Little Rainbow

Little Rainbow
Masih ingin melihatnya



Hari sudah larut malam saat Alvin masih terlihat sibuk dengan pembicaraannya di telepon sembari duduk di ruang keluarga. Priska nampak mengucek matanya saat perlahan menghampiri suaminya dan duduk tepat disebelahnya. Ibu satu anak itu menyenderkan kepalanya di bahu Alvin dengan sedikit manja.


“Baiklah aku akan membicarakannya dengan Priska.. Hmm.. Oke.. Nite..” seru Alvin mengakhiri pembicaraannya.


“Ada apa?” tanya Priska pelan.


Alvin tak langsung menjawab, justru mengecup manis kening istrinya. “Apa suaraku membangunkanmu?” Alvin malah balik bertanya.


“Jangan mengalihkan pembicaraan..” protes Priska yang kini tengah menatap wajah suaminya dengan raut wajah serius membuat Alvin tersenyum kecil.


“Sepertinya hubungan mereka sedang berada di ujung tanduk..” jelas Alvin singkat.


“Hubungan siapa? Mike dan Mily?” tanya Priska sedang Alvin hanya menjawab dengan anggukan kepala.


“Ada apa lagi? Apa mereka berdua bertengkar lagi?”


“Bukan.. Malah sepertinya kali ini aku, kamu dan Ana perlu berdoa semoga takdir mengijinkan mereka untuk bersatu..”


“Apa maksudnya? Cepat jelaskan, jangan bertele-tele..” pinta Priska sembari merangkul manja pundak Alvin.


“Mike bilang.. pagi tadi Reihan menjemput Mily di vila dan ternyata papanya sudah menunggu dirumah Mily.. papanya dengan egois menentukan tanggal pernikahan tanpa berunding atau meminta persetujuan kedua orang tua Mily.. dan pernikahan itu akan terjadi minggu depan..” terang Alvin.


“Ayah dan anak itu benar-benar menyebalkan.. Lalu bagaimana dengan Mily? Apa dia mau menurut saja?”


“Mike juga belum tahu apa Mily akan menerima begitu saja atau bagaimana.. dia minta kamu dan Ana untuk menemani Mily besok..”


“Oh oke.. kalau gitu kita bagi tugas.. besok aku dan Ana akan ke tempat Mily.. Nah kamu pergi temui Mike.. Kita semua harus memikirkan cara agar pernikahan itu jangan sampai terjadi.. Aku benar-benar gak rela kalau harus melihat teman baik ku menikah dengan orang selain Mike..”


“Tapi apa menurutmu kita gak lebih baik menghargai pilihan Mily? Biar dia menentukan hidupnya sendiri..”


Priska memukul pelan lengan suaminya dan seketika itu juga Alvin meringis kesakitan. “Kamu ini temannya atau bukan sih?” protes Priska.


“Jelas aku ini temannya..”


“Kalau kamu merasa kamu temannya, harusnya kamu ikut berjuang supaya dia gak menjerumuskan dirinya sendiri.. dan lagi kita semua tahu Mily dan Mike itu saling menyukai.. Kalau sampai mereka berdua berpisah, sepertinya takdir terlalu kejam pada mereka..”


“Kalau besok kita berdua pergi, lalu Javier bagaimana?” tanya Alvin mengalihkan pembicaraan.


“Aku akan meminta mama ku datang kesini..”


Mendengar jawaban dari istrinya itu, Alvin kembali tersenyum kecil dan itu membuat Priska merasa kesal.


“Aku lagi kesel kenapa kamu masih bisa senyum gitu?” protesnya.


“Kamu cantik tahu kalau lagi kesel gini..” goda Alvin.


Alvin menunjuk pipi sebelah kirinya. “Daripada kamu pukul aku, lebih baik kamu cium aku..”


Priska sama sekali tak menyahut lagi, namun tangannya terlihat sibuk memukul pelan bahu sebelah kiri suaminya. Tangan Alvin dengan cepat menarik pergelangan tangan Priska sampai tubuhnya terjatuh tepat disamping sebelah kiri Alvin.


Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya yang kini tengah menatapnya tanpa berkata apa-apa. Tangan kanannya merangkul pinggang istrinya dan berbisik dengan lembut. “Sayang, kayaknya kita perlu memberi Javier adik untuk teman bermainnya..”


“Alvin!” seru Priska bernada protes dengan suara sedikit keras.


Secepat kilat Alvin mendaratkan ciuman manis dan lembut dibibir istrinya. “Pstt.. Javier nanti bangun karena dengar suara kamu..” ucap Alvin dengan senyum penuh kemenangan melihat Priska sedikit tersipu.


**


Reihan terbangun dari tidurnya karena ponselnya terus menerus bergetar. Dengan mata masih menyipit dilihatnya nama Mily tertera di layar ponsel dan Reihan langsung menerima panggilan dari gadis itu. “Halo..” sapa Reihan.


“Rei.. ku pikir kita harus ketemu.. Ada yang mau aku bicarakan..” seru Mily tanpa basa-basi.


“Harus sekarang juga?” tanya Reihan.


“Ehmm..”


“Tapi bukannya ini sudah lewat tengah malam.. Apa gak lebih baik dibicarakan besok aja..”


“Gak bisa.. pokoknya harus sekarang..” Mily semakin mendesak dan tetap pada pendiriannya. Gadis itu sudah mengukuhkan hatinya bahwa Reihan bukanlah orang yang disukainya dan dirinya harus mengatakan dengan jujur pada pria itu sebelum segala sesuatunya terlambat.


“Baiklah.. aku akan ke rumah mu sekarang..”


“Jangan.. biar aku yang pergi ke tempat kos kamu..”


“Ya udah...”


Reihan memutus pembicaraannya dengan Mily dan langsung turun dari tempat tidur, bersiap untuk pergi. Pria itu lupa belum memberitahu Mily kalau dirinya sudah tidak tinggal di kosan itu lagi.


Baru saja tangan Reihan hendak mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas sebuah lemari kayu berwana putih, rasa sakit mendera pinggang sebelah kanannya. Membuat wajahnya meringis kesakitan.


Beberapa menit, Reihan hanya bisa terdiam terpaku. Bergerak sedikit saja rasa sakit terasa semakin menyengat dan dalam waktu sekejap saja keringat dingin sudah bercucur di seluruh tubuhnya. Pria itu menggerakkan tangan kanannya dan melirik layar ponsel yang menyala.


Sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak dirinya berdiri diam seperti patung, maka semakin lama juga waktu yang terbuang untuk menemui gadis yang disukainya. Yang paling dikhawatirkannya sekarang adalah kalau Mily akan berada disana sendirian diwaktu langit masih gelap seperti sekarang menunggu kedatangannya.


Dengan menahan ribuan rasa sakit yang menghujam, Reihan memaksakan diri berjalan ke arah tempat parkiran rumahnya yang berada di lantai bawah. Tangannya terlihat kesulitan saat harus membuka pintu mobil yang seharusnya mudah, namun saat itu terasa sangat sulit untuknya.


Reihan terduduk sebentar didalam mobilnya sebelum memulai menyalakan mesin. Pria itu mengatur nafasnya yang terasa sangat berat. Matanya seperti berkunang-kunang dan pria itu menggelengkan kepalanya berkali-kali.


“Tuhan, tolong.. Aku masih ingin melihatnya..” serunya pelan dan tersengal.