Little Rainbow

Little Rainbow
Keraguan



Langit sudah semakin gelap saat Reihan yang masih menginap dirumah sakit tampak sibuk memainkan ponselnya. Sudah beberapa hari belakangan Mily tak sekalipun membalas pesan singkatnya. Gadis cantik itu juga tak lagi datang mengunjunginya dirumah sakit.


"Paman.. Apa hari ini Paman pergi ke swalayan?" tanya Reihan cepat saat melihat Matthew memasuki kamar rawatnya.


"Iya, Tuan. Memang ada apa?"


"Apa Paman melihat Mily? Apa dia baik-baik saja?" tanya Reihan antusias.


"Sebenarnya..." Matthew tampak ragu untuk berbicara.


"Sebenarnya kenapa?"


"Nona Mily sudah tak lagi bekerja di swalayan.."


"Sejak kapan? Apa dia mengundurkan diri?"


"Sebenarnya Tuan besar memecat nona Mily sudah dari beberapa hari yang lalu.. Dan yang saya tahu, kini nona Mily bekerja di BLC group.."


"Kenapa Paman tidak memberitahuku?"


"Maafkan saya.. Saya hanya berfikir bahwa yang dilakukan oleh Tuan besar itu baik untuk anda.."


"Paman, sekarang dia bekerja di BLC group.. Itu menandakan bahwa aku akan semakin sulit untuk mendapatkannya.." seru Reihan dengan nada sedikit meninggi. "Paman, tolong urus keperluan rumah sakit.. Aku akan keluar malam ini juga.." serunya lagi.


"Tapi Tuan, anda masih belum boleh keluar dari rumah sakit ini.. Masih ada beberapa test dan serangkaian pengobatan yang harus anda jalani.."


"Kalau Paman tidak mau mengurusnya, maafkan aku karena harus berbuat seperti ini.."


Baru saja Reihan menyelesaikan kalimatnya, tangan kanannya sudah meninju perut pamannya sampai meringis kesakitan. Tangan kirinya dengan gerak cepat menarik jarum infus yang masih tertancap dipergelangan tangan kanannya.


Reihan langsung loncat dari atas tempat tidur dan berlari keluar masih mengenakan seragam pasien berwarna biru tua. Matthew yang masih merasakan sakit bekas tinju, tak sempat menghadang Reihan.


Reihan tampak berlari secepat yang dia bisa dan menghentikan sebuah taksi. "Pak jalannya yang cepat ya..."


Reihan mencoba menghubungi Mily beberapa kali namun tak diangkat. Yang ada dipikirannya saat ini adalah dirinya sangat ingin bertemu Mily. Ingin tahu kondisi gadis itu apakah baik-baik saja atau tidak.


Sesampai di depan rumah Mily, Reihan langsung berlari dan menggedor pintu rumah gadis itu. "Kamu.." seru mama Mily yang tampak tak senang dengan kedatangan Reihan malam itu.


"Mah siapa yang datang?" seru papa Mily dari dalam.


Mama Mily tak menyahut dan langsung pergi meninggalkan Reihan yang masih berdiri didepan pintu dengan nafas yang ngos-ngosan. "Oh nak Reihan.. Om kira siapa.. Yuk masuk-masuk.." ucap papa Mily ramah.


"Mily ada Om?"


"Mily ada.. Lagi mandi.. Tunggu bentar ya.. Temani Om nonton saja dulu.." seru papa Mily.


Pria paruh baya itu sesekali melirik pakaian rumah sakit yang masih dikenakan Reihan. Mily yang baru saja keluar dari kamar mandi tampak terkejut melihat Reihan sedang mengobrol dengan papanya.


"Reihan? Kamu kenapa ada disini?" tanya Mily.


Reihan langsung berdiri dan menghampiri gadis itu. "Ada yang ingin ku bicarakan.." ucapnya.


"Kalian berdua berbicaralah dikamar.." seru papa Mily mengijinkan keduanya untuk memiliki pembicaraan pribadi.


Mily membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Reihan masuk. "Ada apa?" tanya Mily lembut sambil menutup pintu kamarnya.


"Kamu kenapa keluar dari swalayan?" Reihan langsung bertanya tentang pokok permasalahan.


"A-aku hanya ingin mencari pengalaman ditempat lain.." Mily berbohong. Gadis itu tak ingin memperkeruh hubungan antara Reihan dan papanya.


"Apa pengalaman yang kamu maksud itu harus dengan bekerja di BLC group?"


"Eh?"


"Kamu tahu.. Disana adalah tempat Mike.. Laki-laki yang sudah menyakiti kamu berkali-kali.. Kenapa kamu memilih bekerja disana?" ucap Reihan. Matanya tak lepas menatap mata Mily. "Apa karena kamu masih menyukainya?" tanya Reihan lagi.


"Kalau kamu memang sudah tak menyukainya, aku ingin pertemuan keluarga kita berdua dipercepat.."


"Kenapa? Apa tidak terlalu terburu-buru untuk melakukan pertemuan keluarga?" Mily tak begitu setuju.


"Bukannya kamu bilang akan membicarakan masalah pertemuan keluarga setelah aku keluar dari rumah sakit? Dan sekarang aku sudah keluar dari rumah sakit.. Apa kamu berubah pikiran?" tanya Reihan sedikit mendesak.


"Bukan begitu, Rei.. Menikah itu hal yang perlu banyak pertimbangan..gak bisa buru-buru.."


"Kalau begitu apa yang masih perlu dipertimbangkan? Apa perasaan kamu masih akan mempertimbangkan Mike?"


"Rei.. Ini tentang kita berdua.. Jadi tolong jangan membawa-bawa Mike.."


"Kenapa aku merasa seperti cerita ini adalah tentang kamu dan Mike? Dan bukan tentang 'kita berdua' seperti yang kamu sebutkan barusan?"


"Rei.. Sekarang kamu lagi emosi.. Gimana kalau kita bicara besok? Tunggu sampai kamu bisa bicara baik-baik dan kita akan mengobrol.."


"Mily.. Mungkin lebih baik untuk sementara waktu kita gak ketemu dulu.."


"Kenapa?"


Untuk sesaat Reihan tak menjawab dan hanya menatap gadis yang berdiri dihadapannya. "Kamu harusnya tahu alasannya.." ucap Reihan singkat sembari berlalu pergi.


Diluar kamar, papa Mily memanggil laki-laki muda itu untuk mengajaknya makan malam, namun Reihan menolak.


Dalam suasana yang seperti itu, ada satu orang yang merasa senang karena melihat raut wajah Reihan yang terlihat sedih. "Pa, sepertinya mereka berdua putus.." bisik mama Mily pada suaminya.


"Hussh.." seru papa Mily.


Mily keluar dari kamar dengan raut wajah yang terlihat sedikit muram. Gadis itu berjalan ke arah meja makan dimana kedua orang tuanya sudah berada disana.


"Sayang.. Apa kamu putus dengan Reihan?" tanya mama Mily yang terlihat tak bisa menutupi perasaan senangnya.


"Ma... Tolong jangan tanya apa-apa dulu ya.." jawab Mily pelan.


Sementara putrinya sedang tak ingin membicarakan urusan pribadi, suami yang duduk disebelahnya menyenggol dan memberi kode agar dirinya tak bertanya apa-apa lagi.


"Ini sayang kamu coba ini..." seru papa Mily mengalihkan pembicaraan dan mengusir rasa canggung dengan menyodorkan semangkuk sup ayam.


**


Setelah pulang dari rumah Mily, Reihan kembali ke kontrakannya. Langkah kakinya tampak gontai tak bersemangat saat menaiki tangga.


Seseorang sudah lama berdiri di depan pintu kamar menunggu kepulangannya. "Tuan anda sudah kembali.." seru Matthew.


"Paman sedang apa disini?"


"Saya hanya ingin memastikan bahwa anda baik-baik saja.."


"Ehmm aku gak apa-apa.."


"Oh iya Tuan, masalah rumah sakit sudah saya urus.. Saya juga sudah buatkan janji untuk anda bahwa esok sore akan ada pemeriksaan.." ucap Matthew.


"Baiklah aku akan kesana..." jawab Reihan singkat.


"Apa anda benar baik-baik saja?" tanya Matthew memastikan karena Reihan terlihat murung.


"Aku dan Mily sedang istirahat sebentar.."


"Maksud anda putus?" tanya Matthew ragu.


"Bukan putus dalam artian sebenarnya.. Aku dan dia hanya sedang istirahat sebentar.."