Little Rainbow

Little Rainbow
Insiden tak menyenangkan



Langit sudah semakin larut saat keduanya selesai menyantap makan malam. Kedua orang itu berjalan pelan karena perut mereka terisi penuh. “Wuah perutku benar-benar membuncit..” seru Mily memperlihatkan perutnya yang sedikit membesar karena makan malam yang baru saja disantapnya. Reihan tersenyum melihat tingkah Mily padanya barusan. Sepertinya semakin lama gadis itu sudah bisa bersikap santai padanya.


“Perut ku juga sama nih.. jadi buncit..” timpal Reihan sembari memukul-mukul pelan perutnya. Lengan laki-laki itu merangkul pundak Mily dan membuat gadis itu terkejut. “Kenapa kamu merangkul ku?” tanya Mily sembari mencoba melepaskan rangkulan tangan Reihan di bahunya.


“Bukankah hubungan kita berdua sudah cukup dekat sekarang? Kamu majikan, sedang aku peliharaan..” goda Reihan.


“Baiklah.. karena kamu babi peliharan ku.” Mily mengijinkan Reihan merangkul bahunya. Gadis itu tak paham jika Reihan sebenarnya sudah memendam perasaan padanya. Hanya saja laki-laki itu mempunyai seribu satu cara agar gadis itu tak tahu tentang perasaannya.


“Kalau begitu aku antar kamu pulang kerumah..”seru Reihan. Mily mengangguk.


Namun saat kedua orang itu berjalan melewati toko kelontong kecil tempat Reihan tinggal, mata laki-laki itu melihat seorang pria berada didalam mobil bercat hitam dan mobil itu sudah sangat dikenalnya.


Reihan tetap berjalan disamping Mily sembari merangkul pundak gadis itu dan keduanya sesekali tampak tertawa.


**


Matthew berdiri di samping mobil hitamnya sembari menyilangkan kedua lengannya didada. “Paman masih disini?” tanya Reihan yang datang menghampiri sekertarisnya itu setelah mengantar Mily pulang kerumahnya.


“Hmmm...”


“Ada perlu apa?” tanya Reihan lagi sembari berdiri menyender ke badan mobil mengikuti Matthew.


“Tidak ada apa-apa.. aku hanya ingin memastikan mu baik-baik saja setelah kejadian tadi malam..”


“Eh iya, Paman tidak mengatakan apa pun ke Papa kan?”


“Saya sama sekali tidak memberitahu beliau..”


“Huft.. baguslah..”


“Tuan..” panggil Matthew pelan. “Apa anda dan gadis tadi...” Pria itu tak melanjutkan kalimatnya.


“Kami berdua belum berpacaran.. dan dia sama sekali tidak tahu aku ini anak tunggal pemilik SH group.. Jadi tolong lain kali Paman kalau datang kesini harus berhati-hati.. jangan sampai Mily tahu..” ucap Reihan.


“Baik saya mengerti.. kalau begitu saya pamit.. anda beristirahatlah lebih awal.. Oh ya besok pagi ada upacara potong pita untuk memulai proyek.. Apa anda akan hadir?”


“Belum tahu.. lihat besok.. Paman hati-hati menyetirnya..” Reihan langsung pergi meninggalkan Matthew yang tampak masih berdiri disamping mobilnya dan tersenyum melihat punggung anak majikannya yang sudah menjauh.


**


Beberapa orang tampak berlalu lalang kesana kemari. Mily hampir saja tertabrak oleh seorang laki-laki beruntung Reihan menarik gadis itu dengan cepat. “Kamu kenapa baru datang?” tanya Reihan pada Mily.


Gadis itu melihat jam tangannya. “Aku datang seperti biasa kok, sama sekali tidak terlambat..” serunya.


“Apa kamu tidak membaca pesan dari ku?” tanya Reihan lagi.


“Aku belum memegang ponsel ku sejak bangun tidur. Sebelum kesini aku sibuk membuatkanmu sarapan..” Mily menunjukkan barang bawaannya.


Reihan tersenyum melihat sarapan pagi yang dibawa Mily. Mata laki-laki itu bersinar. “Hei kenapa kamu senyum terus?” tegur Mily.


“Ah iya aku baru ingat. Kamu cepat ikut aku. Kita berdua ditunjuk untuk menjadi pelayan di acara potong pita tanda dimulainya proyek kerja sama SH group dan BLC group.” Reihan menjelaskan.


“Eih eih.. kamu gak akan sarapan dulu?”


“Nanti selesai acara..”


**


Mily sudah berada di antara kerumunan orang, gadis itu mencari-cari sosok Mike yang tak tampak berada disana. Sedang Reihan tampak berdiri disamping gadis itu sembari memegang nampan berisi minuman untuk disuguhkan pada tamu yang datang.


Tak lama Mike muncul, laki-laki itu berjalan berdampingan dengan Papa Reihan dan juga Matthew beserta Adit. Sedang para pemegang saham kedua belah pihak berjalan mengekor dibelakang ke empat orang itu.


Mily melambai-lambaikan tangannya ke arah Mike, ingin agar laki-laki itu melihatnya. Namun sayang, usaha gadis itu sia-sia. Mike berjalan begitu saja melewatinya dan tak menganggapnya sama sekali.


“Hei, bukankah dia saudara sepupumu? Kenapa dia bisa ada disini?” tanya Reihan pura-pura.


“Oh.. dia itu Presiden Direktur BLC group. Jadi tentu dia akan ada disini..”


“Wah kalau begitu sepupu mu orang hebat ya.. tapi kenapa kamu tidak bekerja disana?”


“Ahh jangan bertanya tentang itu.. mengingatnya membuat ku kesal...” gumam Mily sembari memonyongkan mulutnya. Gadis itu ingat bagaimana Mike menendangnya begitu saja pada hari pertamanya bekerja secara sepihak dengan alasan yang tidak masuk akal.


Belum sempat acara tersebut dimulai, sepuluh orang berpakaian serba hitam dengan banyak tato di tangannya datang menghampiri. Beberapa diantara mereka bahkan membawa tongkat kayu. Salah seorang diantara mereka tampak menyeret seorang satpam yang bertugas jaga didepan. Satpam itu tak berdaya menghadapi kesepuluh orang preman.


Sekumpulan orang-orang yang sedang berkumpul menghadiri acara, menatap kesepuluh preman yang baru saja datang. “Yang mana orangnya coba kau tunjuk..” seru laki-laki bertubuh besar kepada seseorang yang sedari tadi bersembunyi dibelakangnya.


Laki-laki yang sedari tadi bersembunyi itu memberanikan diri menunjuk ke arah Reihan dengan tangannya yang gemetar. Reihan menyipitkan matanya melihat wajah laki-laki itu. Dia ingat. Laki-laki yang kini sedang menunjuk kearahnya adalah orang yang saat itu sedang mabuk dan menghampirinya.


“Oh ternyata hanya seorang pelayan.. berani sekali bersikap kurang ajar..” seru laki-laki itu berjalan ke arah Reihan. Kesembilan anak buah yang dibawanya mengekor dibelakang.


Saat itu wajah Matthew tampak khawatir. Belum lagi bos besar yang berdiri disebelahnya menyenggolnya meminta penjelasan. “Matthew ada apa ini?” tanya papa Reihan yang melihat preman-preman itu menghampiri putra semata wayangnya.


“Maaf Tuan, nanti saya akan jelaskan..” ucap Matthew singkat. Pria itu langsung beranjak menghampiri Reihan. Sedang Mily yang berdiri disamping kanan Reihan ditarik mundur olehnya dan laki-laki itu kini memasang badan tepat didepan Mily.


“Siapa mereka?” bisik Mike pada Adit. Mata laki-laki itu terus menerus menatap kearah Mily, khawatir akan terjadi sesuatu pada gadis itu.


“Sepertinya saya paham Tuan..” seru Adit.


“Paham apa?” tanya Mike tak mengerti.


“Ketiga orang yang anda pukuli kemarin itu kembali masuk rumah sakit sehari setelah mereka diijinkan pulang kerumah, katanya ada seorang laki-laki yang datang tengah malam memukuli mereka.. dan sepertinya orang yang dimaksud itu pelayan yang berdiri disana..” jelas Adit menunjuk ke arah Reihan.


“Jika ada yang perlu dibicarakan, kalian semua bisa ikut saya..” seru Matthew yang kini berdiri disamping anak majikannya. Wajahnya tampak serius.


Laki-laki yang sepertinya ketua diantara mereka melihat Mily yang berdiri dibelakang Reihan. “Oh rupanya semua karena gadis manis ini.. Ternyata memang benar cantik..” seru laki-laki itu. Tangannya tak tinggal diam ingin mencolek pipi mulus Mily, namun sayang Mike sudah terlebih dulu mencengkeram tangan si ketua preman dan bunyi “Krek” terdengar. Mike mematahkan jari telunjuk si ketua preman itu dihadapan begitu banyak orang dengan mudahnya. Ketua preman itu berteriak kesakitan sedang anak buahnya sudah mulai bergidik ngeri dan belum berani maju.


Mily masih bengong dengan sikap Mike barusan. Dirinya sama sekali tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ada apa dengan kedua laki-laki yang berdiri dihadapannya sekarang?


“Jangan berani-berani menyentuhnya..” ancam Mike dengan tatapan mematikan. Garis wajah laki-laki itu mengeras.