Little Rainbow

Little Rainbow
Pertemuan Rahasia



Seorang laki-laki dengan kemeja berwarna biru muda yang sedang berdiri mempresentasikan pekerjaannya tampak tertunduk. Sesekali laki-laki itu mengusap keringat yang menetes di dahinya. Kakinya sudah bergetar sejak sepuluh menit yang lalu.


“Brukkk.” Sudah ketiga kalinya Mike memukul meja diruang rapat itu. Membuat keenam orang yang duduk disekitarnya menciut. “Kalian semua ini digaji bukan? Bagaimana bisa hanya mengerjakan laporan seperti ini saja kalian semua tidak becus?” Mike mendengus kesal.


Laki-laki itu memijit-mijit pelipisnya. “Kalian semua pergi..” perintah Mike dengan nada bicara menyentak. Semua orang langsung berhamburan keluar. Adit tampak mendekati bosnya yang terlihat sangat emosi sejak pulang dari swalayan tadi.


“Apa anda baik-baik saja?” tanya Adit hati-hati.


“Aku baik-baik saja..” jawab Mike sembari mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. “Kamu pergilah.. aku ingin disini sendiri..” lanjut Mike lagi.


Sementara Mike memainkan games di ponselnya, Adit pergi keluar dari ruang rapat. Baru saja dia akan menengguk kopi miliknya yang sudah sedari tadi dibiarkannya begitu saja di atas meja, sebuah panggilan masuk di ponsel Adit. Laki-laki itu langsung mengangkatnya.


“Baiklah saya akan segera kesana..” seru Adit dan laki-laki itu langsung melesat pergi.


**


Disebuah rumah makan, siang itu...


Adit yang baru saja datang mencari sesosok yang akan ditemuinya. Ada tangan yang melambai-lambai dan laki-laki itu langsung berjalan cepat menghampiri seorang pria yang melambaikan tangan padanya.


“Maaf saya datang terlambat,” ucap Adit. Laki-laki itu langsung duduk dihadapan pria yang kini tengah menyantap makan siangnya.


“Makanlah..” seru pria itu. Tak malu-malu Adit menyendok setiap lauk yang digelar di atas meja dihadapannya. Langsung memasukannya kedalam mulut dengan terburu-buru.


“Makan pelan-pelan..” seru pria itu lagi. Adit hanya menganggukan kepalanya.


“Bagaimana kabarnya?” tanya pria itu.


“Tuan muda baik-baik saja.. hanya saja..” Adit tak melanjutkan kata-katanya. Mengambil segelas air dan menenggaknya.


“Hanya saja apa?” tanya pria itu penasaran.


“Beberapa hari yang lalu tuan muda terlibat perkelahian sampai terluka..” jelas Adit.


“Terluka???” Pria didepan Adit terkejut mendengar penuturannya.


Adit menganggukkan kepalanya. “Tuan muda berkelahi dengan tiga orang sekaligus. Salah satu dari ketiga orang itu melukai Tuan dengan pecahan beling, beruntung luka dipunggungnya sudah sedikit membaik setelah dijahit oleh dokter Herman..”


“Dengan siapa dan karena apa dia berkelahi?”


“Tuan muda juga tidak mengenalnya, sepertinya preman biasa.. kalau ditanya karena apa tuan muda berkelahi, ya semua karena perempuan itu..”


“Perempuan? Yang mana?” Pria yang duduk didepan Adit membenarkan posisi duduknya. Wajah pria paruh baya itu menatap Adit serius.


“Tuan muda pernah mengatakan kalau perempuan itu teman masa kecilnya.. Namanya...” Adit terdiam mengingat-ingat nama perempuan galak itu.


“Mily..?” Pria itu menebak-nebak dan ternyata tebakannya benar. Karena pada dasarnya Mike hanya akan mempedulikan satu orang perempuan, yaitu gadis itu.


“Benar.. benar.. Mily.. aku sampai lupa namanya.. Tapi, Tuan kenal gadis itu?” tanya Adit kaget.


“Tentu aku mengenalnya..... Memang apa yang terjadi dengan Mily?”


“Apa kamu tahu tempat tinggal preman-preman itu?”


“Saya tidak tahu.. Tapi lebih baik anda jangan pergi kesana..”


“Kenapa memangnya?”


“Pagi ini saya dengar kabar dari dokter Herman.. beliau mengatakan tadi pagi ketiga orang itu kembali kerumah sakit dengan luka yang lebih parah. Kabarnya salah satu rahang dari ketiga orang itu ada yang retak.. sampai-sampai tidak bisa membuka mulutnya sama sekali.. Ada yang tangannya patah.. terus yang satu lagi gigi bagian depan rontok semua...” cerita Adit sembari tertawa kecil. “Kasihan mereka padahal baru keluar dari rumah sakit sehari yang lalu.. pagi ini sudah kembali lagi..” lanjutnya.


“Apa Mike yang melakukannya?” tanya pria itu.


“Sepertinya bukan.. Tuan muda tidak mungkin akan menghajar orang sampai seperti itu..” timpal Adit dengan yakin.


“Bisa saja jika itu menyangkut Mily..” seru pria didepannya tak mau kalah.


“Yang saya tahu Tuan muda belakangan ini sedang sibuk-sibuknya. Soalnya saya mellihat dengan mata kepala sendiri, beberapa malam belakangan Tuan muda lembur di kantor bahkan sampai tidur disana.”


“Apa proyek barunya berjalan lancar?”


“Tentu tidak, tapi Tuan muda selalu berusaha sebaik mungkin..” jawab Adit bangga.


“Baiklah.. aku mengerti.. jika dia sedang benar-benar kesulitan, kamu harus memberitahuku.. Aku akan memberi tahu Tuan besar..” ucap pria itu yang ternyata adalah sekertaris pribadi kakek Mike. “Oh iya.. untuk kedepannya kamu harus lebih mengawasi dia... jangan biarkan dia terluka sedikitpun.. jika tidak, kita berdua berada dalam masalah besar.. dan masalah dia terluka jangan sampai tersebar keluar..” seru pria itu mengingatkan.


“Baik saya mengerti...” seru Adit sembari berdiri menghantar sekertaris kakek Mike pergi.


**


Hari sudah gelap saat Mily menarik tangan Reihan dan menariknya pelan. “Ayo cepat sedikit jalannya..” seru gadis itu.


Reihan yang sedari tadi berjalan mengikuti dibelakang Mily menatap sekelilingnya. Beberapa penjual makanan tampak berjejer dipinggir jalan sempit itu. Bau asap bakaran sate yang menyengat menusuk hidung. Ditambah lagi wangi nasi goreng yang melintas dihidung Reihan. “Kita kesini mau apa?” tanya laki-laki itu.


“Bukannya tadi siang kamu minta traktiran?” Mily balik bertanya.


“Maksud kamu kita mau makan disini?” tanya Reihan lagi sembari bergidik tak percaya. Laki-laki itu sama sekali tak terbiasa makan di lingkungan yang seperti itu. Beberapa hari terakhir saja dia meminta Matthew mengirimkan makanan untuknya.


“Tentu.. kita akan makan disini.. makanan disini enak-enak.. aku sama teman-teman ku kadang makan disini..” Mily langsung menarik tangan Reihan dan menyuruh laki-laki itu duduk lesehan di atas tikar, tepat disamping Mily. Saat itu sangat banyak orang yang sedang makan disana, membuat Mily dan Reihan harus duduk berdesakan.


Ada seorang laki-laki yang datang menyodorkan kertas berisi menu makanan. Mily memberikan kertas itu pada Reihan. “Ini kamu pilih mau makan apa?” seru Mily. Reihan tak mau menerima kertas menu makanan yang disodorkan Mily. “Kamu saja yang pilihkan,” timpal Reihan sembari tersenyum.


“Baiklah.. kalau begitu kamu harus menghabiskan semua yang aku pesan ya..” ucap gadis itu riang. “Pak, saya pesan nasi goreng ayamnya satu, nasi goreng seafoodnya satu, bakmie seafoodnya satu.. sop tengkleng kambingnya satu.. minumnya teh hangat dua.. jangan manis ya.. makasih..” seru Mily panjang lebar. Reihan yang duduk disampingnya terkesima.


“Aku benar-benar tidak menyangka badan kamu kurus tapi makan kamu banyak juga ya..” goda Reihan. “Itu bukan untuk ku semua ya.. aku hanya akan memakan nasi goreng ayam dan sop tengkleng kambing.. sedang nasi goreng seafood dan bakmie seafood itu buat kamu..” jawab Mily sambil tertawa kecil melihat reaksi wajah Reihan.


“Mana bisa aku makan sebanyak itu.. bisa-bisa besok pagi aku bengkak seperti babi,” protes Reihan dengan nada bicara lembut.


“Hahaha.. Kalau kamu babi, aku akan jadi majikannya.. Aku akan membawakanmu sarapan setiap pagi.. dan mentraktirmu makan malam.. Biar babiku ini tidak kurus..” canda Mily sembari mengelus-ngelus kepala Reihan, sama seperti mengelus kepala anjing.


“Baiklah.. mulai malam ini aku setuju untuk menjadi hewan peliharaanmu..” balas Reihan sembari memasang wajah imut membuat Mily tertawa terbahak-bahak.