Little Rainbow

Little Rainbow
Keberanian untuk mengaku



Mily berulangkali memanggil-manggil nama Reihan namun pria yang dipanggilnya sedari tadi sama sekali tak menampakkan diri. Kini tangan gadis itu sibuk dengan ponselnya, mencoba menghubungi Reihan tapi hasilnya tetap sama, tak ada jawaban.


Gadis itu memutuskan untuk menunggu Reihan sambil duduk di sebuah bangku kayu panjang yang berada di seberang depan dan menghadap ke arah kamar Reihan. Kepala Mily tertunduk menatap kedua kakinya yang sedang bergoyang-goyang.


“Aku benar-benar harus menjelaskannya.. tapi aku harus memulainya dari mana?” gumamnya.


Sementara tak jauh dari sana, Reihan baru saja turun dari mobilnya dan pria itu dapat melihat punggung seorang wanita yang terlihat seperti sedang menunggunya. Reihan menarik nafas dalam-dalam dan berjalan pelan ke arah tangga besi. Menaikinya secara perlahan agar tak menimbulkan bunyi.


Sesampai di atas, Reihan berdiri diam memandangi Mily yang masih asyik menundukkan kepala sembari bergumam kecil. “Mily..” panggilnya pelan, tak ingin mengejutkan gadis itu.


Gadis yang merasa namanya dipanggil, langsung menengokkan kepala ke arah sumber suara. “Reihan.. kamu baru pulang kos jam segini?” tanyanya.


Reihan hanya tersenyum sambil berjalan menghampiri Mily dan duduk tepat disebelah gadis itu. “Aku sudah gak kos ditempat ini lagi.. Aku lupa belum kasih tahu kamu..”


“Oh gitu.. pantas lampu kamarnya gelap dan cuma lampu luarnya yang menyala..” jawab Mily.


“Ada apa?” tanya Reihan pelan sembari duduk disebelah Mily, masih dengan menahan rasa sakit. Lampu berwarna kuning yang sedikit temaram mengaburkan kulit pucat Reihan dan membuat Mily sama sekali tak menyadarinya.


“Aku.. Aku ingin membicarakan masalah pernikahan kita..” seru Mily memulai kalimatnya. “Pernikahan itu sepertinya aku tidak bisa melakukannya.. Aku..” Mily menghentikan ucapannya dan menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian untuk meluapkan apa yang berada didalam hatinya.


“Aku dan Mike.. kami berdua saling menyukai..”


Akhirnya Mily bisa mengucapkan kalimat itu setelah sekian lama ditutupinya.


Reihan masih terus memandanginya tanpa berkata apa-apa. Seolah dirinya sedang memberi kesempatan pada gadis yang duduk disampingnya untuk meluapkan pemikiran dan perasaannya.


“Mungkin apa yang barusan aku katakan itu akan membuat kamu marah dan membenciku, aku benar-benar minta maaf Reihan.. Awalnya aku pikir semua yang akan terjadi kedepannya akan baik-baik saja asalkan aku bisa mengikuti alurnya.. tapi ternyata aku salah.. Kalau semua ini terus berlanjut.. bukan hanya aku yang akan terluka, tapi kamu juga..” jelas Mily.


Reihan masih mendengarkan kalimat panjang yang di ucapkan Mily tanpa berkata sepatah katapun.


“Kita berdua mungkin akan sama-sama terluka karena aku membohongi perasaan ku sendiri, sedang kamu akan terluka karena harus berpura-pura tak tahu tentang perasaanku.. coba kamu pikir.. hidup seperti itu pasti sangat melelahkan.. jika kita melanjutkannya, kita sama-sama akan terpenjara dalam pikiran dan perasaan kita masing-masing..”


“Aku mau tanya satu hal.. Orang yang kamu takuti akan terluka dalam masalah ini adalah aku atau dia?” tanya Reihan pelan. Mata pria itu menatap mata Mily dengan sorot mata yang sulit untuk diterka.


“Aku.. Aku..” Mily menjawab dengan terbata-bata membuat Reihan tersenyum kecil.


“Kamu gak perlu jawab itu.. sepertinya aku tahu jawabannya..” seru Reihan.


Pria itu berdiri dan membungkukkan tubuhnya, wajahnya ia dekatkan ke wajah Mily, membuat gadis itu memundurkan kepalanya kebelakang. “Kamu mau apa?” tanya Mily yang terlihat sedikit ketakutan. Takut-takut Reihan berbuat sesuatu padanya.


“Apa aku terlihat buruk dimata kamu?” tanya Reihan. Hatinya terasa sakit.


“Bukankah saat semua ini berakhir, aku mungkin tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi.. jadi.. aku hanya ingin memberikan sebuah kecupan di keningmu.. apa boleh?” tanya Reihan meminta izin.


Mily seolah tak percaya jika Reihan sama sekali tak berdebat dengannya dan bisa dengan begitu saja menerima pengakuannya. “Apa boleh?” Reihan mengulangi pertanyaannya, melepas semua lamunan Mily.


“Ehm..” Mily menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dirinya tak keberatan dengan permintaan pria dihadapannya.


Perlahan Reihan mendaratkan bibirnya di kening gadis itu dengan sangat lembut. Bibirnya tersenyum tipis sembari mencium kening Mily


.


“Aku akan mengantarmu pulang..” serunya sembari langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Mily seolah tak ingin melihat wajah cantik gadis itu yang mungkin akan membayangi hari-hari kosongnya kedepan.


Langkah Reihan terhenti saat jemari tangan Mily meraih pergelangan tangannya. “Reihan..” panggil Mily pelan.


Reihan terdiam saja tanpa memutar tubuhnya atau sekedar menatap Mily. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Mily.


“Ayo biar aku antar kamu pulang.. aku masih mengantuk..” timpal Reihan tak menjawab pertanyaan Mily.


Baru saja Reihan hendak melangkahkan kaki kanannya, seluruh tubuhnya terasa bergetar. Pandangan matanya semakin buram dan perlahan-lahan menghitam. Tubuh pria itu tumbang, dan kepalanya membentur sebuah pot yang cukup besar berwarna hitam.


“Reihan.. Reihan.. kamu kenapa?” tanya Mily yang terlihat sangat panik melihat Reihan pingsan dihadapannya.


“Reihan.. jangan buat aku takut seperti ini Reihan..”


Beberapa kali gadis itu memanggil-manggil namanya, namun Reihan tetap tak sadarkan diri. Dengan tangan yang gemetar, Mily mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Matthew.


Tak butuh waktu lama, sebuah suara menyahut dari ujung sana. “Nona Mily? Ada apa?” tanya Matthew.


“Reihan pingsan..” jawab Mily dengan sedikit terisak.


Matthew tampak melirik jam tangannya. “Sekarang kalian ada dimana?”


“Aku di kos Reihan..”


“Baiklah.. sepuluh menit lagi saya sampai..”


Baru selesai dengan kalimatnya, Matthew langsung menginjak kembali gas mobilnya dan melajukannya dengan sangat cepat. Beruntung jalanan terlihat lengang.