Little Rainbow

Little Rainbow
Kita menjadi saudara



Dokter Herman dan Adit masih tampak berdiri di samping vila, dimana mata keduanya terus memperhatikan ke arah hutan. Adit yang sedari tadi berisik kini terlihat lebih diam dan sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.


“Hei.. itu sepertinya mereka..” seru dokter Herman sembari menepuk pundak Adit dan menunjuk ke suatu arah dihadapannya.


Adit menyipitkan matanya sembari mengerutkan kedua alisnya menatap ke arah yang sedang ditunjuk oleh dokter Herman.


“Ah benar.. itu merekaaaaaaaa..” teriak Adit girang.


Adit langsung berlari seketika itu juga menghampiri majikannya di ikuti dengan dokter Herman yang mengekor di belakang.


“Apa kalian berdua baik-baik saja?” tanya dokter Herman yang tak bisa menutupi rasa khawatirnya ketika menghampiri kedua orang itu, terlebih saat melihat Mike menggendong Mily di punggungnya.


“Aku baik-baik saja.. tapi dia terluka..” jawab Mily.


“Ha?? Kenapa yang sedang terluka justru malah menggendong yang baik-baik saja?” tanya Adit.


“Kamu terluka dibagian mana?” tanya dokter Herman.


“Aku baik-baik saja..” jawab Mike cepat masih dengan berjalan menuju ke arah vila.


Adit berjalan didepan, pria itu meminta agar karyawan lain tak menghalangi jalan Mike dan Mily.


“Panggil Nayla untuk temani Mily dikamar..” perintah Mike pada Adit.


Mike masih tetap menggendong Mily dengan diikuti dokter Herman yang kini sedang membukakan pintu kamar. Pria paruh baya itu datang menghampiri Mily sesaat setelah gadis itu duduk disebuah kursi kayu. “Apa benar kamu baik-baik saja?” tanya dokter Herman memastikan. Dirinya hanya ingin keikutsertaannya di acara itu tidak hanya sebagai pajangan.


“Benar.. aku baik-baik saja.. dia yang terluka.. tangannya berdarah..” seru Mily sembari menunjuk Mike yang tengah berdiri tak jauh darinya.


“Coba perlihatkan lukamu..” pinta dokter Herman.


“Nanti saja..” balas Mike singkat.


“Kalau ada luka, harus segera di obati...” omel pria paruh baya itu.


Mike tak menimpali ucapan dokter Herman dan justru berbicara pada Mily. “Kamu langsung mandi pakai air hangat.. dan beristirahatlah..”


“Ehmm aku tahu.. Kamu juga jangan lupa obati lukanya..” Mily balik mengingatkan.


“Aku pergi dulu ya..” seru Mike seraya pergi meninggalkan Mily.


Dokter Herman masih dengan setia mengekor dibelakang Mike. “Kenapa masih mengikuti ku?” tanya Mike.


“Aku ini dokter, saat tahu ada yang terluka aku harus langsung mengobatinya..” jawab dokter Herman.


“Baik.. masuklah dulu..” Mike membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan dokter Herman masuk.


“Mau langsung di obati atau aku perlu mandi dulu?” tanya Mike.


“Coba perlihatkan dulu luka mu..”


Mike menggulung lengan baju sebelah kanannya dan terlihat sebuah luka yang tengah berdarah dengan beberapa goresan di sekitarnya. “Sepertinya lebih baik kamu mandi dulu, untuk menghindari infeksi..” ucap dokter Herman.


“Baiklah aku akan mandi.. tunggu disini sebentar..”


**


Nayla membuka pintu kamar yang kebetulan kamar itu adalah kamarnya dan Mily. Gadis itu langsung berlari ke arah Mily yang masih terlihat duduk di kursi dengan setengah merenung. Tangannya tampak menggenggam ponsel miliknya.


“Mily... apa kamu baik-baik saja? Aku benar-benar khawatir..” seru Nayla.


Mily terus terpaku menatap layar ponsel dalam genggamannya tanpa memedulikan ucapan Nayla barusan.


“Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Nayla.


Mily menyodorkan ponselnya pada Nayla dan meminta gadis itu untuk membacanya. “Aku dan papa akan datang ke rumahmu besok sore untuk membicarakan masalah pernikahan kita..” seru Nayla meniru isi pesan yang sedang dibacanya.


Mily menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. “Tapi aku sama sekali tak memiliki sedikit pun perasaan padanya..”


“Lalu bagaimana bisa ada seseorang yang tiba-tiba mengatakan akan menikah denganmu?” tanya Nayla lagi.


“Awalnya aku memberinya kesempatan karena perasaan bersalah yang ku miliki.. Dia telah menyelamatkanku sampai harus kehilangan salah satu ginjalnya.. Tapi.. seiring berjalannya waktu, aku tetap belum bisa menyukainya..”


“Apa karena kamu sudah menyukai presdir kita?” tanya Nayla memastikan.


Mily mengangguk. “Aku menyukainya sudah sejak lama.. bahkan mungkin saat aku masih belum menyadarinya.. Sekarang aku harus bagaimana?” ucap Mily pelan.


“Kalau kamu tidak menyukainya untuk apa menikah dengannya... pernikahan itu bukan untuk satu hari dua hari atau satu bulan dua bulan.. melainkan untuk selamanya.. dan.. menikahlah dengan seseorang yang kamu anggap bisa dipercaya untuk menggenggam seluruh masa depanmu.. karena kedepannya kamu akan selalu berjalan berdampingan bersama orang itu..” ucap Nayla memberi nasihat.


Mily tertegun sejenak mendengar ucapan gadis itu yang dirasanya tak salah. Tapi jika dirinya mengikuti ucapan Nayla, maka Reihan akan terluka dan dia tidak ingin itu terjadi.


“Aku mengerti.. aku akan memikirkannya..” jawab Mily.


“Kalau begitu.. sekarang lebih baik cepat keringkan rambutmu dulu.. kalau tidak bisa-bisa kamu masuk angin..”


Mily langsung berdiri menghampiri tas miliknya. Tangannya merogoh kedalam tas itu dan mengeluarkan sebuah pengering rambut. Nayla langsung mengambil pengering itu dan mencolokkan kabelnya.


“Sini biar aku bantu keringkan.. Tuan putri silahkan duduk disini..” serunya seraya menarik sebuah kursi untuk di duduki Mily.


Mily tertawa kecil mendapat perlakuan manis dari sahabat yang baru dikenalnya itu.


“Nay.. Apa kamu pernah merasa kesepian karena tinggal di panti?” tanya Mily yang merasa tiba-tiba penasaran dengan kehidupan Nayla yang terlihat selalu ceria.


Gadis itu langsung menggelengkan kepalanya cepat. “Tidak.. karena dipanti selalu ramai.. dan aku selalu bermain bersama dengan anak-anak kecil disana..”


“Apa tidak ada keluarga yang mengadopsi mu?” tanya Mily lagi.


“Sebenarnya ada kak.. hanya aku masih tetap ingin tinggal di panti.. aku sudah nyaman berada disana.. mungkin karena sudah dari aku kecil..”


“Kamu... kenapa bisa berada di panti?”


“Oh.. aku sendiri sudah tidak ingat kak.. hanya ibu panti bilang kedua orang tua ku bercerai saat aku masih bayi dan papa langsung menikah lagi sedang mama langsung memberiku ke panti asuhan karena merasa tak sanggup lagi mengurusku..”


“Apa kamu tidak pernah mencari keberadaan mama atau papa mu?”


“Sama sekali tidak..”


“Kenapa?”


“Saat itu mereka sudah memilih menyerah dengan kehidupan kecilku, jadi aku juga sudah memilih untuk tidak akan menganggu mereka dengan kehadiranku.. aku sudah bahagia jadi untuk apa menggali luka lama..” jawab Nayla panjang lebar.


“Ehmm.. kalau aku yang ingin mengangkatmu sebagai adik.. apa kamu mau?”


Nayla menghentikan seluruh aktifitas tangannya yang tengah mengeringkan rambut panjang Mily. Gadis itu terpaku menatap wajah Mily lewat cermin dihadapannya.


“Apa kamu serius?”


“Tentu.. tapi ada satu syarat..”


“Apa itu?” tanya Nayla yang terlihat mulai antusias.


“Karena kamu terlihat sedikit lebih muda dariku.. maka panggil aku kakak.. bagaimana?”


Untuk kali kedua Nayla terpaku. Gadis itu terus menatap wajah Mily seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


“Kakakkkkk..” seru Nayla setengah berteriak riang sembari merangkul erat leher Mily dari belakang, sementara Mily membalas pelukan itu dengan mengelus pelan lengan Nayla.


“Ahhh.. akhirnya aku punya adik juga..” gumamnya pelan.