
“Ada apa Om?” tanya Mike penasaran.
“Mike..” papa Mily mulai memulai kalimatnya seraya menghela nafas dalam-dalam. “Tadi Reihan dan papanya datang kesini..”lanjutnya.
“Untuk apa?” tanya Mike lagi.
“Mily akan menikah tanggal delapan belas minggu depan..” jawab papa Mily dengan sangat pelan.
Mike tak dapat lagi berdiam diri duduk disana. Pria itu langsung pergi dari rumah kedua orang tua angkatnya tanpa menemui Mily yang mengunci diri di kamar.
“Mike.. Mike..” seru papa Mily sambil mengejar putra angkatnya itu namun Mike sama sekali tak menghiraukannya. Pria itu langsung menginjak gas dan berlalu pergi dengan emosi yang cukup meledak-ledak.
**
Mike memarkirkan mobilnya tepat didepan sebuah rumah bertingkat dua bercat putih dengan beberapa pot tanaman hias berjejer didepannya. Suara gemericik air di kolam ikan memandu langkah panjang Mike.
Dua orang pria berjas hitam yang tengah berjaga di pintu masuk rumah itu datang menghampiri Mike dan berusaha menghalangi Mike agar tak masuk sembarangan kerumah majikannya. Namun Mike tanpa basa-basi mencurahkan seluruh emosi pada kedua penjaga dan membuatnya babak belur dalam waktu singkat.
“Hentikan..” teriak Matthew yang baru saja keluar dari dalam rumah besar itu.
Mike menghentikan tinjunya dan melangkah mendekat ke arah Matthew dengan raut wajah dinginnya. “Masuklah..” seru Matthew singkat.
Tanpa perlu menunggu waktu lama, Mike sudah berjalan masuk ke dalam rumah yang memiliki nuansa bergaya eropa kuno itu. Dilihatnya Reihan tengah tersenyum penuh kemenangan saat menatap Mike dan membuat pria itu semakin muak.
Mike berlari menghampiri Reihan dan langsung mendaratkan tinjunya di wajah Reihan sampai membuatnya tersungkur. Reihan tertawa kecil sembari mengelus pelan sudut bibir sebelah kirinya yang berdarah. “Kamu memukulku berkali-kali pun tidak akan mengubah apa yang sebentar lagi akan terjadi..” ucap Reihan yang semakin membuat Mike ingin menghajarnya lagi.
“Sejujurnya aku merasa kasihan dengan orang buta dan tuli seperti mu yang tidak bisa melihat dan mendengar kenyataan.. Kamu tahu pasti siapa orang yang disukai Mily tapi kamu masih tetap memaksakan pernikahan? Apa kamu seorang laki-laki? Karena seorang laki-laki tidak akan pernah bersembunyi dibalik kelemahannya.. apalagi untuk menekan seorang gadis dengan perasaan bersalahnya..”
“Aku tidak peduli.. yang terpenting dia akan selalu berada disampingku..”
“Percuma berbicara dengan orang tidak waras sepertimu.. Tapi jangan berfikir aku akan diam saja.. aku akan mengambilnya kembali dan menjadikannya milikku..” ancam Mike tegas seraya melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Reihan.
Matthew mengahampiri Reihan dan membantu anak majikannya untuk berdiri. “Apa tuan baik-baik saja?” tanya Matthew.
“Aku tidak apa-apa.. tolong jangan beritahu papa.. ini adalah urusanku.. aku tidak ingin papa ikut campur dalam masalah ini..”
“Tapi apa anda akan diam saja diperlakukan seperti ini?”
“Lalu aku harus bagaimana? Seandainya aku membalas Mike, Mily mungkin akan semakin tidak menyukaiku.. dan jika aku menyakiti Mike, Mily juga akan tersakiti.. karena benar ucapan Mike barusan.. perasaan Mily bukanlah untukku..” jawab Reihan sembari menghela nafasnya yang terasa berat.
“Apa anda akan baik-baik saja menikah dengan seseorang yang tidak menaruh perasaannya untuk anda?”
“Selama dia disisiku.. aku akan baik-baik saja..”
**
“Aku ingin menangis tapi kenapa air mataku tidak bisa keluar?” gumamnya lagi.
Dari dalam kamar terdengar suara mamanya menyebut nama Mike.
“Mike tangan kananmu kenapa bisa terluka seperti ini?” tanya mama Mily setengah berteriak agar putrinya bisa mendengar suaranya.
“Apa kamu berkelahi dengan seseorang?” tanya papa Mily yang ikutan nimbrung.
“Aku baik-baik saja.. Bagaimana dengan Mily?” Mike balik bertanya seraya menatap pintu kamar Mily yang masih saja tertutup seperti sebelumnya.
“Dia masih belum mau keluar dari kamarnya.. Coba kamu bicara dengannya..” jawab papa Mily.
Mike berjalan perlahan mendekat ke pintu kamar Mily dan mengetuknya pelan. “Mily.. ini aku.. tangan ku terluka.. apa kamu bisa mengobatinya?” seru Mike pelan.
Lama tak ada jawaban apa-apa. “Mily.. kalau sampai dalam waktu sepuluh detik kamu tidak membuka pintu.. aku akan mendobraknya..” lanjut Mike.
Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, wajah Mily sudah nampak dihadapannya. Gadis itu akhirnya mau membuka pintu kamarnya. Yang pertama kali ditatapnya adalah mata Mike yang juga kini sedang menatapnya.
“Sini ku lihat luka ditanganmu..” ucap Mily lembut seolah tak terjadi apa pun.
Mama Mily langsung menarik lengan kiri suaminya untuk memberi keduanya waktu. “Tunggu aku.. aku mau ambil kotak obat..” ucap Mily lagi sesaat setelah melihat luka kemerahan di sekitar punggung jemari Mike.
Mike masuk kedalam kamar Mily dan duduk di pinggir tempat tidur sementara gadis itu sudah kembali dengan menjinjing sebuah kotak berwarna putih dan membukanya. Mily menarik sebuah kursi kayu dan diletakkan persis didepan Mike.
Mike mengamati wajah Mily yang terlihat sedih dan gadis itu sama sekali tak banyak bicara. Perlahan tangan kiri Mike terangkat dan menyelipkan sedikit rambut yang menghalangi wajah cantik Mily ke belakang telinga kanannya, sementara gadis itu sudah mulai sibuk menempelkan kapas berisi obat merah pada luka ditangannya.
“Apa kamu baik-baik saja?” tanya Mike lembut.
“Tentu aku baik-baik saja..” jawab Mily cepat.
“Kalau kamu setuju.. hanya kalau kamu setuju.. bagaimana kalau kita menikah malam ini juga? Aku akan meminta sekertaris ku untuk menyiapkan semuanya dalam waktu singkat..” ucap Mike.
Mily menghentikan aktifitasnya untuk beberapa saat dan termenung sembari menunduk. “Mike.. lebih baik kita tidak perlu membicarakan masalah pernikahan lagi..” timpal Mily.
Gadis itu terlihat menghela nafas dalam-dalam. “Hari ini aku benar-benar merasa lelah setiap mendengar kata itu.. Rasa-rasanya ada sesuatu yang mengganjal disini dan membuatku sulit untuk bernafas..” seru Mily pelan sembari menunjuk dadanya.
“Baiklah aku tidak akan membicarakannya lagi..” ucap Mike memilih untuk mengalah. Pria itu menarik tangannya yang masih berada di genggaman Mily dan berjalan ke arah pintu. “Aku akan meminta Ana dan Priska untuk datang menemanimu..” lanjutnya sembari pergi meninggalkan Mily yang masih duduk terdiam dikursi kayu.