
Hari sudah sore saat Mike berjalan menyusuri sebuah lorong besi berbentuk kotak berwarna coklat dengan rerimbunan tanaman yang menjulur lebat berbunga ungu.
Seorang pria tampak duduk dengan santainya sembari menyeruput teh panas yang masih mengepul. Tak ada orang lain disana, hanya pria paruh baya itu sendirian.
"Wah, ternyata bos besar SH group tahu cara bersantai juga.." seru Mike yang kini sudah berdiri dihadapan papa Reihan.
Mike menarik kursi kayu berwarna coklat dan duduk diatasnya. Matanya melihat-lihat sekeliling taman dan sosok Matthew sama sekali tak berada disana. Saat itu ditaman hanya ada mereka berdua.
Papa Reihan tersenyum melihat Mike yang kini sudah duduk dihadapannya. Pria paruh baya itu melirik jam tangannya. "Ternyata presdir BLC group adalah orang yang tepat waktu.."
"Tentu.. Dalam berbisnis ketepatan waktu itu penting.. Waktu yang terlewat sama dengan sebuah kerugian.." jawab Mike.
"Hahahahaha..Ini salah satu alasan kenapa SH group memilih untuk bekerja sama dengan BLC group..." papa Reihan tertawa lebar.
"Jika itu hanya salah satu alasan, lantas apa alasan lainnya?" tanya Mike tanpa basa-basi.
Papa Reihan tak langsung menjawab dan terbatuk kecil beberapa kali sebelum akhirnya menyodorkan sebuah foto pada Mike. Mike sedikit terkejut melihat foto Mily yang kini berada di atas meja kaca bundar itu. "Ini adalah alasan lainnya.." seru papa Reihan.
Mike berusaha tenang. Sejak awal Adit mengatakan bahwa bos besar SH group ingin bertemu dengannya di kediaman pribadi, dirinya sudah merasa ada yang 'tidak beres'.
"Ada apa dengan foto ini?" tanya Mike datar.
"Bukan fotonya, tapi gadis yang berada di dalam foto itu yang akan kita bahas sekarang.."
"Ada apa dengan gadis itu?" tanya Mike lagi.
"Bukankah gadis di foto itu adalah saudara angkat mu?"
Mike tersenyum menyeringai. "Lalu?"
"Saya dengar kalau bos BLC group sudah menyukai gadis ini sejak lama, bahkan sejak SMA.."
"Yang saya tahu juga penerus tahta SH group begitu tergila-gila dengan gadis ini.." timpal Mike cepat.
Laki-laki itu sedikit berhati-hati karena belum tahu kemana arah pembicaraan sore itu.
Kali ini giliran papa Reihan yang tersenyum menyeringai. "Kalau begitu mari kita bekerja sama.."
"Untuk?"
"Kamu pasti tahu saya tidak menyetujui hubungan Reihan dan gadis itu sejak awal.. sekarang Reihan sedang dirawat dirumah sakit dan saya akan memecat gadis itu dari swalayan.."
"Maksud anda.. Anda ingin memisahkan mereka dan anda ingin gadis itu bekerja di BLC group?"
"Saya akan koreksi ucapan mu barusan.. Saya tidak memisahkan mereka.. Sejak awal gadis itu tidak menyukai putraku.. Hubungan mereka berdua berdiri atas dasar rasa bersalah.. Jadi tindakan yang saya pilih tidak termasuk ke dalam 'memisahkan' hubungan mereka.. Saya sebagai seorang ayah hanya ingin berusaha agar perasaan anak saya tidak terluka.."
"Baiklah.. Saya paham maksud anda barusan.. Kapan anda akan memecatnya dari swalayan?" tanya Mike.
"Sekarang juga..."
"Sekarang?? Wah sepertinya anda begitu tidak menyukai calon menantu perempuan yang satu ini.." goda Mike.
Didalam hati, Mike merasa senang karena dirinya memiliki kesempatan untuk dekat dengan Mily lagi. Sekarang hanya tinggal memikirkan cara bagaimana bisa membuat Mily mau untuk bekerja diperusahaannya.
**
"Apa kamu gak bisa baca? Yang kamu pegang sekarang adalah surat pemecatan yang berarti kamu dipecat dari swalayan ini.."
"Ah?? A-apa yang salah bu?"
"Apa kamu lupa? Mentang-mentang kamu berpacaran dengan putra pemilik SH group kamu selalu meminta ijin cuti ini lah..cuti itu lah.. Kamu juga selalu pergi meninggalkan pekerjaan kamu sesuka hati.. sebelumnya kamu libur seenaknya tanpa memberitahu terlebih dahulu.."
"Ma-maaf bu.. Itu karena saya benar-benar ada urusan mendesak.. dan siang ini saya pergi karena menjenguk Reihan dirumah sakit.."
"Saya tidak menerima alasan apa pun.. Sekalipun kamu pacar dari putra pewaris SH group.. Kamu harus ingat, disini kamu tetaplah pegawai yang punya tugas dan kewajiban.. Pokoknya mulai besok kamu tidak perlu datang bekerja lagi.. Ini uang pesangon untuk kamu.." seru bu manajer sembari memberi Mily amplop berwarna coklat berisikan sejumlah uang.
Mily tak dapat berkata-kata, air mata yang sudah sedari tadi ingin meluncur ditahannya kuat-kuat. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan lesu keluar ruangan. Berjalan pelan dan menabrak seseorang dihadapannya.
"Nona.." seru Matthew terkejut sambil membalikkan tubuhnya dan melihat Mily yang baru saja menabrak punggungnya.
"Maaf Paman.." Mily meminta maaf.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Matthew yang melihat kesedihan diwajah gadis itu.
"A-aku gak apa-apa Paman.." Mily berbohong.
Mata Matthew melihat secarik kertas yang masih dipegang Mily dan gadis itu langsung menyembunyikannya dibelakang punggungnya, tak ingin Matthew melihatnya.
Matthew yang sadar bahwa gadis dihadapannya tak ingin membicarakan hal tersebut, tak bertanya apa pun lagi. "Baiklah.. Kalau begitu saya permisi.." seru Matthew sembari pergi meninggalkan Mily.
**
Mily menarik selimutnya tinggi-tinggi sampai menutupi wajahnya. Berkali-kali ponselnya bergetar tak dihiraukan. Tak lama sebuah ketukan mendarat di pintu kamarnya. "Sayang, Mama masuk ya.." seru mama Mily.
Wanita itu langsung membuka pintu kamar putrinya dan melihat Mily terbungkus selimut tebal. Mama Mily menggeleng-gelengkan kepala sembari tertawa kecil.
"Hei sayang, kalau seperti ini nanti kamu bisa kehabisan nafas.." ucap mama Mily sambil menarik selimut tebal yang menutupi wajah putrinya itu.
Mata wanita itu melihat wajah putrinya yang basah karena air mata. "Aduh kenapa kamu kok nangis gini? Kamu kan cuma dipecat.. Besok-besok kamu bisa dapat kerja lagi sayang.."
"Tapi Ma, aku udah ngerasa nyaman kerja disana.."
"Hhaha.. Atau kalau gak kamu mending kerja di perusahaan Mike aja.. nanti Mama bilang Mike.."
"Gak mau.. Pokoknya aku gak mau kerja disana.."
"Loh kenapa? Bukannya dulu kamu sampai berusaha mati-matian supaya bisa masuk ke perusahaan Mike?"
"Itu kan dulu, Ma.. Sekarang ya udah beda.."
"Beda? Kok bisa beda?" tanya mama Mily.
"Ya pokoknya udah beda.. Aku juga udah gak suka sama dia lagi.. Jadi lebih baik aku gak kerja disana.."
Mama Mily tersenyum. "Kamu udah gak suka Mike makanya gak mau kerja disana atau kalau kamu kerja disana maka kamu takut kalau-kalau kamu akan suka lagi dengan Mike?" goda mama Mily.
"Ma.. Jangan ngomong yang aneh-aneh.. Hari ini aku udah bilang sama Reihan kalau aku mau menikah sama dia.."
"Hari ini??" mama Mily nampak terkejut sedang Mily tak menyadari ada kesalahan dalam kalimatnya.