." Mily berusaha melepas pelukan Mike.


"Diam.. Tetap seperti ini sebentar saja.. Aku masih mengantuk.."


Mily tampak pasrah dan membiarkan laki-laki itu memeluknya. "Mike kamu kenapa bisa tidur disini?"


"Tante bilang kamar ku kotor.. Jadi aku disuruh tidur disini.." jawab Mike dengan mata terpejam.


"Tapi kamu kan bisa gelar bedcover untuk alas tidur di lantai.. Gak mesti tidur di tempat tidur ku.." protes Mily.


"Tempat tidur mu muat untuk dua orang.. Kenapa pelit sekali.."


"Mike bangun.. Jangan sampai Mama Papa salah paham.."


Mike menyunggingkan senyuman kecil. "Mereka tidak akan salah paham.. Justru mereka menginginkan sesuatu terjadi lebih dari ini.."


Kali ini Mily menangkap maksud dari ucapan Mike dan dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Mike menjauh. "Jangan berpikir macam-macam ya..." ancam Mily.


"Ehm.. Aku masih waras.. Dan aku ini sedang mengantuk berat.. Jadi kamu aman.." canda Mike. "Buktinya tangan dan kakimu masih lengkap.." lanjutnya.


"Sudah ah.. aku mau mandi.. Kamu mau tidur lagi silahkan.. Aku mau siap-siap berangkat kerja.."


Mily langsung berjalan ke arah pintu dan membukanya. Tampak kedua orangtuanya sedang berdiri didepan pintu kamarnya seolah sedang menguping.


"Mama Papa lagi apa?" tanya Mily polos.


"Ahh.. Mama Papa lagi menangkap nyamuk.." jawab mama Mily seadanya.


"Disini? Depan kamarku?"


"Ehm iya sayang didepan kamar kamu banyak sekali nyamuk.. Kalau gitu Papa ambil semprotan dulu ya.." papa Mily menarik istrinya sedang Mily merasa tingkah kedua orang tuanya aneh.


"Nyamuk?" gumam Mily pelan.


**


Reihan terbangun dari tidurnya dan langsung mengambil ponselnya yang berada tepat disebelah bantal. Tidak ada pesan atau pun panggilan telepon dari Mily. Sepertinya gadis itu benar-benar mengartikan keputusannya dengan artian yang lain.


Sedikit rasa sesal merasuk dalam hati dan pikirannya. Reihan merutuki dirinya sendiri karena telah berkata seperti itu dan semakin membuat Mily akan pergi menjauh darinya.


Bagaimana jika sampai dirinya kehilangan gadis itu? Sementara hatinya masih mengharapkan sedikit perhatian sekalipun penuh dengan keterpaksaan.


"Dia benar-benar tidak menghubungi ku.. Apa susahnya berusaha untuk membuat ku merasakan sedikit ketulusan?" gumam Reihan.


"Nak Reihan.." panggil sang kakek sembari mengetuk pelan pintu kamarnya.


Tak ingin membuat sang kakek pemilik kontrakan menunggu terlalu lama, Reihan langsung membuka pintu kamarnya. "Ada apa, Kek?" tanya Reihan ramah.


"Begini.. Apa nak Reihan punya waktu sebentar untuk membantu menjaga toko? Kakek bingung karena harus mengurus Nenek juga.." jelas kakek itu.


"Baiklah.. Aku punya banyak waktu.. Kakek santai saja..."


Keduanya lantas berjalan menuruni tangga besi. Sang kakek langsung mempercayakan toko kelontongnya pada Reihan, sementara dirinya berjalan masuk kedalam rumah untuk mengurus istrinya.


"Selamat da...tang..." seru Reihan sedikit kaget saat melihat papanya sedang berjalan ke arahnya.


Pria paruh baya itu menyodorkan sebungkus rokok dan uang seratus ribu satu lembar. "Kembaliannya tidak perlu.."


Reihan tak menyahut apa pun. Sementara papanya membuka bungkus rokok itu dan memantiknya dengan korek api.


"Aku hanya ingin mengingatkan dan bukannya perhatian, jadi jangan salah paham.. Merokok tidak baik untuk tubuh.."


Papa Reihan tersenyum kecil dan mematikan rokok yang baru satu kali di hisapnya. "Bagaimana keadaanmu? Apa pengobatanmu berjalan lancar?" tanya pria paruh baya itu tanpa basa basi.


"Pengobatan apa.. aku gak paham..."


"Karena kamu adalah darah daging ku, maka aku akan mengetahui apa pun yang menyangkut kehidupan putra ku.. Jadi jangan berpura-pura lagi.."


"Kalau sudah tahu kenapa masih bertanya?"


"Baiklah aku akan bertanya hal yang tidak ku ketahui.. Apa kamu masih merasakan sakit?"


"Tentu.." jawab Reihan cepat, membuat sang papa langsung menoleh kearahnya. "Siapa yang tidak sakit jika orang yang disukai justru dipisahkan oleh orang tua sendiri?"


"Reihan.. Bukan itu yang Papa tanyakan.." timpal sang papa.


"Kadang aku bingung apa itu arti dari kata 'Papa'. Kenapa yang aku mengerti berbeda dari kamus bahasa yang pernah ku baca?"


"Apa maksud kamu?"


"Dalam kamus bahasa Papa diartikan sebagai orang tua kandung laki-laki. Dan tugasnya adalah sebagai pemimpin keluarga, pelindung, penyedia segala kebutuhan, pemberi kasih sayang, motivator dan pemberi perhatian.. Tapi.. Yang aku tahu tugas Papa ku hanya satu dari sekian banyak tugas yang harus menjadi tanggung jawabnya yaitu penyedia segala kebutuhan.." ucap Reihan panjang lebar.


"Reihan.."


"Dengarkan aku dulu.. Aku belum selesai bicara.." nada Reihan sedikit membentak.


"Sejak kecil, saat anak-anak lain bisa membanggakan kedua orang tuanya dengan bercerita bahwa mereka baru saja pergi berlibur dari suatu tempat. Aku hanya bisa mendengar.. Aku bingung aku harus ikut bercerita seperti apa? Aku mungkin berlibur ke tempat yang jauh lebih mewah dari apa yang teman-teman ku ceritakan.. Tapi...." Reihan terdiam sesaat untuk mengatur emosinya.


"Saat itu aku benar-benar bingung apakah aku berlibur dengan keluarga ku? Yang selalu ada di samping ku hanya Mama.. Dimana Papa? Dia selalu sibuk menerima panggilan telepon dan tak pernah bermain bersama ku dan Mama... Jadi.. Selama ini untuk apa semua uang yang dihasilkan? Mama selalu bilang kalau Papa sibuk dan tidak mempunyai waktu berkumpul demi mencari uang agar kita bertiga bahagia.. Tapi entah bahagia seperti apa yang dimaksud? Sampai sekarang aku sama sekali belum paham.." lanjutnya.


"Sewaktu Mama sedang kritis dan tidak bisa bangun dari tempat tidur, aku menghubungi mu. Tapi apa? Kamu hanya mengangkatnya dan berkata 'Papa sedang sibuk..' dan langsung memutuskan panggilan padahal aku belum sempat berbicara apa-apa... Aku... Akulah yang menggendong dan membawanya ke rumah sakit seorang diri.. Bayangkan saja seorang anak SMP kelas dua membawa ibunya ke rumah sakit sendirian padahal anak itu masih mempunyai seorang Papa... Dimana dia???" Reihan menyeka air matanya yang tak kuasa dibendungnya.


"Jadi maksud dari darah daging seperti apa yang tadi kamu sebutkan?" lanjutnya.


"Reihan.. Papa.. Papa minta maaf.. Papa sama sekali tidak tahu jika kesibukan Papa membuatmu terluka.. Papa hanya benar-benar ingin kamu tidak kekurangan sesuatu apapun.. Tapi ternyata Papa salah.. Papa minta maaf..." ucap Papanya yang berkata dengan terbata setelah mendengar uneg-uneg putranya selama ini.


"Permintaan maaf mu tidak akan pernah bisa mengembalikan waktu.. Jadi percuma saja.."


"Kalau begitu biarkan Papa menebusnya dimasa depan.. Papa akan berusaha untuk memiliki lebih banyak waktu dengan kamu.. Maka dari itu, kembalilah ke rumah.. Kita bisa berkumpul bersama lagi.."


"Tidak perlu.. Aku sudah terbiasa hidup sendiri seperti sekarang.."


"Jadi Papa harus bagaimana untuk memperbaikinya?"


"Papa gak perlu melakukan apa-apa.. Cukup dengan memberikan restu dan membiarkan aku menikah dengan Mily.."


"Tapi..."


"Pilihan Papa hanya dua.. Ingin terus selamanya kita berseteru atau restui hubungan ku dan Mily maka hubungan kita berdua kembali harmonis.. Silahkan pikirkan baik-baik.."