
Sekitar jam tujuh malam suasana di swalayan masih ramai. Reihan yang baru saja kembali sehabis mengurus pesanan pelanggan mencari Mily tapi sama sekali tak melihat batang hidung gadis itu. “Hei, apa kamu lihat Mily?” tanya Reihan ke salah seorang wanita yang kebetulan wanita itu adalah wanita yang meminta Mily untuk mengantar barang pesanan tadi.
“Oh aku tadi memintanya mengirim barang ke pelanggan tapi sampai sekarang belum kembali kesini lagi..” jawab wanita itu.
Mendengar itu Reihan mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mencoba menghubungi Mily namun tak diangkat. Perasaannya merasa sedikit khawatir. “Boleh minta alamat yang tadi kamu kasih ke Mily?” tanya Reihan lagi.
Wanita itu memberi alamat yang sama seperti yang diberikan pada Mily tadi sore. Secepat Kilat Reihan langsung bergegas menuju alamat yang dituju dan yang didapat adalah pintu rumah yang terbuka lebar. Reihan masuk kedalam rumah dan terlihat beling berserakan di lantai rumah itu. Matanya menyisir keseluruhan dan dilihatnya sebercak noda darah diatas lantai dekat pintu. Membuat laki-laki itu semakin cemas.
Reihan melihat seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahunan menghampirinya. “Kalau anda mencari pemilik rumah, mereka sekarang ada dirumah sakit,” seru pria itu.
“Rumah sakit?” Reihan terkejut.
“Sore tadi pemilik rumah ini hampir memperkosa seorang gadis, beruntung ada seorang laki-laki yang datang dan menghajar ketiga orang penghuni rumah ini.. jadi sekarang si pemilik rumah ada dirumah sakit..”
Reihan tak bertanya apa-apa lagi dan langsung bergegas ke rumah Mily. Sesampai dirumah gadis itu, Reihan menggedor-gedor pintu rumah Mily dengan tak sabar. “Sebentar.. sebentar,” sahut mama Mily dari dalam rumah.
Setelah pintu dibuka, mama Mily kaget melihat Reihan yang banjir keringat dan masih mengatur nafasnya yang memburu. “Reihan? Ada apa?” tanya mama Mily kaget.
“Maaf Tante, apa Mily ada dirumah?” tanya Reihan. Nafas laki-laki itu masih tersendat sehabis berlari.
“Mily? Dia malam ini menginap dirumah temannya.”
“Boleh saya minta alamat rumah temannya, Tante?”
Mama Mily masuk kedalam rumah dan tak lama kembali membawa kertas kecil berisi alamat tempat tinggal Mike. Tertulis jelas nama Apartemen Indah Garden beserta alamat lengkap dan nomor unit apartemennya.
“Ini alamatnya..” mama Mily memberikan kertas kecil berisi alamat itu pada Reihan. “Terima kasih Tante,” seru Reihan dan laki-laki itu langsung melesat pergi.
Mama Mily baru menutup pintu rumah saat suaminya berjalan ke arahnya sambil bertanya, “Siapa Ma orang tadi?” tanya papa Mily yang baru selesai mandi.
“Reihan.. dia datang mencari Mily..” mama Mily menjelaskan pada suaminya.
“Ma, apa Mily dan Mike sudah berbaikan?” tanya papa Mily lagi.
“Mana Mama tahu.. Tadi Mike menelepon hanya mengatakan kalau malam ini Mily akan menginap ditempatnya.”
“Hanya berdua???” papa Mily tampak terkejut mendengar ucapan istrinya.
“Mama harap sih hanya berdua.. Mereka jadi bisa saling berbicara.. mereka sudah lama kan Pa tidak mengobrol... Jadi biarkan saja. Toh hanya satu malam ini..”
“Baiklah.. hanya untuk sekali ini. Lain kali kalau Mike berani membawa Mily menginap ditempatnya harus meminta ijin Papa dulu ya Ma..”
“Iya.. iya Mama mengerti..”
**
Mike berada dikamar mandi. Laki-laki itu membuka kemejanya, memandangi cermin didepannya. Terlihat sebuah goresan dengan panjang kurang lebih sepuluh senti menganga di belakang bahu kanannya. Tangan kanannya mengepal dan rahangnya mengeras.
Beruntung hari ini dirinya mengikuti Mily, jika tidak hal yang sangat buruk akan menimpa gadis itu. Untuk memikirkannya saja Mike bergidik ngeri.
Setelah berganti pakaian, Mike masuk ke kamarnya sembari membawa telur rebus yang masih hangat. Ruangan itu gelap gulita. Samar, satu sosok tengah meringkuk di samping tempat tidur. Mike menyalakan lampu kamarnya. “Tolong matikan..” seru Mily sembari menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.
Mike mengikuti keinginan Mily dan mematikan lampu kamarnya. Ruangan itu kembali gelap gulita. Mike berjalan perlahan menghampiri Mily dan duduk tepat di sebelah gadis itu. Laki-laki itu bisa mendengar isak tangis Mily. “Ini,” Mike menyodorkan telur rebus hangat yang dibawanya.
“Aku belum lapar..” jawab Mily pelan.
Mike tersenyum kecil mendengar jawaban Mily. “Ini untuk mengompres pipi mu agar bengkaknya berkurang..”
“O-oh..” Mily mengambil telur hangat itu dari tangan Mike dan menaruhnya dipipi.
“Mike..” seru Mily lirih.
“Kamu kenapa ada disana?” tanya Mily penasaran. Dengan samar gadis itu bisa melihat kalau saat itu Mike juga sedang menatap dirinya.
“Entahlah.. aku juga gak tahu kenapa aku bisa sampai ada disana..” jawab Mike. Laki-laki itu tersenyum tipis karena menyadari bahwa sebenarnya perasaannya untuk Mily masih tetap sama seperti dulu.
“Ah iya aku sudah menelepon Tante. Aku bilang malam ini kamu akan menginap disini..” jelas Mike.
Mily mengernyitkan keningnya. “Terus Mama ku bilang apa?”
“Gak bilang apa-apa.. Tante hanya bilang kamu boleh menginap disini selama beberapa hari kedepan..”
“Kamu gak cerita apa-apa kan?” Mily khawatir.
“Gak...”
“Mama ku sama sekali gak nanya alasan aku menginap ditempat kamu?”
“Gak..”
“Kenapa Mama bisa mengijinkan putri semata wayangnya begitu saja menginap di rumah laki-laki?” tanya Mily lagi.
“Kalau kamu gak mau menginap disini, ayo bangun aku antar kamu ke rumah Ana..” timpal Mike dengan nada sedikit kesal.
“Aku cuma bercanda.. Kenapa kamu serius sekali sih..” protes Mily.
Setelah sekian lama, akhirnya gadis itu bisa duduk berdampingan dengan Mike bahkan laki-laki itu sudah mau mengobrol dengannya.
“Apa kamu sudah merasa jauh lebih baik?” tanya Mike sembari menatap Mily, dengan samar laki-laki itu bisa melihat semburat senyum kecil terpancar di wajah gadis yang duduk disampingnya.
“Ehmm..”
“Kalau begitu ayo kita makan malam.. Aku sudah lapar..” Mike bangun dan berjalan ke arah saklar lampu. Baru saja lampu kamar menyala, Mily langsung menubruk Mike dan memeluk laki-laki itu dari belakang.
“Kamu sedang apa?” tanya Mike lembut. Mike menunduk melihat kedua lengan Mily yang melingkar diperutnya..
“Biarkan seperti ini sebentar saja..” pinta Mily. Mike tak keberatan Mily memeluk dirinya. “Aku takut kalau ini cuma mimpi dan saat bangun tidur besok pagi kita berdua menjadi orang asing lagi..” ucap Mily pelan.
Mike termenung sesaat mendengar ketakutan Mily barusan. “Ini bukan mimpi.. jadi sekarang lepaskan pelukan kamu.. kita makan malam dulu, nanti kita bisa bicara lagi..” Mike berkata dengan lembut, nada bicara yang sama seperti sepuluh tahun lalu.
Mily menatap Mike dalam-dalam. Apa mungkin yang dikatakan Priska itu benar adanya? Tentang sikap dingin Mike yang hanya demi melindungi kenyataan tentang perasaannya sendiri.
Ponsel Mily bergetar membuyarkan suasana diantara mereka berdua. Nama ‘Reihan’ bertengger dilayar. “Halo.. apa kamu baik-baik saja? Aku ada didepan taman Apartemen Indah Garden,” ucap Reihan saat Mily pada akhirnya mengangkat teleponnya.
“Ha??? Kamu kok bisa ada disini?” seru Mily membuat Mike mengerutkan kening. Mike berjalan ke arah jendela kamarnya dan menyingkap gorden berwarna coklat muda itu. Tampaklah Reihan sedang berdiri di taman.
“Kamu pergi temui dia sebentar..” ucap Mike.
Setelah mendapat ijin dari laki-laki itu, Mily langsung bergegas keluar menemui Reihan. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Reihan sembari menatap sekujur tubuh Mily dari atas sampai bawah memastikan bahwa gadis itu baik-baik saja.
“Aku gak apa-apa..”
“Pipi kamu kenapa?” tanya Reihan. Raut wajah laki-laki itu seketika berubah melihat pipi kanan Mily yang terlihat agak bengkak dan kemerahan, seperti habis di tampar dengan keras.
“Haha.. ini aku jatuh lalu terbentur tembok..” jawab Mily. Reihan tahu gadis dihadapannya tengah berbohong.
“Syukurlah kalau kamu baik-baik saja... Oh iya kalau kamu ada perlu sesuatu kamu bisa menghubungi aku.. Kapan pun..” Reihan memegang tangan Mily, sedang gadis itu mengangguk mengerti.
“Ya sudah aku pulang dulu.. Kamu istirahat..” Reihan melepas pegangan tangannya dan berlalu pergi dari sana sementara Mike tampak mengawasi dari balik jendela kamar apartemennya.