Little Rainbow

Little Rainbow
Penyesalan



“Mike..” teriak Mily terlepas dari lamunannya dan gadis itu beranjak dari tempat duduknya, menghampiri Mike untuk menenangkannya. Gadis itu paham, Mike kini tengah tertekan sama seperti dirinya waktu dulu.


“Kamu sama sekali gak pantas untuk dipanggil dengan sebutan ‘Papa’.. orang tua busuk..” maki Mike.


Matthew hanya terdiam berdiri menyandarkan punggungnya tepat disamping pintu ruang operasi dan tak berbuat apa-apa menyaksikan pertengkaran Mike dan majikannya. Priska mencubit Alvin untuk membantu Mily melerai Mike yang terlihat sangat emosi.


“Sudah Mike, jangan hiraukan orangtua sinting seperti dia..” Alvin ikut memaki meluapkan rasa kesalnya juga.


“Orang tua busuk? Orang tua sinting? Bagaimana kalian bisa memakiku sedangkan kalian sendiri belum pernah menjadi orang tua?” ucap papa Reihan sembari tersenyum menyeringai.


Alvin yang sedari tadi berdiri disamping Mike sembari memegang lengan Mike, maju beberapa langkah kedepan. Pria itu berdiri persis didepan papa Reihan dengan raut wajahnya yang mulai memerah karena menahan marah.


“Aku adalah seorang ayah muda. Meski begitu aku belum pernah sekalipun menyia-nyiakan kehidupan anak dan istri ku.. sesibuk apa pun aku, istri dan anak ku adalah prioritas utama ku.. jika ada yang menyakiti mereka berdua, sama seperti menyakiti ku.. aku.. berjanji pada diriku sendiri untuk belajar menjadi seorang suami dan ayah yang baik sejak aku memutuskan untuk menikah.. Aku sadar, tugasku sebagai laki-laki dan kepala keluarga adalah menjadi satu-satunya orang yang akan melindungi keluargaku, bukan malah mencelakainya..” ucap Alvin panjang.


“Dimana hati anda sebagai seorang ayah?” lanjutnya sembari menunjuk-nunjuk dada papa Reihan. “Apa anda lupa momen manis saat pertama kali anda bertemu dengan putra anda? Hah?!” Nada Alvin mulai meninggi.


“Jemari tangan kecil yang mungkin dulu pernah menggenggam jari telunjuk anda dan menaruh seluruh kepercayaannya pada anda kini tengah berada didalam sana.. semua itu karena ulah anda sendiri.. Debar jantung yang terdengar lewat mesin usg dan mungkin membuat anda tersenyum sekaligus gugup saat itu, sekarang sedang bertarung antara hidup dan mati di meja operasi.. Apa anda masih pantas di sebut sebagai orang tua yang baik hati?”


Kini Priska yang datang menghampiri suaminya dan memeluknya dari samping.


“Semua yang seorang anak butuhkan bukanlah materi, tapi kasih sayang.. sebanyak apa pun materi yang anda hasilkan tidak akan sebanding dengan sebuah senyuman yang mungkin anda lihat jika anda menghabiskan waktu bersama dengannya..” seru Alvin sembari mencengkeram kerah kemeja papa Reihan dengan kedua tangannya.


“Apa yang dikatakan mereka adalah benar.. Anda.. sama sekali tak pantas dianggap sebagai seorang ayah.. Sedikit pun waktu dalam hidup anda, sama sekali tak pernah mempedulikannya.. Anda tidak pernah berpikir jika tuan muda begitu kesepian.. saya yang bekerja sebagai seorang sekertaris pribadi pun bisa melihatnya.. sejak kematian nyonya, tuan muda selalu mengurung diri dan melampiaskan rasa marahnya dengan berbuat seenaknya hanya untuk menarik perhatian anda.. Setelah bertahun-tahun lamanya saya baru melihat tuan muda kembali tersenyum, semua kesepian dan rasa sakit yang tuan muda alami seolah hilang karena pertemuannya dengan nona Mily.. tapi anda begitu menentang hubungan keduanya.. setelah tahu kondisi tuan muda, anda baru berniat untuk memperbaiki hubungan anda dengan tuan muda dan berusaha menerima nona Mily sebagai menantu anda..” Matthew terhenti sejenak berusaha mengontrol nafasnya yang terlihat memburu.


“Anda.. anda sama sekali tidak pernah mempedulikan perasaannya.. anda hanya mementingkan kepentingan anda sendiri..”


“Bagaimana aku mementingkan kepentingan sendiri? Aku akan mewariskan seluruh hasil kerja kerasku hanya untuk putraku satu-satunya.. aku melakukan semuanya hanya untuk dia..” papa Reihan menunjuk pintu ruang operasi.


“Aku hanya ingin dia hidup berkecukupan tak seperti hidupku dimasa lalu yang serba kekurangan. Apa itu salah? Aku ingin anak ku mendapatkan pendidikan yang terbaik.. aku ingin dia mendapatkan pasangan yang baik dan juga mencintainya.. Aku juga tak ingin ada seseorang yang menyakitinya..” timpal papa Reihan membela diri.


“Oh.. makanya anda menyuruh preman-preman itu?” tanya Mike.


Papa Reihan tak menimpali apa-apa. Pria paruh baya itu tampak termenung diam.


Mily menghampiri papa Reihan dan bersujud di hadapannya. “Om.. aku minta maaf..saat terjadinya peristiwa penusukkan dulu, semua karena aku.. dan kejadian sekarang juga terjadi karena aku.. aku minta maaf..”ucap Mily sembari menundukkan kepala dan membungkukkan tubuhnya.


“Mily.. kamu gak pantas minta maaf ke orang tua semacam dia..” seru Mike sembari menarik lengan Mily, namun gadis itu tetap memilih untuk bersimpuh.


“Aku yakin dan percaya kalau setiap orang tua pasti mencintai dan menyayangi anaknya, darah dagingnya. Dan setiap orang tua pasti memiliki caranya sendiri untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatiannya. Begitu juga dengan Om.. Aku tahu apa yang Om lakukan semua untuk Reihan.. tapi.. aku pikir Om perlu untuk sedikit membuka hati Om demi menyelesaikan segala kesalahpahaman yang pernah terjadi antara om dan Reihan.. Aku bukan bermaksud untuk ikut campur.. tapi aku tahu bahwa Reihan sama sekali tidak pernah membenci papanya sedikit pun.. “


Papa Reihan tak mampu berkata-kata. Air matanya meluncur dari kedua sudut matanya. Apa yang dikatakan Mily seolah menyadarkannya. Caranya dalam menyangi putranya sepertinya salah.