Little Rainbow

Little Rainbow
Kebohongan yang manis



Mily dan kakek baru saja turun dari taksi yang ditumpanginya saat pesan Reihan masuk ke ponselnya. “Kek aku udah dapat nomor kamar Nenek..” ucap Mily. Gadis itu memegang tangan kakek dan menuntunnya sembari berjalan pelan.


Raut wajah kakek tua itu terlihat begitu cemas mengetahui istrinya harus rawat inap dirumah sakit. Tangannya bergetar saat memegang tangan Reihan yang kini sudah berdiri dihadapannya. “Bagaimana keadaan Nenek?” tanya Mily.


“Nenek udah sadar.. sekarang sedang istirahat..” jawab Reihan singkat. Laki-laki itu menatap kakek tua didepannya. Reihan bisa merasakan bahwa kakek itu begitu sangat mencintai istrinya sekalipun usia mereka kini tak muda lagi dan bisa saja sewaktu-waktu maut memisahkan mereka. Reihan menghembuskan nafas berat. “Kek.. apa Kakek sedang ada masalah keuangan?” tanya Reihan menyelidik.


Kakek tak menjawab dan hanya diam termenung. Matanya yang sudah tampak sayu itu meneteskan air mata. “Kek sebenarnya ada masalah apa sampai-sampai Nenek berhenti minum obat darah tinggi?” tanya Reihan lagi.


“Empat hari yang lalu.. Dimas menelepon mengatakan kalau dirinya sedang ada masalah dan dikeluarkan dari tempat kerja.. dia butuh uang.. jadi uang untuk beli obat Nenek, Kakek kirim ke dia..” jelas Kakek.


Lagi, Reihan menghembuskan nafas berat. “Kek, bukannya aku sudah pernah bilang.. Jika ada masalah Kakek bisa memberitahuku.. aku akan bantu Kakek memikirkan caranya.. Lain kali tolong jangan bertindak sendiri seperti itu..” tegur Reihan.


Memang tak pantas baginya untuk ikut mengomentari tindakan kakek, tapi menurutnya ini sudah menyangkut perihal hidup mati seseorang. Belum lagi Dimas, putra satu-satunya kakek dan nenek yang sama sekali tak memiliki tanggung jawab pada orang tuanya. Tak pernah memberi kabar apapun dan menghubungi orang tua hanya saat dirinya sedang kesulitan. Benar-benar membuat Reihan kesal.


“Reihan.. biar bagaimanapun Dimas kan anak Kakek satu-satunya.. dan pasti Kakek tidak ingin anaknya kesulitan di tempat rantau..” Mily mencoba menenangkan Reihan yang terlihat sedikit emosi.


“Mulai sekarang.. masalah biaya pengobatan Nenek kedepannya akan menjadi tanggung jawab ku.. Jadi kakek tolong jangan khawatir..” seru Reihan melunakkan nada bicaranya.


Mily tampak mengantar kakek masuk kekamar rawat istrinya yang kini sudah tampak tertidur pulas. Gadis itu lantas pergi meninggalkan kakek dan menemui Reihan yang masih berada di luar. Reihan tampak sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Raut wajahnya merah padam.


Mily menghampiri Reihan saat laki-laki itu telah selesai dengan pembicaraannya. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Mily lembut.


“Gak.. gak ada apa-apa..” jawab Reihan.


Suara dering ponsel berbunyi. Mily lupa mengubah pengaturannya ke mode bisu. Reihan bisa melihat jelas nama ‘Mike’ di layar ponsel Mily saat gadis itu menatap ponselnya dengan ragu.


“Aku pergi beli minuman dulu ke kantin..” ucap Reihan sembari meninggalkan Mily yang masih belum bisa mengambil keputusan.


“Halo..” seru Mily pada akhirnya.


“Aku udah didepan swalayan mau jemput kamu..” jawab Mike.


“Didepan swalayan?” tanya Mily kaget.


“Ehm.. Apa kamu masih lama pulangnya?” tanya Mike.


“A-aku... aku gak lagi diswalayan..”


“Memang kamu lagi dimana sekarang? Biar aku jemput..”


“Gak.. gak perlu.. aku pulang sendiri aja.. sebentar lagi.. ta-tapi kenapa kamu tiba-tiba...” Mily tak melanjutkan kalimatnya.


“Tadi siang Tante telepon minta untuk makan malam bersama di rumah..” Mike menjelaskan.


“O-oh..”


“Kalau gitu aku langsung ke rumah yaa...”


“Ehm..” Kini giliran Mily yang menghembuskan nafas berat.


Gadis itu merasa terjebak dalam suatu lingkaran. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang. Mike kini tiba-tiba bersikap baik padanya disaat dirinya sudah berhubungan dengan Reihan sekalipun hubungan itu berdiri atas dasar rasa bersalah.


Mily berjalan ke arah kantin rumah sakit dan melihat Reihan dari kejauhan sedang duduk termenung dengan segelas kopi yang mengepulkan asap panas diatas meja.


“Kamu terlalu baik..” gumam Mily pelan.


“Kamu gak boleh minum kopi..gak baik untuk ginjal kamu..” jelas Mily.


Reihan tak menanggapi lebih lanjut perkataan Mily. Tiga puluh detik berlalu tidak ada pembicaraan apa pun diantara mereka berdua. Mily masih tetap berdiri disebelah Reihan. Gadis itu nampak sedikit ragu untuk berpamitan.


Beruntung Reihan bisa membaca situasi Mily saat itu. “Aku akan mengantarmu pulang..” ucap Reihan.


“Ah? Gak perlu, aku bisa naik taksi..” Mily menolak tawaran Reihan.


“Ini sudah malam.. biar aku antar kamu..” Reihan sedikit memaksa. Pada akhirnya Mily setuju.


**


Sesampai didepan rumah Mily.


Reihan turun dari mobil seperti biasanya dan membukakan pintu untuk Mily. Gadis itu turun dari mobil, dengan sedikit canggung. Jari telunjuknya menunjuk ke arah pipi Reihan sembari tersenyum kecil.


“Kenapa?” tanya Reihan lembut.


Mily merogoh tas selempangnya dan mengambil selembar tisu basah. “Ini..” seru Mily menyodorkan tisu basah itu pada Reihan.


“Untuk apa?” tanya pemuda itu.


“Ada noda cat di pipi kanan kamu..”


“Disini?” tanya Reihan sembari mengusap-usap pipi kanannya.


“Bukan...” timpal Mily. Gadis itu membantu Reihan mengarahkan tisu basah ke noda cat diwajahnya. “Ini disini..”


“Apa sudah hilang?” tanya Reihan.


“Belum masih ada sedikit.. sini biar aku bantu...”Mily mengusap pelan tisu itu sementara Reihan memandangi wajah cantik Mily yang kini tepat berada dihadapannya. Mily sadar wajah Reihan semakin mendekat ke arahnya. Gadis itu memundurkan tubuhnya selangkah. “Sudah selesai..” ucapnya sembari tersenyum manis.


Reihan memang sepertinya sudah benar-benar terjatuh dalam pesona Mily. Membuat pemuda itu menjadi seperti orang bodoh yang berpura-pura tuli dan buta. Reihan tahu betul Mily baru saja menghindari dirinya. Ini sudah kedua kalinya.


“Masalah pernikahan.. aku serius tentang itu.. Kapan kamu bisa kasih aku jawaban?” tanya Reihan.


Mily menggigit bibir bawahnya tanpa sadar. Kini dia benar-benar bingung harus berkata apa. Tidak mungkin dirinya menolak Reihan secara langsung. Itu pasti akan menyakiti hati Reihan dan Mily tak ingin itu terjadi. Disisi lain, hatinya tetap tak bisa berpaling dari Mike. Sedang Reihan sama sekali tak ada di tempat yang sama seperti Mike di hatinya.


“Biar aku pikirkan..” jawab Mily singkat sembari tersenyum.


Baru saja gadis itu akan berpaling pergi, Reihan memeluk dirinya dari belakang membuat langkahnya langsung terhenti. “Aku hanya ingin kamu menjadi milik ku satu-satunya..” bisik Reihan di telinga Mily.


“Aku benar-benar takut kehilangan mu..” bisik pemuda itu lagi.


Mily masih terdiam mematung. Ini benar-benar diluar dugaan bahwa Reihan berani memeluk dirinya. Mily mengumpulkan seluruh keberaniannya dalam satu tarikan nafas. Dengan lembut Mily mencoba melepas pelukan tangan Reihan yang melingkar di perutnya.


Mily membalikkan tubuhnya dan kini mereka berdua berdiri berhadapan. Untuk sesaat tidak ada sepatah kata pun yang meluncur dari bibir keduanya. Tak lama kemudian, Mily menggengam tangan kanan Reihan dan tersenyum. “Aku akan memikirkannya dan aku pasti akan memberikan jawabannya. Sekarang lihat sudah malam.. kamu lebih baik cepat kembali kerumah sakit, Kakek mungkin akan mencarimu..” ucap Mily lembut.


“Kamu harus benar-benar memikirkannya..” timpal Reihan.


Mily mengangguk. “Ah iya, kamu juga harus ingat jangan terlalu capek..” Mily mengingatkan. Lalu gadis itu berbalik pergi meninggalkan Reihan.


Kini pemuda itu hanya bisa melihat Mily yang berjalan semakin menjauh darinya. “Kenapa semua kebohonganmu terasa begitu manis?” gumam Reihan pelan.