Little Rainbow

Little Rainbow
Dua hati yang tersakiti



Sudah hampir tengah malam, Mily berjalan kaki seorang diri setelah kembali dari rumah sakit melihat Reihan. Baru saja tangannya akan menyentuh pagar rumahnya, ponselnya bergetar.


Gadis itu merogoh ponsel miliknya dari saku celana dan terlihat nama Priska muncul dilayar. "Halo Pris..." seru Mily.


"Kamu belum tidur kan?" tanya Priska.


"Belum.. Kenapa?"


"Kalau kamu belum tidur, lebih baik kamu datang kesini.."


"Kerumah kamu?"


"Iya..."


"Sekarang?"


"Iya..."


"Memang ada apa?"


"Pokoknya kamu datang kesini dulu.. Nanti kamu juga tahu.." ucap Priska.


"Oke.. Aku kerumah kamu sekarang ya..."


**


Mike terduduk menyender di sofa sementara Alvin duduk disebelahnya. Wajah laki-laki itu tampak memerah karena mabuk berat.


"Vin.. Kenapa saat kita menyukai seseorang terasa begitu menyakitkan? Apa dulu dia juga merasakan seperti ini? Apa aku benar-benar sudah menyakitinya?" ucap Mike yang terus menerus berbicara dalam kondisi setengah sadar.


"Ya begitulah cinta.. Semakin kamu mengejarnya maka kamu akan semakin sakit.." jawab Alvin menimpali.


"Kalau aku berhenti mengejarnya, aku mungkin akan kehilangan dia.." seru Mike. Laki-laki itu menghembuskan nafasnya berat. "Malam itu.. Aku menatap matanya, tapi aku tidak bisa melihat apapun disana.. Untuk pertama kalinya aku merasa ragu kalau hatinya sudah bukan untukku.. Dan untuk pertama kalinya aku merasa takut.."


Alvin sedikit terkejut melihat Mily yang sudah sedang berdiri di belakang Mike. Gadis itu menempelkan telunjuk dibibirnya, meminta Alvin untuk tak memberitahu kedatangannya.


"Memang apa yang kamu takutkan?" tanya Alvin.


"Aku takut kalau ucapannya waktu itu benar-benar dari perasaannya yang terdalam.. Dia bilang, dia ingin menikah dengan laki-laki itu karena dia menyukainya.. Bagaimana kalau dia sampai benar-benar menikah dengan Reihan?"


"Maka kamu harus merelakannya.." seru Mily tiba-tiba. Kini gadis itu sudah berjongkok dihadapan Mike sedang Alvin ditarik pergi oleh Priska.


Suami istri itu membiarkan sepasang orang yang sedang sama-sama tersakiti untuk saling berbicara. Untuk saling lebih terbuka terhadap perasaannya masing-masing.


"Jika orang itu sudah memutuskan bahwa kebahagiaannya adalah dengan cara melupakanmu.. Kamu harus merelakannya.. Jika suatu hari orang itu menikah dengan pilihannya dan bukan dengan kamu.. Kamu harus memberinya ucapan selamat.. karena orang itu telah berhasil melupakanmu.. sejak awal kamulah yang mendorong orang itu pergi menjauh.. Jadi jika saat ini orang itu sudah benar-benar berpaling, itu semua karena perasaannya sudah merasa lelah untuk terus berusaha menyukaimu.." ucap Mily dengan mata yang memerah.


Mike kini terduduk tegak sambil menatap mata Mily lekat-lekat. Laki-laki itu sadar bahwa orang yang berada dihadapannya kini bukanlah Alvin.


"Bagaimana jika kebahagiaan yang dia pilih akan membuatnya merasa terpenjara dalam sumur kesedihan yang paling dalam? Yang akan membuatnya tenggelam dan sulit untuk bernafas?" ucap Mike sembari meneteskan air mata. Dadanya terasa sesak saat menatap wajah Mily yang juga sendu.


Mily terdiam sesaat dan membalas tatapan penuh air mata Mike. "Apa yang akan kamu pilih jika kamu bisa mengulangnya kembali? Apakah kamu akan bertindak dengan pikiranmu? Atau mengikuti suara hatimu?"


Kali ini giliran Mike yang terdiam. Untuk sesaat hatinya merasa ragu atas apa yang akan diucapkannya. "Aku akan tetap memilih jalan yang sama.."


Mike berdiri dari duduknya dengan masih tetap memegang pergelangan tangan Mily. Perlahan-lahan kedua lengan laki-laki itu melingkar erat diperut Mily.


"Jangan pergi.." bisik Mike di telinga Mily dengan suara pelan.


"Aku mungkin tetap akan memilih jalan yang sama, tapi..." suara Mike terhenti. Laki-laki itu menempelkan dagunya di bahu kanan Mily.


"Perasaan ku.. Aku akan mengucapkannya keras-keras.. Meski kita berpisah, aku akan berusaha agar setiap hari kamu bisa mendengar kata 'aku menyukaimu' dari bibirku. Saat perlahan-lahan kamu mendekat, aku akan memelukmu erat seperti sekarang.. Saat kamu merasa ketakutan, aku akan ada disampingmu.. Saat kamu menangis, aku akan meminjamkan bahuku.. Saat kaki kamu terluka, aku akan menggendongmu.. Saat kamu kehujanan, aku akan memegang payung untukmu.. Atau saat kamu bingung dengan perasaan kamu sendiri, aku akan ada disampingmu untuk membuatmu mengenali perasaan kamu sendiri.." ucap Mike.


Kalimat panjang yang meluncur dari bibir Mike membuat Mily tak lagi dapat mempertahankan keras kepalanya. Untuk sesaat perasaannya merasakan rasa sakit yang sama dengan yang Mike rasakan.


"Seandainya sekarang hanyalah sebuah mimpi, tolong biarkan aku tertidur sedikit lebih lama.. Semakin cepat aku terbangun, semakin cepat pula aku merasa takut kehilanganmu.."


Dengan lembut, Mily melepaskan pelukan Mike dan memutar tubuhnya. Kini gadis itu sedang menatap wajah Mike yang terlihat murung dan nampak lusuh berantakan. Perlahan, tangannya menangkup kedua pipi Mike dan mengusap air matanya.


"Kalau begitu terpejamlah lebih lama supaya aku juga bisa memelukmu seperti ini.. sedikit lebih lama..." ucap Mily pelan sembari memeluk Mike dengan erat seakan tak ingin melepaskan laki-laki yang selama sepuluh tahun berdiam didalam hatinya.


**


Malam semakin larut dan Mike tampak sudah tertidur pulas di atas tempat tidur di salah satu kamar di rumah Alvin. Tangan Mily membenarkan selimut yang menyelimuti tubuh Mike. Perlahan, Mily mengecup kening Mike dan mengelus dahinya dengan lembut.


"Seandainya waktu bisa terulang kembali, aku juga tetap akan memilih jalan yang sama.. Aku akan tetap memilih untuk menyukaimu.. Keputusanku.. belum tentu sejalan dengan takdirku.." ucap Mily pelan.


Tak lama Alvin sudah tampak menghampiri Mily dan menepuk pundak gadis itu. "Ini sudah terlalu malam, biar aku antar kamu pulang.." seru Alvin. Mily mengangguk setuju.


Alvin dan Mily berjalan ke arah mobil sedang Priska tampak terus menerus memegang tangan Mily sambil mengikutinya. "Mily, masalah pernikahanmu.. Lebih baik kamu pikirkan baik-baik.."


Mily tersenyum. "Aku sudah memikirkannya.. Jangan khawatir..."


**


Diperjalanan, Alvin tampak menyetir dengan sedikit gelisah dan Mily menyadari itu. "Ada apa?" tanya Mily.


"Haha.. Gak ada apa-apa.." sahut Alvin menyembunyikan kegelisahannya.


"Kalau ada yang mau kamu omongin, bilang aja.. Aku mau dengar kok..."


"Benar?"


"Iyaaa..."


"Okay.. Maaf ya.. Bukan aku berniat ikut campur masalah kamu dan Mike.. Cuma kayaknya aku merasa perlu meluruskan persepsi kamu terhadap Mike yang salah selama ini.." seru Alvin. Mily dengan tenang mendengarkan setiap perkataan yang dilontarkan teman baiknya itu.


"Mike dia... Aduh bingung juga bilangnya.. Pokoknya diantara aku, Priska, Ana dan kamu.. Kamulah yang harusnya paling mengenal sifat Mike.. Dia selalu merasa bahwa dia berhutang banyak sekali ke keluarga kamu yang sudah membesarkan dia.. Kamu sudah kehilangan sebagian besar perhatian dan kasih sayang orang tua karena kehadirannya.. Jadi saat dia memutuskan untuk pergi saat itu, bukan sepenuhnya karena dia menguping pembicaraan kamu dan Mama mu.. Tapi lebih karena dia ingin membuktikan bahwa seorang anak yatim piatu seperti dirinya bisa hidup dengan baik.."


Mily terdiam mendengar ucapan Alvin.


"Yang aku tangkap adalah dia ingin membuktikan bahwa dirinya pantas untuk kamu sekalipun dia tumbuh tanpa orang tua kandungnya.. Hanya saja sikap dan caranya yang salah.. Setiap kali dia bersikap atau berucap, kamu pasti akan salah paham.. Tapi saat perpisahan itu terjadi yang perlu kamu tahu, dia sama sekali gak marah atau ngebenci kamu.. Dia selalu mendorong kamu pergi karena dia masih merasa belum pantas untuk menyukaimu.. Dia masih merasa belum bisa untuk membuat kamu bahagia.. Waktu itu bukan cuma kamu yang terpuruk.. Tapi dia juga.."


"Apa benar begitu?"


Alvin mengangguk. "Makanya.. Masalah keputusan kamu tolong pikirkan baik-baik.. Kalian berdua saling menyukai kenapa harus saling menyakiti? Kalau waktu itu Mike sudah bikin kamu sakit hati, sekarang pun kamu sudah membuat dia sampai seperti ini.. Jadi anggap saja sudah impas..."