
Mike tengah sibuk membantu mama Mily menyiapkan meja makan, sementara papa Mily masih seperti biasa sibuk menonton berita di televisi. Terdengar suara mesin mobil berhenti di seberang jalan rumah. Penasaran, Mike berjalan ke arah teras dan mendapati Reihan tengah memeluk Mily.
Napas Mike semakin memburu ketika melihat gadis yang sudah sangat lama disukainya tersenyum manis pada laki-laki lain. Tak berapa lama Mily datang menghampirinya. “Kamu kenapa berdiri disini?” tanya Mily.
“Lagi cari angin...” jawab Mike singkat.
“Ya udah aku masuk dulu..” seru Mily sembari meninggalkan Mike yang masih berdiri disana.
Selepas Mily masuk kedalam rumah, Mike berjalan ke arah Reihan yang pada saat itu baru saja membuka pintu mobilnya. Mike menutup pintu mobil itu dan menarik Reihan mundur. “Kita perlu bicara..” seru Mike dingin.
“Ahh.. ternyata kamu..” jawab Reihan tak kalah dingin. Reihan tak bisa menyembunyikan rasa tak sukanya pada Mike apalagi bila mengingat video cctv saat digudang waktu itu.
“Ada apa?” tanya Reihan.
“Aku hanya ingin mengingatkan.. menjauhlah dari Mily..” Mike memasang raut wajah serius.
“Kamu hanya sekedar teman masa kecilnya.. Kamu tidak berhak ikut campur tentang kehidupan pribadinya..”
“Kehidupan pribadi?”
“Sepertinya Mily tidak memberitahumu.. Aku dan Mily adalah sepasang kekasih.. Aku bahkan sudah mengajaknya menikah dan dia menyetujuinya..” Reihan tersenyum menyeringai dengan kebohongannya. Pemuda itu merasa puas melihat Mike yang terlihat semakin emosi setelah mendengar perkataannya. Mike tidak berkata apa-apa lagi dan berbalik pergi meninggalkan Reihan seorang diri.
“Mike ayo makan..”seru mama Mily saat melihat Mike yang datang menghampiri mereka. Namun ada yang berbeda. Wajah Mike terlihat sangat marah. Kini Mike berdiri tepat disamping Mily yang sudah sibuk menyendok berbagai lauk ke atas piringnya dengan bersemangat.
“Apa benar kamu akan menikah dengan Reihan?” tanya Mike pelan masih menjaga nada bicaranya dengan stabil.
Kedua orang tua Mily saling tatap tak mengerti apa yang dibicarakan Mike. Mily terdiam tak berbicara sepatah katapun. “Sayang apa yang dimaksud Mike barusan?” tanya mama Mily pada putrinya.
Mily sama sekali tak pernah membicarakan perihal dirinya yang sudah mempunyai pacar. Yang dirinya tahu bahwa putri semata wayangnya itu masih sangat menyukai Mike. Dan sekarang dimakan malam mereka, tercetus kata ‘pernikahan’.
“Apa benar kamu sudah setuju untuk menikah dengannya?” tanya Mike dengan nada bicara meninggi sembari meninju keras piring kosong diatas meja makan. Piring itu hancur berkeping-keping dan darah Mike bercucuran.
“Astaga Mike...” jerit mama Mily panik melihat darah terus mengucur dari kepalan tangan kanan Mike.
Mily masih terdiam dan berpikir, mengapa Reihan berkata bahwa dirinya sudah menyetujui pernikahan padahal sudah jelas dirinya mengatakan masih akan memikirkannya. “Kenapa kamu setuju untuk menikah dengannya?” tanya Mike lagi kini dengan nada bicara seperti biasanya.
“Karena aku menyukainya..” jawab Mily tiba-tiba. Gadis itu masih tertunduk dan mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh.
“Aku gak percaya.. coba tatap mata ku dan ucapkan kalimat yang sama..” pinta Mike.
Mike menatap mata Mily lekat-lekat. Mencoba membaca perasaan gadis dihadapannya. “Kamu bohong..” seru Mike pelan.
“Untuk apa aku berbohong? Aku benar-benar menyukai Reihan.. dan kamu, siapa aku?” tanya Mily. Kali ini giliran Mily yang terpancing emosi.
Suasana diantara kedua orang itu semakin panas. “Kalian berdua kenapa selalu bertengkar hampir disetiap makan malam.. bicarakan masalah ini nanti lagi ya.. Mike kamu obati dulu lukanya..” seru papa Mily mencoba melerai pertengkaran keduanya.
“Kamu bilang.. kamu menyukaiku..” ucap Mike datar.
“Itu dulu. Kamu sendiri yang bilang jangan selalu hidup dimasa lalu.. aku gak mau terus menerus jadi orang yang selalu menyukai kamu seorang diri.. Itu benar-benar melelahkan..”
Mike tersenyum tipis. “Apa kamu gak sadar? Barusan kamu mengaku kalau kamu masih menyukai ku dan ‘dia’ kamu perlakukan hanya sebagai pengganti ku bukan?” ucap Mike lantang. Dirinya begitu yakin kalau hati Mily masih tetap untuknya.
“Baiklah aku akan mengatakannya sekarang..” seru Mike lagi. Laki-laki itu mengambil nafas dalam-dalam. “Dengarkan baik-baik.. aku hanya akan mengatakan ini satu kali..” ucapannya terhenti. Matanya menatap Mily dalam-dalam. “Aku menyukaimu..”
Akhirnya dua kata yang setelah bertahun-tahun ditahan, meluncur dari mulutnya. Mike berpikir mungkin dengan pengakuannya, Mily dapat berubah pikiran dan membatalkan pernikahannya dengan Reihan.
Mily yang saat itu mendengar pengakuan Mike, orang yang sejak dulu disukainya tak dapat menahan diri. Tanpa disadari, air mata sudah jatuh melintas di kedua pipinya. Tubuhnya merasa lemas namun ada secercah rasa bahagia di dalam hatinya.
Mily masih tertegun menatap wajah Mike saat tangan laki-laki itu meraih kedua tangannya. “Menikahlah dengan ku.. Kita bisa mulai segala sesuatunya dari awal.. Aku janji.. aku akan menjaga kamu.. aku akan selalu ada buat kamu.. Kalau kamu ingin Mike yang seperti dulu, aku akan lakukan itu..”
Baru kali ini untuk pertama kalinya Mike berkata begitu panjang lebar. Dan harusnya hari ini adalah moment yang membahagiakan untuknya, karena Mike sendiri yang meminta untuk menikahinya. Hatinya berteriak meminta dirinya untuk menerima Mike karena pada dasarnya sejak awal Mike satu-satunya yang disukainya. Namun sayang, bibirnya berucap kalimat yang tak sejalan dengan hatinya. Mungkin hari esok dirinya akan benar-benar menyesal.
Mily tertawa kecil dan penuh kepura-puraan. Gadis itu mencoba mentertawai pengakuan Mike padanya barusan. Mily menarik kedua tangannya yang masih digenggam Mike. “Mike aku masih belum pikun.. sewaktu direstauran tempo hari bukannya kamu sendiri yang menolak ucapan kakek yang ingin menjodohkan kita berdua.. waktu itu kamu bilang kamu tidak ingin menikah dengan perempuan yang masih kekanakkan dan bukannya aku perempuan yang kamu gak suka? Kenapa sekarang tiba-tiba kamu memintaku menikah? Kamu benar-benar lucu..” ucap Mily sinis.
"Jangan pernah berpikir untuk mempermainkan hati dan perasaan seseorang hanya karena orang itu begitu menyukaimu.. satu waktu kamu bersikap begitu lembut dan sangat penuh perhatian dan satu waktu berikutnya kamu mendorong orang itu jauh-jauh..” lanjut Mily lagi.
“Aku...” Mike tampak ragu. Laki-laki itu terdiam sejenak lalu melanjutkan kalimatnya. “Aku punya alasan sendiri.. dan.. aku benar-benar mengenal kamu, Mily.. Kamu tidak menyukai Reihan sama sekali.. Bagaimana bisa kamu menikah dengan dia tanpa rasa cinta? Kamu harusnya sadar orang yang kamu suka selama ini itu aku..” ucap Mike.
“Kamu gak punya hak apa pun untuk mengomentari hidup ku.. sama seperti sepuluh tahun lalu saat aku mengaku suka sama kamu.. Kamu bilang, gak peduli apa yang aku katakan apa pun itu tetap gak akan merubah keputusan kamu. Sekarang aku akan mengatakan hal yang sama.. Apapun yang kamu katakan tadi gak akan pernah merubah keputusan ku. Aku akan tetap menikah dengan Reihan dengan atau tanpa rasa cinta..”
Mama Mily tampak meneteskan air mata melihat putrinya dan Mike bertengkar. Wanita itu tahu, keduanya sama-sama saling menyukai dan sekarang terluka oleh karena ego masing-masing. Mama Mily menyayangkan kebohongan dan kejujuran datang di waktu yang salah. Jika saja sejak awal mereka berdua bisa lebih menurunkan ego dan mau lebih jujur dengan perasaan sendiri mungkin tak akan ada kebohongan yang terjadi.
“Sudah Ma, jangan menangis..”seru papa Mily sembari merangkul pundak istrinya itu.
Sementara Mike masih terdiam mematung mendengar ucapan Mily yang terdengar mantap dengan keputusannya. Mata laki-laki itu menatap Mily dengan penuh kekecewaan. Masih tetap tak percaya gadis itu akan tetap berdiri teguh bahkan setelah mendengar pengakuannya.
Tak berapa lama, Mike pergi meninggalkan Mily. Gadis itu terduduk dilantai sembari menangis keras. Dengan diselimuti airmata, sepasang matanya melihat noda darah Mike dikedua tangannya dan itu membuat hatinya semakin terluka.