Little Rainbow

Little Rainbow
Reihan datang menyapa



Sudah lima hari sejak kejadian buruk yang menimpa Mily, kini gadis itu tampak tengah sibuk dengan pekerjaannya menata barang di rak. Berhenti sejenak gadis itu memijit-mijit pelan kedua bahunya yang terasa pegal, sampai seseorang menempelkan sebuah eskrim stroberi di pipi kanannya dan membuat gadis itu terkejut. “Eskrim stroberi??!” pekik Mily girang melihat bungkusan kecil berwarna merah muda.


Tampaklah wujud Reihan yang kini sudah berdiri dihadapannya sembari melemparkan senyum pada gadis itu. “Makasih Reihan..” ucap Mily sembari membuka bungkus eskrim itu dan langsung memakannya perlahan.


“Kenapa kamu suka sekali makan makanan manis seperti eskrim stroberi? Padahal kamu sudah manis loh..” goda Reihan membuat wajah Mily sedikit memerah.


“Apaan sih kamu..” Mily memukul pelan bahu laki-laki itu dengan senyum lebar di wajahnya.


Reihan sudah bisa merasa lega melihat Mily bisa tersenyum manis seperti itu dihadapannya. “Eh itu tangan kamu kenapa?” tanya Mily saat melihat luka lecet di bagian buku jemari Reihan dan baru saja Mily akan menyentuhnya, laki-laki itu langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya dibalik punggung.


Laki-laki itu teringat kejadian semalam saat dirinya meluapkan amarahnya. Beberapa hari sebelumnya Reihan sudah menceritakan seluruh kejadian yang menimpa Mily pada Matthew, sekertaris papanya. Dan Matthew yang juga ikut emosi mendengarnya setuju untuk membantu anak bosnya mencari tahu rumah sakit mana yang merawat ketiga orang tak bermoral itu.


Semalam Matthew mendatangi kontrakannya dan memberitahu kalau ketiga orang itu sudah keluar dari rumah sakit sehari yang lalu. “Baiklah, malam ini kita harus menyapa mereka..” seru Reihan sembari mengepalkan tinjunya.


Reihan dan Matthew bergegas pergi menuju rumah biru yang sekarang sudah berada dihadapan keduanya. Pintu rumah itu tampak terbuka lebar. Suara tawa perempuan terdengar samar-samar dari tempat mereka berdiri sekarang. “Usahakan untuk tidak membunuh mereka..” Matthew mengingatkan Reihan. Pria itu tahu betul sifat anak majikannya.


“Wuah sedang ada pesta seperti ini kenapa kalian tidak mengundangku?” tanya Reihan yang kini sudah berdiri di pintu rumah orang yang diincarnya. Sementara Matthew berdiri dibelakang Reihan dan mengawasi gerak-gerik kelima orang laki-laki dan tiga orang perempuan yang berada disana. Matthew juga harus memastikan kalau anak majikannya akan baik-baik saja setelah urusan dirumah itu selesai.


Bau alkohol tampak menyengat menyelimuti ruangan itu. “Apa kau mengenalnya?” tanya seorang wanita berbaju merah tua menyala pada laki-laki disampingnya yang sedang memegang botol beling berisi minuman keras. Laki-laki itu berjalan kearah Reihan dengan oleng. Laki-laki berkepala pelontos dengan wajahnya yang masih memar tampak duduk tenang sembari mengunyah kuaci.


Sekilas Reihan sudah tahu dari lima laki-laki disana ada tiga orang yang wajahnya masih berantakan. “Kamu siapa?” tanya laki-laki mabuk itu yang kini sudah berdiri sangat dekat dengan dirinya. Bau minuman keras menyembur dari mulutnya. Wajah laki-laki itu terlihat ‘baik-baik saja.’


“Auh.. kamu minum berapa botol sampai bau begini?” ucap Reihan basa-basi.


“Kenapa belakangan ini rumah kita sering kedatangan orang tak dikenal?” seru seorang laki-laki dengan tato bergambar ular diperutnya yang terlihat jelas karena laki-laki itu bertelanjang dada.


Reihan tersenyum menyeringai dan menghampiri laki-laki yang baru saja berbicara. Reihan langsung mendaratkan tinjunya ke wajah laki-laki bertato ular tersebut. Ketiga perempuan yang berada disana langsung panik dan bergegas akan keluar sembari berteriak namun Matthew menghadang mereka. Pria itu menutup pintu rumah dan mencabut kuncinya. “Diam disana kalau kalian tidak ingin terluka..” Matthew menyuruh ketiga perempuan itu untuk berdiri di sudut ruangan sementara dirinya mengawasi Reihan yang sedang memberi pelajaran pada ketiga laki-laki disana.


Matthew menyeret kedua laki-laki yang sudah mabuk berat ke tempat ketiga perempuan itu berkumpul. “Pegangi mereka berdua,” ucap Matthew dingin. Pria itu hanya ingin menyelamatkan dua orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian waktu itu agar tak ikut dipukuli Reihan.


Dalam waktu sekejap ketiga orang itu sudah tak berdaya. Salah seorang dari mereka yang sudah pingsan bahkan masih dihajar Reihan dengan membabi buta. “Hentikan, kau bisa membunuhnya kalau terus menghajarnya seperti itu..” Matthew memegangi tangan Reihan. Sekilas pria itu melihat wajah Reihan yang merah membara karena marah.


Tatapan Reihan beralih ke si kepala pelontos yang tergeletak di lantai. Baru saja sadar dari pingsannya saat Reihan datang dan menarik kerah bajunya. Mendaratkan tinjunya tiga kali diwajahnya yang lebar. Laki-laki itu dengan brutal menarik tangan kanan si kepala pelontos ke belakang sampai terdengar suara ‘krek’ dan laki-laki yang sudah tidak berdaya itu menjerit kesakitan.


Baru saja Reihan menutup mulutnya, bau pesing tercium menyengat. “Kau mengompol??!” teriak Reihan sembari tertawa. Dirinya senang karena sudah berhasil memberi mereka semua pelajaran.


“Tuan, ini sudah sangat larut. Lebih baik anda pulang dan beristirahat.. Anda sudah cukup memberi mereka semua pelajaran..” Matthew mengingatkan.


“Baiklah.. antar aku pulang Paman...” Reihan berjalan keluar dari rumah itu dengan senyum lebar diwajahnya.


**


Mily masih memakan eskrimnya yang kini hanya tersisa separuhnya sedang Reihan tampak membereskan barang di rak menggantikan gadis cantik itu.


“Mil, sepulang kerja malam ini apa kamu punya waktu?” tanya Reihan sembari menatap wajah gadis itu. Laki-laki itu tersenyum melihat noda eskrim menempel di sudut bibir kanan Mily dan mengusapnya pelan dengan ibu jarinya. “Apa segitu enaknya eskrim itu sampai kamu makan belepotan gini?” tanya Reihan.


“Hahaha maaf.. tapi eskrim ini memang enak..” jawab Mily yang masih menyuap eskrim kedalam mulutnya. “Oh iya kamu memang mau mengajak aku kemana?” tanya Miy sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Aku mau minta tolong kamu buat traktir aku makan.. aku sudah kehabisan uang..” ucap Reihan memasang wajah memelas. Memang benar uang di dompetnya hasil gajian kemarin sudah habis dipakai untuk membantu kakek tua pemilik toko kelontong membeli obat istrinya yang sakit.


“Haaa??! Sudah habis? Bukannya kita baru gajian dua hari yang lalu? Memang uangnya kamu pake untuk apa?” tanya Mily tak percaya.


“Aku juga gak tahu kenapa uang ku bisa habis gitu aja.. Makanya kamu bantu aku ya.. Cuma sampai gajian bulan depan..” Rengek Reihan.


“Baiklah-baiklah..Ini semua karena kamu sering memberi aku eskrim,” jawab Mily sambil mengacungkan bungkus eskrim yang sekarang sudah kosong tak berisi.


“Lalu malam ini kamu akan mentraktirku makan dimana?” tanya Reihan penasaran.


“Lihat saja nanti,” timpal Mily sembari tertawa kecil.


Sepasang mata mengawasi kedua orang yang tengah asyik mengobrol itu. “Tuan kenapa anda berdiri disini? Anda sudah harus kembali untuk menghadiri rapat..” tegur Adit yang baru saja datang pada atasannya.


“Aku tahu...” jawab Mike dingin.