Little Rainbow

Little Rainbow
Air mata



Detak jam di samping tempat tidurnya menjadi saksi bahwa sepanjang malam Mily terus menerus menangis. Sesekali gadis itu memukul-mukul dadanya pelan karena rasa sesak yang semakin membelenggu.


Sejak kejadian tadi malam, kedua orang tua Mily memutuskan untuk berjaga didepan kamar putrinya. Sepanjang malam, sepasang suami istri itu mendengar dengan jelas suara isak tangis putri mereka yang terdengar menyayat hati.


“Pa, ini sudah jam empat pagi dan dia masih menangis.. bisa-bisa dia sakit..” seru mama Mily khawatir. Mata wanita itu juga terlihat bengkak akibat menangis tadi malam dan suaranya masih terdengar parau.


“Biarkanlah dia menangis sepuasnya untuk saat ini, Ma..” jawab papa Mily.


“Tapi Pa, Mama khawatir.. coba Papa masuk dan bicara dengannya..” pinta mama Mily.


“Kenapa bukan Mama saja yang masuk?” tanya papa Mily yang merasa enggan untuk mengganggu waktu pribadi putrinya itu.


“Gak mau.. nanti gimana kalau Mama juga malah ikutan nangis... lebih baik Papa aja..”


“Ya sudah..” Tak berdebat dengan istrinya lagi, papa Mily berjalan menghampiri pintu kamar putrinya dan mengetuk pelan. “Sayang, Papa ingin bicara. Papa ijin masuk ya..” seru papa Mily lembut.


Saat pintu kamar terbuka, tampaklah putrinya tengah duduk menyender diatas tempat tidurnya sembari menungkupkan wajahnya di kedua lututnya.


“Sayang apa kamu sudah merasa lebih baik?” tanya papa Mily sembari duduk di atas tempat tidur tepat disamping putrinya.


Mily mendongakkan kepala dan mengusap air mata dengan tangannya. “Maaf Pa.. tangisan Mily pasti udah ngeganggu Papa..” ucap gadis itu. Suaranya terdengar serak dan tersendat.


“Gak apa-apa sayang.. Kalau kamu masih ingin menangis, maka menangislah sampai kamu merasa cukup. Jangan pernah merasa malu untuk menangis. Menumpahkan air mata itu baik,” seru papa Mily sembari mengelus pelan kepala Mily yang terlihat kembali menitikkan air matanya.


“Menangis bisa membuat hati kamu merasa lebih lega. Oh iya sayang.. Apa kamu tahu kalau air mata itu datangnya dari hati?” tanya papa Mily. Gadis itu terdiam tak menjawab dan hanya memperhatikan wajah papanya yang tampak samar karena tertutup air mata.


“Air mata yang sedang kamu tumpahkan sekarang menandakan kalau hati kamu sedang terluka..” papa Mily mengusap lembut air mata di pipi putrinya. “Luka yang sedang hati kamu rasakan hanya kamu sendiri yang tahu itu berasal dari mana.. tapi ingat.. hanya kejujuran yang mampu mengobatinya..” ucap pria itu.


“Pa.. kenapa Papa gak bertanya apa-apa?” tanya Mily.


“Memang apa yang perlu Papa tanyakan?” tanya papa Mily sembari tersenyum kecil.


“Apa Papa keberatan dengan keputusan Mily untuk menikah dengan Reihan?” tanya Mily lagi.


“Sayang, Papa dan Mama akan selalu mendukung apapun keputusan yang kamu buat dalam hidup kamu. Selama itu baik dan kamu bahagia. Tapi jika kamu masih bingung dengan keputusan yang harus kamu pilih, Papa hanya akan mengingatkan bahwa air mata yang kamu tumpahkan saat ini adalah jawabannya,” ucap papa Mily sambil menggenggam erat tangan putrinya.


“Terima kasih, Pa.. Mily sayang Papa..” Mily memeluk erat sang papa. Orang tua adalah tempat berlindung terbaik saat dirinya berada dalam keterpurukan.


**


Ada dua puluh empat jam dalam satu hari, tapi baginya tadi malam itu terasa begitu panjang dan melelahkan. Seluruh tenaganya habis terkuras dalam deraian air mata. Hari ini Mily hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berkali-kali ponselnya bergetar, tak dihiraukan sama sekali.


“Sayang, Mama pergi dulu sebentar ya...” teriak mamanya dari luar kamar. Mily tak menyahut karena malas.


Baru saja mama Mily membuka pintu rumah, tampak Reihan dengan terburu-buru datang menghampirinya. “Tante.. apa Mily ada dirumah?” tanya pemuda itu ramah.


“Apa saya boleh bertemu Mily sebentar, Tante? Atau saya bisa bantu bawa Mily kedokter..” Reihan menawarkan diri.


“Barusankan tante bilang dia perlu istirahat.. lebih baik kamu juga jangan ganggu dia dulu..” seru mama Mily sedikit dingin.


“Ah.. baiklah Tante.. Oh iya Tante mau pergi kemana biar saya antar...”


“Gak perlu, Tante mau ke tetangga..” jawab mama Mily sembari mengunci pintu rumahnya dan langsung berlalu pergi meninggalkan Reihan. Pemuda itu bisa merasakan bahwa mama Mily tak begitu ramah seperti waktu itu.


**


“Mike..Mike...” panggil mama Mily sambil mengetuk pintu apartemen anak yang pernah diasuhnya dulu.


Tak berapa lama tampak Mike masih mengenakan kemeja putih yang kemarin malam dipakainya. Wajah laki-laki itu tampak muram dan sedikit pucat. “Tante... silahkan masuk..” ucap Mike sambil membuka pintu lebar-lebar.


Mama Mily tampak prihatin melihat kondisi Mike yang berantakan seperti itu. “Apa semalam kamu gak tidur?” tanya mama Mily. Mike tersenyum kecil.


“Tante kok bisa tahu aku ada dirumah?” tanya Mike.


“Tante telepon ke kantor, Adit bilang hari ini kamu gak masuk kerja.. Tante khawatir, jadi sekalian bawakan makanan buat kamu..” mama Mily membuka dua bungkusan yang sedari tadi dijinjingnya.


“Banyak banget Tante, aku gak mungkin bisa ngabisin semuanya..”


“Harus habis pokoknya.. Nah ini coba dulu, selesai masak Tante langsung kesini jadi masih hangat..” seru wanita itu.


“Iyah Tante nanti aku coba..” jawab Mike singkat. Kali itu wajahnya benar-benar terlihat lesu.


Mama Mily tampak terus menerus menatap wajah Mike yang terlihat lusuh dan ada yang menarik perhatiannya. Noda darah yang telah mengering masih menyelimuti tangan kanan Mike. Menandakan bahwa anak asuhnya itu belum mengobati lukanya.


“Mike apa kamu punya kotak obat?” tanya mama Mily.


“Ada di rak bawah di dapur, Tante..” jawab Mike seadanya.


Wanita itu pergi ke dapur dan mencari rak yang dimaksud Mike. Setelah menemukan apa yang dicari, mama Mily kembali menghampiri Mike dan duduk disebelah laki-laki itu. Mama Mily meraih tangan kanan Mike dan memandanginya sebentar. Wanita itu menangis. Air mata yang pertama kali, terjatuh tepat di tangan Mike yang kini berada dipangkuannya.


“Tante kenapa menangis?” tanya Mike heran karena wanita yang telah mengasuhnya itu tiba-tiba menangis.


“Sekalipun tidak ada hubungan darah diantara Tante dan kamu.. tapi Tante bisa merasakan kamu begitu terluka..” ucap mama Mily disela isak tangisnya. “Tante minta maaf..” lanjut wanita itu lagi.


“Kenapa Tante minta maaf? Tante gak salah apa-apa...” seru Mike.


“Mike.. kalau ingat dulu sewaktu kamu kecil.. setiap kali kamu terjatuh dan terluka...kamu akan langsung berdiri dan tak pernah mengeluh atau berkata apa-apa tentang rasa sakit yang kamu rasa..” ucap mama Mily sembari mengenang kejadian di waktu silam. “Kali ini saat kamu terjatuh dan terluka, bisakah kamu memberi tahu Tante bahwa kamu merasa sakit.. Tante akan ada disini memeluk kamu.. Tante akan selalu menjadi orang pertama yang berada disamping kamu dan sepenuhnya mendukung kamu..” lanjut wanita itu.


Mike tersenyum mendengar ucapan mama Mily, namun air mata akhirnya terjatuh dari kedua sudut matanya. “Air mata kamu sekarang pertanda kejujuran hatimu..” ucap mama Mily sembari mengoleskan obat merah pada luka di tangan Mike.