
Hujan sudah reda saat Mily memukul-mukul pelan lengan Mike yang tengah tertidur disampingnya. “Mike bangun.. hujannya sudah berhenti..” seru Mily girang.
Pria itu langsung membuka matanya dan terduduk melihat sekelilingnya yang tampak basah karena guyuran hujan tadi. Dilihatnya tanah berwarna merah dengan genangan air. “Tunggu sebentar.. aku perlu mengumpulkan jiwa ku dulu..” timpal Mike sambil mengusap-usap wajahnya berkali-kali.
Sedang Mily tampak tak sabar untuk keluar dari hutan itu dan langsung memijakkan kedua kakinya di atas tanah yang licin. “Hati-hati.. tanahnya licin..” Mike memperingatkan.
Baru saja kalimat itu meluncur dari mulut Mike, Mily sudah oleng dan nyaris terjatuh. Beruntung dengan cepat Mike menarik tangan gadis itu ke arahnya. “Awwwh..” teriak Mike pelan saat tubuh gadis itu terjatuh persis menimpa tubuhnya.
Mily mengerjap-ngerjapkan matanya berulang kali sembari menatap wajah Mike yang cukup dekat dengannya. “Apa aku berat?” tanya Mily dengan memasang sebuah senyum dibibirnya.
“Dasar bodoh.. pertanyaan macam apa itu?” timpal Mike.
“Kamu kan cukup jawab.. aku berat atau gak..” balas Mily dengan mulai memasang wajah cemberut.
Mike yang tak ingin gadis cantik itu marah memutuskan untuk berbohong. “Kamu gak berat kok..” jawab Mike lembut.
“Kamu bohong.. aku pasti berat kan?” tanya Mily dengan nada sedikit memaksa.
“Mily, kamu kenapa seolah memaksaku untuk berkata bahwa kamu itu berat? Bukan seharusnya kamu senang karena aku bilang kamu gak berat?” tanya Mike dengan polosnya.
“Huh..” Mily mendengus kesal sembari berusaha bangkit dari atas tubuh Mike.
Mike memutar kedua matanya dan dengan cepat, pria itu kembali meraih tangan Mily dan menariknya. Sementara tubuh gadis itu kembali terjatuh di atas tubuhnya.
Kedua tangan Mike nampak memeluk erat tubuh Mily. “Kamu sangat sangat sangat berat..” ucap Mike setengah berbisik.
“Kamu tadi bilang aku gak berat..” timpal Mily bernada protes.
“Ah aku tadi berbohong.. sekarang kalau ku pikir-pikir dan kurasakan kamu cukup berat juga..” jawab Mike dengan nada sedikit menggoda. Tapi dilihatnya raut wajah Mily yang terlihat semakin marah padanya. Pria itu menyunggingkan sedikit senyum di kedua sudut bibirnya. “Karena kamu adalah duniaku.. dan lihatlah.. sekarang aku sedang memeluknya seperti ini..” lanjut Mike.
Benar saja dugaannya, perlahan Mily tersenyum. “Coba ulangi lagi..” pinta gadis itu dengan nada sedikit manja.
“Tidak ada pengulangan..”
“Mike..” seru Mily sembari memukul pelan bahu kanan pria itu dengan gemas. “Kamu harusnya tahu siaran langsung di televisi saja ada pengulangannya.. masa kamu gak..” protes Mily.
“Hahahaha.. kamu samakan aku dengan siaran di televisi? Ada-ada saja..” Mike tertawa terbahak mendengar perkataan konyol Mily. “Kalau sudah selesai, cepat bangun dari atas tubuhku..” ucap Mike dengan masih sedikit menyisakan tawanya.
Mily berusaha kembali bangun dari atas tubuh Mike dengan menggerutu. “Tadi dia sendiri yang menarik ku sekarang dia juga yang menyuruhku untuk cepat menyingkir..”
“Hei aku bisa mendengarnya..” seru Mike.
Mily membalas dengan menjulurkan lidahnya mengejek, sedang telunjuk Mike mengelus-elus pelan ujung hidung gadis itu.
**
Adit nampak terus-menerus mondar-mandir kesana kemari sedari tadi sampai membuat risih dokter Herman yang saat itu berdiri didekatnya. “Berhentilah mondar-mandir.. aku pusing melihatnya..” protes dokter Herman.
“Aduh bagaimana ini.. si bos malah ikutan menghilang..” ucap Adit dengan raut wajah cemas. Pria itu tak henti-hentinya meremas jari-jari tangannya karena gugup.
“Jangan khawatir.. mereka pasti baik-baik saja.. Mungkin saja sekarang Mike sudah menemukan gadis itu..”
“Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan gadis itu? Hidupku bisa saja tamat..”
“Apa tidak lebih baik kita masuk kedalam sana dan mencarinya?”
“Kalau kita ikut mencari kedalam sana yang ada mungkin kita yang menghilang..” balas dokter Herman tak setuju.
“Lalu sekarang harus bagaimana?”
“Dit, kalau sampai kamu satu kali bertanya ‘bagaimana’, akan aku pastikan jarum suntik berisi formalin menancap ditubuhmu..” ancam dokter Herman dengan nada bercanda. “Sudahlah jangan tegang begitu.. Mike itu tidak bodoh..” lanjutnya.
“Tapi aku tetap saja khawatir.. jika terjadi sesuatu dengannya, sekertaris Han mungkin akan menghajarku habis-habisan..”
“Tunggu sebentar.. Apa hubunganmu dengan sekertaris kakek Mike?” tanya dokter Herman setengah menyelidik.
“A-ah.. aku sepertinya asal bicara..” jawab Adit. Pria itu baru sadar jika dirinya baru saja keceplosan.
“Cepat katakan, jika tidak aku akan menyuntikkan berbagai macam obat ke tubuhmu..”
“Ahhhh kenapa berteman dengan seorang dokter itu mengerikan..” gerutu Adit.
“Cepat katakan..”
“Baiklah-baiklah.. tolong jangan beritahu dia..” pinta Adit dengan wajah memelas.
“Aku tidak janji.. tergantung apa yang terjadi..” timpal dokter Herman.
“Jadi.. sekertaris Han meminta ku untuk mengawasi setiap gerak-gerik si bos..”
“Kenapa dia memintamu melakukan hal seperti itu? Apa dia punya niat buruk terhadap Mike?”
“Bu-bukan begitu.. jangan salah paham..”
“Lalu?”
“Sejak kejadian perkelahian waktu itu, sekertaris Han selalu merasa khawatir dan memintaku untuk secepat mungkin menghubunginya jika sampai terjadi sesuatu dengan bos..”
“Apa sekarang kamu juga memberitahunya?”
Adit menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berani memberitahunya.. aku takut..”
“Baguslah.. Ternyata kamu memang tidak sebodoh yang ku pikir..” goda dokter Herman dengan tertawa kecil.
“Haaa?! Dokter kenapa masih bisa bercanda disaat-saat seperti ini?”
“Kalau tidak aku harus apa? Harus mondar-mandir sepertimu tadi?”
“Bukan begitu..”
“Kita berdua berdiri disini saja sudah termasuk membantunya..”
“Lalu bagaimana jika ada binatang buas dan menyerang mereka?”
Dokter Herman mengetuk jidat Adit pelan. “Jangan berfikir yang aneh-aneh.. Sudah kubilang tadi, Mike itu pintar.. jika terjadi sesuatu, dia pasti akan baik-baik saja.. aku yakin itu..”