Little Rainbow

Little Rainbow
Mengingat masa lalu



Reihan baru saja bangun dari tidurnya saat jam di dinding kamarnya masih menunjukkan pukul tiga pagi. Keringat dingin mengucur deras di dahi dan pelipisnya. Rasa sakit diperutnya semakin hari semakin terasa sakit.


Laki-laki itu berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan susah payah. Berjalan merayap pelan-pelan menghampiri meja kayu berwarna coklat didekat jendela yang jaraknya sekitar seratus enam puluh sentimeter dari tempat tidurnya. Setibanya, tangan Reihan berusaha meraih pegangan laci namun pandangan matanya terasa sedikit kabur. Dengan meraba-raba akhirnya dia berhasil menarik laci itu dan tangannya mencari sebuah botol kecil yang biasa disimpan disana.


Reihan membuka tutup botol kecil itu dan membalikkannya diatas telapak tangan, sayang tak ada satu butir obat pun yang keluar. Tangannya semakin bergetar hebat menahan rasa sakit. Reihan berusaha kembali berjalan ke arah tempat tidurnya dan meraih ponsel yang tergeletak persis disebelah bantal.


Beberapa kali laki-laki itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Reihan menekan tombol angka tiga di layar ponselnya cukup lama kemudian muncul tulisan ‘sedang memanggil Matthew.’ Tak berapa lama Matthew tampak menjawab panggilan itu namun sayang Reihan sudah tak sadarkan diri.


**


Sudah dua hari Mily tak masuk kerja, beruntung bu manager tak mempersulit dirinya. Gadis itu celingukan kesana kemari mencari batang hidung Reihan yang sampai jam sembilan masih belum terlihat.


“Apa mungkin dia marah karena aku sama sekali gak balas pesannya?” gumam Mily.


Tiara, rekan satu tim Mily dan Reihan mendatangi Mily yang tengah berdiri sambil merapihkan susunan rak. Gadis cantik itu menyadari tingkah aneh Mily yang seperti sedang mencari-cari seseorang.


“Mily..” tegur Tiara sambil menepuk pelan bahu Mily.


“Eh... aku sampai kaget... kenapa Ti?” tanya Mily yang memang sedikit terkejut dengan kehadiran Tiara yang tiba-tiba.


“Apa kamu sedang mencari Reihan?” tanya Tiara.


Mily mengangguk. “Tumben banget dia jam segini belum datang..” seru Mily.


“Mending kamu jangan nunggu dia lagi... hari ini dia gak akan masuk kerja..” ucap Tiara.


“Dia gak masuk kerja kenapa?”


“Tadi pagi aku curi dengar, bu manager bilang kalau Reihan subuh tadi masuk rumah sakit..”


“Rumah sakit?” Mily terkejut.


“Iya.. coba kamu hubungi dia aja..” usul Tiara.


Mily langsung mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan memanggil Reihan namun tidak dapat terhubung. “Gak nyambung, Ti..” seru Mily. Gadis itu berpikir mungkin lebih baik menghubungi Matthew saja. Mily mencari-cari nomor kontak Matthew di ponselnya namun sepertinya dia lupa menyimpannya.


“Ti, apa kamu punya nomor Matthew?” tanya Mily.


“Matthew? Laki-laki yang sering mengobrol dengan bu manager kita?” Tiara balik bertanya.


“Iya..”


“Mana mungkin aku punya nomornya, Mily.. mending kamu tanya bu manager aja..” Tiara memberi usul lagi.


“Gak ah.. gak berani aku...” Mily memutar keras otaknya. Mata gadis itu melihat satu sosok yang sudah pasti mempunyai nomor kontak Matthew. Mike. Laki-laki itu tengah berjalan dengan beberapa orang dan Adit disampingnya yang tampak sibuk mencatat semua hal yang terucap dari mulut Mike.


Mily berjalan menghampiri Mike dan membuat langkah kaki laki-laki itu terhenti. Untuk sesaat keduanya saling terpaku menatap satu sama lain. “Ada apa?” tanya Mike lembut. Pasalnya dia bingung karena Mily tiba-tiba berdiri dihadapannya begitu saja.


Mily hampir lupa dengan maksudnya menghampiri Mike karena terhanyut dalam pikirannya sendiri. Ada yang berubah dari penampilan Mike pagi itu. Kedua mata Mike kini terbingkai oleh kacamata berbingkai hitam yang hampir mirip seperti yang dikenakannya sewaktu SMA dulu. Model rambut laki-laki itu juga terlihat persis sama seperti sepuluh tahun lalu.


“Aku mau minta nomor HP Matthew..” seru Mily lantang.


“Tuan, bos Andy ingin berbicara dengan anda..” seru Adit sambil menyerahkan ponsel miliknya pada Mike. Mike mengambil ponsel itu sementara tangannya yang lain merogoh ponsel miliknya dari saku jas dan memberikannya pada Mily. “Password 260410,” bisik Mike kemudian berlalu pergi dan sibuk menerima panggilan di ponsel milik Adit.


Beberapa detik Mily terbengong. Rasanya seperti ada hal yang aneh dengan password yang baru saja diucapkan Mike. Mily memasukkan keenam kombinasi angka itu dan tampaklah background menu ponsel Mike yang membuatnya tak percaya.


Dalam background itu terlihat Mike sedang tertidur pulas tepat disamping Mily, raut wajahnya terlihat begitu kelelahan.Gadis itu masih ingat, saat itu dirinya sedang sakit dan Mike menjaganya semalaman. Dikejauhan Mike yang sibuk berbicara di telepon tampak memperhatikan reaksi wajah Mily saat melihat layar ponselnya.


Mike menyudahi pembicaraannya dan berjalan ke arah Mily sambil tersenyum. “Aku akan bertemu Matthew di rumah sakit.. apa kamu mau ikut?” tanya Mike lembut.


“Rumah sakit? Aku ikut..” jawab Mily cepat.


**


Mobil Mike kini sudah meluncur dijalan raya. Didalam mobil, berulangkali Mily berusaha mengindari tatapan mata Mike. Tak ada satu katapun yang keluar dari bibir gadis cantik itu. Tatapannya pun tertuju ke arah jendela disampingnya.


“Apa kamu ingin melihat kondisi Reihan?” tanya Mike memecah keheningan.


“Hmm..” jawab Mily singkat tanpa menengok sedikit pun ke arah Mike.


Mike hanya tersenyum. “Kapan keluarga Reihan akan menemui keluarga kita?” tanya Mike lagi.


“Keluarga kita?”Mily balik bertanya tak mengerti dengan maksud dua kata itu.


“Hmm.. Keluarga kita.. Bukannya aku masih termasuk dalam keluarga kamu?” tanya Mike membuat Mily serba salah. Gadis itu memutuskan untuk tak memberi jawaban.


“Ah ya, ponsel ku masih di kamu ya?” tanya Mike lagi.


Mily menyodorkan ponsel yang dimaksud. Gadis itu baru sadar kalau sedari tadi dirinya menggenggam ponsel Mike. “Aku sedang menyetir, tolong bantu kirim pesan ke Adit kalau aku akan menghadiri rapat sedikit terlambat..” ucap Mike.


“Kamu masih ingat passwordnya kan?” tanya Mike penasaran karena Mily masih tampak tertegun memandangi ponsel miliknya.


“Hmm masih.. 260410..” jawab Mily.


“Ya benar 260410..” Mike mengulangi.


Mily merasa heran, barusan seolah Mike menekankan sesuatu di keenam angka itu. “260410 adalah waktu dimana pertama kali kamu bilang kalau kamu menyukai ku..” Mike menjelaskan seolah tahu apa yang sedang dipikirkan Mily.


Kalimat yang baru saja didengarnya membuat Mily sedikit salah tingkah. “Foto background ini kamu dapat dari mana?” tanya Mily dingin.


“Dari mama kamu..” jawab Mike tersenyum penuh kemenangan karena akhirnya Mily mau bertanya juga.


“Kalau kamu mau foto itu, kamu bisa transfer file dari galeri..” ucap Mike lagi.


“Gak perlu..”jawab Mily dingin.


Lagi, Mike tersenyum melihat Mily yang terlihat sedikit tak nyaman. Itu menandakan bahwa dirinya masih berada didalam hati gadis itu.