
Mike terbangun karena sinar matahari yang merangsak masuk lewat tirai yang sudah terbuka. Laki-laki itu mengucek matanya yang masih terasa berat. Mencoba melihat sekeliling namun masih terlihat buram. Tangannya sesekali memukul pelan kepalanya yang terasa sedikit sakit.
"Sayang.. Anak sulung kita sudah bangun..." teriak Alvin pada istrinya saat melihat Mike sudah sedang duduk diatas tempat tidur.
Rambutnya tampak berantakan dan wajahnya tampak lusuh. "Kenapa aku bisa ada dirumah kamu?" tanya Mike.
"Kamu lupa semalam kamu mabuk berat terus curhat disini?" celetuk Alvin.
Mike mengerutkan keningnya. Dirinya sama sekali tak begitu ingat kejadian semalam. Hanya saja rasa-rasanya seperti ada seseorang yang memeluk dirinya.
"Kalian berdua kenapa masih disitu? Cepat kemari untuk sarapan..." seru Priska.
Kedua lelaki itu dengan patuh keluar dari kamar menuju meja makan. Priska tampak sedang menimang Javier yang terlihat sudah tertidur pulas dipangkuannya.
"Mike, kamu hari ini berangkat kerja?" tanya Priska.
"Iya.."
"Dengan penampilan yang seperti ini?"
"Jelas gak.. Aku mau pulang apartemen dulu.."
"Ohhh.. Aku pikir kamu mau langsung berangkat kerja.." goda Priska.
"Kalau gitu biar mobil kamu taruh disini aja dulu. Nanti kamu ku antar ke apartemen.." usul Alvin.
"Gak usah.. Aku bisa nyetir sendiri.."
"Emang kepala kamu gak sakit?" tanya Alvin.
"Cuma sakit sedikit.. Gak masalah.."
"Oh ya udah kalau gitu.."
**
Mike berjalan dari parkiran menuju ke arah lift. Tangannya tak henti-hentinya memijit dahi yang masih terasa sakit. Kini kepalanya juga terasa sedikit pusing.
Baru saja pintu apartemen terbuka, bau wangi masakan sudah tercium dihidung. Seseorang dengan senyum yang manis menyambut kedatangannya. "Kamu udah datang?" tanya Mily.
"Kamu kenapa disini?" Mike nampak kebingungan melihat Mily tengah berada di dapur apartemennya.
"Bukannya kamu bilang setiap pagi aku harus datang kesini untuk bikinin kamu sarapan? Terus baju kamu juga udah aku siapin.." seru Mily yang kini berjalan menghampiri Mike yang masih dengan penampilan lusuhnya.
Mike melirik beberapa hidangan yang sudah tersaji di atas meja makan. "Hmm kamu bau alkohol.." seru Mily sambil mengendus tubuh Mike.
"Aku udah sarapan.. Makanannya kamu aja yang makan.. Aku mau mandi.." ucap Mike dingin.
"Ahh? Aku masak ini semua buat kamu loh.. Masa jadi aku yang makan?" ucap Mily sambil cemberut.
Mike tak menanggapi protes Mily barusan dan langsung saja pergi dari hadapan gadis itu.
"Mike.. Aku belum siapin air hangatnya.." seru Mily setengah berteriak namun Mike tampak tak mempedulikannya dan terus saja berjalan menuju kamarnya.
Sesampai dikamar, laki-laki itu duduk di atas tempat tidurnya sambil menangkup wajah dengan kedua tangannya. Dirinya ingat, kemarin pagi Mily sudah mengingatkannya agar menjauh dan tak lagi menganggunya.Tapi bagaimana bisa pagi hari ini, gadis itu menyiksa dirinya dengan melemparkan senyum yang begitu manis.
Sebuah ketukan terdengar dipintu kamar Mike. "Ada apa?" tanya Mike datar dari dalam kamar.
"Aku masuk ya".. seru Mily.
Belum juga dipersilahkan, Mily langsung membuka pintu kamar Mike dan melihat laki-laki itu masih terduduk diatas tempat tidurnya. "Kamu belum mandi? Kalau gitu aku siapin air hangatnya ya.." ucap Mily.
"Gak perlu.. aku bisa sendiri.."
"Kalau gitu pekerjaan ku udah selesai.."
“Hmm.. sahut Mike sembari berdiri dan berjalan ke kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun menatap Mily.
"Dia kenapa lagi?" gumam Mily pelan. Gadis itu bingung dengan sikap Mike yang kembali dingin padanya.
**
Mily sudah sedang duduk di sofa saat Mike muncul dihadapannya dengan kemeja putih dan celana berwarna abu. Tangan Mike tampak tengah sibuk memasang dasi. "Sini biar kubantu.." seru Mily sambil menghampiri Mike tapi tiba-tiba laki-laki itu melangkah mundur.
"Mike.. ini hari pertama aku ngerjain apa yang kamu minta sesuai dengan perjanjian kerja waktu itu.. aku udah datang kesini pagi-pagi..aku udah siapin kamu sarapan.. aku udah siapin setelan kemeja kerja buat kamu.. aku mau siapin kamu air hangat buat mandi dan kamu nolak.. sarapan yang aku buat kamu juga gak makan.. setelan kemeja kerja yang aku siapin juga gak kamu pakai.. jadi pagi ini aku kesini buat apa?"
"Maaf.. hari ini aku udah sarapan di rumah Alvin dan masalah baju.. aku udah biasa nyiapin sendiri.."
"Tadi malam kamu menginap disana?" tanya Mily pura-pura tak tahu.
"Hmm.."
"Kenapa?"
Mike menatap mata Mily sedang gadis itu masih tampak menunggu jawaban darinya.
"Hanya sedang ingin menginap disana..." jawab Mike singkat. "Kamu.. tengah malam kemarin ada di mana?" tanya Mike dengan ragu.
"Aku tidur dirumah lah.. jam segitu aku biasa dirumah kan... Memang kenapa?"
"Oh.. Gak apa-apa.. Cuma nanya.."
"Eh ini udah siang.. Ayo berangkat.." ajak Mily sambil menarik tangan Mike.
**
Adit terperangah tak percaya melihat Tuan mudanya masuk kedalam ruang kerja berbarengan dengan sekertaris barunya, Mily. "Kalian datang bersama?" tanya Adit.
"Iya.." jawab Mily sambil tersenyum ramah. Sikap gadis itu berbeda sekali dengan waktu pertama kali Adit bertemu dengannya. Saat itu Mily dengan emosi yang meledak-ledak masuk kedalam ruang kerja Mike.
Adit mengerjap-ngerjapkan matanya melihat Mily masih mengekor dibelakang Mike sampai bosnya itu duduk. "Kamu kenapa masih disini?" tanya Mike pada Adit yang saat itu masih berdiri didepan meja kerjanya.
"Oh saya hampir lupa.. Saya ingin menyerahkan ini.. Laporan perkiraan perincian biaya perjalanan nanti.." seru Adit sambil memberikan satu berkas dengan sampul berwarna hitam.
"Ini sudah kamu periksa? Sudah benar-benar rinci? Biaya penginapan sudah tahu kira-kiranya?"
"Kalau menurut saya ini sudah cukup rinci, Tuan.. Tapi lebih baik anda periksa lagi.."
Mike tampak memeriksa setiap lembaran dari berkas itu. "Apa tatanan acara sudah jadi?" tanya Mike lagi
"Oh itu.. Saya belum menerimanya Tuan.."
"Coba kamu bilang sama mereka, saya ingin siang ini sudah menerima jadwal acaranya.. Kalau gak, acara tahun ini akan dibatalkan.."
"Baik, nanti saya akan sampaikan.." jawab Adit.
"Eh acaranya jangan dibatalin.." seru Mily yang tiba-tiba ikut campur.
"Apa kamu tahu ini acara apa?" tanya Mike sambil menatap Mily sedang gadis itu menggelengkan kepalanya. Didalam hati Mike ingin tersenyum tapi ditahannya. Laki-laki itu berusaha keras agar wajahnya tetap dingin dan datar menanggapi sedikit kekonyolan Mily.
"Terus kalau kamu gak tahu itu acara apa kenapa kamu minta jangan dibatalin?" tanya Mike.
"Ya kasian aja sama orang yang udah buat laporan itu.." Mily menunjuk berkas yang sedang dipegang Mike. "Orang itu pasti udah kerja keras buat bikin rincian biayanya... Terus kamu main batalin aja..."
Mike merasa dirinya sedikit kesal juga sedikit ingin tertawa mendengar jawaban Mily. "Hanya karena kasihan?"
Mily mengangguk membenarkan. "Jangan mentang-mentang kamu bos makanya kamu bisa seenaknya main cancel gitu.. Kamu harus pikir kerja keras mereka.."
"Kamu mau bilang aku ini orang yang seenaknya.. dan.. Egois?"
Mata Adit tampak melirik Mike dan Mily bergantian. Sekertaris muda itu sedang berpikir mungkinkah kedua orang itu akan bertengkar lagi.
"Baguslah kalau kamu sadar diri.." celetuk Mily.
Mike tak lagi menanggapi ucapannya dan sibuk berbicara dengan Adit. "Kamu.. Bawa dia ke bagian promosi.." seru Mike.
"Ahh? Ta-tapi Tuan.." Adit nampak tak percaya.
"Kamu.. Untuk beberapa hari kedepan akan bekerja dibagian promosi.." seru Mike pada Mily.
"Kenapa?"
"Karena aku bos disini.." jawab Mike sambil tersenyum penuh kemenangan.