Little Rainbow

Little Rainbow
Sorot mata yang sama



Mily berjalan pelan memasuki lobi kecil didepan ruang kerja Mike. Padahal pagi itu sosok laki-laki yang sedang dicari olehnya belum tiba. Mily melihat sebuah tanaman hias yang berukuran sama tinggi dengannya berada disudut lobi yang kebetulan menghadap ke ruang kerja Mike dan gadis itu berdiri didekatnya.


Diam-diam Mily menepis pelan daun dari tanaman itu dan mengintip ke arah ruang kerja Mike. "Apa dia belum datang?" gumamnya pelan.


Sedang Mike baru saja keluar dari lift seorang diri tanpa didampingi Adit, sekertarisnya. Laki-laki itu melihat Mily yang bertingkah sedikit aneh dan menghampirinya pelan tanpa membuat suara langkah kaki.


Mike mengikuti Mily yang kini tengah menjulurkan lehernya kedepan mengintip ruang kerjanya. Sampai-sampai kepala keduanya berdiri sejajar. "Apa yang sedang kamu lakukan?" bisik Mike di telinga Mily. Membuat gadis itu terkejut setengah mati dan membuatnya kehilangan keseimbangan, nyaris terjatuh.


Mike dengan cepat menangkap bahu Mily yang sedikit terhuyung kebelakang dan nyaris saja kepala gadis itu membentur dinding kaca tebal.


"Kenapa kamu disini?" tanya Mily bingung.


"Hah? Aku disini ya karena ini perusahaan ku.." ucap Mike lembut. "Ayo ikut keruangan ku.." serunya lagi.


Mily tak banyak bicara dan hanya mengekor dibelakang Mike. "Duduk disini.." seru Mike sembari menarikkan sebuah kursi untuk Mily sedang dirinya duduk di kursi Presdir miliknya.


"Aku hanya ingin memastikan kamu pagi ini datang kemari untuk bekerja atau untuk membayar denda?" tanya Mike.


"Kamu...." ucap Mily sembari mengepalkan tangan kanannya gemas. Rasa-rasanya gadis itu ingin sekali memukul Mike seperti dulu.


Mike tersenyum. "Baiklah.. Aku yakin kamu datang kesini untuk bekerja bukan? Aku sudah siapkan posisi yang cocok untuk kamu.."


"Apa itu?"


"Kamu akan menjadi sekertaris pribadi ku.."


"Haaaaah??!! Kamu kan udah punya Adit.."


"Sekertaris pribadi disini memiliki dua makna yang berbeda.. Tugas kamu dan Adit juga berbeda.. Kamu benar-benar harus menjadi sekertaris yang benar-benar mengurusi masalah pribadi ku.. seperti setiap pagi kamu harus datang ke apartemen ku dan menyiapkan baju, celana dan air hangat untuk mandi.. Sebelum berangkat ke kantor aku biasa sarapan jadi kamu juga harus buatkan sarapan dulu.. Nanti setelah pulang kerja kamu juga ikut aku pulang ke apartemen untuk menyiapkan makan malam dan bersih-bersih rumah.."


"Mike.. Apa bedanya aku sama pembantu??? Mending kamu cari orang lain aja buat jadi 'pembantu' kamu..."


"Jelas berbeda.. Kamu adalah sekertaris pribadiku.. Yang akan menghabiskan lebih banyak waktu denganku setiap harinya.. Aku akan membayar gaji kamu dua kali lipat lebih besar daripada gaji Adit.. Bagaimana?"


"Tiga kali lipat.."


Lagi, Mike tersenyum dengan tawar menawar yang sedang berlangsung saat itu. "Baiklah.." seru Mike sambil menyodorkan tangan kanan dan Mily menjabatnya tanda bahwa dirinya menyetujui.


"Lalu apa aku punya ruang kerja ku sendiri?" tanya Mily.


"Tentu.. Disana.." Mike menunjuk sesuatu yang masih tertutupi kain putih dan menarik kain itu hingga terjatuh.


Disudut ruangan sebelah kanan meja kerjanya tampaklah meja berukuran sedang yang tertata rapih. Lengkap dengan komputer berwarna putih yang terbungkus boneka kepala hello kitty berwarna merah muda.


Tak jauh disana terdapat laptop bermerk yang juga sudah ditempeli berbagai macam hiasan bertema hello kitty. Bolpoin, mouse, spidol, dan beberapa notes kecil serta catatan tempel diatas meja itu semua bergambar hello kitty berwarna merah muda.


"Mike ini semua kamu yang siapkan?" tanya Mily penasaran.


"Yang benar saja.. Mike, aku itu udah besar.. Bukan anak kecil lagi.."


"Memang kamu sudah besar dan bukan anak kecil lagi.. Tapi aku harap kamu tetap bisa menjadi Mily yang seperti dulu.. Yang menyukai hal-hal kecil dan sederhana.. Yang terus berusaha untuk menggenggam segala hal yang kamu suka..." ucap Mike. Laki-laki itu menghela nafas dalam.


"Aku ingin kamu terus menggenggam tangan ku seperti ini karena akulah orang yang kamu suka.." ucap Mike sembari menggenggam tangan Mily.


Untuk sepersekian detik gadis itu terhipnotis dengan perlakuan lembut Mike padanya. Genggaman tangan Mike terasa begitu hangat. Sorot mata laki-laki yang berdiri dihadapannya pun begitu dirindukannya. Sorot mata yang sama dengan sorot mata yang selalu menatapnya sepuluh tahun lalu.


"Mike.. Lepaskan tanganku.. Orang lain akan salah paham.." seru Mily yang kini sudah tersadar dari lamunannya dan mencoba melepaskan tangannya dari genggaman tangan Mike.


"Aku sudah pernah melepaskanmu satu kali dan aku tidak ingin melepaskanmu untuk kedua kalinya.." balas Mike yang masih menggenggam erat tangan Mily.


Mata keduanya bertemu. Mata Mily mulai tampak memerah. Dengan sekuat tenaga Mily menginjak kaki Mike yang membuat laki-laki itu mengerang kesakitan.


"Mike.. Aku ingatkan ya.. Aku dan Reihan sudah akan menikah.. Jadi tolong jangan ganggu aku.. Dan untuk malam ini aku gak bisa ikut ke apartemen kamu, aku mau melihat Reihan dirumah sakit.." ucap Mily dengan nada ketus.


"Kalau begitu biar ku antar.." seru Mike cepat.


"Gak perlu.. Aku gak mau Reihan atau orang lain salah paham dengan kedekatan kita.. Aku gak mau menyakiti perasaan Reihan.."


"Bagaimana kalau aku yang merasa tersakiti? Apa kamu akan peduli?"


Sejenak Mily terdiam. "Seandainya itu kamu, aku akan jauh-jauh lebih tidak peduli..."


**


Malam sudah semakin larut saat Mike mengetuk pintu rumah Alvin sambil membunyikan bel rumah. Bau alkohol tercium sedikit menyekat dari sekujur tubuh Mike.


Tak lama Alvin keluar. "Astaga.. Kamu minum berapa banyak sampai mabuk begini?" seru Alvin sembari menutup hidungnya sebentar dan membantu memapah Mike masuk kerumahnya.


"Aku gak mabuk.." seru Mike pelan.


"Oke-oke kamu gak mabuk.." cetus Alvin.


Alvin memapah Mike menuju sofa diruang tamu sementara Priska, istrinya baru saja keluar dari kamar dan terkejut melihat penampilan Mike yang berantakan.


"Kenapa dia seperti ini?" tanya Priska pada Alvin.


"Mana aku tahu.. Gak biasa-biasanya dia seperti ini..." jawab Alvin.


"Ya udah.. Kalau gitu aku akan menelepon Mily.. Kamu jaga dia ya.." seru Priska.


"Eh iya sayang, minta dia datang kesini.."


"Oke..."