Little Rainbow

Little Rainbow
Pertarungan sengit



Mily berlari kencang selepas turun dari mobil. Gadis itu nyaris menabrak beberapa orang dirumah sakit sampai pada akhirnya langkah kakinya terhenti didepan kamar rawat Reihan. Mily menarik nafas dan membuka pintu kamar itu. Terlihat dengan jelas Reihan tengah duduk dan berbincang santai dengan Matthew.


“Mily?” seru Reihan yang nampak terkejut melihat keberadaan gadis itu.


Sementara gadis yang disebut namanya berjalan pelan menghampiri Reihan dan langsung berlutut, membuat Reihan semakin bingung dan tak mengerti. “Hei kamu kenapa? Cepat berdiri..” seru Reihan.


“Aku akan tetap seperti ini sampai kamu membebaskan dia..” jawab Mily.


“Membebaskan? Maksudnya?” Reihan semakin tak paham dengan apa yang dibicarakan Mily.


"Tolong bebaskan Mike.. A-aku.." Mily terdiam sebentar. Rasanya kerongkongannya seperti tercekat sesuatu.


"Aku akan menikah denganmu.. Tapi tolong bebaskan Mike.." ucapan Mily membuat dahi Reihan berkerut.


Sepertinya pria itu baru paham apa yang sedang terjadi dihadapannya. "Paman pasti tahu sesuatu tentang ini.." seru Reihan pada Matthew meminta penjelasan.


Matthew mengangguk dan tak menyangkal. "Apa 'dia' yang berada dibelakang semua ini?" tanya Reihan.


Untuk kali kedua, Matthew terlihat menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara. "Kenapa tidak memberitahuku? Apa Paman mendadak bisu?" tanya Reihan dengan nada yang sedikit tinggi.


"Tuan, tolong jangan salah paham.. Saya merahasiakannya karena anda harus fokus dengan kesehatan anda terlebih dahulu.."


"Mily, kamu cepat berdiri.. Disini ada kesalahpahaman.. Ayo berdiri.." seru Reihan namun gadis itu tetap pada pendiriannya untuk tak beranjak sedikit pun.


Reihan yang melihat sikap keras kepala Mily, semakin tersulut emosinya. Pria itu langsung mencabut selang infus yang tertancap di pergelangan tangan kirinya dengan kasar, membuat kulitnya sedikit robek dan berdarah.


"Tuan..." seru Matthew sedikit berteriak. Ini sudah kesekian kalinya Reihan bertindak semaunya seperti itu tanpa mempedulikan kesehatannya.


"Mily, kamu lebih baik pulang.. Aku akan mengurusnya.. Aku... Aku akan memastikan bahwa Mike akan baik-baik saja.."


Mily tampak menengadahkan kepalanya dan menatap punggung Reihan yang semakin menjauh dengan sorot mata yang sendu.


**


Di sebuah gudang yang tampak tak terawat, seorang pria dengan wajah penuh noda darah nampak tersungkur ke lantai berpasir. Enam orang pria lainnya yang bertubuh kekar terlihat mengelilingi si pria yang tengah tak berdaya itu. Seorang diantaranya dengan tato besar bergambar macan di tangan kirinya tampak menginjak punggung Mike yang saat itu sudah kehabisan tenaga.


“Apa kamu punya banyak nyawa sampai berani menghajar putra tuan kami?” seru pria bertato itu galak.


Mike tersenyum dan terlihat seluruh mulutnya berisi darah.


Satu orang lainnya merasa bahwa senyuman Mike tampak mencemooh mereka semua, lalu menampar wajah Mike dengan sangat keras sampai membuatnya jatuh.


“Kau sudah babak belur seperti ini masih saja berani tersenyum? Dasar sinting..” maki pria botak itu.


“Memang kenapa kalau aku sinting? Aku hanya melakukan hal yang benar.. tapi sepertinya aku salah.. seharusnya saat itu aku mencekik putra bos kalian sampai kehabisan nafas..cuiiiih..” seru Mike sembari membuang ludahnya yang berwarna merah.


“Kau.. masih berani berkelakar hah?! Biar ku hajar lagi kau sampai tidak bisa bicara..” hardik seorang pria lainnya yang sudah mengacungkan sebuah tongkat kayu.


“Tunggu..” seru Reihan lantang yang datang ke tempat itu bersama dengan Alvin. “Kenapa kalian bermain keroyokan seperti itu, apa kalian banci?” singgung Reihan, membuat keenam preman itu terpancing emosi.


Alvin terlihat menyenggol pinggang Reihan dan berbisik pelan. “Tolong jangan bertindak macam-macam.. tolong jangan buat mereka semakin marah.. aku masih ingin hidup..” bisik Alvin.


Reihan dengan acuh dan santainya berjalan melewati keenam pria bertubuh besar dan menghampiri Mike diikuti oleh Alvin yang tampak mengekor dengan gemetaran. Tangan pria itu terulur membantu Mike untuk berdiri. “Aku disini untuk membantumu.. karena aku sudah berjanji dengan seseorang..”


Mike terlihat mengerutkan keningnya tak mengerti dengan sikap baik Reihan saat itu padanya. Salah satu preman dengan luka sayat di wajah terlihat berbisik pelan di telinga si pria bertato macan. “Bos, aku seperti pernah melihat pria itu tapi lupa dimana..”


“Kenapa harus berbisik segala? Apa kalian semua takut atau mau mengompol dicelana?” ejek Reihan.


“Siapa kamu?” tanya si pria bertato macan.


“Aku? Kenapa? Apa setiap kalian akan memulai pertarungan selalu berkenalan terlebih dahulu? Bung, ini bukan di ruang kelas..” Sindir Reihan lagi, membuat si pria bertato macan terlihat semakin bengis dan mengacungkan tongkat besi berukuran delapan puluh sentimeter yang sedari tadi dipegangnya.


“Baiklah, kalian berdua datang kesini sama dengan menggali kubur kalian sendiri.. Hajar mereka bertiga sampai tuntas..” perintah si pria bertato macan.


Seorang pria yang tak membawa alat apa pun menghampiri Alvin dan membuat pria itu lari ketakutan. Sampai Alvin jatuh tersungkur karena menginjak tali sepatunya sendiri. Sedang tangan si preman sudah berada tepat di atas wajahnya.


“Brukkkk...” Suara hantaman benda keras terdengar nyaring.


Si preman langsung terjatuh ke lantai dan pingsan. Alvin membuka matanya dan terlihat sangat bahagia melihat Priska berdiri dihadapannya.


“Ka-kamu kenapa kesini?” tanya Alvin tak percaya.


“Karena aku tahu kejadiannya akan seperti ini..” jawab Priska cepat.


“Apa kamu begitu menyukai ku?” canda Alvin.


“Tutup mulutmu..” hardik Priska.


“Apa kamu kesini sendirian?” tanya Alvin lagi.


“Hmm.. Ana sedang menemani Mily.. aku juga gak tahu mereka berdua sekarang ada dimana.. terakhir aku menurunkan mereka berdua dirumah sakit dan membawa Reihan kesini..”


“Oh pantas, sewaktu aku diam-diam mengamati tempat ini, Reihan tiba-tiba datang..”


“Aku pikir dia gak sejalan dengan papanya..” ucap Priska.


“Maksudnya?”


“Reihan.. dia.. berada disisi yang berhadapan dengan papanya..”


“Menurutku juga dia orang yang gak terlalu buruk..”


“Kamu lebih baik berdiam di sudut sana..” Priska menunjuk kesebuah arah.


“Terus kamu?”


“Aku akan membantu mereka berdua.. Kebetulan aku juga sedang ingin meluapkan emosi..” jawab Priska sembari mengepalkan kedua tangannya.


“Hati-hati.. aku belum ingin mengganti istri..”


Priska memelototinya dan membuat Alvin berjalan mencari tempat aman untuk bersembunyi, sementara sang istri masuk ke pertarungan yang cukup sengit.