Little Rainbow

Little Rainbow
Mimpi indah Mily



Malam sudah semakin larut tapi Mily masih tetap terusik dengan pikirannya sendiri. Gadis itu memandangi langit-langit kamar apartemen Mike. Sesekali Mily mengerjap-ngerjapkan matanya. Pikirannya melayang pada kejadian yang baru saja dialaminya.


Melihat Mike berlari keluar dari rumah biru dan menghampiri dirinya dengan kemeja yang basah kuyup. Raut wajah Mike yang tampak marah kala itu membuat jantung Mily berdegup sangat kencang. Ada rasa hangat yang menjalar di kedua pipinya.


Mily menarik selimut tebal menutupi seluruh tubuhnya sampai ke atas kepala. Namun tak berapa lama gadis itu menyingkapnya dan tersenyum sendiri. “Selimut ini benar-benar selimut yang dipakai Mike..” gumam gadis itu pelan sembari sesekali mengendus wangi tubuh Mike yang tertinggal diselimut itu.


Bayangan sepuluh tahun lalu saat dirinya sakit ikut berlarian di dalam kepala Mily. Mike yang dengan penuh perhatian merawatnya. Mike yang selalu ada untuknya. Mike yang selalu membuatnya tenang. “Bisakah semua kembali seperti dulu?” Mily bertanya pada dirinya sendiri dengan suara pelan. Mily menyesali setiap detik yang dia lalui tanpa kehadiran Mike.


**


Jam menunjukkan pukul sebelas malam saat Mike sedang duduk tegak di sofa ruang tamu saat bel rumahnya berbunyi. Laki-laki itu berjalan perlahan dan membuka pintu rumahnya. Tampaklah wajah sekertaris dan dokter pribadinya yang kini sudah memandanginya. Kedua orang itu serempak memasang kerutan didahi mereka melihat wajah pucat Mike.


Mike sudah menahan rasa sakit sejak Mily memeluknya dari belakang tadi. Dan pada akhirnya laki-laki itu menghubungi Adit untuk membawa dokter Herman kerumahnya.


“Kamu habis berkelahi dengan siapa?” tanya dokter Herman terkejut melihat luka yang ada di punggung atas sebelah kanan Mike. Adit yang sebelumnya berdiri di samping dokter Herman, memalingkan wajahnya dan beranjak pergi dari tempatnya.


“Bicaranya jangan keras-keras.” Mike memperingatkan. “Aku juga gak kenal siapa mereka," jawab Mike pelan sembari sesekali laki-laki itu menutup matanya menahan rasa perih.


“Ahh?? Kalau kamu gak kenal kenapa kamu berkelahi?” tanya dokter Herman lagi.


“Entahlah.. aku hanya merasa sangat marah saat itu..”


“Marah karena?” Dokter Herman semakin penasaran. Karena hubungan mereka sudah terjalin hampir enam tahun lamanya, maka dirinya tahu orang seperti apa Mike. Laki-laki itu tak akan pernah menghiraukan hal-hal yang menurutnya sepele.


“Apa kamu sedang ada masalah?” tanya dokter itu lagi.


“Tuan bukankah itu baju perempuan?” Adit menunjuk ke arah baju Mily yang tergantung di jemuran besi yang berada di luar ruang keluarga. Mike lupa menutup gordennya.


Dokter Herman dan Adit saling melempar pandang. “Apa sekarang ada perempuan yang menginap disini?” tanya dokter itu lagi. Padahal pertanyaan yang tadi saja masih belum dijawab. Tangan dokter itu masih tampak sibuk mengambil kain kasa baru dan menempelkannya pelan-pelan ke atas luka goresan, membuat Mike mengepalkan jemarinya.


“Ehm...” jawab Mike. Peluh sudah memenuhi seluruh wajahnya.


“Siapa? Sepertinya selama ini aku tidak pernah melihat Tuan dekat dengan perempuan manapun..” ucap Adit sembari menggaruk kepala sebelah kanannya yang tidak gatal.


“Kamu tahu orangnya..” timpal Mike.


“Aku tahu??” gumam Adit pelan masih memutar keras otaknya untuk mengingat-ingat. “Apa jangan-jangan perempuan galak yang waktu itu menggebrak meja?” tanya Adit bergidik ngeri.


“Perempuan galak?” tanya Mike. Semburat senyum tersungging di sudut bibirnya.


“Perempuan yang mana?” tanya dokter Herman ikut nimbrung.


“Itu loh dok perempuan yang ada di ruang kerja sewaktu Tuan muda sakit maagnya kambuh.. Kan dokter juga lihat..” seru Adit.


“Pelankan suaranya. Dia sudah tidur..” tegur Mike.


“Tu-tuan.. dia benar-benar menginap disini?” Adit juga tak percaya sembari menunjuk ke arah kamar yang sekarang ditempati Mily.


Mike mengangguk membenarkan pertanyaan kedua orang itu. “Wuah mustahil.. jadi perempuan galak itu benar-benar kenalan anda? Tapi kenapa saya sama sekali tidak pernah melihat anda mengobrol dengannya di swalayan SH? Padahal belakangan ini setiap hari anda datang kesana..”


“Swalayan SH? SH group? Kenapa perempuan itu ada disana?” tanya Dokter Herman. Pria paruh baya itu tak begitu paham apa yang sedang dibicarakan kedua orang muda didekatnya.


“Perempuan itu bekerja disana..” Adit menjelaskan.


“Lalu..” seru dokter Herman yang kini sudah selesai membalut luka Mike dan duduk dihadapan laki-laki itu. “Apa luka kamu itu ada hubungan dengannya?” tanya pria paruh baya itu.


Mike mengangguk tanpa menjawab. “Kamu hebat sudah terluka seperti itu masih tidak pergi kerumah sakit..” sindir dokter Herman sembari mengacungkan jempol kanannya.


“Apa perempuan itu pacarmu?” tanya dokter Herman menyelidik.


“Bukan.. hanya teman masa kecil..” jawab Mike sembari memakai kembali baju tidurnya. “Sejak berumur delapan tahun aku sudah menjadi yatim piatu. Orang tua gadis itu lah yang membesarkan dan merawatku sampai aku berumur tujuh belas tahun..” lanjut Mike menjelaskan.


“Apa kamu punya perasaan terhadap gadis itu?” tanya dokter Herman lagi.


Mike tak menjawab dan hanya menghembuskan nafas dalam-dalam. Matanya melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul setengah satu malam. “Ini sudah tengah malam, lebih baik dokter dan kamu pulang..” Mike mengusir keduanya.


“Baiklah-baiklah... tapi besok pagi kamu harus meluangkan waktu untuk datang kerumah sakit bertemu saya. Luka dipunggung kamu harus dijahit.” Seru dokter Herman sembari berdiri. Pria paruh baya itu merogoh tasnya dan mengeluarkan botol beling kecil dari dalam sana. “Ini obat untuk mengurangi rasa nyeri.. jangan lupa setelah kami berdua pergi kamu harus minum ini..” lanjut dokter Herman mengingatkan.


Mike mengangguk dan mengantar kedua orang itu sampai di pintu rumahnya.


**


Pagi yang cerah sekitar jam setengah tujuh pagi, aroma masakan sampai di hidung Mily yang baru saja terbangun. Gadis itu mengucek matanya beberapa kali dan melihat sekeliling ruang kamar Mike. Tangannya mengambil ujung selimut yang sedari malam menyelimuti tubuhnya dan mengendusnya. “Ini benar selimut Mike.. Ternyata bukan mimpi..” seru gadis itu riang.


Dari luar kamar Mike bisa mendengar suara berisik Mily dan memanggil gadis itu. “Kalau sudah bangun cepat keluar. Sarapan sudah siap..” seru Mike sedikit berteriak. Tak lama Mily keluar dengan rambut panjangnya yang tergerai. Gadis itu mengenakan baju tidur Mike yang tampak kebesaran di tubuhnya.


Sesaat Mike tampak terkesima melihat wajah bangun tidur Mily yang sudah lama tak dilihatnya. Gadis itu berjalan mendekat. “Mike, semalam kamu tidur dimana?” tanya Mily sembari duduk di meja makan sedang Mike tampak mengambil gelas dan menuju kulkas. Laki-laki itu memberikan gelas yang berisi susu pada Mily dan duduk didepan gadis itu.


“Tidur disana..” jawab Mike sembari menunjuk sofa di ruang keluarga.


“Hari ini aku baru benar-benar melihat jelas apartemen kamu. Luas ya. Aku baru percaya kalau kamu sekarang benar-benar punya banyak uang..” celoteh Mily sembari menyantap sarapannya.


“Cukup bicaranya.. Setelah selesai sarapan aku akan mengantar kamu pulang kerumah..” timpal Mike datar.


Mily memonyongkan mulutnya kesal. Benar saja dugaannya. Sikap Mike sudah tidak selembut kemarin malam.