Little Rainbow

Little Rainbow
Seperti keajaiban



“Mily... Mily..” teriak Mike yang terus menerus memanggil nama gadis itu. Tapi pria itu juga berfikir bahwa apa yang dilakukannya sekarang akan percuma karena suara hujan pasti akan mengaburkan suara teriakannya.


“Aku pasti akan menemukanmu..” gumam Mike.


Pria itu menutup matanya sejenak. “Aku pasti akan menemukanmu..” gumamnya lagi. Mike terus menerus mengulangi kalimat yang sama selama beberapa saat sebelum akhirnya matanya terbuka.


Mike langsung berlari ke arah sebelah kiri yang dipenuhi rerimbunan rumput yang cukup tinggi. Pria itu begitu saja menembusnya tanpa takut terluka atau ada binatang liar. Kakinya terus melangkah masuk semakin kedalam hutan.


Tubuhnya kini sudah benar-benar basah kuyup. “Ahh..” Mike terjatuh karena tanah di dalam hutan cukup licin dan becek. Saat pria itu mencoba berdiri matanya menangkap sesuatu yang nampak bergerak-gerak di bawah pohon pisang liar yang berada tak jauh darinya.


Pria itu berjalan pelan sembari mengatur nafasnya yang masih tak beraturan. Perlahan tangan kanan pria itu terangkat dan menyingkirkan dua buah daun pisang yang berukuran lumayan lebar. “Aku menemukanmu..” ucapnya dengan wajah tersenyum.


Akhirnya Mike berhasil menemukan Mily. Gadis itu tampak meringkuk bersembunyi di antara beberapa pohon pisang sambil memegangi dua batang daun pisang berukuran cukup besar yang digunakannya untuk berteduh.


“Mily..” seru Mike memanggilnya. Gadis itu menoleh dan langsung berdiri memeluknya. “Apa kamu terluka?” tanya Mike lagi. Mily menggelengkan kepalanya dengan masih memeluk Mike.


Pria itu melepaskan pelukan Mily perlahan. “Ikuti aku..” seru Mike sembari memegang pergelangan tangan Mily.


“Apa kamu tahu jalan keluarnya?”


“Tahu, tapi sekarang lebih baik kita mencari tempat untuk berteduh.. aku tahu ada sebuah gubuk kecil didekat sini..” timpal Mike.


Kedua orang itu berjalan pelan dan gubuk yang tadi Mike bicarakan sudah terlihat. Mike tampak menuntun Mily dan memegang gadis itu yang terlihat sedikit kesulitan untuk berjalan. Akhirnya dengan sedikit perjuangan, mereka tiba di gubuk itu dan berteduh.


Mily memeras rambut panjangnya yang basah kuyup. Gadis itu terus memperhatikan Mike yang tengah menatap ke atas. “Kenapa hari ini langitnya gelap sekali?” gumam pria itu.


“Apa lukamu gak kerasa sakit?” tanya Mily yang melihat darah menyeruak dari balik siku Mike.


Mike melihat sebentar ke siku kanannya dan memalingkan wajahnya menatap Mily. “Ini hanya luka kecil.. sama sekali gak sakit..”


Mily tersenyum jahil dan memegang pelan luka di siku Mike, membuat pria itu sedikit meringis kesakitan. “Aww..” seru Mike pelan.


“Katamu gak sakit.. itu masih juga aduh-aduhan..” celetuk Mily.


“Kalau kamu pegang kayak tadi ya jelas sakit lah..” balas Mike.


“Hahahahaa..” Mily tertawa cukup keras.


“Disaat seperti ini ternyata kamu masih bisa tertawa..” ucap Mike sembari menatap wajah Mily yang sudah tidak ketakutan seperti sebelumnya.


“Disini kan udah ada kamu.. jadi aku gak takut.. Kalau ada binatang buas, aku akan minta dia makan kamu duluan..” jawabnya dengan wajah yang riang.


“Nanti kalau aku dimakan binatang buas kamu nangis-nangis lagi..” goda Mike.


“Gak akan..” balas Mily tak mau kalah.


“Gara-gara kamu...”


“Hah?!” Mike tak mengerti maksud ucapan Mily barusan. “Apa hubungannya sama aku?” tanya Mike.


“Kamu kan buat acara untuk cari botol berpita, nah aku kebetulan dapat pita kuning.. pas aku liat ada warna kuning, langsung aku ambil.. ternyata itu ekor ular..” cerita Mily dengan tubuh bergidik membayangkan kejadian sebelumnya.


“Terus ularnya kamu apakan?”


“Aku lempar gak tahu kemana.. terus aku lari..”


“Aduh kasihan banget ularnya ya dilempar sama kamu..” canda Mike sambil tertawa keras.


Mily memonyongkan mulutnya sambil memukul-mukul pelan bahu kanan Mike. “Kenapa kamu malah kasihan sama ularnya? Bukan sama aku..”


“Karena aku lihat kamu baik-baik saja.. tapi ular itu belum tentu.. bisa aja ular itu patah tulang karena kamu lempar..” canda pria itu lagi.


Mau tak mau Mily pun ikut tertawa memikirkan ucapan Mike barusan. “Iya ya.. mana aku lemparnya keras loh..”


Mike tak menimpali lagi dan hanya tertawa kecil. “Mike, kalau dipikir-pikir kita sudah lama gak bercanda seperti ini..” seru Mily pelan.


“Ehmm..”


“Apa kamu pernah kangen sama masa kecil kita dulu?” tanya Mily.


Mike menggelengkan kepalanya. “Aku membenci diriku yang dulu..”


“Kenapa?”


“Karena sejak kecil aku seorang pengecut..”


“Maksudnya?” Mily semakin menatap Mike dengan memasang raut wajah serius.


“Bukannya aku sudah pernah bilang kalau aku menyukaimu sejak saat kali pertama kita bertemu.. itu berarti sejak kita berdua masih berumur delapan tahun.. Tapi aku baru berani mengungkapkan perasaanku ke kamu baru-baru ini.. Bukankah itu pengecut namanya..”


Mily terdiam sejenak. “Mike, kenapa kamu selalu berfikir kalau kamu satu-satunya yang menyukai ku? Apa kamu gak pernah berfikir kalau aku juga suka sama kamu?”


Mike langsung menolehkan kepalanya menatap gadis yang duduk disebelahnya. “Aku.. mungkin bisa dibilang terlambat sadar dengan perasaanku sendiri.. karena aku selalu merasa nyaman saat disamping kamu dan ku pikir karena itulah saudara.. tapi ternyata aku salah.. aku suka kamu sejak pertama kali kamu berjanji untuk terus menemaniku..” ucap Mily.


Mike masih tampak terus memperhatikannya tanpa berkata apa-apa. “Aku pikir seperti sebuah keajaiban saat seorang laki-laki dan perempuan bisa saling menyukai diwaktu yang bersamaan.. bukan begitu?” lanjut Mily yang menoleh menatap Mike.


Keduanya masih saling berpandangan ditemani hujan yang turun dengan deras dan gemuruh petir yang menggema. Saat itu seolah takdir sedang memberi kesempatan untuk mereka berdua mengutarakan perasaannya.