Little Rainbow

Little Rainbow
Seribu kali



Mily sudah siap akan pergi dari kantor untuk membagikan brosur seperti hari-hari sebelumnya. Namun hari itu ada yang berbeda. Kepala bagian tak ada di ruangannya. Dan di ruangan itu hanya ada dirinya sendiri.


"Mily, kamu kenapa masih disini? Kita semua disuruh kumpul di ruang rapat belakang.." seru Nayla yang datang menghampirinya sembari mengambil sebuah buku kecil diatas meja.


"Ahh pantes kok hari ini sepi banget.." Mily mengikuti Nayla berjalan ke ruang rapat yang letaknya berada di belakang ruang kepala bagian, disamping taman.


"Nah, ini adalah untuk pertama kalinya bagian promosi mendapat jatah untuk berjalan-jalan.. Kita semua harus memanfaatkan liburan kita dengan sebaik-baiknya.." seru bapak kepala bagian.


"Apa maksudnya kita liburan?" bisik Mily pada Nayla.


"Kita akan menginap di villa selama dua hari satu malam.."


"Hah? Kenapa mendadak?"


"Sama sekali gak mendadak.. Semua udah di rencanakan, tapi yang aku dengar waktu kemarin itu masalah jadwal acara belum selesai.."


Mily teringat dengan berkas yang diserahkan Adit pada Mike beberapa hari yang lalu. "Lalu kita akan pergi kemana?"


"Katanya ke puncak.."


**


Mily baru saja tiba dirumahnya saat hari sudah gelap. Raut wajah gadis itu terlihat kelelahan."Ma.. Pa.. Aku pulang..." seru Mily tak bertenaga.


Baru saja Mily menaruh sepatu flatnya di rak, dirinya menyadari ada sepasang sepatu lain yang bertengger disana.


"Mike.. Kamu bukannya lagi rapat? Kenapa ada disini?" tanya Mily yang heran melihat Mike sedang menata meja makan dirumahnya.


"Rapat ku sudah selesai dari jam empat.. Terus aku mampir kesini.. Apa gak boleh?"


"Bukan gitu.. Tapi aku baru aja pulang dari apartemen kamu.. Aku udah masakin kamu sup sapi.."


Mike tersenyum. "Kenapa kamu senyum?" tanya Mily.


"Bukannya kamu bilang barusan kamu masakin aku sup sapi?"


"Terus..?"


"Ya aku seneng aja.."


"Dasar aneh..." gumam Mily.


Didalam hati, Mily merasa senang karena Mike datang kerumahnya. Sudah beberapa hari ini Mily tak melihat Mike karena kesibukan pria itu.


Meski dibibir dirinya selalu menegaskan bahwa Reihan adalah calon suaminya, tapi hatinya tetap tak bisa berdusta. Matanya tak henti memperhatikan Mike yang tampak menggulung lengan kemeja berwarna biru muda sambil mengobrol dengan mamanya. Sesekali mama Mily dan Mike tampak tertawa kecil disela obrolan mereka.


"Sayang kamu panggil papa ya.. Bilang, makan malam sudah siap.." pinta mama Mily pada putrinya.


Baru saja Mily hendak ke kamar memanggil, papanya sudah keluar dari kamar. "Pa.. Makan malam udah siap..." serunya.


"Iya sayang..."


"Pa.. Mike ada disini loh.." seru mama Mily girang.


Sang papa yang setelah pulang kerja tadi langsung istirahat di kamar belum mengetahui kalau anak angkatnya sedang berada dirumah. "Hei Mike.. Kamu datang kapan?" tanya papa Mily.


"Baru Om.. Om kenapa? Gak enak badan?" tanya Mike yang melihat raut wajah lesu papa angkatnya.


"Om sih gak apa-apa kayaknya kecapekan aja.. Belakangan banyak kerjaan sampai harus lembur terus.."


"Apa kerjaannya Om bawa pulang kerumah?"


"Iyah.. Sebagian Om kerjakan dirumah.."


"Kalau begitu biar Mike bantu.. Kebetulan kerjaan ku lagi kosong.." seru Mike.


"Apa tidak apa-apa? Kamu juga pasti capek.."


"Tenang, Om. Aku masih muda jadi masih punya banyak tenaga..." canda Mike.


"Sudah-sudah jangan bicarakan pekerjaan di meja makan.. Nanti semua lauk disini pada bubar jalan.." timpal mama Mily sambil tertawa kecil.


Wanita itu merasa senang bahwa makan malam hari itu tidak diwarnai keributan seperti makan malam sebelum-sebelumnya.


**


"Keluar.. Jangan.. Keluar... Jangan.. Keluar.." gumam Mily sembari menghitung kelima jari tangannya.


Kaki gadis itu sudah mulai menyentuh lantai. Berjalan pelan ke arah pintu kamar dan membukanya pelan. Mata lentiknya mengintip ke arah dimana Mike sedang tampak sibuk dengan tumpukan berkas yang berada di sekitarnya.


"Keluarlah.. Aku tidak akan memangsamu.." seru Mike tiba-tiba. Mily sedikit terhentak kaget karena rupanya Mike tahu bahwa dirinya sedang mengintip.


"Temani aku sebentar.." lanjut Mike lagi.


Mily dengan rasa canggung berjalan ke arah Mike yang sama sekali tak mempedulikannya dan masih sibuk dengan pekerjaannya. "Papa mana?"


"Sudah tidur dari tadi.."


"Ini semua kamu yang akan kerjakan?"


"Ehm..."


"Apa kamu sanggup?"


"Kenapa? Apa kamu khawatir aku akan sakit kalau mengerjakan ini semua atau bagaimana?"


"Bu-bukan gitu..." Mily semakin salah tingkah, entah apa yang membuatnya seperti itu.


"Duduklah disini.. Aku pusing melihat mu terus berdiri disana.." seru Mike sambil mengambil setumpuk berkas dan memindahkannya ke atas meja sehingga Mily dapat duduk disebelah kirinya.


Tubuhnya dengan begitu saja mengikuti perintah Mike. Gadis itu duduk sangat dekat dengan Mike bahkan sedikit menempel karena banyaknya berkas-berkas disana.


Sesudah duduk, Mily tak tahu harus berkata apa. Untuk sesaat tidak ada pembicaraan apa pun. Suara jam di dinding sampai terdengar nyaring.


"Kamu kenapa?" tanya Mike.


"Aku? Aku kenapa?" Mily balik bertanya karena tak mengerti dengan pertanyaan Mike barusan.


"Suara jantungmu terdengar jelas.. Karena disini hanya ada kita berdua.. Kamu gugup atau bagaimana?" Mike membuka obrolan yang membuat Mily semakin canggung.


"Ka-kamu jangan ngomong yang aneh-aneh.. Kenapa juga aku gugup.." sikap canggung Mily semakin terasa oleh Mike.


"Baiklah.. Kalau begitu..." Mike tak menyelesaikan kalimatnya. Pria itu memalingkan wajahnya ke arah kiri. Sangat dekat dengan wajah Mily sampai hidung keduanya nyaris menempel.


Mily merasa wajahnya seperti terbakar dan ruangan itu terasa sangat panas. Detak jantungnya kini benar-benar cepat. Nafasnya sedikit memburu. Mily memejamkan matanya.


Melihat itu, Mike tersenyum kecil dan membuat Mily kembali membuka matanya. "Sebenarnya apa yang kamu pikirkan sampai menutup mata seperti tadi?" goda Mike.


"Kamu..." Mily terlihat sedikit marah. Saat gadis itu hendak berdiri, Mike meraih tangan kanannya dan membuat gadis itu jatuh terduduk disebelahnya. Dengan cepat Mike mencium bibir Mily.


"Apa ini yang kamu pikirkan?" tanya Mike sembari tersenyum kecil.


"Aku gak mau ngomong lagi sama kamu.. Orang nyebelin..." gerutu Mily yang masih tetap duduk disana.


"Aku dengar kamu dan Reihan sudah putus.. Kalau begitu ayo kita menikah.."


"Mike apa sekarang kamu lagi ngelamar aku atau gimana?" Mily balik bertanya.


"Ehmm anggap saja begitu.."


"Didepan semua tumpukan kertas ini?"


Mike tertawa sebentar lalu raut wajahnya berubah serius. "Mily.. Kita berdua sudah tumbuh bersama sejak kecil.. Kamu juga tahu kalau aku sudah tidak mempunyai orang tua sejak umur delapan tahun.. Aku tahu kamu pasti akan mempertimbangkan latar belakang ku.. Aku minta maaf karena aku juga sudah sering menyakiti kamu.. Tapi.. Aku benar-benar menyukaimu.."


"Sejak kapan?" tanya Mily sambil melemparkan sebuah senyum. Kedua tangannya melingkar di leher Mike dengan manja.


"Ehmm aku lupa.."


"Ya udah kalau kamu lupa.. Aku akan anggap gak dengar apa pun malam ini.." timpal Mily sembari melepas lingkaran tangannya di leher Mike dan mendorong tubuh pria itu menjauh sementara dirinya bangkit dari tempat duduk.


"Sejak pertemuan pertama kita.." seru Mike cepat.


Mily tertawa kecil merasa seperti dirinya sudah memenangkan pertarungan. "Baiklah aku akan memikirkannya.."


"Aku sudah memberitahumu tapi kenapa kamu masih akan memikirkannya..?"


"Karena kamu yang melamarku maka aku harus memikirkannya sebanyak seribu kali.." jawab Mily sembari tersenyum manis dan meninggalkan Mike yang hanya bisa pasrah menantikan kapan gadis itu akan memberinya jawaban.