
Mily sudah kembali ke kamar rawat Reihan, namun wajahnya terlihat sedikit kecewa saat melihat sosok Mike sudah tak lagi berada disana. Sekilas Reihan menyadari itu, namun pria itu lebih memilih untuk tak bertanya apa-apa.
“Paman.. bukannya tadi paman bilang mau ketemu Papa?” seru Reihan berbohong mencari alasan agar bisa berduaan dengan Mily.
“O-oh iya Tuan.. saya hampir lupa.. kalau begitu saya pamit..” ucap Matthew yang paham dengan maksud Reihan.
Matthew bergegas pergi, sementara Mily menaruh bubur hangat yang baru saja dibelinya di atas meja kecil tempat tidur.
“Apa kamu sudah memikirkannya?” tanya Reihan sembari memegang tangan kanan Mily.
Mily tersenyum dengan manisnya. “Tentu..”
“Jadi apa jawabanmu?” tanya Reihan lagi. Pria itu semakin penasaran dengan jawaban seperti apa yang akan diterimanya.
“Ehmm.. kamu maunya aku jawab apa?” goda Mily sembari menatap Reihan. Dirinya bisa melihat bahwa pemuda itu begitu mengharapkan jawaban ‘baik’ darinya.
Reihan masih menatapnya saat Mily mengatakan “Aku mau..”
Mata pemuda itu seketika berubah cerah sekalipun wajahnya masih tampak pucat. Tangannya menarik tangan Mily dengan cepat sampai tubuh gadis itu sedikit terhuyung dan nyaris jatuh kearahnya. Reihan memeluk Mily sangat erat sampai Mily merasa sedikit sulit untuk bernafas.
“Apa kamu senang?” tanya Mily.
“Jelas aku senang.. kamu akhirnya bersedia menikah dengan ku..” seru Reihan kegirangan. “Kalau begitu besok keluarga ku akan datang menemui keluarga kamu..” lanjutnya.
“Hah? Apa itu gak terlalu cepat? Sekarang aja kamu masih dirawat disini..” jawab Mily.
“Aku udah gak apa-apa.. malam ini juga aku akan pulang..” Reihan tampak bersemangat.
Mily melonggarkan pelukan Reihan dan menatap wajah pemuda itu dalam-dalam. Segala rasa berkecamuk didalam hatinya. Pilihannya kali ini mungkin akan menyakiti dirinya sendiri dikemudian hari. Tapi dirinya berhutang nyawa pada pemuda itu. Baginya, tidak ada pilihan lain selain mengorbankan dirinya sendiri. Cinta mungkin akan tumbuh belakangan saat sudah terbiasa bersama.
“Lebih baik jangan terburu-buru.. muka kamu aja masih pucet gitu udah ribut mau pulang..”
“Kalau ditunda, aku takut kamu berubah pikiran..”
Terlihat sangat jelas bahwa Reihan begitu takut kehilangan dirinya. “Sekarang lebih baik kamu banyak-banyak istirahat.. nanti setelah kamu keluar dari rumah sakit kita akan mulai membicarakannya.. oke?”
“Janji dulu kalau kamu gak akan berubah pikiran..”
“Aku janji... Nah karena aku udah janji.. sekarang kamu makan dulu buburnya katanya kamu lapar...” seru Mily sambil menyendokkan sesuap bubur ke dalam mulut Reihan.
Tak lama seorang pria berusia empat puluh tahunan berseragam putih datang dan melihat pasien yang ditanganinya sedang asik menyantap bubur yang kini tinggal tersisa beberapa suap saja. Dengan terburu-buru dokter itu datang menghampiri Reihan.
“Maaf Tuan, anda sudah makan berapa sendok?” tanya dokter itu tanpa ragu.
“Sudah makan banyaaaaaaaak...” jawab Reihan.
“Kenapa anda makan banyak? bukankah tadi pagi saya sudah bilang anda tidak boleh makan terlalu banyak..” seru dokter itu lagi.
“Maaf dok, kalau boleh tahu kenapa dia gak boleh makan banyak?” tanya Mily.
“Karena...” belum sempat dokter itu menjelaskan, Reihan sudah memotongnya.
“Aku punya sakit maag.. jadi kalau makan agak banyak rasanya kurang nyaman diperut.. makanya sekarang aku gak boleh makan banyak-banyak...” ucap Reihan cepat sembari menarik jubah dokter yang berdiri disampingnya pelan. Sang dokter yang seperti mengetahui maksud pasiennya memilih diam.
“Baiklah.. untuk kedepannya anda lebih baik mengatur pola makan anda, kurangi asupan garam dan gula.. serta hindari makanan yang memiliki protein tinggi..”
Tak langsung menjawab, sang dokter melirik Reihan sembari menghembuskan nafas dalam. “Tuan Reihan baik-baik saja.. hanya lebih baik untuk membatasi setiap asupan.. karena pastinya segala sesuatu yang berlebih itu tidak baik.." jawab sang dokter.
"Saya pikir ada masalah dengan tubuhnya.."seru Mily pelan.
"Ya sudah.. Saya pergi dulu nanti malam saya periksa kembali.." ucap sang dokter sambil berlalu pergi meninggalkan Mily dan Reihan.
**
Mike baru saja tiba kembali di ruang kerjanya. Laki-laki itu langsung merobohkan tubuhnya diatas sofa sementara Adit datang membawa setumpuk berkas yang masih perlu direvisinya.
"Tuan, ini berkas yang harus anda tanda tangani.. Oh iya dan nanti jam empat sore anda perlu bertemu dengan presdir SH group.."
"Dimana?" tanya Mike lesu.
"Beliau meminta anda untuk datang langsung kekediamannya.."
"Apa kamu yakin?"
"Saya yakin.. Sekertarisnya sendiri yang bilang.."
"Matthew?"
"Iya Tuan.. Matthew.."
"Baiklah aku akan kesana.. Oh iya berkas yang kamu bawa tolong taruh disini.." Mike meminta Adit untuk memindahkan setumpuk file yg baru saja dibawanya ke atas meja kaca berbentuk kotak di hadapannya.
Adit langsung melakukan apa yang diperintahkan atasannya. Menaruh setumpuk berkas ke atas meja kaca tepat dihadapan Mike.
Mike menghembuskan nafas berat. Rasanya beberapa hari belakangan yang dilaluinya terasa sangat berat. Banyak persoalan yang harus dihadapi bukan hanya masalah pekerjaan, tapi juga tentang kehidupan pribadinya.
"Tuan.. Sepertinya berkas hari ini tidak terlalu banyak.. Biasanya kan anda mengurus lebih dari ini.." seru Adit yang menyadari bahwa atasannya terlihat sedikit tertekan.
Mike tak langsung menjawab dan hanya menatap Adit. "Apa kamu pernah berpacaran?" tanya Mike yang tiba-tiba merasa penasaran dengan kehidupan pribadi sekertarisnya itu.
"Tuan, apa terjadi sesuatu? Kenapa anda tiba-tiba tertarik dengan kisah percintaan saya?" tanya Adit dengan percaya diri.
"Kenapa malah nanya balik.. Kamu kan tinggal jawab.. Kalau gak mau cerita juga gak apa-apa.. Gaji kamu bulan depan dipotong tiga puluh persen.." ucap Mike datar.
"Jangan.. Jangan... Kalau dipotong segitu banyak nanti saya gak akan bisa bayar tagihan-tagihan... hidup saya itu penuh dengan hutang.."
"Makanya ceritain.."
"Saya sendiri bingung apa yang harus saya ceritakan kalau saya sendiri juga belum pernah berpacaran.." jawab Adit.
Mike mengambil satu berkas di atas meja dan melemparkannya ke arah Adit pelan. "Bilang dong dari tadi kalau kamu gak pernah pacaran.."
"Hahaha maaf Tuan.. Tapi kenapa anda tiba-tiba bertanya tentang itu? Apa anda sedang menjalin hubungan dengan seseorang? Apa dengan gadis yang waktu itu menginap di apartemen anda?" tanya Adit penuh semangat.
"Sana kembali kerjakan tugasmu.." seru Mike ketus.
Tanpa berdebat, Adit mengikuti perintah Mike dan langsung meninggalkan atasannya itu yang kini tengah sibuk bergelut dengan pekerjaannya.