
Selama dua hari berturut-turut Mily datang ke rumah sakit untuk menjenguk Reihan, sayangnya laki-laki itu masih belum siuman. Papa Reihan yang setiap waktu berada disamping putranya, selalu bersikap dingin pada Mily. Pria itu selalu mengatakan pada Mily agar tak lama-lama berada disana.
Kali ini berbeda. Pintu kamar tempat Reihan di rawat sedikit terbuka. Mily kini berdiri didepan pintu. Gadis itu tersenyum senang karena bisa mendengar suara Reihan kembali. Baru saja dirinya akan mengetuk pintu suara Reihan mengurungkan niatnya.
“Tapi aku menyukainya... Selama aku hidup, aku akan selalu melindunginya..” ucap Reihan dengan nada tinggi.
“Apa kamu tidak sadar? Gadis itu membuat kamu kehilangan salah satu ginjalmu...” seru papa Reihan emosi.
“Itu bukan salahnya. Aku sendiri yang memiliki inisiatif menghadang pisau untuknya.. Jadi Reihan mohon Papa jangan menyalahkan Mily. Dan juga dia sama sekali tidak tahu kalau aku adalah putra tunggal pemilik SH group.. jadi Papa jangan pernah berpikir kalau dia akan memanfaatkan ku..”
Papa Reihan tak menimpali lagi. Dirinya tahu putranya begitu keras kepala. “Nona kenapa anda tidak masuk kedalam? Tuan muda sudah sadarkan diri..” seru Matthew yang baru saja datang dan melihat Mily berdiri di depan pintu kamar rawat Reihan.
“Mily masuklah..” panggil Reihan. Laki-laki itu membenarkan posisi duduknya dan sedikit meringis kesakitan karena lukanya.
Papa Reihan langsung bergegas untuk pergi keluar dari ruangan dan sempat melihat sebentar ke arah Mily, membuat gadis itu tertunduk.
“Sini..sini...” seru Reihan girang karena dapat melihat gadis itu dalam keadaan baik-baik saja.
“Tuan.. saya bawakan bubur untuk anda..” ucap Matthew sembari menaruh keresek bawaannya di meja kecil samping tempat tidur tuan mudanya.
“Hmmm.. makasih Paman..” jawab Reihan sopan.
“Baiklah kalau begitu saya akan pergi sebentar.. kalau anda memerlukan sesuatu hubungi saya..” Matthew langsung undur diri membiarkan kedua orang itu untuk berbicara.
Mily masih berdiri mematung disamping tempat tidur Reihan. Gadis itu tak tahu harus berbicara apa. “Hahaha.. kenapa kamu canggung begitu?” ucap Reihan sembari tertawa kecil. Laki-laki itu mencoba mencairkan suasana diantara mereka.
“Reihan.. aku... aku minta maaf..” Mily menundukkan kepalanya sembari memainkan jemari tangannya. Mily mendengar semua perkataan Reihan pada papanya.
“ A-aku tadi tidak sengaja mendengar pembicaraan kamu sama Papa mu.. Masalah perasaan kamu... aku..” Mily tidak melanjutkan kallimatnya.
Reihan sudah bisa menebak kalau Mily pasti akan menolaknya. “Hahaha.. ucapan ku ke Papa hanya bercanda.. jangan dianggap serius.. Kalau aku gak berbicara seperti itu Papa mungkin akan terus mengomel.. tadi kamu tahu sendiri akhirnya Papa ku berhenti mengomel..” jawab Reihan sembari mencoba tertawa.
“A-aku akan terima perasaan kamu..” seru Mily tiba-tiba. Tawa Reihan terhenti. Laki-laki itu menatap Mily tak percaya.
“Ayo kita pacaran..” seru Mily lagi.
Reihan menelan air liurnya dengan susah payah. Laki-laki itu sama sekali tak menyangka Mily akan menerima perasaannya begitu saja. ‘Apa mungkin dia merasa bersalah?’ batin Reihan.
“Hmm yakin..” jawab Mily dengan mantap.
“Baiklah.. kalu begitu hari ini adalah hari pertama kita ya.. Kamu masih mau berubah pikiran gak?” Reihan bertanya lagi karena dirinya masih merasa belum percaya.
Mily menggeleng. “Baiklah kalau begitu kemari lah.. bantu aku untuk makan bubur ini..” serunya riang.
Mily mengambil keresek yang dibawa Matthew tadi dan membuka mangkuk sterofom berisi bubur yang tampak masih mengepul. Gadis itu menaruh mangkuk sterofom diatas meja kecil tempat tidur dan menyendok sedikit bubur, meniupnya pelan sampai rasa panasnya berkurang.
“Makan dulu buburnya..” seru Mily yang melihat Reihan terus menatapnya sembari tersenyum.
Reihan membuka mulutnya lebar-lebar dan sesendok bubur masuk kedalam buburnya. Matanya tak henti-hentinya menatap Mily.
“Ah iya.. kamu kenapa gak pernah cerita kalau kamu anak presdir SH group?” tanya Mily sembari menyendokkan bubur lagi ke mulut Reihan.
“Aku pikir latar belakang ku akan membuat kamu kurang nyaman..” jawab Reihan jujur.
“Tapi kenapa kamu tinggal di rumah kontrakan?”
“Itu karena Papa ingin aku berusaha dari bawah.. awalnya terasa sulit apalagi mobil, apartemen dan kartu kreditku semua ditarik.. tapi saat aku mulai bekerja, aku pikir aku harus dan pasti bisa untuk tidak mengandalkan uang Papa ku lagi. Kalau dipikir, hidup ku yang dulu cukup memalukan..”
“Apanya yang memalukan.. setiap orang pasti punya hal seperti itu dimasa lalu.. yang penting itu sekarang kamu sudah mau berusaha berdiri dikaki sendiri..”
“Lalu bagaimana dengan mu?” tanya Reihan sembari menatap Mily yang tersenyum padanya.
“Aku?”
“Iya.. bukannya kamu bilang setiap orang pasti punya hal memalukan dimasa lalu.. apa kamu juga pernah mengalami seperti itu? Aku ingin tahu lebih banyak tentang kamu..” seru Reihan sembari memegang tangan Mily dan gadis itu tak keberatan menceritakan kisahnya dan Mike.
“Apa sekarang kamu masih menyukainya?” tanya Reihan menatap mata Mily dalam-dalam mencoba mencari jawaban pasti disana.
“Gak.. aku dan Mike gak akan pernah bisa menyatu seberapa besar pun aku berusaha.. jadi aku memutuskan untuk berhenti menyukainya..”
‘Dia berbohong.. dia jelas-jelas sangat menyukainya..’ batin Reihan yang masih menatap Mily tajam.
“Kalau begitu mulai hari ini lupakanlah dia.. Kamu hanya cukup memikirkan aku saja..” ucap Reihan. Tangannya menggenggam tangan Mily. Gadis itu mengangguk sembari tersenyum kecil.