Little Rainbow

Little Rainbow
Tak selalu buruk



Hari ini adalah hari ketiga Mily berkeliaran di pinggir jalan. Gadis itu tampak tengah membagikan selebaran brosur kepada setiap orang yang lewat dengan satu orang teman perempuan yang juga melakukan hal sama seperti dirinya.


"Mily.. Lebih baik kita istirahat dulu.. Kalau begini terus bisa-bisa kita nanti mirip ikan asin.. Sama-sama kering.." seru Nayla.


"Tapi brosur yang aku bagikan setengahnya pun gak nyampe.." sahut Mily.


"Aku juga sama.. Tapi kita juga perlu istirahat.. Gimana kalau duduk neduh disitu dulu.." ajak Nayla. Gadis berambut pendek sebahu itu langsung menarik tangan Mily ke bawah pohon yang cukup teduh.


"Ternyata aku gak bawa uang.. Padahal aku ingin beli minum.." seru Nayla dengan masih merogoh-rogoh saku celana jeansnya.


Mily juga tampak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Nayla. "Aku juga gak bawa uang.." seru Mily sambil mengeluarkan saku celana panjangnya.


"Hahaha.. Kalau begitu kita diam saja dulu disini.. Kita lihat orang yang lewat sambil minum.. Barangkali tenggorokan kita juga bisa ikut basah.." canda Nayla.


Mily mau tak mau ikut tertawa mendengar perkataan bodoh yang baru saja dilontarkan temannya itu. "Oh iya.. apa kamu udah lama kerja di sini?" tanya Mily membuka obrolan.


"Hmm.. baru empat bulan.. Kamu sendiri kenapa bisa ada di bagian promosi? Bukannya tadinya kamu dari kantor utama?" Nayla tampak penasaran.


"Oh... Aku sendiri bingung kenapa aku berakhir disini..hahha.." jawab Mily dengan sedikit bercanda.


"Karena kamu awalnya kerja di kantor utama.. Berarti kamu pernah lihat direktur kita dong?" tanya Nayla penuh antusias.


Mily tampak sedikit ragu untuk mengangguk. "Ehmm pernah.."


"Berapa kali?"


"Apanya?"


"Berapa kali kamu lihat dia?"


"Dia??" Mily mulai merasa ada yang tak beres dengan Nayla.


"Maksud ku udah berapa kali kamu melihat direktur kita?"


"Hanya satu atau dua kali.." Mily berbohong.


"Wuah.. Senangnya.." gumam Nayla.


"Kenapa memangnya?"


"Aku udah empat bulan kerja disini tapi baru sekali lihat.. Entah kapan lagi direktur kita akan datang berkunjung ke bagian promosi.. Katanya direktur kita itu orang yang sangat sibuk.. Dingin.. Ketus.. Tapi yang aku tahu dia orang yang baik hati..." ucap Nayla.


"Kamu... Kenal direktur secara pribadi?" tanya Mily ragu.


Nayla menggelengkan kepala. "Aku mengenal direktur hanya sebatas karena dia adalah donatur tetap di panti asuhan.."


"Donatur? Panti asuhan?" Mily semakin bingung mendengar cerita Nayla yang terkesan separuh-separuh.


"Aku berasal dari panti asuhan sampai sekarang pun aku masih tinggal disana.." seru Nayla sambil tersenyum. "Waktu itu aku pertama kali melihat dia datang ke panti asuhan karena kebetulan aku lah yang menyuguhkan minumannya.. Dia bilang kalau dia pun seorang yang tumbuh besar tanpa orang tua kandungnya.. Kalau gak salah ingat, dia cerita ke kepala panti.. Dia dibesarkan dalam sebuah keluarga angkat yang begitu menyayanginya.." cerita Nayla.


"Lalu apalagi yang pernah dia ceritakan?" tanya Mily.


"Dia bilang.. Dia selalu merasa berhutang dengan seorang gadis kecil di dalam keluarga itu.. Makanya dia memutuskan untuk menjadi donatur dipanti asuhan.."


"Sejak kapan dia menjadi donatur?"


"Hmmm mungkin sudah ada empat tahun.. Kadang aku suka kesel kalau dengar orang lain bilang direktur kita itu orang yang nyebelin, semena-mena, keras kepala dan sebagainya.. Mereka belum tahu aja seberapa baik direktur kita.. Jika tidak ada orang seperti dia, mungkin kehidupan kami para anak yatim piatu akan semakin menyedihkan.."


Mily terdiam memikirkan bahwa gadis muda disampingnya saja yang baru mengenal Mike sudah bisa mengatakan bahwa laki-laki itu adalah orang yang baik. Sedang dia yang telah mengenal Mike sejak kecil masih selalu saja salah paham dengan sikapnya.


Saat kedua gadis itu masih tampak mengobrol sambil meneduh dari terik matahari, tiba-tiba seseorang berdiri di hadapan keduanya. "Kalian berdua sedang apa?" tanya Mike.


Mata Nayla tampak berbinar melihat kedatangan seseorang yang begitu dikaguminya. "Ka-kami sedang meneduh.." jawab Nayla sedikit terbata.


"Apa kalian digaji untuk berteduh?" tanya Mike dingin.


Sorot mata Mike terus menerus menatap ke arah Mily, tanpa sedikitpun melihat Nayla. Sedang Mily menampilkan wajah 'tak bersahabat' kepada Mike.


"Gak perlu.. Kalian berdua ikut saya.." seru Mike cepat.


Mily dan Nayla berjalan mengikuti Mike tanpa berkata-kata. Nayla tampak begitu kegirangan karena dapat berbicara langsung dengan donatur panti asuhannya.


Ketiga orang itu tampak memasuki sebuah rumah makan seafood sederhana yang letaknya tak jauh dari tempat Mily dan Nayla berteduh tadi. Mike menyodorkan menu kepada kedua gadis yang kini telah duduk didepannya. "Kalian pilih sendiri menu makannya.."


"Mily kamu pesan yang mana?" tanya Nayla sedikit berbisik.


"Kalau kalian berdua bingung kita pesan semuanya saja.." seru Mike.


"Mike kamu kayak mau ngasih makan babi aja..." protes Mily.


"Mike?" Nayla tak mengerti mengapa Mily bicara santai begitu dengan sang direktur.


"Gadis kecil yang dimaksud dalam cerita kamu tadi.. Itu aku.." seru Mily.


"Hahhhhh?!" pekik Nayla tak percaya.


"Kamu kenapa?" tanya Mike pada Nayla.


"Aaa-ahh.. Gak apa-apa.."


Mike tampak mengacungkan tangan kanannya ke atas, tak lama seorang pelayan wanita datang sambil membawa bolpoin dan kertas kecil. Mike menunjuk beberapa menu yang berada di daftar dan dicatat oleh pelayan wanita itu.


"Kalian berdua mau minum apa?" tanya Mike pada keduanya.


"Aku ikut Mily.." seru Nayla.


"Aku apa aja.." sahut Mily.


"Kalau gitu pesan strawberri milkshakenya dua dan americanonya satu.." ucap Mike pada si pelayan.


"Kamu kenapa minum kopi?" tanya Mily.


"Udah kebiasaan.."


"Apa ada yang akan dipesan lagi, Tuan?" tanya si pelayan.


"Udah itu saja.. Oh iya, minumnya minta tolong didahulukan ya.. Soalnya mereka berdua sepertinya butuh minum.. Hmm saya minta tambah air mineral dua gelas deh..."


"Baik, Tuan.. Mohon tunggu sebentar.." seru si pelayan sembari berlalu pergi meninggalkan ketiganya.


"Ini untuk kalian berdua.." Mike tampak menyodorkan satu bungkusan kecil ke arah keduanya.


Nayla tak segan-segan lagi dan langsung membukanya. "Wuah... Sunblok.." pekik Nayla girang.


"Sebelum kalian berdua berjemur, lebih baik pakai krim itu terlebih dulu.."


"Kenapa? Jangan-jangan kamu ngasih krim ini karena merasa bersalah?" serang Mily.


"Merasa bersalah untuk apa?"


"Karena kamu ngirim aku ke bagian promosi.."


"Memang ada yang salah dengan bagian promosi? Bukannya gaji kamu juga tetap sama seperti perjanjian di awal.."


"Mana ku tahu kalau gaji ku tetap sama.. Aku kan belum nerima gaji.. Kamu juga gak bilang apa-apa.."


Mike memainkan ponselnya sebentar. "Sudah aku kirim gaji bulan ini.. sesuai dengan perjanjian.." seru Mike.


"Tapi apa pantas aku udah nerima gaji? Ak baru sebentar kerja disini..."


"Kalau kamu gak mau.. Kirim uangnya kembali..."


Nayla senyum-senyum kecil menyaksikan keduanya yang berdebat namun terlihat manis dimatanya.