
Suasana mendadak berubah mencekam saat Reihan menyerahkan nampan berisi minuman pada orang tak dikenal yang berdiri disebelah Matthew. Mike dan Matthew sama-sama melepas jas yang sedari tadi dipakainya. Kini ketiga orang itu sama-sama membuka dua kancing atas kemeja dan menggulung bagian tangannya.
“Kamu..” Reihan menunjuk laki-laki yang sejak awal datang bersembunyi. “Apa kamu tidak dengar ucapanku waktu itu? Kalau kamu tidak dengar aku akan ulangi sekarang. ‘Kalau aku tahu salah satu diantara kalian berani mengganggu gadis itu lagi, akan aku pastikan kalian semua membusuk didalam tanah yang dingin.’ Apa kau sudah ingat?” tanya Reihan dengan semburat senyum menyeringai, menyeramkan.
“Cukup basa-basinya.. kalian semua maju..” teriak si ketua preman pada anak buahnya.
“Pergilah dari sini cari tempat aman..” seru Mike pada Mily. Gadis itu merasa ketakutan. Takut terjadi sesuatu hal yang buruk. Mily menatap mata Mike sesaat lalu gadis itu mengangguk.
Mike, Reihan dan Matthew sudah bersiap mengahadapi kesembilan orang yang serempak berlari ke arah mereka dengan mengacungkan tongkat kayu. Semua tamu di acara itu berteriak keluar dari tempat acara dengan panik. Acara pembukaan dimulainya proyek kini berantakan.
Mike terlihat sibuk menghadapi tiga orang yang terus menerus mencecarnya. Sementara Reihan sudah hampir kewalahan di berondong oleh empat orang. Dua orang sisanya berhadapan dengan Matthew. Dimanakah si ketua preman itu? Laki-laki itu sekarang hanya sibuk berdiri dari kejauhan tak berani ikut berkelahi dengan anak buahnya.
Mily tak mematuhi ucapan Mike dan tetap berdiri disana tak meninggalkan tempat itu sama sekali. Gadis itu menggigit bibir bawahnya tatkala melihat Mike sudah kewalahan menghadapi tiga orang sekaligus, belum lagi luka di tubuh laki-laki itu belum benar-benar sembuh.
Adit berkumpul dengan papa Reihan yang saat itu juga tetap berada disana karena khawatir dengan putra semata wayangnya. Sekertaris Mike itu terus menerus bergumam, “Kenapa sih belum juga sampai sini?”
Si ketua preman yang melihat Mily tengah lengah langsung menghampiri gadis itu dan membekapnya dari belakang. Pisau tajam yang sudah dipersiapkannya sedari tadi kini berada tepat di leher gadis itu. Mily sudah gemetar ketakutan.
“Semua berhenti..” teriak si ketua preman. “Kalau tidak jangan salahkan aku menyakiti gadis cantik ini..” lanjutnya lagi.
Saat mendengar kata ‘gadis cantik’ dari mulut si ketua preman, yang ada dipikiran Mike adalah Mily. Benar saja. Mike melihat Mily yang menangis ketakutan karena pisau tajam berada di depan lehernya. “Jangan menangis.. aku disini..” seru Mike menatap Mily lembut. Baru saja Mike selesai dengan kalimatnya, salah seorang anak buah si ketua preman memukul punggungnya dengan keras sampai-sampai tongkat kayu itu patah menjadi dua bagian.
Mily menjerit melihat Mike tersungkur ke lantai tapi beruntung, laki-laki itu masih sadar. “Aku gak apa-apa..” ucap Mike pelan sembari melemparkan senyum pada Mily.
Si ketua preman bergidik ngeri melihat Mike yang masih sanggup berdiri setelah dipukul begitu keras oleh anak buahnya. Tak lama sebuah suara datang, “Tuan muda..” seru sekertaris kakek Mike yang datang membawa sepuluh orang berbadan tinggi dan tegap.
“Paman Han..” gumam Mike pelan. Sekarang laki-laki itu sudah bisa merasa tenang. Bala bantuannya datang diwaktu yang tepat.
“Kalian semua kalau berani mendekat jangan salahkan aku karena menyakiti gadis ini..” seru si ketua preman yang merasa terpojokkan. Ketujuh anak buahnya sudah tumbang.
Mike memberi kode tangan pada paman Han agar jangan bergerak. Laki-laki itu takut kalau Mily terluka. Mike berjalan pelan menghampiri ketua preman. Pandangannya tertuju ke arah pisau yang berada dileher Mily. “Jangan berani mendekat,” seru si ketua preman yang mulai ketakutan.
Tapi sayang, ucapannya tak dihiraukan Mike. Laki-laki itu terus berjalan ke arah Mily dan tepat saat Mike memberi kode mata, Mily menggigit pergelangan tangan si ketua preman dengan keras. Gadis itu berlari ke arah Mike dan menyebabkan laki-laki itu terjatuh kebelakang. Mily memeluknya erat. Pelukan Mily membuat luka di punggung Mike terasa sakit dan perih, namun semua itu tak sebanding dengan keselamatan Mily.
“Dasar kurang ajar..” seru si ketua preman. Pria itu berlari kearah Mily dengan menghunuskan pisau tajamnya, tapi sayang. Reihan berlari secepatnya dan memasang badan untuk melindungi gadis itu.
“Reihan...”teriak papanya. Pria paruh baya itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, putranya jatuh tersungkur ke lantai dengan bersimbah darah. Pisau masih tertancap di pinggang sebelah kirinya. Si ketua preman tampak gemetar ketakutan. “Bukan aku.. bukan aku...”gumam si ketua preman pada dirinya sendiri sambil melihat tangan kanannya yang dipenuhi oleh darah Reihan.
Mily yang melihat Reihan tumbang persis dibelakangnya langsung menghampiri laki-laki itu. Sementara Mike dibantu berdiri oleh paman Han. Orang-orang berbadan tegap yang dibawa paman Han sudah sibuk meringkus kesepuluh orang yang tampaknya sudah pasrah.
“Reihan.. kamu bisa dengar suara aku?” tanya Mily panik. Air matanya mengalir deras di kedua pipi gadis itu. “Aku gak apa-apa..” jawab Reihan pelan dan sedikit tersengal. Tangan kanannya terangkat pelan ke arah wajah Mily dan mengusap air mata gadis itu. “Aku baik-baik saja..” ucapnya lagi.
“Dasar anak bodoh... kenapa kamu melukai diri sendiri...?” seru papanya yang juga terlihat semakin khawatir ketika melihat Reihan mencabut pisau yang masih tertancap ditubuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Darah yang keluar dari luka bekas tusukan pisau itu semakin banyak.
**
Suasana rumah sakit siang itu cukup ramai. Mily, papa Reihan, dan Matthew berdiri di depan sebuah ruangan. Lampu di atas pintu ruangan itu menyala. Mily duduk dikursi sembari terus menunduk menatap kedua tangannya yang dipenuhi darah Reihan. Bukan hanya kedua tangannya, baju dan celana jeans yang dikenakannya ikut terkena darah laki-laki itu.
Papa Reihan tampak berjalan mondar-mandir kesana kemari. Sedang Matthew berdiri tegak di dekat majikannya itu. Tak lama bunyi “plaaaakkkk” terdengar keras. Papa Reihan menampar Matthew, namun laki-laki itu berusaha untuk menahannya. Dirinya mengaku salah karena tak memberitahukan tindakan Reihan kala itu. Dirinya juga mengaku salah karena mengikuti ide Reihan.
“Maaf..” ucap Matthew sembari menundukkan kepala. Papa Reihan tak berkata apa-apa lagi.
Tak lama orang tua Mily, Ana dan Alvin datang kerumah sakit. Saat itu Priska tak ikut karena sejak semalam badan Javier demam. “Mama..” seru Mily sembari memeluk mamanya yang baru saja tiba.
“Apa kamu baik-baik saja sayang?”tanya mama Mily cemas melihat begitu banyak noda darah di pakaian putrinya itu.
Mily mengangguk. “Mike mana?” tanya papa Mily cemas karena dirinya sama sekali tak meilhat keberadaan laki-laki itu.
“Om..” seru Mike sembari berjalan pelan menghampiri kedua orang tua Mily. Saat itu Mike tampak mengenakan baju rumah sakit. Adit memegangi tangan kanan Mike membantu tuan mudanya berjalan.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya papa Mily khawatir. Mata pria itu melihat mulai dari kepala Mike sampai ke kakinya. Memar berwarna keunguan tampak disudut bibir Mike.
Mike mengangguk dan tersenyum. “Aku baik-baik saja. Om jangan khawatir..” ucap Mike. Mata Mike beralih ke Mily yang masih duduk sembari memeluk mamanya sedang Ana mengelus pelan punggungnya.
Alvin datang mendekat, “Kamu pucat.. apa benar baik-baik saja?” tanya Alvin sambil memukul pelan bahu Mike. Mike tersenyum. “Yang didalam ruang operasi itu apa saingan mu?” bisik Alvin.
Lagi, Mike mengangguk. “Wuah dia benar-benar hebat.. berani menghadang pisau dengan tubuhnya..” puji Alvin.
‘Sepertinya dia benar-benar menyukai Mily..’ batin Mike. Matanya terus menatap Mily.
Seorang suster tampak keluar dari ruang operasi dengan terburu-buru. Dan tak lama suster itu kembali membawa beberapa lembar kertas berisi persetujuan pengangkatan organ dalam. “Siapa keluarga pasien didalam?” tanya suster itu.
“Saya.. saya Papanya..” jawab papa Reihan cepat.
“Kalau begitu anda tolong mengisi berkas persetujuan pengangkatan organ dalam. Ginjal sebelah kiri pasien terluka cukup parah dan mengalami pendarahan. Dokter bilang jika dibiarkan begitu saja akan terjadi masalah kedepannya.. Jadi dengan sangat terpaksa kami harus meminta persetujuan anda untuk mengangkat ginjal sebelah kiri pasien..” Suster itu menjelaskan panjang lebar.
Papa Reihan tampak sedikit terhuyung ke belakang. Dirinya tak percaya hal begitu buruk menimpa putra semata wayangnya. Matthew memegang lengan majikannya agar tidak terjatuh. Sama saja, Matthew juga merasa terpukul mendengar apa yang barusan dikatakan suster itu.
Selang beberapa menit papa Reihan baru berani mengambil bolpoin dan menandatangani persetujuan itu. Hatinya sungguh hancur. Semua orang yang berada disana mendengarnya. Mily berdiri menghampiri papa Reihan lalu gadis itu bersujud didepannya. Semua tatapan mata tertuju padanya. “Mily,” seru Mike pelan.
“Om.. maafkan Mily..” ucap Mily pelan. “Karena aku, Reihan jadi seperti ini.. maaf..” lanjut gadis itu lagi. Air mata mengalir deras di pipinya. “Aku... Aku akan memberi satu ginjalku untuk Reihan..” ucap Mily sembari terbata-bata. Orang tua Mily tak bisa berbicara apa-apa.
Papa Reihan tampak tak berkata apa-apa. Pria itu sama sekali tak menanggapi ucapan Mily. Melirik pun tidak. Ana datang menghampiri Mily yang masih bersujud. Dan memeluk bahu Mily. “Sudahlah.. jangan menangis lagi ya.. sekarang kita harus berdoa agar Reihan baik-baik saja..” ucap Ana pelan.