
Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat Mike masih berkutat dengan pekerjaannya. Kedua tangannya sibuk membolak-balik lembaran kertas sedang matanya sudah nampak kelelahan. Tak lama sebuah pesan singkat masuk diponselnya.
'Mike, apa kamu sudah tidur?' bunyi pesan itu.
Mike langsung menghubungi nomor si pengirim pesan dan langsung diangkat. "Mike.." seru suara seorang wanita dari ujung telepon.
"Tante.. Ada apa?" tanya Mike.
"Apa Tante ganggu kamu?"
"Gak kok, Tan. Aku masih belum tidur juga.."
"Kamu kenapa jam segini masih belum tidur?"
"Ah aku masih harus mengurusi kerjaan, Tan. Tante sendiri kenapa belum tidur?" Mike balik bertanya.
"Ada yang lagi Tante pikirkan.."
"Apa Tante sedang ada masalah? Coba cerita sama Mike.."
"Bukan soal Tante, Mike.. Ini tentang Mily.."
"Mily kenapa?" tanya Mike sedikit khawatir. Pasalnya dirinya tahu bahwa hari ini adalah hari Mily dipecat dari pekerjaannya.
"Kemarin saat kamu dan Mily bertengkar,waktu itu kamu bilang kalau Mily sudah menyatakan bersedia menikah dengan Reihan.. Apa benar begitu?"
"Iya Tante.. Reihan yang bilang kalau Mily sudah setuju untuk menikah dengannya.. Memang kenapa Tante?"
"Tante bingung.. Tadi sore Mily bilang kalau hari ini dia baru saja memberikan jawaban ke Reihan kalau dia setuju untuk menikah.. Berarti sewaktu kalian berdua bertengkar, Mily sama sekali belum memberi jawaban apa-apa.."
Mike mengepal tangannya keras-keras. "Berarti kemarin bukan cuma Reihan yang berbohong? Tapi Mily juga?" ucap Mike.
"Sepertinya begitu.. Menurut Tante, waktu itu Mily ikut terpancing emosi makanya bilang begitu.. Oh iya, hari ini juga Mily dipecat dari swalayan.. Dia sedih berat..."
"Tapi dia baik-baik saja kan Tante?"
"Iya.. Dia gak apa-apa kok.. Oh iya apa kamu bisa bantu carikan pekerjaan buat dia?"
"Bisa Tan.. Nanti aku carikan.."
"Ya sudah kalau gitu.. Kamu silahkan lanjutkan pekerjaan.. Tapi ingat, badan juga perlu istirahat.."
"Iya Tante, nanti selesaikan satu pekerjaan lagi baru Mike akan istirahat.."
**
Pagi yang mendung dirumah Mily.
Saat itu Mily masih tertidur dengan sangat pulasnya diatas tempat tidur. Tak menyadari sama sekali kehadiran satu sosok yang tengah asyik memandanginya sembari duduk di kursi dekat meja belajar.
Sudah hampir satu jam Mike duduk disana tapi Mily tak bangun-bangun juga. Akhirnya laki-laki itu dengan sengaja mengeluarkan suara batuk dan berhasil membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.
Mily mengerjap-ngerjapkan matanya cepat. Tak percaya sosok Mike tengah berada dikamarnya pagi itu. "Kamu ngapain disini pagi-pagi? Terus siapa yang ijinin kamu masuk ke kamar ku sembarangan?" Mily protes keras.
Mike tersenyum sambil berjalan mendekat dan akhirnya duduk diatas tempat tidur Mily. "Coba kamu lihat jam disana.. Ini sudah hampir jam sembilan.. Dan mama kamu yang ijinin aku masuk kesini.."
"Maaaaaa.... Maaaa..." teriak Mily kencang memanggil mamanya.
"Tante udah pergi belanja.." seru Mike.
"Terus kamu ngapain kesini?" tanya Mily ketus.
"Karena ingin melihatmu.." goda Mike.
"Sudah cukup becandanya.. Sekarang aku akan langsung keintinya.. Aku kesini karena ini.." ucap Mike datar sembari menyodorkan amplop coklat berukuran sedang pada Mily.
"Apa ini?"
"Buka aja dulu.. Nanti juga kamu tahu.."
Mily mengikuti perintah Mike dan membukanya. Gadis itu mengeluarkan kertas yang berada didalam amplop. Kertas yang kini dipegangnya menyatakan bahwa dirinya kini telah resmi menjadi karyawan di perusahaan BLC group.
"Apa kamu senang?" tanya Mike yang masih memperhatikan ekspresi terkejut Mily.
"Apa maksudnya ini?" seru Mily sambil menatap tajam Mike.
"Tadi malam Tante menelepon, bilang kamu dipecat dari swalayan.. jadi aku pikir kamu lebih baik bekerja di tempat ku dan sekarang kamu adalah karyawan resmi diperusahaan ku.."
"Aku gak mau.."
Mike tersenyum menyeringai. "Sekalipun kamu bilang kamu gak mau, kamu tetap harus bekerja di perusahaan ku.. Kecuali kalau kamu sanggup untuk membayar denda.."
"Denda apa?!"
Mike membuka lembaran kertas terakhir dan menunjuk paragraf paling bawah dikertas itu. "Saat kamu tanda tangan, kamu harusnya sudah baca semua isi kontraknya.."
Mily terkejut melihat nominal yang tertera disana. "Lima ratus juta????!!!!!" pekik Mily.
"Ehmm.."
"Apa kamu gila?! Kamu sendiri yang dulu main ngeliminasi aku seenaknya.. sekarang kamu tiba-tiba minta aku kerja di perusahaan kamu.. Apa kamu lupa kalau aku ini gak sesuai dengan kriteria perusahaan kamu?"
"Aku jelas masih ingat dan aku masih waras.. Makanya surat penerimaan kamu masih belum sepenuhnya dihapus dari sistem.. Kalau kamu tetap ngotot gak mau kerja diperusahaan ku.. Aku kasih kamu waktu tiga hari untuk melunasi dendanya.."
"Mike.. Kamu...." Mily tak dapat melanjutkan kata-katanya karena terlalu emosi.
Sedang Mike hanya tertawa kecil melihat sikap Mily yang menurutnya menggemaskan. "Besok kamu mulai masuk kerja atau hari ini juga boleh langsung ikut aku ke kantor.."
"Gak.."
"Ya udah.. Aku tunggu besok pagi diruangan ku.. Akan aku pilihkan posisi yang cocok untuk mu.. Sampai bertemu esok pagi.."
Setelah berkata seperti itu Mike langsung pergi dari kamar itu dan meninggalkan Mily yang masih tampak tak percaya. Untuk gadis itu, jika saja dulu dirinya menerima surat yang sekarang masih dipegangnya sudah bisa dipastikan akan loncat kegirangan. Tapi sekarang? Banyak hal yang ditakutkannya. Perasaannya berkecamuk.
"Kenapa aku merasa takut jika memikirkan akan bertemu Mike setiap hari? Tapi aku harus bisa.. Aku harus buktikan kalau memang aku udah gak suka sama dia lagi.. Pokoknya harus bisa.." Mily berbicara pada dirinya sendiri.
**
"Bagaimana kondisi nenek sekarang?" tanya Reihan saat Matthew datang menjenguknya.
"Anda tidak perlu khawatir, kondisi nenek sekarang sudah stabil.. yang terpenting sekarang adalah anda perlu memikirkan kondisi anda sendiri karena tidak mungkin untuk menyembunyikan selamanya, baik terhadap Tuan besar ataupun terhadap nona Mily.." Matthew memberi nasihat.
"Aku tahu.. tapi untuk sekarang biarlah tetap seperti ini.. aku tidak ingin menambah rasa bersalah Mily terhadapku.. aku juga tidak ingin belas kasihan darinya.. yang aku inginkan adalah dia menikahiku karena memang mencintaiku.." ucap Reihan sungguh-sungguh.
"Bagaimana jika sampai nanti perasaan nona Mily tetap tidak berubah?"
"Apa maksud Paman?"
"Maksud saya.. anda sendiri tahu betul bahwa perasaan nona Mily untuk presdir BLC group cukup dalam.. apalagi mereka sudah saling mengenal sejak kecil.. apa anda tidak takut jika suatu hari anda dikecewakan?"
Reihan tersenyum kecil. "Seandainya hari itu datang.. mungkin aku sudah harus merelakannya.."
"Apa anda yakin?"
"Entahlah.. Aku sendiri tidak bisa mengatakan kalau aku merasa yakin.. karena yang sebenar-benarnya aku inginkan adalah melihatnya hidup bahagia tanpa air mata.."