
Mike terlihat sedikit meringis saat dokter Herman menaruh kapas yang sudah diberi obat merah pada lukanya dan mengusapnya perlahan. “Apa terasa sakit?” tanya dokter Herman yang melihat wajah Mike.
“Apakah aku terlihat bukan seperti manusia?” Mike balik bertanya dan ditanggapi dengan suara tawa dokter Herman yang memenuhi ruang kamarnya.
“Hahaha.. sepertinya kamu bisa membaca pikiranku..” canda dokter itu.
Tak lama terdengar suara ketukan di pintu kamar. “Masuklah..” seru Mike.
Dilihatnya Adit tengah berjalan ke arahnya sembari menundukkan kepalanya. Pria itu tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya bersujud tepat didepan Mike dan sama sekali tak berani mengangkat kepalanya.
“Apa kamu tahu dimana kesalahanmu?” tanya Mike dengan sorot mata dingin.
“A-a-aku tahu.. aku tidak melaporkan perubahan susunan permainan..”
“Lalu?”
“A-aku tetap membiarkan permainan berjalan sekalipun tahu langit sudah gelap dan terlihat akan turun hujan..”
“Lalu?”
“Aku tidak memiliki keberanian untuk masuk kedalam hutan mencari anda.. Aku minta maaf..”
“Lalu?”
“A-aku..” Adit tampak memikirkan kesalahan lainnya. “Aku tidak segera melapor pada anda kalau nona Mily menghilang..” lanjutnya.
“Baguslah kamu tahu persis kesalahanmu dimana.. Kalau begitu sekarang tampar pipi kananmu sendiri..” perintah Mike.
Adit yang cukup terkejut mau tidak mau langsung mengangkat tangan kanannya dan hendak mengikuti perintah majikannya itu. Namun dengan cepat dokter Herman memegang tangan Adit sehingga tamparan itu tidak terjadi.
“Hahahaha.. sudahlah Mike.. berhenti bercanda.. kamu lihat wajahnya sudah pucat begitu.. kasihan anak orang jangan dibuat ketakutan seperti ini..” ucap dokter Herman yang tak lagi kuasa menahan tawanya.
Dan mau tidak mau Mike juga ikut tersenyum melihat sekertaris pribadinya yang tampak ketakutan sampai wajahnya memucat. “Cepatlah berdiri sebelum aku minta kamu untuk benar-benar melakukannya..” seru Mike.
“A-anda tidak marah?” tanya Adit.
“Untuk apa aku marah, toh dia juga baik-baik saja.. hanya saja kalau dia terluka maka ceritanya pasti akan berbeda..”
Adit dengan cepat langsung berdiri dan memeluk lengan sebelah kiri Mike. “Ahhh.. seluruh badanku lemas semua.. aku pikir aku tidak akan keluar hidup-hidup setelah memasuki pintu kamar ini.. ternyata aku masih bernafas..”
“Apa aku segalak itu padamu?” tanya Mike.
Adit langsung mengangguk namun pria itu langsung mengoreksinya dengan menggelengkan kepalanya. “Tidak.. tidak.. anda benar-benar majikan yang sangat baik..”
“Coba lihat.. dia benar-benar pandai memuji seseorang..” celetuk dokter Herman.
“Aku tahu.. makanya aku memilih untuk tetap memeliharanya disampingku..” balas Mike dengan tertawa dan melupakan rasa perih pada lukanya.
**
Mily mengangkat ponselnya yang bergetar, padahal pagi itu dirinya masih merasa mengantuk. “Halo..” seru Mily.
“Cepat bereskan barang-barang dan ikut aku pulang..” ucap Reihan.
Mily yang masih setengah sadar menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Reihan?” tanya Mily.
“Tunggu sebentar.. aku baru bangun.. nanti aku kesana..”
Mily langsung mematikan ponselnya dan langsung bergegas turun dari tempat tidur. Gadis itu pergi ke kamar mandi untuk mengambil perlengkapan mandi dan perlahan menjinjing tas miliknya yang sudah sedari malam dibereskannya. Sebentar, langkah kakinya terhenti menatap Nayla yang kini menjadi adik angkatnya. Nayla masih tertidur pulas dan sama sekali tak tahu jika Mily sudah bersiap untuk pergi dari sana.
Mily memantapkan langkah kakinya untuk keluar dari kamar itu padahal langit masih terlihat gelap. Berjalan menyusuri lorong dengan rerumbaian tanaman rambat di bagian atasnya. Semakin lama kakinya melangkah semakin hatinya terasa tak karuan.
“Aku akan menjelaskannya perlahan.. Tapi, apa dia akan mengerti dan mau menerimanya?” gumam Mily pelan.
Matanya dari kejauhan bisa melihat Reihan tengah berdiri didepan mobil hitamnya seraya bersandar. “Benar kata Nayla.. Menikah bukan untuk satu atau dua hari, tapi untuk selamanya.. dan.. aku tidak bisa menyerahkan begitu saja masa depan dan kebahagiaan ku pada orang yang tidak ku sukai..” lanjutnya masih bergumam.
Mily memantapkan langkahnya dan menghampiri Reihan sembari tersenyum. “Reihan..” panggil Mily ramah membuat Reihan yang tengah tertunduk menengadahkan kepalanya.
Pria itu berdiri tegap dan menatap mata Mily yang kini sudah berdiri persis didepannya. “Sangat cantik..” batinnya.
“Hei.. kenapa menatap ku terus? Apa wajah ku terlalu kusut? Mohon dimaklum ya.. aku sama sekali tidak mencuci muka ku..”
Reihan tersenyum karena dirinya kini bisa mendengar suara renyah gadis yang disukainya. “Bu-bukan gitu.. kamu.. terlihat cantik..” ucap Reihan gugup.
“Oh iya.. apa yang ingin kamu bicarakan? Aku sebenarnya juga ingin membicarakan sesuatu denganmu..”
“Lebih baik kita bicarakan nanti di mobil..” jawab Reihan cepat.
Pria itu membuka pintu mobil dan mempersilalhkan Mily untuk duduk didalamnya.
**
Mike baru tersadar dari tidurnya saat sinar matahari perlahan masuk lewat tirai yang baru saja di buka oleh dokter Herman. “Jam berapa ini?” tanya Mike sedikit serak.
“Ini sudah hampir jam delapan..” sahut dokter Herman sembari duduk di ujung tempat tidur Mike.
“Kenapa tidak membangunkan ku lebih pagi?” tanya Mike sembari berusaha untuk duduk dengan wajah sedikit meringis.
“Apa lukanya masih terasa sakit?” tanya dokter Herman.
“Kalau masih sakit bukannya wajar? Luka ini kan baru kudapat kemarin..” jawabnya ringan.
“Baiklah.. kalau sampai besok masih terasa sakit, kamu benar-benar harus memberitahuku.. takutnya luka itu infeksi..” timpal dokter Herman penuh perhatian.
Pria paruh baya itu membetulkan letak kacamata. “Oh ya sepertinya kamu belum tahu kalau gadis itu sudah pergi meninggalkan vila pagi ini”, ucap dokter Herman.
“Gadis itu?” tanya Mike bingung. Otaknya masih belum bisa mencerna maksud ucapan dari dokter Herman yang kini tengah mengerutkan kening menatap kearahnya.
“Gadis yang kumaksud itu Mily.. Siapa lagi disini gadis selain dia yang kau pedulikan..”
“Kenapa dia meninggalkan vila? Apa dokter tidak salah lihat?”
“Aku benar-benar yakin.. dan lagi Nayla juga sempat mencarinya..”
“Apa ada seseorang yang menjemputnya?” tanya Mike mulai curiga.
“Sepertinya sainganmu itu yang menjemputnya.. aku hanya melihat punggungnya dari jauh..” terang dokter Herman.
Mike terdiam tak bertanya lagi, tangan tampak sibuk mengetik sebuah nama di ponselnya. Tak lama pria itu menaruh ponsel di telingan dengan sedikit cemas. “Kenapa nomornya tidak aktif..” gumamnya.
“Ehmm.. dok.. aku pergi dulu.. tolong bilang Adit, segala sesuatu aku serahkan ke dia.. aku ada urusan..” Mike langsung berlalu pergi dengan terburu-buru.