
“Apa kamu gila???!!!” pekik Priska dan Ana berbarengan saat mendengar cerita yang keluar dari mulut Mily.
“Kalau bukan kamu sendiri yang cerita aku gak akan percaya loh..” ucap Priska.
“Apa Mike tahu?” tanya Ana. Mily menggeleng.
“Aku belum bertemu dengannya sejak kejadian waktu itu...”jawab Mily.
“Kamu sama sekali tidak menjenguknya di rumah sakit? Dia kan dirawat dua hari karena luka dipunggungnya terbuka lagi..” tanya Priska.
“Luka dipunggung??” Mily tampak terkejut. Dirinya sama sekali tidak tahu menahu tentang luka yang dibicarakan Priska barusan.
“Aku aja tahu kok.. sekarang saja dia masih istirahat di rumah belum masuk kantor..” timpal Ana.
“Coba kasih tahu aku persisnya gimana..” pinta Mily penasaran.
Priska menceritakan secara rinci tentang luka yang berada di punggung Mike. Mulai dari saat Mike berkelahi di rumah biru itu, dan saat lukanya yang belum benar-benar kering terkena pukulan kayu beberapa hari yang lalu.
Mily tak berkata apa-apa. Diam seribu bahasa. Gadis itu mengambil tottebag berwarna merah tua miliknya yang ia taruh diatas meja dan langsung melesat pergi.
**
Sudah hampir sepuluh menit Mily berdiri di depan pintu apartemen Mike. Gadis itu tak tahu harus bagaimana berhadapan dengan Mike. Bodohnya ia sama sekali tak tahu kalau saat itu Mike terluka. Pintu rumah Mike terbuka. Tampak raut wajah Mike yang dingin dan pucat sedang menatap punggung Mily yang membelakanginya. “Sedang apa kamu disini?” tanya Mike membuat Mily terkejut.
“A-aku disini ingin melihat apa kamu baik-baik saja..” jawab Mily dengan terbata-bata. “Ka-kamu mau pergi kemana?” tanya Mily melihat Mike menjinjing dua kantong besar dikedua tangannya.
“Oh.. tadinya aku ingin membuang sampah.. tapi karena kamu ada disini, masuklah..” serunya mempersilahkan Mily masuk.
Mily berjalan masuk ke apartemen Mike. Gadis itu melihat sekeliling ruangan disana dan menatap sebuah pintu yang berada disudut terdalam apartemen itu. Itu adalah pintu kamar Mike yang dulu pernah ditempatinya semalam.
“Ini minumlah..”Mike menyodorkan segelas susu untuk Mily. “Ada apa?” tanya Mike datar.
“Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana dengan lukamu?” tanya Mily.
“Lukaku? Udah gak apa-apa..”
“Kamu kenapa gak bilang kalau kamu terluka waktu berkelahi dirumah biru tempo hari?” tanya Mily lagi.
Mike tersenyum kecil. “Untuk apa aku menceritakan hal semacam itu. Lagipula itu hanya luka kecil..” jawab Mike.
Mily berdiri dari duduknya dan menghampiri Mike. Dengan cepat tangan gadis itu menyingkap kaos berwarna hitam yang dipakai Mike dan tampaklah luka yang diceritakan Priska padanya. Mata Mily mulai memerah menatap luka itu.
Mike menangkis tangan Mily dan kembali menurunkan kaosnya. “Ini benar-benar hanya luka kecil.. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah...”
“Untuk apa? Toh lukanya gak akan langsung hilang kalau aku beritahu kamu sekalipun..”
Mily terdiam sejenak. Air matanya kini sudah turun melewati pipinya dan terjatuh dilantai rumah Mike. “Kalau begitu mulai hari ini jangan pernah terluka karena aku lagi.. Jangan pernah khawatirkan aku lagi.. dan... jangan pernah berkelahi karena aku lagi..” seru Mily dalam isak tangisnya.
Mike menyadari ada maksud yang tersirat dalam kalimat itu. “Apa maksud kamu?” tanya Mike sembari memegang pergelangan tangan Mily saat gadis itu hendak pergi.
Mata penuh air mata Mily menatap lekat mata Mike. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibirnya. “Apa maksud kalimat yang kamu ucapkan tadi?” tanya Mike meminta penjelasan.
“Selamat tinggal...” jawab Mily sembari melepaskan tangan Mike yang memegang tangannya. Gadis itu langsung pergi tak memedulikan Mike yang memanggil-manggil namanya.
**
Mike berulangkali menghela nafas berat sembari duduk di kursi kerjanya. Adit yang saat itu berada disana memperhatikan hal itu. Sudah sejak pagi bosnya itu terlihat kacau. Banyak berkas yang menumpuk bertengger diatas meja, tak satupun yang selesai dikerjakannya.
“Aku pergi...” ucapnya sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan Adit sendirian diruangannya.
Mike melajukan mobilnya menuju swalayan SH group. Sudah empat hari ini perasaannya tidak enak. Kalimat yang diucapkan Mily saat di apartemennya terus terngiang-ngiang ditelinganya.
Sesampai Mike di swalayan itu, Mily tak berada disana. Sampai tak lama Mike berjalan ke arah gudang di bagian belakang dan akhirnya melihat sosok Mily sedang berjinjit berusaha mengambil suatu barang diatas rak yang tak sanggup dicapai tangannya. “Aku akan membantumu,” seru Mike.
Mily tampak terkejut melihat Mike yang berdiri tepat dibelakangnya. Tubuh laki-laki itu menempel dengan tubuhnya. Wajah Mike kini tepat berada didepan wajahnya, bahkan ujung hidung mereka berdua bertemu.
Untuk sesaat Mily tidak bisa mengendalikan debar jantungnya. Nafasnya terasa memburu. Pipinya terasa panas. Berkali-kali gadis itu menelan air liurnya. Mike mendekatkan wajahnya ke wajah Mily dengan perlahan. Mike melihat mata Mily yang perlahan terpejam. Laki-laki itu tersenyum dan ‘Cup.’ Mike mencium bibir Mily lembut, dan gadis itu membiarkannya begitu saja tanpa perlawanan.
“Apa kamu akan terus menutup mata?” bisik Mike lembut.
Mily yang baru tersadar membuka matanya dan tampaklah raut wajah Mike yang kini dengan manis tersenyum padanya. ‘Tidak.. tidak boleh seperti ini..’ gumam Mily dalam hati.
Mily mendorong tubuh Mike menjauh dari tubuhnya dan gadis itu berlari ke arah pintu namun sayang, pintu gudang tidak bisa dibuka. “Pintu itu rusak, hanya bisa dibuka dari luar..” ucap Mike yang kini berdiri disampingnya.
“Kamu tahu pintu itu rusak kenapa kamu singkirkan kayu yang aku pakai ganjal dan menutup pintunya?” tanya Mily dengan sedikit emosi. Tak habis pikir, Mike yang pintar ternyata bisa melakukan kesalahan seperti itu.
“Aku hanya ingin terjebak berdua disini denganmu..” timpal Mike sembari menatap Mily, membuat risih gadis itu.
“Apa kamu ingat dulu kamu juga pernah terkunci digudang seperti ini?” tanya Mike. Mily ingat sewaktu SMA, Mike pernah datang kesekolah dan menyelamatkannya yang terjebak di gudang karena memberi makan seekor anak kucing.
“Aku lupa..” jawab Mily berbohong. Gadis itu merogoh saku celananya dan mencari ponselnya namun sayang ponsel Mily tertinggal di tottebag.
“Tolong.. apa ada orang disana? Tolong buka pintu gudangnya.. kami terjebak didalam...” teriak Mily berharap ada seseorang yang mendengar suaranya.
“Sepertinya karyawan lain sedang sibuk..” seru Mike yang membuat Mily mendengus kesal.