
Reihan mengangkat tangan kirinya untuk menangkis pukulan yang ditujukan pada dirinya secara membabi buta. Saat Reihan nampak mulai sedikit kewalahan karena dikeroyok oleh tiga orang sekaligus, Priska berlari dari kejauhan sembari membawa dua buah botol kaca dan mengayunkannya dengan sekuat tenaga ke arah kepala dua orang preman secara berbarengan.
Untuk sementara Reihan terlihat dapat bernafas lega dan langsung membalikkan situasi dengan sibuk menendang dan menghajar ketiga preman yang tadi mengeroyoknya sekaligus. “Thanks..” serunya.
“Sama-sama..” balas Priska.
Saat Reihan dan Priska masih terlihat mengambil nafas, di sudut lain Mike tampak mulai kehabisan tenaga. Belum lagi luka yang berada di tubuhnya membuat dirinya tak leluasa bergerak. Beberapa kali tinju Mike tak mengenai sasaran dan kedua preman itu berhasil menghindar dengan baik.
Mike terlihat beberapa kali menggelengkan kepalanya yang mulai terasa pusing dan pandangan kedua matanya mulai kabur. Saat itu, kedua preman memanfaatkan kelengahan Mike dan berniat memukul kepala Mike dengan tongkat besi dari belakang.
“Mike awas belakang..”teriak Priska histeris.
Reihan dengan cepat langsung berlari menghampiri Mike dan memeluknya. Melindung laki-laki yang disukai oleh gadis yang dicintainya. Membuat tongkat besi itu mendarat dengan mulus tepat dikepala bagian belakang Reihan.
Tak butuh waktu lama, darah segar langsung mengalir dengan deras.
“Reihan......” teriak Mily keras saat gadis itu baru tiba disana bersama dengan Ana dan Matthew dan langsung disuguhi pemandangan yang memilukan.
Gadis itu langsung berlari menghampiri Reihan yang tak bergerak sama sekali sedang ditopang oleh Mike yang masih terlihat terkejut dan tak percaya jika Reihan melindunginya.
“Reihan.. Reihan.. bangun Reihan..” panggil Mily.
“Tuan Muda..” panggil Matthew.
Tak ada sahutan apa pun. “Reihan ini aku.. ayo buka mata kamu..” seru Mily dengan suara tersendat. Air mata sudah mengalir deras dikedua pipinya.
Matthew tak sanggup melanjutkan atau membayangkan hal buruk yang sudah membayangi pikirannya dan memilih menyingkir dari sana. Pria paruh baya itu melepas jas hitamnya dan membuangnya begitu saja dilantai. Dengan mata tajamnya, terus menyoroti dua orang preman yang terlihat gemetaran melihat Matthew yang kini datang menghampiri mereka sambil menggulung kedua lengan kemeja putihnya.
“Tu-tuan.. kami sama sekali tidak sengaja..”
“Tuan kami tidak tahu jika pria itu adalah putra bos..”
Matthew sama sekali tak mendengarkan ucapan kedua preman yang tengah terseok berjalan mundur. Pria paruh baya itu membungkukkan tubuhnya dan memungut dua buah tongkat kayu yang berada di lantai.
Tatapan tajam Matthew sudah membuat salah satu dari kedua preman itu terkencing-kencing. “Kalian pasti sudah mengetahui sedikit informasi tentang ku bukan?” seru Matthew sembari tersenyum kecil menyaksikan ketakutan kedua orang dihadapannya.
Matthew menundukkan kepala sebentar untuk melihat kedua tangannya. “Hari ini aku akan membuat kalian menyesalinya..”
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, Matthew mendaratkan pukulan bertubi-tubi pada kedua preman dihadapannya. Tak ada lagi suara teriak ketakutan yang menggema. Hanya ada suara tangisan Mily yang terus menerus memanggil-manggil nama Reihan.
“Kenapa kalian diam saja? Cepat bawa dia kerumah sakit.. dia masih hidup..” seru Alvin setelah memegang pergelangan tangan Reihan yang ternyata masih memiliki denyut nadi.
“Baiklah.. aku tunggu dimobil..” Priska langsung berlalu pergi sambil berlari sementara Mike dan Ana berusaha untuk memapah Reihan untuk bersandar di punggung Reihan. Mily hanya bisa terduduk lemas sambil melihat kedua tangannya yang sudah berlumuran darah.
“Mily kamu..” seru Mike yang tak lagi melanjutkan kalimatnya melihat gadis yang disukainya terlihat begitu terpukul dengan kejadian saat itu.
“Nona Mily biar dengan saya..” ucap Matthew.
“Baiklah..” Mike langsung bergegas pergi membantu Ana memegangi Reihan dari belakang.
“Paman.. Kenapa harus ada kejadian seperti ini lagi?” tanya Mily lirih.
Matthew memungut jas hitamnya dan merogoh sapu tangan dari dalam saku jas itu. “Ini...” Matthew menyodorkan sapu tangan itu pada Mily dan gadis itu menerimanya.
“Kenapa dia harus melakukan hal seperti itu lagi? Bukannya dia sudah cukup terluka dengan kejadian tempo dulu?”
“Saya juga tidak bisa menjawabnya karena saya bukanlah Tuan Muda.. saya tidak mengerti apa yang berada di pikirannya. Saya hanya tahu bahwa dia adalah orang yang menepati janji.. saat dia berjanji untuk melindungi seseorang, maka dia akan melakukannya..”
Perkataan Matthew barusan mengingatkannya pada ucapan Reihan saat dirumah sakit siang tadi. “Aku akan memastikan bahwa Mike akan baik-baik saja..” kalimat singkat itu kini terngiang begitu jelas ditelinganya.
“Ayo nona.. saya akan mengantar anda kerumah sakit..” Matthew mengulurkan tangannya dan membantu Mily berdiri.
Tubuhnya yang masih lemas membuatnya kehilangan keseimbangan dan nyaris terjatuh. “Apa nona bisa berjalan?” tanya Matthew ramah.
“Aku baik-baik saja paman..”
**
Sudah hampir empat jam Mike dan yang lainnya berada didepan ruang operasi.Tak kunjung ada kabar mengenai kondisi Reihan didalam sana. Beberapa perawat berjalan keluar masuk dengan terburu-buru namun sama sekali tak memberikan informasi apa-apa.
Sebentar, Mike menatap Mily yang tengah mengatupkan kedua tangannya seolah sedang berdoa masih dengan air mata yang bercucuran. Dirinya kini bisa mengerti perasaan Mily saat itu. Jika bukan karena Reihan yang menghadang tongkat itu, maka yang berada didalam ruang operasi adalah dirinya.
Didalam hati Mike bertanya-tanya. Mengapa dirinya, Mily dan Reihan memiliki jalinan takdir yang rumit seperti ini. Seolah tidak bisa ada ketenangan di antara mereka bertiga.
“Reihan pasti baik-baik saja..” seru Ana pelan sembari mengelus-elus punggung Mily yang sedari datang ke rumah sakit sama sekali tak berbicara apa pun.
Priska berbisik pelan di telinga suaminya. “Sepertinya kali ini Mily benar-benar terpukul..”
“Hmm.. ini sudah kedua kalinya..” jawab Alvin pelan.
Semua masih dengan pikirannya masing-masing saat papa Reihan datang sambil berlari dengan wajah panik. Mike yang melihatnya merasa kesal dan menghadang pria paruh baya itu. Tangan kanannya yang terluka diangkatnya dan “Brukkk..”Sebuah tinju mendarat di wajah papa Reihan sampai membuat pria paruh baya itu tersungkur.