
Mily baru saja turun dari bus sambil menenteng sebuah tas berwarna cokelat ditemani dengan Nayla yang kini berjalan disampingnya. "Mily sini biar kubantu.." seru Nayla.
"Haha gak perlu.. Ini ringan kok.."
"Kenapa ya kok perusahaan memilih vila disini? Mana jalannya gak bisa dilalui kendaraan.. Kita juga harus jalan kaki menanjak.." gerutu Nayla.
"Setuju.. Siapa ya kira-kira yang pilih tempat ini? Benar-benar niat ngerjain orang banget.." timpal Mily yang juga tak tahan untuk ikut menggerutu.
"Aku yang memilihnya..." seru Mike cepat sembari meraih tas cokelat yang dijinjing Mily.
"Mike.. Kamu gak survey tempatnya dulu atau gimana?"
"Aku survey satu persatu.. Dan semua anggota tim tidak ada yang memilih tempat ini.. Jadi aku putuskan untuk memilih vila ini.."
"Ha?"
"Kenapa? Jangan hanya berfikir bahwa jalanannya menanjak dan tidak bisa naik kendaraan.. Kalian harus berfikir bahwa ditempat yang lebih tinggi, pemandangan akan terasa lebih indah.."
"Memang ada pengaruhnya?"
Mike mendekatkan bibirnya ke kuping Mily dan berbisik pelan. "Kalau sampai ucapan ku barusan bohong, kamu harus mencium pipi ku.." candanya sembari berjalan meninggalkan kedua gadis itu.
Kini sudah bukan rahasia lagi di perusahaan jika sang presdir dan Mily adalah teman masa kecil. Adanya Mily diperusahaan membuat sikap Mike cukup banyak berubah. Setidaknya tidak seperti dulu yang selalu berwajah dingin sampai-sampai beberapa karyawan akan memutar balik agar tak berpapasan dengannya.
"Hei kenapa dia terlihat berbeda sekali?" tanya dokter Herman pada Adit. Keduanya berjalan tepat dibelakang Mily dengan jarak yang tak terlalu jauh.
"Bos sedang jatuh cinta.." Adit asal jawab.
"Wah.. Yang benar? Dia berhasil kalau begitu?"
Adit tak menjawab. Pria itu tak ingin kehabisan tenaga hanya untuk bergosip dengan dokter Herman. Keringat didahi sudah banyak bercucuran dan sudah disekanya berkali-kali.
"Adit.. Kamu kenapa pakai jaket segala?" tanya dokter Herman yang melihat Adit seperti sangat kelelahan dengan wajah yang mulai memerah.
"Saya salah kostum, dok.."
"Salah kostum?" Dokter Herman bingung mendengar jawaban Adit yang tak jelas.
"Aku.. Aku pikir tempat yang berada diketinggian itu dingin.. Tapi ternyata aku salah.. Disini cukup panas.." jelas Adit sedikit terbata karena pria itu mencoba mengatur nafasnya.
"Hahahaha... Adit.. Saya pikir kamu kelewat pintar.." ucap dokter Herman yang tak tahan untuk tertawa.
"Maksudnya?" Kini giliran Adit yang tak mengerti maksud ucapan dokter Herman.
"Sebenarnya kamu gak salah, dataran tinggi memang lebih sejuk.. Tapi kalau kamu membawa barang sebanyak ini sendirian ditambah berjalan kaki di jalanan yang menanjak, sudah pasti kamu kepanasan.."
"Kalau bisa juga saya gak mau bawa barang sebanyak ini.. Tapi kalau saya tolak bisa-bisa gaji bulan ini lenyap.."
"Hahaha.. Saya sudah berumur jadi tidak bisa ikut membantumu membawa barang-barang ini.. Maaf ya, Dit... Kamu semangat terus ya..." seru dokter Herman dengan bercanda.
" Dok, umur tidak bisa menghalangi persahabatan kita.. Jadi tolong bantu bawakan sedikittttt sajaaaa.. Ya.. Ya.. Ya..." Adit memasang wajah memelas.
"Baiklah-baiklah.. Kamu tahu kan saya ini dokter yang baik hati..." jawab dokter Herman. "Aku bawa yang ini saja, lebih kecil pasti ringan.." lanjutnya.
Adit membiarkan dokter Herman mengambil tas kecil berwarna biru tua dan tak lama dirinya tertawa keras. Apalagi saat mendengar dokter Herman menggerutu. "Tas ini kecil tapi kok berat sekali?"
"Ini apa isinya?"
"Itu tas milik bos.. Saya juga gak tahu apa isinya.. Mungkin pekerjaan.."
"Yang benar saja, kita datang ketempat ini dan dia masih harus mengurus pekerjaan?"
"Bos memang gitu orangnya.."
**
Mike sudah sampai di vila terlebih dahulu lalu diikuti Mily dan Nayla juga karyawan lain. Banyak decak kagum yang terlontar dari bibir karyawan-karyawan melihat pemandangan yang disuguhkan vila itu.
Bagaimana tidak? Vila bertingkat dua berwarna cokelat muda bercampur cokelat tua itu benar-benar memanjakan mata para penyewanya dengan pemandangan yang luar biasa cantik.
Danau buatan berwarna hijau yang terlihat dari Vila sampai bentuk pepohonan yang beraneka ragam disertai kabut tipis yang menutupinya. Belum lagi bangunan Vila yang terkesan cukup mewah namun bergaya klasik.
Saat memasuki pintu masuk vila, mata kita akan dimanjakan dengan dua kolam ikan yang berada di kanan dan kiri sepanjang lorong. Tanaman bunga mawar yang merambat lebat di sebuah tangga. Dan, dekorasi taman bagian tengah yang membuat takjub.
Bangunan vila terbagi menjadi dua sisi gedung dengan satu lorong yang dipenuhi tanaman anggur menjadi akses penghubung kedua bangunan. Dan sekarang Mily sedang melewati lorong itu seorang diri sementara Nayla masih berjalan-jalan disekitar taman bersama karyawan yang lain.
Mike berjalan pelan dibelakang Mily dan menepuk pundak kiri Mily membuat gadis itu menoleh ke arah kiri tapi tak ada siapapun disana. Saat menoleh kembali, tampak Mike sudah berdiri dihadapannya sembari tersenyum.
"Aku tidak bohong bukan?" tanya Mike.
Mily tak menjawab dan justru bersikap ketus. Gadis itu pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Mike barusan. "Mily, apa kamu marah? Sama aku? Karena apa?" tanya Mike beruntun sembari berjalan cepat mengejar gadis pujaannya.
Mily masih tak menghiraukannya. "Tunggu sebentar.." Mike memegang lengan Mily membuat langkah gadis itu terhenti. "Bagaimana dengan jawabanmu tentang waktu itu?"
"Jawaban apa?" Mily balik bertanya.
"Jawaban tentang itu.."
"Itu? Itu apa?"
"Tentang menikah dengan ku.. Apa jawabanmu?"
"Oh.. Masih aku pikirkan.." jawab Mily enteng.
Didalam hati Mike sudah mulai gemas dengan ucapan Mily barusan, tapi ditahannya. Sebisa mungkin pria itu menjaga, tak ingin ada pertengkaran sekecil apa pun di antara mereka berdua karena bisa saja berdampak pada keputusan Mily.
"Ehmm.. sekarang sudah seberapa banyak kamu memikirkannya?" tanya Mike ragu-ragu.
"Masih baru seratus dua puluh lima kali.."
"Aah?? Kalau gitu untuk sampai ke seribu kali masih lama dong ya?" Mike tampak pasrah.
"Ehmm.." Mily mengangguk. "Tapi kalau kamu gak mau nunggu gak apa-apa.. Aku akan anggap gak pernah dengar apa-apa.." lanjut gadis itu membuat Mike semakin kelimpungan.
"Jangan... Jangan.. Aku akan menunggu.. Tapi kalau bisa.. Benar-benar kalau bisa.. Tolong dipercepat.." timpal Mike cepat.
"Aku gak janji ya.. Karena bisa saja aku memikirkannya jadi lebih lama.." jawab Mily sembari berlalu pergi meninggalkan Mike.
Gadis itu tersenyum kecil merasa bahwa dirinya telah berhasil membuat Mike mati kutu. Karena biasanya dirinya lah yang berada diposisi itu.